
Leo yang tidak ingin ada perselisihan diantara mereka langsung menuruti permintaan Barra lalu mengambil alih tas Zhico dan diberikannya pada Baby.
"Maaf ya." ucap Zhico tidak enak hati.
"Iya nggak papa."
"Ck, kalian tidak perluh berlagak kasihan sama nih cewek barbar."
Barra kemudian berjalan setelah mengumpat Baby membuat mereka ikut pergi. Begitu pun dengan Baby yang hanya merasa biasa saja, baginya bisa dekat dengan Barra adalah moment terindah untuknya walau harus menerima hinaan sekali pun.
"Tas gue!" ucap Barra ketika sudah duduk.
Dengan senang hati Baby menuruti perintah Barra.
"Setelah pelajaran nanti lo ikut gue ke lapangan." perintah Barra.
Baby langsung menganguk.
Baby yang sudah tahu akan tugasnya ingin kembali ke bangkunya namun sebelum itu ia mengembalikan tas Leo dan Zhico membuat Barra menatap Baby dengan tatapan aneh.
"Dasar cewek gila." umpat Barra lagi karena Baby bertingkah begitu bahagia.
”Jangan kek gitu, Bar. Benci sama cinta itu beda tipis loh." Leo menepuk pundak Barra sekali.
”Maksud lo gue suka sama si cupu itu?" Barra menunjuk Baby dengan dagunya.
"Kali aja kan makanya gue peringantin lo lebih awal."
"Dalam mimpi kalik."
Tidak lama pelajaran di mulai membuat semua siswa memperhatikan pembelajaran hingga bel tanda istirahat berbunyi.
"Bar kita jadi latihan?" Tanya Zhico menghampiri Barra.
"Iyalah, lusa kan kita ada tanding persahabatan dengan SMA Dewantara." Leo yang menjawab.
"Yang nanya lo siape?" Zhico menatap tajam Leo.
"Lagian lo udah tahu jawabannya masih aja nanya."
Barra hanya menggeleng melihat tingkah kedua sahabatnya lalu milirik Baby yang sedang menulis. "Lo masih mau tinggal disini?"
Baby yang tadinya menulis langsung menghentikan aktivitasnya. "Emang kita udah mau pergi ya?"
"Serah lo deh kalo lo mau hukuman lo gue tambah."
Barra kemudian pergi bersama kedua sahabatnya. Kali ini mereka pergi ke lapangan basket untuk latihan.
Setelah menghabiskan satu jam lebih berlatih, Barra mengakhiri latihan mereka karena sebentar lagi jam istirahat akan berakhir.
Kini Barra menatap ke setiap sudut lapangan seperti sedang mencari seseorang.
"Lo cari Baby?" Zhico bertanya sambil menyapu keringat di wajahnya dengan handuk.
"Jangan gitu Bar, lo tahu kan ..."
"Iya, cinta sama benci itu beda tipis." Barra pun menyambung ucapan Leo. "Gue bilang gue nggak cari dia." Barra masih beralasan.
"Serah lo deh." Leo geleng-geleng.
Baby yang baru datang langsung menyodorkan botol minuman pada Barra. "Nih."
Barra yang terkejut lalu menatap Baby. "Lo abis lari?" Tanya Barra ketika melihat Baby yang keringatan.
Baby mengangguk.
"Gue nggak mau lo marah lagi jadinya gue lari dari kantin kesini." jawab Baby apa adanya.
Dan mendengar jawaban Baby, Barra segera meraih minuman pemberian Baby. "Makasih."
"Iya."
Sementara Leo yang melihat itu lalu menyengggol lengan Zhico. "Gue bilang juga apa benci sama cinta itu beda tipis."
Zhico yang sudah bosan dengan ucapan Leo hanya geleng kepala.
...
Hari ini Baby tidak langsung pulang ke rumah, Baby memilih pergi ke suatu tempat dimana ia merasa nyaman berada di tempat itu.
Satu demi satu langkahnya melewati sebuah nisan dan langkah Baby berhenti disebuah nisan yang bertuliskan nama Fanesa binti Ahmad.
Sekali sebulan Baby pasti akan kemakam Bundanya untuk mencurahkan isi hatinya.
"Assalamualaikum, Bunda." ucap Baby ketika duduk disamping makan Bundanya.
"Bunda hari ini Baby datang mau curhat sama Bunda lagi. Bunda tahu kan kalo Baby menyukai satu cowok dan ternyata cowok yang selalu Baby ceritain itu anak dari sahabatnya Bunda."
Tidak lama wajah Baby berubah murung.
"Bunda, apa salah kalo Baby menyukai orang yang tidak mengharapkan Baby?"
Setelah puas mencurahkan isi hatinya pada sang Bunda. Baby memutuskan untuk pulang karena hari sebentar lagi akan petang.
Jarak antara makam dan jalan raya cukup jauh maka dari itu Baby harus menempuh dengan berjalan kaki hingga ia sampai di halte bus.
Lama Baby menunggu namun belum ada satu pun taksi yang lewat.
"Sudah jam setengah enam lagi." gumam Baby cemas. ”Oh iya, gue telpon Ayah aja."
Ketika Baby ingin menelpon Ayah Naim namun ternyata ponselnya kehabisan batrei membuat Baby semakin frustasi.
"Aduh gimana nih?" ucap Baby menatap ponselnya dengan wajah senduh. "Lebih baik jalan kaki dulu deh siapa tahu aja didepan sana ada taksi."