
Baby lalu menelan paksa salivanya, ternyata dugaannya benar jika anak Om Abrisam itu adalah Barra.
"I-iya Om," Baby yang tidak bisa duduk dengan tenang kemudian berdiri. "Ayah, Om. Kalau gitu Baby pamit mau ke kamar dulu."
Baik Ayah Naim dan Om Abrisam sama-sama mengangguk. Setelah kepergian Baby, Ayah Naim menatap teman lamanya yang setelah sekian lama baru muncul.
"Abrisam sebenarnya apa tujuanmu datang kemari?" Tanya Ayah Naim karena sejak tadi belum diberitahu.
"Sebenarnya aku kemari dengan satu tujuan, aku ingin menjodohkan putraku sama putrimu segera."
"Maksudmu Barra?"
Om Abrisam mengangguk. "Kau kan tahu putra pertamaku sudah menikah dan hanya Barra yang belum."
"Tapi mereka kan masih terlalu muda."
"Aku pun tahu itu tapi kau jangan lupakan permintaan terakhir Fanesa yang meminta kita menjodohkan anak-anak kita."
"Tentu saja aku masih ingat permintaan terakhir istriku."
"Kalau begitu ayo kita wujudkan itu secepatnya."
Ayah Naim tampak berpikir hingga tidak lama kemudian menggeleng.
"Maaf Abrisam tapi aku belum bisa memberimu kepastian, apa lagi Baby belum tahu semua ini."
Abrisam yang paham pun mengangguk. "Baiklah kau coba bicarakan ini lebih dulu sama Baby sementara aku akan membicarakan ini pula sama Barra dan kalo keduanya setuju kita akan menikahkan anak-anak kita secepatnya."
"Iya lebih baik seperti itu."
..
Baby yang baru selesai mengganti baju kemudian melangkah turun ingin menemui kembali Ayahnya dan Om Abrisam karena merasa tidak enak pergi begitu cepat.
"Ayah, Om Abrisam sudah pulang ya?" Tanya Baby ketika tidak melihat keberadaan Om Abrisam.
"Iya nak baru saja."
Baby pun mengangguk.
Ayah Naim yang merasa sudah waktunya memberitahu Baby tentang permintaan mendiang istrinya kemudian tersenyum.
"Baby, duduk dulu yuk!" pinta Ayah Naim.
"Iya Ayah." Baby segera duduk disamping Ayahnya.
Ayah Naim tidak langsung berbicara, ia memilih mengusap lembut puncak kepala Baby. "Sebenarnya ada yang ingin Ayah bicarakan soal mendiang Bunda kamu."
"Bunda? Ada apa dengan Bunda, Ayah?" Tanya Baby dengan wajah mulai serius.
"Sayang banget, Ayah."
"Kalau Baby sayang sama Bunda, itu artinya semua permintaan Bunda sewaktu masih hidup mau Baby kabulkan?"
"Iya Ayah, Baby mau."
Ayah Naim tersenyum lalu meraih tangan Baby. "Sewaktu Bunda kamu sakit, Bunda meminta satu hal sama Ayah dan Om Abrisam."
Spontan alis Baby saling menaut. "Om Abrisam? Emang hubungan Bunda sama Om Abrisam apa, Ayah?"
"Dulu kami bertiga itu sahabatan tapi karena Ayah menyukai Bunda kamu jadinya Ayah menikahi Bunda."
"Wihhh, Baby baru tahu kalo ternyata Ayah sama Bunda dulunya sahabat."
Iya nak, masih banyak hal tentang kami yang belum kamu ketahui. Bunda mu itu wanita yang sangat baik sampai rela merelakan cintanya demi Ayah.
Baby yang melihat Ayahnya melamun jadi tidak enak hati. Baby tahu saat ini Ayah Naim pasti sedang mengingat mendiang Bunda Fanesa.
"Oh iya, Ayah tadi mau bilang apa sama Baby?" Tanya Baby tidak ingin Ayahnya larut dalam kesedihan.
"Begini nak, Ayah sama Om Abrisam berencana menjodohkan kamu sama putranya, Barra." ucap Ayah Naim pada akhirnya.
"A-apa Ayah? Barra?" Saking kagetnya Baby sampai melototkan mata.
"Iya nak, Ayah dan Om Abrisam ingin menjodohkan Baby sama Barra."
Tahu putrinya pasti sangat syok dengan berita tersebut, Ayah Naim menghela napas panjang.
"Sebernarnya ini keinginan terakhir Bunda kamu. Bunda Fanesa mau kalo Baby sama anaknya Om Abrisam di jodohkan."
"Baby mau, Ayah." tanpa berpikir panjang, Baby langsung menyetujui keinginan Ayahnya membuat Ayah Naim bingung.
"Serius Baby mau?" Sekali lagi Ayah Naim ingin memastikan karena putrinya itu bahkan dengan senang hati menerima perjodohan itu.
"Iya Ayah, Baby mau di jodohkan sama Barra."
Ayah Naim tentu bahagia karena Baby dengan senang hati menerima permintaannya. Ia bahkan tidak habis pikir jika putrinya itu dengan sangat mudahnya menerima perjodohan ini.
"Tapi Ayah ingin tahu alasan Baby kenapa menerima perjodohan ini?"
Baby yang ditanya langsung memeluk Ayahnya.
"Karena Baby sangat menyukai Barra, Ayah. Baby bahkan sudah menyukai Barra sejak pertama kali Baby masuk SMA."
Wah, ini benar-benar tidak terduga. Rupanya putriku sudah lama menyukai anak Abrisam.
"Ayah jadi kapan Baby sama Barra menikah?" Tanya Baby polos membuat Ayah Naim terkejut.