Ba(D)Ay

Ba(D)Ay
*5. Get Ready



"mama!".


Teriakanku menggema dirumah tapi orang yang aku panggil tidak menjawab. Aku berlari mengelilingi rumah mencari keberadaan mamaku, kucari dia dikamarnya tapi kamarnya kosong.


"mama!.maa!".


Mungkin dia ada di kamarku aku berlari meninggalkan teman-temanku dan segera ke lantai 2. Kubuka kasar pintuku'tidak ada!,kucoba cek dilemari!'. Mungkin saja mama bersembunyi disitu,tapi nyatanya tidak ada juga.


"fak!,mama dimana!?".


Perasaan cemas semakin menumpuk jantungku berdetak dengan ritme tak beraturan,takut..aku takut terjadi sesuatu dengan mama. 


"dimana,dimana,dima--".


"joe tenang!". Ray menepuk pundakku.


"iya tenang dulu Joe". Sahut Romelo juga.


Aku duduk ditepi tempat tidur dan mencoba menenangkan kepanikanku,kuletakan linggis ditangan ke karpet kamarku. Semua terdiam mencoba berpikir sejenak membuat suasana di kamarku menjadi hening.


*Pip,pip!*


Sebuah suara mengintrupsi suasana hening kami.


"yah,baterai ponselku mati lagi". Gerutu david mengambil ponsel didalam saku celana.


"ah,kau beruntung ponselku jatuh tadi dijalan". Ucap Ray


"kalau aku ketinggalan dikelas".


"kenapa jadi membicarakan ponsel sih!". Ujarku kesal


Dasar mereka bukannya memikirkan mencari jalan keluar,malah sibuk Membicarakan ponsel! Memang ponsel bisa memban--oiya!.


Aku bangkit berdiri dan merogoh saku samping celana.


"ada apa?". Tanya Romelo kaget melihatku tiba-tiba berdiri.


"ini yang akan membantu". Jawabku dan menunjukkan benda segiempat dengan layar tengah menyala.


"oiya!Kenapa gak kepikiran ya".


"yaudah cepat".


Kucari kontak nama mama lalu menekannya.


*tut...tutt..tuutt..*


*klik!*


Maaf sisa pulsa anda tidak mencukupi silahkan me--*


"aaah!~ suee!".  Serentak kami berteriak mendengarnya.


"gimana dong nih". Ucapku


"ee..e.. Gimana kalau video call kau masih ada paket data?". David memberi saran.


"masih,ayo kita coba".


"ma!" panggilku ketika vc sudah tersambung.


"wilver! Kamu dimana sekarang?". Tanyanya,raut wajah mama nampak sangat khawatir kepadaku.


"aku dan teman-temanku ada di rumah ma..".


Aku mengedarkan ponselku agar


Mama bisa melihat Ray,Romelo dan david.


"hai tante". Jawab Mereka bertiga.


"yaampun syukurlah kalian semua selamat".


"ma,mama dimana sekarang!?".


"mama ada di tempat pengungsian sekarang".


"tante,ada orang tuaku juga gak disana!?". Ucap david.


"iya tan, ada mama aku juga gak?". Kini Romelo juga ikut bertanya.


"iya orang tuaku juga gimana tante?".


"semua selamat kok tadi tante bertemu mereka".


"dimana mereka?mereka baik-baik sajakan? kami mau melihatnya!". Mereka mencondongkan kepala mereka mendekat ke layar ponselku.


"woi,woi,Santai aja dong".


"maaf,mereka sedang ada pemeriksaan oleh petugas disini".


"pemeriksaan?".


"iya.hanya memastikan apakah kita terinfeksi dan juga apa didalam tubuh kita virus yang membuat kita berubah seperti mereka aktif atau tidak. Jelas mamaku.


"oh begitu.Tante, dimana lokasi pengungsiannya".


"ada dipusat kota Ray, tempat yang dijadikan pengungsiannya adalah hotel marry kelton".


*pip!*


Tiba-tiba saja handphoneku mati. Kunyalakan lagi handphoneku. layar handphoneku muncul gambar baterai kosong lalu setelah itu beberapa detik kemudian handphoneku kembali mati.


"suee!, baterainya habis". Ucapku kesal.


Argh!! Menyebalkan kenapa batrenya bisa habis disaat-saat begini! Kulempar kasar handphoneku ke tempat tidur. Kusentuh pangkal hidung dan memijitnya sebentar untuk mencoba menghilangkan segala perasaan campur aduk yang kurasakan sekarang.


" setidaknya kita tau tujuan kita selanjutnya". Ujar Ray.


"iya". Jawab David dan Romelo.


"sekarang kita ngapain?".


"kita istirahat sementara dulu disini,hari sudah mau malam".


aku melihat langit biru bercampur orange dengan warna merah jambu. Rasanya lebih baik melanjutkan perjalannya besok saja,lagipula aku sudah tidak nyaman dengan baju yang kupakai ini. Kemeja berwarna putih kini lebih didominasi warna merah berbau amis.


"aku mau mandi duluan".


Aku berjalan menuju kamar mandi yang ada didalam. Ada sebuah tarikan di bahu,membuat badanku mundur kebelakang.


"hehehe,aku duluan ". Ucap ray berlari duluan masuk kekamar mandi.


"eh apa?...wait..Woi! sialan kau Ray!". Aku menggedor pintu kamar mandi keras-keras. namun yang didalam tak menyahut.


"kalau gitu aku juga duluan!". Kini giliran Romelo yang berlari ingin menempati kamar mandi satu lagi yang ada di lantai satu".


"woi! Tunggu!". Aku dan david belari mengejarnya.


...**********...


"aah, segarnya~".


Aku membaringkan tubuhku. Semuanya ada didalam kamar, Ray memakai jacket hoddie hitam dan celana panjang coklat,dia sedang duduk bersandar di tembok. Romelo memakai kemeja flanel biru bermotif kotak hitam dan celana pendek hitam,Romelo sedang menonton acara di TV yang semuanya sedang memberitakan tentang kekacauan saat ini. Lalu david,dia memakai sweater hijau tua dengan celana berwarna cream sedang ikut menonton berita bersama Romelo.


Aku memandang langit-langit kamar,aku menghela nafas lagi sambil menutup mataku. Memikirkan kejadian menimpa kami sekarang.


Sebenarnya apa yang sedang terjadi??.


'kembali lagi permisa di berita terkini. Kekacauan terjadi diseluruh kota,orang-orang berubah menjadi gila dan menyerang orang disekitar'.


...


...


"gila!,seluruh kota kacau!".


Aku bangun menyimak bersama lainya memandang layar kaca Tv dengan serius. Keadaan kota benar-benar kacau,kebakaran,kemacetan dimana-mana dan orang-orang yang tergigit maupun sudah berubah terekam oleh kamera.


'diberitahukan kepada semua penduduk kota untuk mencari tempat perlindungan atau pergi ke tempat pengungsian yang sudah disediakan oleh pemerintah.'


*Bruk!* kamera yang meliput reporter ini terjatuh.


"loh..kau kenapa?".


Repoter perempuan ini menghampiri kameramen.


"a-apa yang kau lakukan!!,Argh!!,tidak!".


*Grrr!*


Jeritan kencang terdengar,tetapi kami semua tidak bisa melihat keadaan reporter pembawa berita karena kameran ini berada ditanah.


"apakah.ini mimpi!??".


'Plak!'


"auww!".


Aku memegang dahiku yang disentil Ray keras.


"Gimana menurutmu Joe? ".


Padahal aku berharap ini adalah mimpi buruk dan aku Cuma harus bangun untuk mengakhirinya tapi Tuhan tidak mengabulkan harapanku ternyata.


Sekarang adalah akhir dari semuanya,semua yang dialami kemarin adalah hari terakhir kami semua merasakan kedamaian...karena mulai detik ini dunia yang kami tinggali sudah tidak berlaku lagi hal-hal seperti itu.


kembali kurebahkan diriku dikasur.


Suasana kembali hening,karena Romelo mematikan TV dan Kami semua sibuk dengan pikiran kami masing-masing,kami masih tidak percayan dengan apa yang terjadi. Dalam waktu beberapa jam saja semuanya berubah seketika.


"gila!,ini benar-benar gila!!, siapa sih yang menyebabkan ini semua". Ujar Romelo kesal


" entahlah..". Jawabku.


"sudah,yang bisa kita lakukan sekarang adalah kita harus bertahan".


"iya kau benar Ray".


"eh aku mau nanya dong". Tanya david.


"apa?". Kami bertiga menoleh kearahnya.


"gak ada makanan nih? Laper". David nyengir kuda sambil mengusap perut besarnya.


"yeu,dasar sibadak". Sahut Romelo


"hahahaha!". Aku dan Ray tertawa mendengar ucapan Romelo.


"coba kau cari di dapur ada dikulkas".  Mendengar itu David langsung pergi keluar dari kamarku.


"oiya vid,vid!". Panggil Ray


"apa?".


"sekalian kau ambil makanan yang bisa kita bawa". Jawab Ray.


"kita juga harus bersiap-siap,jadi kita tak perlu repot lagi". Lanjut Ray.


Benar juga! Ini bisa memudahkan kami. Kami semua bergegas menyiapkan apa yang bisa dibawa. Aku ambil Ransel besar berwarna biru tua untuk dipakai.