
Setelah sekian purnama, akhirnya gue sekelas sama lo, Barra.
Baby menatap wajah tampan Barra dengan senyum yang mengembang. Bertahun-tahun lamanya Baby bersusah payah belajar agar bisa sekelas dengan Barra. Dan akhirnya di kelas tiga ini impiannya terwujudkan dengan otaknya yang cuma pas-pasan itu.
Dengan rambut terkucir dua dan kacamata yang bertender di hidung mancungnya Baby menghela napas panjang ketika primadona di sekolahnya mendatangi Barra diekori oleh dua dayangnya.
"Barra! Nih, gue bawain lo makanan. Lo terima ya?" Gadis bernama Aira itu menyodorkan kotak makanannya kepada Barra.
"Gue nggak mau." tolak Barra tanpa pikir panjang.
Aira lalu menatap tajam Barra. "Lo kenapa sih Bar selalu nolak pemberian gue mulu? Lo tau sendiri kan kalo gue suka lo itu udah lama."
Barra menjawab pertanyaan Aira dengan anggukan kepala. Sebenarnya Barra juga sudah bosan dengan segala tingkah Aira yang selalu berbuat seenaknya saja.
"Terus kenapa lo selalu nolak gue? Dan itu bukan cuma sekali dua kali aja tapi udah berulang kali."
"Lo beneran mau tau alesannya?" Barra kini berdiri dan berjalan ke depan Aira.
Aira yang memang penasaran langsung mengangguk.
”Itu karena lo bukan type gue."
Setelah mengatakan semua itu Barra melenggang pergi disusul dua sahabatnya yang sedari tadi menatap takjub apa yang Barra lakukan kepada Aira.
"Lo jahat Bar, gue benci sama lo." Aira berteriak histeris sambil mengepal kedua tangannya.
Priska dan Clara pun cepat-cepat mengusap punggung Aira, kedua dayangnya itu berusaha membuat Aira tenang.
"Lo yang sabar, Ra!" ucap Priska yang juga diangguki Clara.
"Iya Aira, Barra kan emang cowok yang nyebelin." timpal Clara.
Sementara Baby hanya bisa menelan paksa salivanya. Aira saja yang secantik itu sudah bukan type Barra, apa kabar dirinya yang hanya berpenampilan seperti ini? Pikir Baby semakin tidak percaya diri.
Sudah jelas gue bukan type lo, Barra.
..
"Sumpah! Tadi itu lo keren banget, Bar." Ucap Zhico seraya menunjukkan dua jari jempolnya didepan Barra.
"Iya Bar, sekali-kali lo emang harus tegesin Aira. Lo tau kan Aira bukan cewek baik-baik," timpal Leo.
"Bekas kek dia bukan type gue." sambil menatap bergantian kedua sahabatnya.
"Yoi bro, Aira kan bekas om-om udah pasti nggak virgin lagi tuh cewek." cibir Leo.
Zhico pun mengangguk. "Tiap hari datang ke Bar terus datengnya buat apa coba kalo nggak jual diri?"
Hingga tidak lama kemudian pesanan mereka datang.
...
Baby yang merasa bosan memutuskan untuk pergi kantin. Pagi tadi Baby memang tidak sempat sarapan karena takut terlambat hingga perutnya meminta izin untuk segera diisi.
"Mbak, pesen baksonya dua ya!" ucap Baby setengah berteriak setelah duduk dibangku bagian belakang.
Eh ada ayang vamvan!
Baby yang baru sadar ada Barra di kantin kemudian menatap wajah tampan Barra yang walaupun sedang makan masih terlihat sangat tampan.
Itu wajah ato air? Bening banget.
Tanpa Baby sadari seseorang tengah mendekatinya dengan langkah mengendap-endap layaknya seorang maling.
"Woyyyy."
Satu tepukan berhasil mendarat cukup kasar di pundak Baby membuatnya terkejut bukan main.
"Masih pagi juga tapi lo udah buat mood gue jadi ancur." ketus Baby tidak terima.
"Lah siapa suruh muka lo gitu amat. Kata emmak gue nih ya kalo pagi nggak boleh cemberut, pamali katanya." sambil duduk disamping Baby.
"Siapa? Tante Mira?"
"Emmak gue emang ada berapa? lima?" Abdar mengacak-acak rambut Baby. Gemas.
Dan Baby yang tidak suka diperlakukan seperti itu langsung menepis tangan Abdar dari kepalanya. ”Nggak usah pegang-pegang, tangan lo bau terasi."
Dengan spontan Abdar langsung mengendus tangannya. "Nggak, tangan lo kalik."
Baby pun menghela napasnya, sahabat satu-satunya itu selalu saja berhasil membuatnya kesal. Apa lagi saat ini salah satu pesanannya sudah direbut Abdar.
"Lo pesen dua? Lo tau aja kalo gue lagi laper."
Tanpa banyak bicara lagi, Abdar melahap makanan Baby tanpa meminta izin lebih dulu sama si pemilik. Baby yang melihat itu hanya bisa geleng kepala.
Gue sumpahin keselek biar tau rasa.
Dan didetik berikutnya Abdar langsung tersedak membuat Baby tertawa. Ditambah lagi wajah Abdar sudah berubah merah layaknya kepiting rebus.
Sukurin makanya jangan banyak ulah.