Ba(D)Ay

Ba(D)Ay
6.Run...



Malam telah tiba,aku bersama teman-temanku masih berada didalam kamar.Seusai menyiapkan segalannya,aku merebahkan diri dikasur. menunggu david membawakan makanan untuk kami makan.


"lapar nih~". Rengek Romelo terdengar seperti anak kecil.


"david mana sih? ".


"kalian sabar sedikitlah..".


Beberapa menit kemudian david datang dengan membawa mie instant cup dinampan.


" satu, dua, tiga..".aku menghintung mie cup yang ada dihadapanku jumlahnya ada 6 padahal kami berempat.


" vid kok ada enam? ".


"hehehe,yang satunya buatku,soalnya lagi masa pertumbuhan, butuh asupan lebih".


Aah..apanya yang pertumbuhan emang dia aja yang rakus kalau masalah makanan.


" Joe,ray,itu bukannya temanmu!? ".


romelo melihat 3 orang gadis sedang berlari kearah mereka. Ketiga gadis itu berlari berusaha menghindari kejaran infected.


" hmm... Itu siapa sih ray?Aku gak bisa kelihatan mataku rabun..".


"itu clarasya dan adiknya lalu disebelahnya..".


Ray mencoba menajamkan penglihatannya melihat gadis satunya lagi yang tengah menunduk.


"...Itu Rina joe!" lanjutnya.


"hah?Apa?Rina??". 


" Aku harus kesana joe!".


"tunggu,tunggu,Ray!".  Aku mencoba menahan Ray yang bergegas pergi.


" lepasin Joe,Rina dalam bahaya".  Ia menghentak kasar tanganku yang ada di bahunya. Ia berjalan cepat mengambil pickaxe yang ditaruh disamping pintu.


" tunggu bentar Ray, kau gak bisa asal pergi aja". Aku kembali mencoba menahannya.


"Kau gak bisa pergi cuma modal nekat doang Ray, yang kita lawan ini bukan manusia kalo kau bertindak gegabah yang ada namanya bunuh diri!".


"Rina dalam bahaya,aku gamau dia kenapa-kenapa". Ray menaikan nada suaranya.


Sikap Ray akan berbeda jika menyangkut tentang Rina. Ini adalah sifat yang aku tidak suka kekhawatiran berlebihannya tentang Rina ini.


" Kau harus tenang..Kalau kau gegabah yang ada gagal nyelamatin dia,coba berpikir..kalian berdua bisa mati".


Setelah mendengar itu ia menghela nafas panjang sambil memegang pangkal jidatnya sesaat.


"  baiklah jadi apa rencananya".


...Clarasya Pov...


...Flashback...


"sial! ". 


Apa yang terjadi! Kukira hanya disekolah saja ternyata seluruh kota sudah terinfeksi juga. Saat itu aku dan adikku bersama dengan rina sedang istirahat, kami berniat berkeliling untuk melihat-lihat festival sekolah. Lalu kami tidak sengaja melihat beberapa orang berlarian dikejar oleh 5 orang siswa dengan wajah menyeramkan penuh darah diwajah mereka.


"Ihh, itu kenapa mereka serem banget deh? ".


" Sepertinya itu anak-anak dari klub drama".


'Ah tolong kami!! ".


" Hebat banget akting mereka".


'Brugh!, ah jangan!!'.


Salah satu dari mereka terjatuh karena ditangkap dan langsung dimakan oleh kelima siswa itu dengan brutal.


"Ih! Gila ini kek bukan akting deh". Ucap Rina dengan ekspresi mual dan takut.


" Kita harus pergi dari sini deh". Clarasya menggandeng adiknya dan rina berlari pergi.


" Eh-eh, mau kemana kita? ".


" Kita keluar dari sekolah sekarang".


...Flashback off...


Ketiganya kini sedang berlari menghindari kejaran para monter dibelakang mereka. Keringat mengalir deras dipelipis mereka, dengan nafas terengah  mereka berusaha sekuat tenaga berlari.


"Hah,hah,kak...Aku udah...Gak kuat".


"Paksain Elin! ". Perintahku


"Clara,aku juga udah gakuat banget".


Rina berhenti berlari, kedua kakinya terasa lemas membuatnya jatuh terduduk.


" Tinggalin aku aja, kamu pergi bareng Elin".


"Gak! Ayo kamu bisa Rina". Clara mencoba membantu Rina berdiri.


" Kak!". Teriak Elin


Dibelakang ada 1 monster yang ingin menangkap mereka.


"Hah!".aku reflek menendang dwi chagi (back kick)ke arah monster itu.


Membuat monster itu terpental. Info clarsya adalah atlet Taekwondo pemegang juara 1 nasional selama 2 tahun.  Dia gadis berparas cantik tapi mematikan,hahaha...sangat sulit untuk mendekatinya bagi para siswa disekolah. Karna dia tidak segan untuk membuatmu masuk rumah sakit jika menganggunya.


"Rina cepat bangun!". Ucapku sambil memasang posisi bertarung.


" Ayo kak rina bangun". Elin berlari membantu untuk Rina.


Para monster dibelakang mulai mendekat kearah kami.


"Hya! ".


" Banyak banget gimana ini?".


Aku berusaha menjauhi monster yang ingin mendekat dengan menendang dada mereka. Siapapun tolong kami.. Kumohon.. ".


" Elin,Rina,cepat kalian lari duluan,kakak ikut dari belakang".


Keduanya berlari duluan sedangkan aku tidak mengikuti mereka,aku berlari mendekati gerombolan monster dibelakang. Beberapa meter Elin menoleh kebelakang,ia terkejut melihatku.maaf kakak berbohong,kakak melakukan ini supaya kalian selamat.


"Kak! Apa yang kakak lakukan!?".


"Rina bawa Elin cepat!". Teriakku disela aku sedang menghindari serangan monster.


" Clara..". Rina menatap sendu kearahku air mata menumpuk di pelupuk matanya.


" Apasih kak! Jangan aneh-aneh! ".


" Rina tolong jaga Elin".


Sebelum Elin ingin membantu Rina menarik paksa tangan Elin.


"Jangan sia-siain pergorbanan kakakmu lin".


" Enggak!,Kak!,Kakak! ". Air mata mengalir deras dipipi putih Elin.


Aku mencoba mengulur waktu yang  kubisa agar Rina dan Elin bisa kabur menjauh. Kumohon cepatlah, aku sudah tidak ada tenaga lagi buat menahan. Tendanganku sudah mulai tidak sekuat sebelumnya kurasa ini adalah batasku.


" Ah sial!".Pinggang kananku terkena ayunan tangan dari monster disampingku.sial!Aku tidak fokus karena sudah tidak ada tenaga lagi. serangan ini membuatku hilang keseimbangan lalu jatuh tersungkur.


"Semoga saja Elin dan Rina selamat".


Aku menutup mata pasrah.


*buagh!,buagh!*


" David,cover". Loh,aku...seperti mendengar suara cowok,aku membuka mataku kembali. Disana ada Cowok memakai sweater merah bergaris hitam dan celana chino hitam dan memakai pelindung di kedua siku dan kakinya.


"Joe?".panggilku


Joe sedang memukul monster didepannya dengan bringas. Aku mengedarkan pandangaku ternyata dibelakang ada Ray sedang menjaga Elin dan Rina lalu sepertinya  2 orang lagi didepannya yang juga sedang sibuk membantu itu adik kelasku deh.


" Sya! Bangun".


Aku mendengar Joe memanggilku, ia sedang memukul kepala monster dihapannya dengan linggis. Hugh! Aku melihat kepala itu hancur dan darah terciprat mengenai Joe,isi perutku terasa melonjak naik.


"Kak mundur kebelakang,ke Ray".


Adik kelasku yang berbadan besar berlari kearahku berniat membantu Joe sepertinya. Ia menyerang dengan menggunakan ketapel dengan peluru paku. Sebelum aku bangkit seseorang sudah menggendongku ala bridal style Aku lihat ternyata itu Joe.


"Ray! ayo pulang gak kuat kita nahan ini".


Ucap joe sambil berlari menggendongku. 'apanih badan kecil gini bisa menggendongku sih'.


" Ya!,ayo Rin,elin". Ray menarik tangan Rina.


"Aduh kakiku lemas Ray,gak bisa lari lagi". Ucap Rina.


" Oh yaudah". Ray langsung menggendong Rina dan berlari.


"Ih apasih kok kek drakor gini woi". Adikku yang melihat merasa kesal dan iri mungkin.


" Sini gua gendong".


"Gamau sama kau Rome".


Aku melihat adik kelasku yang dipanggil rome Berjongkok dihadapan Elin.


" Udah cepetan jangan bercanda!".


Adikku menurut ucapan Rome lalu menyamakan posisinya dan memeluk tengkuk lehernya.


Kami berlari dengan dilindungi oleh david menggunakan ketapelnya.


...Clarasya pov off...


" Tutup cepat gerbangya jangan lupa diganjal".


Kini mereka bertujuh berhasil kembali kerumah Joe. David menutup dan menggajal pagar rumah dengan meja teras dan bangku yang ada dihalaman.


"Rina kamu cepat masuk kedalam,istirahat dulu". Ucap Ray yang menurunkan gendongannya.


" Iya makasih Ray". Rina memeluk Ray sebentar lalu masuk kedalam.


"Dah ya turun,kau berat". Ucap Rome malas


" Ish,iyaya". Jawab Elin yang keliatan sewot mendegar ucapan Rome


"Eh tunggu lin". Panggil Rome


" Apa? ". Tanya Elin.


" Aku gak dipeluk kek si Ray". Rome merentangkan kedua tanganya.


"Mau ngerasain dicium aspal gak?". Elin berjalan masuk kedalam rumah.


" Turunin.".


"Eh,hah?". Ucapku ambigu, karena tengah melihat Elin diledeki oleh Rome.


" Ck.budek". Clarasya segera turunin dari gendonganku.


"Eh,eh..sorry sya". Aku terkejut ia tiba-tiba begitu dan berjalan meninggalkanku tanpa berbicara apapun.


"Buset.dingin banget". Sahut Rome.


" Say thanks gitu".celetuk david.


Aku hanya tersenyum kecut mendengar ucapan mereka.apa salahku ke dia deh.