Back To December

Back To December
Back To December. 03



Mata yang sejak satu jam yang lalu tertutup itu perlahan terbuka. Mengerjapkan matanya, Aryna sepenuhnya sadar dari keadaan pingsan. Matanya mengawasi ruangan sekitar, dan setelah mendapati bahwa dirinya masih berada di dalam kamarnya membuat ia menghembuskan napas lega.


"Loh, Ryn, lo udah sadar?" Sebuah suara mengejutkannya. Di sana, Rena tengah menutup pintu kamar dan ikut memasuki ruangan yang ditempati Aryna.


"Ini minum dulu." Rena menyerahkan gelas yang di bawanya. Lalu Aryna segera menghabiskan air putih tersebut.


"Gimana, udah enakan?" Dan Aryna hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Rena.


Sedari tadi Aryna belum mengeluarkan suara, terlalu lelah untuk sekadar mengucapkan sepatah kata.


"Lo kenapa bisa pingsan, Ryn?" Tanya Rena, karena ia tak habis pikir kenapa sahabatnya bisa ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri. Rena tentu saja khawatir, ia langsung berusaha memindahkan Aryna ke tempat tidur.


"Tadi pas gue dateng ke sini, pintu rumah lo nggak dikunci. Ya udah gue masuk, pas gue liat pintu kamar lo nggak ketutup rapat, gue masuk lagi. Tapi gue malah ngeliat lo pingsan di sana." Melihat Aryna tak kunjung menjawab pertanyaannya, Rena lebih dulu menjelaskan kenapa ia bisa berada disini seraya menunjuk sudut ruangan dimana ia menemukan Aryna tergeletak tak berdaya.


Lagi-lagi Aryna tidak menjawabnya, hanya gelengan kepalanya-lah yg menjadi jawaban dari Aryna. Rena hanya bisa menghela napasnya pelan dan ikut mendudukkan dirinya di samping Aryna. Lalu menghamburkan pelukan pada sang sahabat.


"Ryn, lo tau kan kalau gue akan selalu ada buat lo. Jadi kalau lo mau cerita apa-apa, atau butuh seseorang untuk berbagi, lo bisa telfon gue kapan pun."


Dan sekali lagi, hanya anggukanlah yang menjadi jawaban, serta isak tangis yang perlahan terdengar.


Melihat sahabatnya menangis tak berdaya membuat Rena merasa sedih. Ia merasa gagal menjadi sahabat yang baik untuk Aryna. Sebenarnya semua yang ia bilang pada Aryna bohong.


Kenyataanya, ia sudah berada di sini sebelum Aryna sampai. Jangan tanya kenapa Rena bisa masuk ke rumah Aryna, karena jawabannya adalah; tentu saja karena ia memiliki kunci duplikat rumah Aryna. Dulu saat Aryna masih tinggal di Amerika, Rena lah yang menjaga rumah sahabatnya. Aryna sendiri yang menitipkan kuncinya pada Rena.


Begitu ia mendengar Aryna sudah pulang, saat itu Rena tengah berada di dapur. Sebenarnya ia ingin langsung menemui sahabatnya. Namun ia melihat Aryna dalam keadaan kacau. Ia mnegikuti Aryna ke kamarnya, dan berhenti di depan pintu. Bisa ia dengarkan tangisan Aryna yang begitu lirih.


Aryna tampak begitu... hancur.


*********


Saat ini Aryna sedang membuat coklat panas di dapur. Langit tampak mendung. Udara juga tampak lebih dingin dari biasanya, mungkin karena malam ini akan turun hujan.


Rena dengan setia duduk di dekat meja makan, memperhatikan sahabatnya baik-baik membuat coklat panas.


Ia sangat paham, kabar pernikahan Arvin pasti memukul telak Aryna. Cinta gadis itu untuk Arvin begitu besar, dan Rena tidak mau menyalahkan sahabatnya karena telah memilih untuk meninggalkan pria itu demi mimpinya. Karena demi Tuhan, jika Rena berada di posisi Aryna, mungkin ia akan melakukan hal yang sama dengan Aryna. Tentu saja atas persetujuan kekasihnya. Ia tidak akan melakukan hal bodoh yang dilakukan sahabatnya.


"Jadi, gimana? Lo bakal dateng ke pernikahan Arvin?" Tanya Rena saat Aryna meletakkan coklat panas buatannya di meja yang ada dihadapannya.


Aryna menghela napas pelan, "nggak tau, Ren. Jujur, gue nggak siap."


Rena paham betul apa yang dirasakan Aryna. Tapi tidak mungkin kan Aryna melewatkan pernikahan mantannya itu? Setidaknya buat Arvin percaya bahwa Aryna baik-baik saja.


"Lo harus dateng, Ryn. Buat Arvin nyesel udah ninggalin lo. Buat Arvin percaya bahwa lo baik-baik aja tanpa dia."


"Gue yang ninggalin dia, Ren. Karena kenyataannya gue nggak baik-baik aja tanpa dia!!!" Pekik Aryna.


Keadaan kembali kacau sekarang, sejak Rena kembali membahas pernikahan Arvin. Rena sadar ia telah melakukan kesalahan saat ini. Justru itu, ia merengkuh Aryna kedalam pelukannya. Memberi ketenangan pada sahabatnya.


“Nangis Ryn. Nangis aja di depan gue nggak apa-apa. Tapi lo harus janji, kalau setelah ini lo nggak boleh nangis lagi. Lo kuat. Lo harus kuat.”


A/N : gimana nih cerita ini? Kalian suka nggak?


Commen yaa, gimme saran hehe


Jangan lupa like dan komentar ya^^