
"Ayah juga tidak tahu tapi kata Om Abrisam kalo keduanya setuju dengan perjodohan ini kalian akan secepatnya dinikahkan."
Wajah yang tadinya bahagia mendadak redup, kejadian tadi siang membuat Baby menghela napas panjang. Kejadian dimana Baby dengan tidak sengaja membuat Barra kesal.
Mana mungkin Barra mau menerima perjodohan ini? Gue nya aja yang terlalu berharap.
..
Mansion Abrisam.
Makan malam tengah berlangsung disana. Sesekali Dad Abrisam menatap Barra yang tengah menyantap makanannya.
"Ada apa, Dad?" Tanya Barra ketika tatapan keduanya saling bertemu.
Dad Abrisam lalu menyesap airnya sampai setengah, setelah itu menatap Barra yang masih setia menunggu jawaban.
"Ada yang ingin Dad bicarakan. Segeralah selesaikan makanannmu, Dad tunggu di ruang kerja Daddy."
Dad Abrisam pergi meninggalkan Barra yang kini menatap bingung pada Mom Hanum.
Sementara Mom Hanum yang mengerti arti tatapan Barra hanya bisa menggeleng sebagai jawabannya.
Tidak ingin membuat Dad Abrisam menunggu, Barra memilih menyudahi makannya dan segera menyusul Dad Abrisam.
Sebelum masuk Barra mengetuk pintu hingga suara Dad Abrisam terdengar.
"Masuklah." ucap Dad Abrisam yang berteriak dari dalam.
Barra pun membuka pintu dan mendekati Daddy nya.
"Dad hari ini Barra tidak melakukan kesalahan apapun." ucap Barra.
Dad Abrisam tertawa kecil. "Baguslah kalau begitu, duduklah." sambil menunjuk kursi kerjanya.
"Iya Dad."
Setelah Barra duduk, Dad Abrisam menatap serius Barra.
"Dad ingin berbicara serius sama kamu dan Dad harap kamu mau menuruti permintaan Dad ini."
Entah kenapa perasaan Barra menjadi tidak enak mendengar ucapan Daddy nya.
Perasaan gue kok jadi nggak enak gini ya?
"Tentang apa ya Dad?" ucap Barra akhirnya.
"Sebenarnya Daddy ingin menjodohkanmu dengan putri sabahat Dad. Barra nggak masalah kan dengan hal ini?"
Barra yang kaget langsung berdiri dari tempatnya. Baginya ini adalah permintaan yang tidak adil.
"Apa? Dad ingin menjodohkan Barra?" Barra menatap tajam Dad Abrisam.
"Iya nak."
"Barra nggak mau Dad. Barra nggak mau di jodohkan." ucap Barra telak. "Dad, ini sudah zaman modern. Apa kata teman-temanku kalo Barra korban perjodohan."
"Barra, duduk!" Sentak Dad Abrisam ikutan kesal karena putranya itu begitu keras kepala.
Akhirnya Barra kembali duduk. Sebenarnya Barra tidak ingin membuat Dad Abrisam marah namun Barra juga tidak terima dengan permintaan Dad Abrisam.
"Pokoknya Barra tidak mau di jodohkan, Dad. Biar Barra yang menentukan pilihan Barra sendiri." Barra kemudian menjeda ucapannya dengan helaan napas. "Karena Barra tidak ingin berakhir seperti Abang Andre."
"Kalo kamu tidak setuju maka jangan salahkan Daddy kalo semua fasilitasmu Daddy cabut."
"Dad ..."
Dad Abrisam langsung berdiri dari tempatnya. "Daddy beri waktu seminggu sebelum memutusnya jadi Dad harap kamu bisa berpikir dengan bijak."
Setelah kepergian Dad Abrisam, Barra menggembrak meja. Menurutnya hari ini adalah hari kesialannya.
Kenapa jadi begini sih? Gue kan masih ingin bersenang-senang!
..
Dad Abrisam yang baru masuk ke kamarnya kemudian mendudukkan dirinya diatas kasur. Tidak lama istrinya keluar dari kamar mandi.
"Apa Barra setuju, Mas?" Tanya Mom Hanum mendekati suaminya.
Dad Abrisam menggeleng. "Anakmu itu sangat keras kepala. Dia bahkan langsung menolak permintaanku."
"Wajar saja kalo Barra menolak. Barra masih sekolah, dia pasti masih ingin menikmati masa-masa pubernya, Mas"
"Tapi kan aku Daddy nya dari dia kecil aku selalu menuruti permintaannya namun setelah aku meminta sesuatu, dia malah menolakku langsung. Kata Barra, dia tidak ingin berakhir seperti Andre."
Mom Hanum yang melihat suaminya bersedih lalu mendekati Dad Abrisam dan duduk disampingnya.
"Tenanglah, Mas. Lambat laun Barra akan menerima perjodohan ini. Barra itu sangat menyayangi, Mas."
Dad Abrisam hanya bisa berharap perkataan istrinya benar.
...
Pagi harinya seperti yang Barra perintahkan, Baby tengah menunggu kehadiran Barra didepan pintu gerbang. Hari ini adalah hari hukuman pertama Baby dimulai maka dari itu Baby tidak ingin membuat kesalahan lagi.
Setelah menunggu sekian lama tiga motor sport memasuki gerbang sekolah.
Baby pun tersenyum menatap kehadiran Barra dan teman-temannya yang sudah berdiri didepan motor mereka.
"Woy! Sini lo." Barra berteriak memanggil Baby.
Baby pun segera mendekati Barra.
"Sekarang lo bawa tas gue dan tas temen-temen gue." ucap Barra seraya memberi tasnya kepada Baby.
"Bar, lo serius? Dia tuh cewek." Zhico yang orangnya tidak tegaan lalu bertanya.
Barra mengangguk. ”Mulai hari ini biar dia yang membawa tas kita sampai hukumannya berakhir."