
Dan ternyata dugaan Baby salah, setelah jauh melangkahkan kakinya Baby masih belum bisa menemukan taksi.
"Ayah, Bunda. Baby takut." gumam Baby karena semakin petang keadaan disana semakin mencekam saja. Apa lagi hanya sedikit cahaya penerang.
Baby yang ketakutan semakin was-was, ia pun selalu melirik kanan dan kirinya untuk memastikan tidak ada apapun.
Hingga nampak dua bayangan hitam dengan tubuh kekar yang semakin mendekat membuat Baby semakin takut saja.
”Si-siapa kalian?" Tanya Baby memberanikan diri untuk bertanya.
Kini langkah Baby berjalan mundur. Baby takut kedua orang itu berbuat nekat padanya. Apa lagi dirinya seorang wanita.
Sementara dua orang itu terdengar tertawa.
"Hai gadis cantik, Om boleh kenalan nggak?" Tanya salah satu diantara mereka.
Baby langsung menggeleng.
"Jangan macam-macam kalian." ucap Baby dengan suara gemerar ketakutan.
"Nggak boleh gitu dong, Om berdua ini orang yang baik."
Kedua orang itu lalu saling menatap sambil memberi kode dan alhasil mereka menangkap kedua tangan Baby.
"Jangan sentuh saya. Tolong, tolong!" Baby berteriak sekuat tenaga. Berharap seseorang bisa membantunya.
"Ck, disini jarang ada orang yang lewat cantik dan kalau pun ada mereka pasti tidak akan menolongmu."
Baby yang mendengar itu semakin memberontak namun cengkraman kedua orang itu juga semakin kuat membuat Baby semakin takut.
"Ayah! Tolongin Baby." ucap Baby lirih. Ia mulai menangisi keadaannya.
Hingga tidak lama suara deruman motor terdengar membuat Baby bisa bernapas lega. Setidaknya kemungkinan besar orang itu akan menolongnya.
"Hey, siapapun itu tolong aku." ucap Baby ketika melihat motor itu semakin dekat.
Namun sayangnya motor itu berlalu begitu saja melewatinya dan melihat itu harapan Baby seola sirna. "Tolongin Baby. Tolong!" lirih Baby berteriak.
Sementara dua orang itu sudah tertawa.
"Om bilang juga apa, tidak akan ada yang bisa menolongmu cantik."
Seketika motor yang barusan lewat itu berhenti tiba-tiba ketika mendengar siapa nama orang yang berteriak meminta pertolongan padanya.
"Baby." gumam pria itu ketika sadar yang memanggilnya tadi adalah Baby.
Dengan terburu-buru pria itu melepas helmnya dan mendekati dua pria yang nampak mencengkram kuat tangan Baby.
"Abdar!" lirih Baby dengan bersyukur. Setidaknya ada harapan Abdar bisa menolongnya. "Tolongin gue, Dar. Mereka itu orang jahat." lirih Baby lagi.
"Tenang ya Baby, gue pasti tolongin lo." ucap Abdar berusaha menenangkan Baby yang nampak menangis.
Abdar pun semakin mendekat dan menatap kedua orang pria itu dengan tersenyum. "Kalian kalo mau main sama cewek, kalian salah tangkap orang." ucap Abdar akhirnya.
"Ck, anak kecil nggak boleh urusin urusan orang dewasa. Mending pulang bobo aja."
"Oh tidak bisa Om. Cewek yang kalian tangkap itu sahabat masa kecil saya, bagaimana mungkin saya membiarkan kalian mengganggunya."
Karena tersulut emosi salah satu dari mereka mendekati Abdar dengan senyum menyeringai. "Mau pulang kau atau mau tinggal disini?" tanya pria itu seraya melunakkan otot tangannya.
"Emang Abdar harus pilih nih Om?" Abdar ikut bertanya. Entah apa yang ada di pikiran Abdar yang begitu berani mempermainkan dua penjahat itu.
"Kau mau main-main ya sama aku." ucap pria itu lagi.
Abdar menggeleng. "Tidak Om, Emmak saya bilang jangan main terlalu jauh. Nanti saya ketemu orang jahat seperti Om."
Tidak bisa menahan diri lebih lama lagi, pria itu langsung menyerang Abdar dengan pukulan yang mengarah ke wajahnya namun Abdar berhasil menghindar.
"Eh nggak kena." ucap Abdar disela pertarungan mereka.
"Dasar bocah sialan." Pria itu kembali menyerang Abdar hingga berhasil menyerang perut Abdar.
"Awww! Om main kasar nih." sambil mengusap-usap perutnya.
Sementara Baby yang melihat bagaimana Abdar mempermainkan penjahat itu hanya bisa geleng kepala.
"Kualat kan jadinya."
Hingga tidak lama kemudian suara deruman motor terdengar nyaring membuat Baby menatap kebelakang dan terkejut melihat begitu banyaknya motor yang berdatangan.
"Om sih main nyerang saya, anak buah saya kan jadi datang." ucap Abdar dengan wajah datar.
Lain halnya dengan dua orang itu yang terlihat sudah ketakutan. "Mereka teman-teman kau?" tanya pria yang tadi menyerang Abdar.
"Iyalah Om, Abdar kan anak yang baik jadi disayang teman." balas Abdar.
Membuat pria itu saling menatap dan didetik berikutnya sudah lari terbirit-birit.
"Eh, Om mau kemana? Cemen banget!" ucap Abdar berteriak.