Ba(D)Ay

Ba(D)Ay
*4. Back To home.



Saat ini aku dan teman-temanku berada dalam toko peralatan. Aku mengelilingi tempat ini sembari memilih apa yang akan aku gunakan.


"hmm...apa ya?".


Dihadapanku terdapat kapak untuk menebang kayu,pickaxe,berbagai jenis Martil dan juga linggis.


"kau pakai ini aja Joe".


Ray merebut pickaxe yang aku pegang dan digantikan linggis panjang dua sisi yang di satu ujungnya lancip.


"loh,kenapa?".


"karena, ini lebih cocok buatku". Ray mengangkat pickaxe bergagang panjang itu memakai kedua tanganya.


Hmm...di harganya tertera deskprisi ukuran linggis ini. Disini tertulis 600X16MM beratnya sekitar 3 kilogram lebih. Sedikit lebih ringan dari pickaxe yang aku pilih tadi.


"baiklah,aku pakai..".


"Ray,Joe".


Aku dan Ray menoleh keasal suara. Itu Romelo kulihat ditangan kanannya memegang stik golf lalu disebelahnya ada david yang memakai helm sepeda nuke head batok dikepalanya. Helm sepeda dan stik golf..ya..eh tunggu sebentar! Disinikan bukan toko olahraga.


"Rome,dav,kalian dapat darimana?". Tanyaku menunjuk ke kedua benda itu.


"toko olahragalah..". Jawabnya enteng


"disinikan bukan toko olahraga?". Balas Ray


"tadi aku dan Romelo melihat ada toko olahraga didekat sini. Romelo langsung masuk kedalam toko,yasudah aku juga ikut deh.".


"kalian ini! Kan sudah kubilang untuk berhati-hati,jangan asal keluyuran dan asal masuk tempat yang gak kita ketahui!". Ujar Ray kesal melihat kelakuan mereka.


Hadeh. Mereka ini ceroboh sekali. Mereka tidak takut apa kalau nanti bertemu dengan mereka.


"hehe...so-sorry ray'. Ucap Romelo.


"ini kami ambil juga dari toko".


David menyodorkan kepadaku dan ray sebuah pelindung lutut,siku dan sarung tangan. Aku dan ray mengambil dan memakainya. Heh? Untuk apa dia ambil ini?memangnya berguna apa? Tapi aku yakin mungkin akan berguna nantinya. Kami semua sudah memegang benda yang kami pilih. Romelo memakai stick golf,david mengambil dua martil paku dan mengambil banyak sekali kotak berisi macam-macam mata obeng berbeda jenis. Ketika aku tanya untuk apa dia menjawab untuk amunisi ketapelnya. Tak mau berlama-lama disini kami keluar dari toko. Sepi dan sunyi Itu yang dirasakan sekarang yang kudengar hanya derap pelan langkah kaki kami,sesekali kami melirik kekiri dan kekanan berjaga-jaga. jantungku berdegub kencang disetiap langkah yang ku tapaki.


'Dang!'.


Semua menoleh serentak mendengar suara benda jatuh yang terdengar kecang di pendengaran kami. Disana, dijalan sebelah kanan ada 3 monster,satu diantaranya terbaring ditanah karena menabrak tong sampah besi. Ugh! Aku merasa ingin memuntahkan isi perutku lagi. Melihat kondisi monster yang tadinya terbaring kini perlahan bangkit,organ tubuhnya terlihat dan itu usus!,usus terburai keluar dan beberapa organnya hancur karena dimakan monster lain. Aku bergidik ngeri melihat wajahnya,wajahnya penuh bekas gigitan dan cakaran.


"ja-jangan kita lawan". Ucapku sembari menahan mual memakai punggung tangan.


Mereka mengganguk, kami berjalan menghiraukan mereka.aku dan Ray berjalan didepan,David ditengah dan Romelo dibelakang. David sengaja berada tengah karena ia bisa menyerang dari jauh jadi ia bisa bertugas melindungi kami semua dan juga menyerang.


*Urrr!*


'sial!' didepan ada 10 monster berdiri menggeram, mata hitam dengan selaput putih yang sudah berubah merah menatap langit,mulut mereka berliur dan berlumuran darah sedang terbuka lebar.


"kita putar arah". Ujar Ray


'Trak'


Begitu kami memutar tubuh kami,dibelakang muncul 5 monster lagi berjalan tak tentu arah dari 5 monster,tiga diantaranya yang tadi aku lihat!.


"kita tak punya pilihan lain..". Ucap Ray.


Kami bertiga menoleh mendengar yang tadi ia katakan,Ray bersiap dengan pickaxenya. Kami juga bersiap bersama dengan senjata kami masing-masing. aku coba menenangkan diriku untuk tidak ragu melawan mereka. Kuhembuskan nafas perlahan-lahan. Tenang Joe,tenang...santai saja.


"david,Rome kalian lawan yang dibelakang". Ucapku


Seperti biasa dimulai dari david menyerang terlebih dahulu,dia menyerang bagianku dan Ray. Monster dibelakang menuju kearah kami mendengar geraman monster didepan yang terkena serang david.


Aku dan Ray berlari kearah monster didepan dan david berbalik menyerang dibelakang bersama Romelo. Dua monster datang dari depan. Satu bapak-bapak tua dan satu remaja seusiaku. Kutendang dada monster bapak tua itu agar menjauh, disamping kananku monster remaja ini ingin menangkapku. Aku mengelak kekanan lalu kupukul puncak kepalanya hingga tertembus ke otaknya menggunakan sisi linggis yang melengkung.


*Graa!*


monster yang tadi kutendang memajukan kepalanya ingin menggigit bahuku. Segera aku ayunkan linggisku horizontal kearah kepala botaknya. Sisi lengkung linggisku mengenai pipinya,Membuat luka robek lebar dan beberapa giginya lepas


dari gusi, monster ini terpelanting kesamping lalu Kutancap dahinya saat dia tersungkur menggunakan sisi linggis yang lancip lurus.


Datang lagi monster dari arah kiri,Kedua tangannya berlumuran darah berhasil memegang kedua pundaku. Dia menyergapku! Mulutnya maju mencoba menggigit leherku,kutahan mulutnya menggunakan linggis.


"ukh! kuat sekali!".


*Jleb!*


Monster itu tiba-tiba jatuh kesamping. Nafasku memburu,keringat dingin mengucur deras dari pelipis. Kulihat Samping kepala monster tertancap paku,berarti yang menyelamatkanku tadi adalah david,kulirik dia yang sedang sibuk membantu Romelo dan Ray secara bergantian. Thanks vid sekali lagi hidupku diselamatkan oleh teman-temanku.


"Joe!,jangan diam saja ". Panggil Ray.


Kutengok Ray melawan monster-monster sendirian, dengan gesit ia melawan monster dari berbagai arah menggunakan pickaxe.


"jangan diam saja,bantu aku!".


Ucap Ray sambil mengayunkan pickaxenya dari kiri ke monster didepan.


Benar juga kenapa aku diam saja. Aku harus membantu Ray dia melawan 6 monster sendirian,dasar.. aku benar-benar tidak solid. aku maju membantu Ray,menyerang monster yang datang dari arah samping.


*Grr!*


*Duak!".


"matilah kalian semua!".


Aku menyerang monster dibelakang Ray yang mencoba menggigitnya. Ujung pickaxe Ray menusuk leher monster yang dia lawan sampai terkoyak dan lepas dari tubuhnya lalu jatuh ke tanah. Jika Ray menusuk leher,aku menancapkan linggisku sampai menembus tempurung kepala mereka dan otak mereka tercecer keluar,terkadang aku menusuk wajah mereka berkali-kali membuat luka koyak diwajah Monster yang aku dan Ray lawan kebanyakan mati dengan sadis,Ini berbeda dengan Romelo dan dan david yang tak sampai organ dalamnya keluar.


'Kenapa ini ?!' aku merasakan sensasi tak bisa kujelaskan,sebuah senyum simpul mengembang diwajahku memandang mereka.


"oi"


Aku merasakan bahuku ditepuk pelan.


"ngapain senyum-senyum". Tanya Ray sambil memberi tatapan menelusuk kepadaku.


"ah!,ti-tidak apa-apa". Ucapku gagap karena tatapan Ray tajam.


"aku cuma merasa senang bisa Membunuh mereka semua". Sambungku.


"senang?..membunuh?". Raut wajah Ray menjadi serius.


"ma-maksudku...bukan begitu,aku senang kita bisa mengalahkan mereka jadi kita selamat!".


Ray memandang serius kearahku sesaat lalu dia berbalik. Kami berjalan meninggalkan monster-monster yang mati. Setelah itu kami tak banyak bertemu mereka di area Ruko sehingga kami bisa keluar dari daerah itu. Berbeda di area Ruko yang sepi di daerah komplek menuju rumahku begitu ramai,banyak orang-orang dari komplek ini berlarian berlawanan dengan kami,mereka membawa barang berharga bersama dengan keluarganya.


Kepanikan melanda disini,Tak banyak ada orang yang tertabrak mobil dan motor yang melaju kencang tidak memedulikan Orang-orang yang berlarian. david hampir menjadi korban jika Bahunya tidak ditarik Romelo kepinggir jalan. dia bisa menjadi korban mobil yang ugal-ugalan melaju cepat.


Melihat keadaan komplek begini aku mempercepat langkahku. Sebagian orang yang tinggal disini sudah berubah menjadi mereka, aku dihantui rasa cemas dan khawatir tentang mama saat ini. Aku berharap dia baik-baik saja!.


100 meter menuju rumahku ada monster-monster itu sedang berlari mengejar. Kami maju menyerang mereka semua sembari berlari menuju rumahku.


"sial!, bagaimana ini!?". Tanya david.


"Joe bukan pintu gerbangnya".


David,Romelo dan Ray mereka melawan monster-monster yang mendekat sedangkan Aku meninggalkan mereka dan beralih membuka pintu gerbang rumahku,kurogoh saku celana mencari kunci gerbangku.


"Ray bagaimana ini?". Tanya Romelo.


Aku melihat mereka bertiga menghentikan serangannya.


"kalian kenapa cepat masuk!".


Mereka tetap diam tidak mendengarkanku. Aku menghampiri mereka,didepan mereka berjalan gontai anak-anak berumur 10-12 tahun yang berubah menjadi seperti mereka.



...


*Grrr!* mereka menggeram pelan berjalan pelan menyeret kaki mereka yang hampir putus itu. Mata sayu hitam berselaput merah ini menatap teman-temanku.


*Dugh!*


Kudorong Ray kesamping lalu kupukul mereka yang ingin menerkam.


"kaliam kenapa!, cepat masuk kerumahku".


Mereka bertiga masuk,lalu setelah itu aku menutup gerbang rumah.


"Mama!".