
Permohonan maaf
bab 4
Selang beberapa saat, Laura datang menghampiri kami dan membawakan kami semangkuk ubi bakar. Aku bertanya kepadanya, tapi dia hanya berterimakasih sambil tersenyum. Pada akhirnya dia ikut duduk bersama kami berdua. Dan melihat matahari terbenam sambil menyantap ubi hangat bersama.
sesaat diriku sempat terpikir jika Laura tahu jika aku sudah melunasi hutang keluarganya. Tapi, lupakan lah.
Matahari sudah terbenam dibelakang gunung. Dan hari sudah mulai gelap. saat kami hendak pulang, seseorang memanggil Laura dari belakang dengan perasaan yang riang.
Laura membalikan badannya dan melihat ke belakang. Kami berdua juga ikut melihat siapa yang memanggilnya. Mereka memanggil Laura sekali lagi.
"Ayah, ibu !" Laura membalas panggilan mereka. Ternyata mereka adalah orangtua dari Laura. Dia pun berlari kearah orang tuanya. Keduanya terlihat begitu senang. Mungkin, saat hendak menjemput Laura, mereka menerima kabar dari rentenir jika ada yang sudah melunasi semua pinjaman mereka.
Sebelumnya juga aku sudah meminta kepada Pa - Shen agar tidak memberitahukan jika aku yang melunasi pinjaman tersebut. Karena jika mereka tahu, mereka pasti tidak akan menerimanya. Sekarang mereka tidak perlu takut lagi akan ancaman orang orang suruhan rentenir.
Laura berlari menghampiri kedua orangtuanya. Kami juga mengikutinya dari belakang tapi dengan berjalan. Namun saat kami menghampiri mereka, kami tidak disambut, terutama padaku. mungkin karena gosip yang beredar. Ayahnya bertanya pada Laura.
" Laura, kamu tidak berteman dengan dia kan ?" mereka marah dan mengusirku.
aku memilih untuk mengalah dan pergi, karena aku tidak mau mengganggu kebahagiaan mereka. Tidak apa apa, aku pergi saja dan pulang.
"Ya, begitu, pergi saja sana!" bapak itu terus meneriaki diriku. Aku pergi meninggalkan mereka, Ruiner juga mengikutiku. Terlihat sekilas Laura berdebat dengan ayahnya. Seketika Laura mengatakan hal yang mengejutkan. Rupanya dia selama ini tahu kalau aku yang melunasi pinjaman keluarganya hingga lunas.
Karena tidak mau membuat masalah menjadi semakin besar. Aku langsung bergegas pergi dan pulang.
Saat kubuka, surat itu berisi undangan dari keluarga Laura. Lebih tepatnya undangan untuk makan malam bersama dengan keluarganya. Kalau mau, di sana tertulis aku boleh mengajak Ruiner juga.
Makan malamnya di laksanakan setelah matahari terbenam. aku pergi ke rumah Laura sesuai yang ada di alamat bersama dengan Ruiner.
"Tok tok tok..." aku mengetuk pintu rumahnya. sesaat aku sempat ragu karena takut salah alamat. Ternyata memang benar. Di sana kami disambut oleh mereka. kami langsung dipersilakan untuk duduk di kursi yang telah disiapkan. Setelah kami duduk, Laura dan ibunya pergi mengambil sesuatu di dapur, dan meninggalkan kami bersama ayahnya.
"Nak, sebelumnya tolong maafkan bapak ya... Kemarin sudah memarahimu tanpa alasan, padahal kan..."
"Sudah pa... tidak apa apa, saya sudah memaafkannya ko..."
jawabku memotong perkataan ayah Laura. Aku tidak mau, baru saja mereka merasakan bahagia. Sudah ditambah lagi rasa bersalah yang mendalam.
Tidak lama setelah itu, Laura dan ibunya kembali sambil membawakan teh dan berbagai masakan tradisional. Mungkin, itu semua adalah resep turun temurun dalam keluarga Laucuria.
Mengenai masalah tiga hari yang lalu, Ruiner juga mungkin sudah memaafkannya. Pada akhirnya kami semua menikmati makan malamnya dan mulai berteman dengan baik.
Selanjutnya
HANCUR -
...------------ catatan -------------...
...perlu diketahui episode episode sebelumnya hanyalah untuk uji coba, dan begitulah, mohon dimaklumi....