AWAKE

AWAKE
5. Kepergian II



Dilihatnya oleh pemuda itu sebuah toko serbaguna yang sudah sepi yang ada di sebrangnya. Berbagai macam benda sampai makanan dipajang di etalase dan dinding dalam toko.


Tiba saatnya, si penjaga toko, seorang pria tua menghitung uang penghasilannya dari dalam laci kecil, mata Reo tak bisa teralihkan dari uang-uang itu.


Pria penjaga toko mencari-cari sesuatu lalu meninggalkan tokonya tetap terbuka untuk masuk ke rumahnya.


Tanpa disadari tubuh Reo tergerak mengikuti naluri ke depan toko itu.


Ia menelan ludah dan matanya bergerak tak karuan memantau keadaan. Diliriknya kumpulan orang tua yang bergadang mengobrol dan bercengkrama di sisi lain dari jalanan, cukup jauh dari keberadaannya.


Keadaan memaksanya untuk memberanikan diri mengambil resiko dari jalan yang selama ini selalu dihindarinya.


Dengan tergesa-gesa ia membuka laci kecil itu dan matanya terkunci seperti melihat harta karun.


CKLEK.


Terdengar suara gesekan dari ayunan pintu yang menandakan si pemilik toko kembali keluar.


Ia sempat melongok, namun tak ada seorang pun di depan tokonya.


Reo sudah berjalan menjauh dari sana. Kedua tangannya yang gemetaran ia kantungi ke kedua jaketnya, kecemasan tak terkira menyertainya.


Dihadapannya adalah sebuah titik belokan ke jalan pintas dimana ia bisa menghilang dari jalan raya utama yang masih terdapat beberapa orang yang berkumpul bercengkrama.


Hanya beberapa langkah lagi...


"HEY!! PERCURI!!!"


Dirinya terperanjat saat satu teriakan memecah keheningan.


Tubuhnya tergerak cepat untuk lari pergi dari sana. Namun siapapun yang mendengarnya terpanggil untuk mengejarnya.


Seruan mereka menyuruhnya berhenti, namun seruan itu justru membuatnya tak bisa berhenti berlari.


Sekali pun ia ingin menyerah saja, ia terlalu ketakutan untuk menghentikan larinya. Apalagi dengan mengetahui apa yang dialami mereka dengan nasib serupa.


Kejaran mereka menuntun kakinya pergi tanpa arah, tanpa ia sadari ia masuk ke jalan raya tempat lebih banyak orang berada.


"HENTIKAN DIA!!"


Tak hanya dari belakang, namun sekarang lebih banyak orang berlari ke arahnya dari depan seraya memperserukan amarah.


Disaat yang sama, ia melihat gang kecil yang masih bisa ia capai dari sisi kanannya.


BLTAK.


Untuk beberapa detik tiba-tiba pandanganya menjadi putih dan ia kehilangan keseimbangan tersungkur ke tanah.


Cahaya seperti kunang-kunang terbang memenuhi pandangannya yang gelap dan buram serta dengungan panjang memenuhi pendengarannya.


Ia mengernyit sakit saat tangan kanannya memegang belakang kepala dan darah memenuhi telapak tangannya.


Dengan seruan yang masih menggema samar ia berusaha bangkit namun sesuatu mendorongnya dan membuatnya tersungkur kembali.


Tanpa sempat ia membalikan diri, hantaman demi hantaman ia rasakan di bagian tubuhnya yang lain.


"Dasar sampah!!"


Mereka menggunakan benda tumpul, besi, kayu, bahkan kaki dan tangan mereka kepadanya yang hanya bisa meringkuk melindungi kepalanya sendiri.


Dia berteriak sekuat tenaga dan tanpa hentinya minta ampun untuk mencari secercah nurani dari mereka, namun yang ia temukan hanyalah kenyataan bahwa di tengah mereka yang berteriak melontarkan semua kata-kata yang tak ingin didengarnya, suara permohonan ampunya tenggelam dan bahkan tak terdengar oleh telinganya sendiri.


"Jangan ampuni dia!!!"


"Dia tidak seharusnya disini!!"


Penerangan dari lampu jalanan membuat bayangan mereka jatuh ke arahnya seolah yang ia lihat hanyalah siluet hitam dengan mata dipenuhi amarah dan tanpa ampun.


"Orang-orang sepertinya patut dibakar di neraka!!!"


Di tengah penderitaan luar biasa yang ditahan fisiknya, ia merasa seolah hujan. Sesuatu yang pekat membasahi tubuhnya dengan bau yang menusuk hidungnya.


Semua bayangan yang mengerubunginya menjauh membuat lingkaran yang lebih besar dengan ia sebagai porosnya.


Merekalah hakim dunia.


"Bakar saja dia!!!"


***


"TIDAK!!!"


Tak sanggup mengingat apa yang terjadi padanya setelah itu, bayangan dan ingatannya tetap menerobos masuk di luar kontrol kesadarannya.


"Hentikan..."


Rasa sakit ditubuhnya kembali saat ia membayangkan dirinya, di tengah orang-orang itu, layaknya secarik kertas lusuh yang terinjak-injak dan sudah tak karuan lagi rupanya.


Nafasnya tercekat seraya oksigen yang ia hirup tak bisa mencukupi kebutuhan paru-parunya. Keringat dingin mulai mengucur kembali dari dahi dan keseluruh tubuhnya, persendiannya bergetaran dan kehilangan semua tenaga sehingga ia terjatuh ke kedua lutunya.


Di tengah penderitaannya melawan memori kematiannya. Wajah ketiga orang muncul seraya tersenyum padanya.


Seluruh otot tubuhnya yang tegang kembali rileks, semua seruan dalam kepalanya memudar, perlahan memori pedih dan rasa disekujur tubuh yang mengikuti hilang.


Semua ingatan menerjang dirinya membawanya kembali kekeadaannya, dimana ia sudah tak lagi ada didunia yang sama dengan dunia mereka, orang-orang yang ditinggalkannya.


Pada akhirnya satu jalan yang ia cari itu tak akan pernah ia temukan dari celah hutan manapun yang ia jelajahi dari depan matanya.


Jalan pulang sudah kembali tertutup. Air mata membanjiri wajahnya.


"Nak-" Aurick menyusulnya dari belakang.


"Aku harus kembali..." Reo berbisik pelan.


Mendengarnya, Reo berpaling merangkak dan memegang kuat kedua pundak Aurick. "Tolong katakan padaku bagaimana caraku kembali!!"


Aurick mencoba untuk tetap tenang kemudian menjawab "Kehidupan adalah hal yang fana... sedangkan kematian adalah hal yang pasti terjadi"


"Mereka yang ditinggalkan harus merelakan, begitu pula kita yang meninggalkan. Karena apapun yang kita lakukan, tak akan pernah ada jalan kembali pulang" lanjut Aurick.


Reo melepaskan genggaman tangannya dari pundak Aurick dan berjalan mundur menjauhinya.


Aurick mengaitkan kedua tangan kebelakang "Semuanya sangat sulit, tapi kau harus menghadapinya. Kita sudah mati, itu benar... Tapi disisi lain kita masih hidup. Itulah mengapa kau ada disini dan aku ada disini..."


"Di dunia yang bernama Genesia ini".


"Untuk alasan yang berbeda-beda, kita terbangun kembali. Dunia ini memberikan kita waktu tanpa batas untuk mengulang kehidupan tanpa takdir menentukkan"


"Ketika penyesalan ditinggalkan, harapan baru datang. Inilah kesempatan akan awal yang baru dimulai"


"Aku... aku harus pulang" Reo menggumam.


"Nak-" Aurick menatap pilu.


"Aku tak boleh ada disini..." reo tertunduk, air matanya kembali menhujan. "Mereka... mereka semua menungguku..."


"Kedua adikku... aku berjanji padanya kalau mereka akan tetap bisa sekolah. Tak sepertiku, mereka masih punya harapan... mereka punya masa depan. Denganku tidak ada, apakah mereka harus mengubur harapan mereka juga?"


"Dan ibuku... ibuku... jika aku tidak kembali sekarang, apa yang akan mereka lakukan terhadap ibuku... Bagaimana mereka berdua... bisa menghadapinya..."


Kedua tangannya terangkat menutup kedua wajahnya. Dengan isak sesenggukan ia meratap. "Kesempatan kedua... Memulai awalan baru dan merelakan kau bilang... bagaimana bisa...?"


"Bagaimana aku bisa menjalankan awal yang baru dan melepaskan... mengetahui beban apa yang kutinggalkan?"


Tak satu kata pun terucapkan. Pria tua dihadapannya hanya bisa tertegun diam.


Penyesalan yang tak bisa ditinggalkan.


Di dunia dengan kesempatan yang sama, dimana siapapun bisa memilih jalan antara pelampiasan kebencian atau perbaikan diri, dimana kekuatan dijunjung tinggi.


Hanya diri sendirilah yang bisa menentukan.


Jalan mana yang akan dipilih sebagai penebusan.