
HANCUR-- (2)
Kami pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan. Yang berbeda, kali ini Laura ikut bersama kami. Aku juga sempat bertanya sedikit kepada Laura tentang berkebun. Dia sering melihat ibunya berkebun dirumahnya. "Biasanya ibu menanam sayuran seperti wortel dan kentang..." katanya.
Setelah berbelanja kami akan segera pulang. Namun dijalan sesuatu terjadi...
Hal serupa seperti Minggu lalu terjadi kembali. Kali ini bongkahan batu yang dilemparkan lebih banyak dari sebelumnya. Namun, ukuran nya relatif lebih kecil dari sebelumnya. Karena batu yang dilemparkan berdatangan secara terus menerus, semua warga di evakuasi ke arah perbukitan Mayene atau keluar dari kota.
Aku segera meminta Laura untuk membawa kedua orangtuanya. Ruiner akan mengambil barang barang miliknya yang masih sempat dibawa. Dan aku akan mengambil uang dari warisan sebanyak yang aku bisa untuk kelangsungan hidup kami berlima kedepannya.
Kami memutuskan untuk bertemu lagi di air mancur taman kota secepat mungkin.
Serangan masih terus berlanjut. Harta yang bisa ku bawa hanya sebagian kecil dari jumlah keseluruhannya. saat hendak ke air mancur taman kota aku terkejut melihat bangunan bangunan yang ada di daerah itu sudah hancur terkena hantaman batu. Juga sekarang hampir sebagian besar dari kota ini hancur terkena serangan. Bahkan beberapa wilayah yang aku lewati ada yang sudah tertutupi kabut berwarna merah yang berasal dari percikan percikan darah korban yang terkena hantaman batu.
Aku mulai mengkhawatirkan keadaan mereka. Terutama kedua temanku satu satunya. Aku berlari menuju air mancur taman kota untuk bertemu dengan teman temanku.
Aku sangat terburu buru. Bahkan karena kabut tadi juga tercampur debu dan pasir, mataku tiba tiba perih. Aku sempat tersandung dan jatuh beberapa kali.
Akhirnya aku sampai di air mancur taman kota yang dimaksud. Tapi, hampir sebagian besar tempat itu sudah hancur. Kurasa aku sudah terlambat...
Aku terdiam sejenak. Tiba tiba aku mendengar suara tangisan kecil tetapi terdengar jelas dari suatu tempat.
Air mancur disana sudah patah dan tidak berfungsi lagi. Aku mulai fokus mencari darimana sumber suara tangisan itu berasal. Aku melihat sekeliling. Ada banyak batu batu kecil yang berserakan. Bahkan jasad para korban tergeletak begitu saja. Aku melihat sebuah dinding yang runtuh tetapi dinding itu tersandar pada dinding lainya.
Dan suara tangisan tadi berasal dari sana. Aku mendekati dinding tersebut. dan melihat Ruiner, Laura, dan ibunya sedang berlindung dibalik dinding itu. Dan suara tangisan itu berasal dari Laura.
Di sana Ruiner hanya terdiam. Laura yang menangis sedang ditenangkan oleh ibunya. Di tempat itu aku hanya melihat mereka bertiga. Dimana ayahnya Laura ?
Aku ingin bertanya, tapi saat ini Laura sedang berada dalam suasana hati yang buruk. Jadi aku bertanya kepada Ruiner.
"Mungkinkah?!"
" Ya... Itu semua salahku..."
Tapi, apa yang sebenarnya terjadi?
Aku bingung. Haruskah aku membawa jasad yang ku sangka ayahnya Laura, atau langsung membawa mereka bertiga pergi dari tempat ini dan meninggalkan jasad ayahnya Laura disini?
Lagipula aku tidak mungkin sanggup mengangkat batu yang besarnya sama dengan dua kuda.
Pada akhirnya aku memilih untuk mengajak mereka bertiga pergi dari tempat ini dan meninggalkan ayahnya Laura disini...
Aku masih bingung...
Apakah keputusan yang kuambil sudah benar?
Aku ragu...
Selanjutnya
Tempat Baru---
...------------ catatan -------------...
...perlu diketahui episode episode sebelumnya hanyalah untuk uji coba, dan begitulah, mohon dimaklumi....