
I'd go back in time and change it, but I can't
Seorang gadis manis sedang terduduk di salah satu kursi yang ada di suatu cafe. Matanya menatap lurus pada sebuah undangan yang terukir indah setiap untaian katanya, namun menjadi sesuatu menyakitkan ketika dibaca.
Arvin Genandra & Eva Maheswari
Dua nama itu terukir di halaman terdepan undangan tersebut. Seolah-olah menunjukan pada dunia, bahwa mereka tengah berbahagia. Seolah menegaskan pada setiap orang yang membacanya, bahwa mereka tak akan terpisahkan sampai maut menghampiri.
Tapi tidak untuk Naura Aryna. Hatinya sakit, sesak dan pilu. Oksigen di sekitarnya terasa menipis, dia bahkan tidak bisa menghirupnya sedikitpun. Dia tidak kuat.
Laki-laki yang dia cintai sepenuh hati, akan berbahagia dengan wanita lain. Siapa yang sanggup untuk melihatnya?
Rasanya ia ingin membakar undangan itu.
Dulu, dalam bayangannya. Aryna akan hidup berbahagia bersama Arvin di masa depan. Menikah, mempunyai anak dan menua bersama.
Dulu, janji mereka adalah hidup untuk satu sama lain.
Dulu, mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Itu semua dulu.
Aryna menyesal, karena ia lebih memilih untuk melanjutkan kuliahnya di Amerika. Dan setelah kembali, kabar inilah yang ia dapat.
Aryna menyesal, pernah melepaskan Arvin demi mimpinya.
Aryna sungguh menyesal.
Perlahan air mata mengalir di pipi lembut Aryna, terisak pelan hingga menjatuhi undangan tersebut dengan air matanya.
Andai saja, dulu Aryna lebih bertindak dewasa dengan memikirkan juga perasaan Arvin.
Andai saja, dulu Aryna tidak bersikap egois dengan mementingkan ambisinya.
Andai saja, dulu Aryna tidak meninggalkan Arvin. Mungkin nama Naura Aryna-lah yang tertulis sebagai calon pasangan pengantin di undangan tersebut.
Namun, kata andai saja tidak bisa mengubah masa lalu. Karena nyatanya, Aryna dulu begitu bodoh membuat keputusan.
Menghapus air mata, lalu mendongakkan kepalanya. Aryna memilih untuk segera pulang ke rumah. Tempat di mana ia bisa mencurahkan segala resah yang menghinggapinya.
Meneriakkan segala keluh kesah yang ada dalam benaknya. Dan menguburkan segala kepahitan yang dirasakannya.
Bergegas, ia membuka pintu mobil dan langsung masuk ke kursi kemudi. Menyalakan mesin mobil, dan mengendarainya dengan kecepatan penuh. Ia berusaha untuk tetap tenang, tapi tidak bisa.
Sakit, sesak.
Ia sendiri tidak pernah menyangka bahwa rasanya akan sesakit ini. Bahwa ditinggalkan jauh lebih sakit daripada meninggalkan. Apa dulu Arvin juga merasakannya?
Jika memang iya, mungkinkan ini balasan untuk Aryna?
Kenapa? Kenapa harus sesakit ini?
Aryna memukul kemudi kencang, menyalurkan kegundahan hatinya, meraung kencang. Menangis.
Sakit, Ya Tuhan.
Tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini.
Tapi ternyata, ini bukanlah mimpi buruk. Ini adalah kenyataan yang terburuk dari mimpi buruk sekalipun.
Saat ini ia telah sampai di depan rumahnya tepat sepuluh menit yang lalu. Hari masih sore, dan Aryna belum ada niatan untuk beranjak dari tempatnya. Niat awalnya untuk segera kembali ke rumah adalah untuk bersembunyi saat menangis nanti. Tapi bahkan ia sudah menangis sejak mendudukan diri di cafe itu.
Kenapa kamu tidak menungguku, Arvin?
Sebegitu marahkan kamu terhadapku?
Sebegitu bencikah kamu, sampai harus membalasku segininya?
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Menemui Arvin? Tidak mungkin. Arvin bisa semakin membenci Aryna saat ini. Pergi sesukanya, lalu datang tanpa rasa bersalah.
Egois. Ia pun menyadari bahwa dirinya begitu egois. Menginginkan Arvin untuk selalu bersamanya, padahal ia sendiri yang meninggalkan Arvin.
Aku ini ... apa?
A/N : Cerita baru yeayyy🎉🎉🎉
gimana part 1-nya? semoga kalian suka yaa...
jangan lupa like dan komentarnya yaa, itu energi untuk author 😁😁