
Tempat Baru---
bab 7
Aku bingung. Haruskah aku membawa jasad yang ku sangka ayahnya Laura, atau langsung membawa mereka bertiga pergi dari tempat ini dan meninggalkan jasad ayahnya Laura disini?
Lagipula aku tidak mungkin sanggup mengangkat batu yang besarnya sama dengan dua kuda.
Pada akhirnya aku memilih untuk mengajak mereka bertiga pergi dari tempat ini dan meninggalkan ayahnya Laura disini...
Aku masih bingung...
Apakah keputusan yang kuambil sudah benar?
Aku ragu...
Keadaan terus memburuk. Lebih baik kami segera pergi dari kota ini. Dan mencari tempat tinggal yang baru. Sebaiknya masalah keputusan ini ku pikirkan lagi nanti...
Hampir sebagian besar kota ini sudah hancur. Batu batuan masih terus menghujani tempat ini. Banyak orang yang meninggal dimana mana. Aku tidak tahu apa yang terjadi diluar sana.
Setelah itu kami bergegas pergi ke luar kota melalui jalur evakuasi. Di sana sangat ramai, orang orang berkerumun dan berdesakan. Tidak sedikit juga orang yang terluka. Setelah melewati gerbang, kami menaiki kereta kuda.
Tidak heran jika mereka sudah melakukan sedikit persiapan, namun apakah ini sudah sedikit terlambat ?
Setelah naik, kami di antar menuju perbukitan Mayene. Di sana sudah didirikan banyak tenda darurat. Di sana juga sudah ada beberapa tenda medis yang didirikan.
Aku sempat berpikir untuk mencari tempat yang agak jauh dari tempat tinggal kami yang lama. Aku tidak ingin kejadian yang sama terjadi lagi kepada kami.
Aku pun menanyakan tentang hal ini kepada Ruiner. Dia tentu akan ikut. Pastinya juga aku mengajak Laura dan ibunya.
Pada akhirnya kami semua menaiki kereta yang menuju ke kota Glastern yang terletak kurang lebih seratus dua puluh tujuh kilometer ke arah timur laut.
Selama perjalanan, Laura hanya diam saja. Mungkin ia masih terpukul atas kematian ayahnya. Sesekali ia juga melihat ke arah luar.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang. Akhirnya kami sampai di kota Glastern. Di sana kami disuguhi pemandangan yang sangat indah. Setiap sudut di kota itu ditumbuhi oleh pohon pohon yang rindang.
Berbeda dengan kota tempat tinggal ku dulu, disana juga mungkin ada banyak pepohonan, itupun hanya ada di pasar dan beberapa jalan di pusat kota.
Di sana kami mencari rumah yang dijual. Aku sempat ragu, apakah di tempat seperti ini masih ada rumah yang dijual?
Aku dan Ruiner berpencar mencari informasi tentang rumah yang akan dijual. Laura masih terduduk lemas di bangku bawah pohon bersama ibunya.
Rupanya kami sepertinya sangat beruntung. Di pinggiran kota terdapat sebuah rumah dengan tiga kamar yang sedang dijual dengan harga yang cukup murah. Karena uang yang kami bawa hanya sedikit, kami pun membeli rumah tersebut.
Walaupun hanya rumah sederhana, setidaknya kami berempat memiliki tempat tinggal yang tetap di kota baru ini.
Setelah beberapa hari tinggal di tempat yang baru, aku melihat beberapa hal. Hampir setiap hari ada tentara rakyat dan kerajaan pergi bolak balik ke luar kota Glastern. Terkadang, tidak semua dari mereka yang kembali dengan selamat. Ada yang luka luka dan ada juga yang menghilang. Mungkin diluar sana benar benar sedang terjadi peperangan...
Selanjutnya
Keputusan---
...------------ catatan -------------...
perlu diketahui episode episode sebelumnya hanyalah untuk uji coba, dan begitulah, mohon dimaklumi.
...------------- tambahan -----------...
Tempat tempat dalam cerita ini hanya fiktif saja harap dimaklumi saja kalau banyak yang tidak masuk akal...
dikarenakan ada kendala ujian- tugas- dll. jadi mungkin sementara tidak nambah dulu...