Ba(D)Ay

Ba(D)Ay
07.Get out!



Setelah kejadian tadi Rina,Clarasya dan Elin. mereka kini sedang makan di kamarku ketiganya juga sudah berganti pakaian memakai pakaian mamaku. Clara memakai kaos oblong biru panjang dan celana olahraga pink,ia sengaja memakai celana olahraga.


katanya agar ia bisa leluasa bertarung. Lalu Rina dia memakai blous cream panjang dan celana panjang hijau tua sedangkan adik clara. Dia memakai kaos pendek ungu dan celana kulot coklat tua.


"Kita gak bisa lama-lama dirumah ini". Ucap Ray.


"Kenapa memangnya Ray?". Tanya Rina sedang menyantap mie instan.


"Didepan rumah udah banyak zombie".


"Zombie?". Elin mengernyit mendengar itu.


" Iya zombie,apalagi kita bilang?mereka udah seperti zombie". Jelas Ray.


".Aku takut pagar barikade didepan Jebol,lebih baik kita pergi sekarang".


"Tapi kita mau kemana Ray?". Tanya clarasya yang sudah selesai makan.


"Ke pusat kota, disitu ada tempat pengungsian keluarga kami ada disitu". Jawab Ray.


" Kak,mama sama papa ada gak ya disana?". Ekspresi elin terlihat sendu


Kami semua terdiam mendengar itu."pasti ada...mereka..pasti selamat dan ada disana". Aku mencoba meyakinkan Elin agar ia tidak berpikiran buruk.


"Hum,makasih kak siapa namanya? ".


" Joe,namaku joe.L.wilver". Ucapku tersenyum ramah kepadanya.


"Heleh,sok keren nih,hati-hati pedo dia lin. ".ledek Ray kepadaku.


"Astaga nih bocah kalau ngomong asal bunyi aja yak.".


" Hahahaha".


David,Rome dan Rina tertawa lepas mendengar itu.


"Iya terus ketawa aja gapapa,dah biasa digituin".


" Lalu kapan kita mau kesana Ray?".


Clarasya sepertinya tidak terlalu peduli sama lelucon itu ia kembali fokus bertanya tentang rencana kami.


"Malam ini gimana?".


"Lebih cepat lebih baik sih". Jawab clarasya.


" Oke, jam 11 malam kita keluar dari sini". 


Semua mengangguk setuju mendengar usulan Ray. Aku melihat jam weker digitalku disana menunjukan jam 6 sore. masih ada 5 jam lagi.


"Masih ada 5 jam lagi, lebih baik kita semua istirahat". Usulku.


" Iya aku mau tidur.. Capek". Sahut Romelo ia melangkah kearah ranjangku, menjatuhkan dirinya menyebakan suara berdenyit.


"Aku mau ke balkon aja".


David dan Ray berjalan menuju balkon sedangkan ketiga cewek ini mereka turun keluar kamar, sepertinya kurasa mereka ke dapur.


Aku membaringkan tubuhku dikarpet


pikiranku melayang membayangkan.


Apa aku bisa bertahan?.


Apakah mama baik-baik aja?.


Lalu setelah kami semua berkumpul kemana kita akan pergi?.


Aku memejamkan mataku lalu mengatur nafas perlahan-lahan.


'Tenang... Semua baik-baik aja.. Aku dan yang lain pasti bisa bertahan.'


'Tenangkan dirimu Joe..".


'Kita semua pasti bisa bertemu keluarga kami masing-masing......'


...#####...


"Joe bangun! Cepat bangun woi! ".


" Rome bangun! ".


" Joe bangun cepetan gawat nih!".


"Oi kampret bangun ga cepat!!!".


" Bangun romelo!! Cepetan!! Bangun".


"Aaah apaansi- *Brugh! *.  Elin mendorong Romelo dari atas ranjang.


" Adaw!! Aduduh sakittt! Ei kenapa sih".  Pekik Romelo.


Suaranya terdengar keras sampai membuat joe tersentak bangun.


"Hmm.. Ada apa? ". Tanyaku kebingungan.


" Kita pergi sekarang Joe". Jawab Ray.


"Sekarang?". Aku mencari jam wekerku memusatkan perhatian ke benda kecil itu.


"Masih jam 9 Ray". Sambungku.


"Jumlah zombie didaerah sini makin banyak, aku takut kita malah terjebak".


"Hah?". Aku mengernyit heran dan Ray hanya memberi isyarat kearah balkon dengan jempolnya.


Aku mengusap wajahku bangkit berdiri dan berjalan kearah balkon. Aku terdiam beberapa saat mengusap mataku beberapa kali.


" Emm..oh mann...". 


"Bangsat! Banyak bener zombienya njir.. ".  Umpat Romelo yang ternyata ada disampingku


Jumlah zombie yang ada didepan jalanan rumahku membeludak. Hampir semua sisi jalan sudah dipenuhi oleh zombie!.


Ba-bagaimana mungkin ini,oh sial!.


" Udah ga ada waktu cepat bersiap joe". Perintah Ray.


"Ayo segera pergi dari sini".  Ajak Clarasya


" Tapi lewat mana? Didepan udah begitu!?". David kelihatan panik, raut wajah cemas dengan terpancar jelas.


" Emm..kita.. Kita belakang halaman rumahku".


Aku ingat ada gang kecil setelah memanjat tembok halaman belakang rumah.


"Yaudah kalau gitu ayo cepat". 


Kami semua bersiap. Aku mengambil tas ransel dan juga mengambil senjataku linggis. Kami semua melangkah keluar dari kamarku menuruni tangga cepat. Ray berada didepan dan aku dibelakangnyaa, david sudah pasti dibarisan belakang romelo ditengah menjaga rina, Elin dan clarasya. Kami berjalan menuju halaman belakangku.


"Biar aku duluan yang naik". Ucap Ray lalu ia melompat menaiki tembok setinggi 1 meter. Ray mengedarkan pandangan ke sekeliling takut ada zombie yang berkeliaran didekat sini.


" Aman..cepat naik".


"Emm Ray kita cewek ga bisa lompat tinggi kek kalian". Kata Rina.


" Aih,oiyaya cewek biasalah~". Celetuk Romelo


Ketiga cewek itu memandang datar merasa tersindir.


"Ei! Faktanya gitu ya". Pekik Romelo


" Ssstt... Romelo bacotnya dikondisikan! ". David mencoba mengingatkan.


" So-sorry". Romelo langsung menutup mulutnya.


"Dav.. Jongkok biarin mereka naik dipundak kau aja". Usulku


" Iya badan kau paling gede diantara kita, kuatlah pasti".


"Iya iya ". Jawab david terpaksa lalu dia berjongkok ditembok.


" Cepat kau duluan Rina". Titah Ray.


Rina mengangguk ia menaiki pundak David dan david berdiri pelan-pelan dan diatas Ray mengulurkan tangannya.


"Huft makasih Ray".


" Iya,elin kamu sekarang".


*BRAK!! *.


" Eh su-suara apatuh?". Tanya Romelo.


"Cepat! Pasti pagar barikadenya jebol". Ucap Ray.


Kami semua segera menaiki tembok itu. Beberapa menit kemudian rumahku hampir dipenuhi zombie yang merangsek masuk.


" Gi-gila". Sahut David.


"Cepat turun kita ga bisa lama-lama".


Kami bertiga melompat turun diikuti clarasya, sedangkan Rina dan Elin hanya diam.


" Cepetan turun lin lama amat".  Romelo heran melihat Elin malah diam diatas.


"I-ini tinggi takut aku".


" Astaga cewek, ini pendek udah cepetan".


"Rina kamu juga takut heh". Tanyaku


" Hehe ini tinggi tau wajar aja".


"Kamu lompat nanti aku tangkap Rin".


" Etdah masih ada aja momen romantis lagi kek gini". Celetuk Romelo.


"Tau emang bisa aja si jamal". David ikut menambahi melihatnya.


" Seriusan cepetan Rina".


Aku melihat ekspresi Clarasya kelihatan kesal, apa dia suka sama Ray juga?.


"Iya iya clara sabar.".


Rina diam beberapa saat menyakinkan dirinya. Rina melompat  sembari menutup matanya.


" Hup! Dapat".


Rina membuka matanya dilihat Ray tersenyum kepadanya membuat wajah Rina memerah malu.


"Ehemm, ehemmm iya udah adegan romantisnya kale".


" Makasih Ray".


"Iya Rin".


" Kak aku belum turun ish! ".


Oiya kami melupakan Elin dia masih disitu. Ray merentangkannya bersiap menangkap Elin.


" Gausah dia ditinggal aja". Ucap Romelo tatapan mengejek dia berikan ke arah Elin.


"Rome ga lucu bercandanya". Jawab kesal dari Elin.


" Nyenyenye".


" Ayo Elin lompat, kakak tangkapin".


"Dibilang gausah- adaw!!".


Kepala Romelo terkena ayunan kaki Elin ketika tubuhnya ditangkap Ray.


" Aduh! Ada nih orang sial mulu". Sungut Romelo ia mengusap kepalanya. Elin tidak menjawab ia hanya menberikan tatapan tajam kearah Romelo lalu ia berjalan menuju kakaknya.


"Ayo kita pergi sekarang".