Azimetia Stories

Azimetia Stories
BAB 2 (selesai)



Perubahan


Bab 2


Dua hari kemudian, anak itu pergi menyendiri di sungai seperti biasanya. Tiba tiba ada seseorang yang datang mendekati anak itu. Anak tersebut sudah pasrah dan mengira jika orang yang datang ingin menghajar dia.


Namun, yang terjadi malah sebaliknya, orang itu datang untuk...


Hari itu terjadi sebuah pertemuan yang mengubah hidupku secara keseluruhan. Hari itu ada seseorang anak laki-laki yang menghampiriku. Awalnya aku mengira dia akan memukuliku seperti orang orang di pasar sana. Ternyata dia datang untuk berteman denganku.


“Tenang saja” katanya menyakinkan diriku. Aku hanya diam saja dan terus menatap ke arah sungai. Dia duduk di sampingku. Lalu, tiba tiba dia menanyakan nama asliku, tentu aku menjawabnya. “Kyle Fredrich”. Itulah namaku.


Setelah mengetahui namaku lelaki itu tiba tiba bertanya tentang bagaimana sebenarnya masa laluku, dan apa yang terjadi pada keluargaku. “Mungkin ini terdengar lancang, tapi apakah aku bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada ayahmu, Kyle?” tanyanya.


Karena mungkin tidak apa apa, aku pun menceritakan tentang masa laluku yang sebenarnya. Entah percaya atau tidak dia langsung menerimanya begitu saja.


Dia berdiri dan mengulurkan tangannya. Lalu, dia tiba tiba mengajakku untuk berteman. Aku terheran-heran kenapa dia mau berteman denganku? Bukannya tidak bersyukur, tapi selama ini, aku tidak pernah mempunyai teman. Bahkan jika aku punya, orangtuanya pasti akan menyuruh anaknya untuk menjauhiku.


Tidak lama setelah itu, dia menyebutkan namanya sendiri. “Ruiner, Ruiner saja.” Katanya.


Setelah kejadian itu, hidupku berubah. Sekarang aku sudah memiliki teman. Dan kami sering bertemu dan bermain di tepi sungai. Terkadang kami juga pergi ke pasar untuk membeli makanan.


Dua Minggu kemudian aku dan Ruiner pergi ke pasar untuk membeli makanan untuk satu Minggu seperti biasanya. Namun, tak disangka disana aku bertemu dengan seseorang.


Saat itu aku sedang berjalan di pasar bersama Ruiner. Keadaannya saat itu memang sedang ramai. Aku berpikir untuk membeli jubah baru karena yang kupakai sudah lama dan agak kecil.


Karena keadaannya ramai dan sesak, aku tidak sengaja menyenggol bahu seorang gadis yang sedang membawa kotak berisi apel hingga dia terjatuh. Karena merasa bersalah, aku membantunya. Dan mengobati luka lecet karena terjatuh tadi.


Karena penasaran (meski sedikit tidak sopan) aku bertanya, mau dibawa kemana kotak berisi apel itu. Dia menjawabnya. Katanya kotak apel itu akan diantarkan ke sebuah toko di sisi lain pasar. Ternyata dia bekerja pada pemilik toko di sebelah sana.


Entah kenapa, tiba tiba aku bertanya kenapa gadis seperti dia bekerja? Dia menjawabnya dengan ragu. Jika dia bekerja untuk membantu kedua orangtuanya untuk melunasi hutang mereka.


Rasa penasaranku tidak mau hilang. Aku ingin tahu lebih banyak tentang gadis ini. Aku tiba tiba keceplosan menanyakan berapa jumlah hutang yang dimiliki keluarganya.


Karena itu tidak sopan. Ruiner mengingatkanku untuk tidak menanyakan hal itu. Aku pun meminta maaf kepadanya atas ketidaksopananku.


Tapi bukannya marah dia malah tersenyum kepadaku. Karena melihatnya. Aku memutuskan untuk membantunya membawa kotak apel itu ke toko lain di pasar.


Waktu cepat berlalu. Hari ini sudah sore.


Karena masih penasaran, aku bertanya kepada Ruiner, dimana tempat gadis itu meminjam uang. Dia menyindirku “kenapa sih, kau ini begitu ingin tahunya tentang Laura?” katanya. Rupanya dia sudah mengenal gadis itu sejak lama.


Aku pun menanyakan hal lain tentang gadis bernama Laura itu kepadanya. Ternyata dia tau dimana tempat Laura meminjam uang. Aku pun memintanya untuk mengantarku ke tempat itu besok pagi


Ruiner mulai curiga kenapa aku sebegitu ingin tahunya tentang Laura. Dia mulai bertanya. Aku lengsung menjawabnya dengan percaya diri. “Benar, Ruiner, aku akan mencoba untuk melunasi hutang mereka...”


Selanjutnya:


Lunas...


...------------- catatan -------------...


perlu diketahui episode episode sebelumnya hanyalah untuk uji coba, dan begitulah, mohon dimaklumi.