
Suasana begitu sunyi dan tenang, hanya terdengar suara percikan air dari fountain bundar yang menjadi pusat taman yang dipagari pilar melingkar serta deruan suara angin yang menggesekan daun-daun dipepohonan yang dibawa masuk mengayun pelan tralis jendela yang terbuka lebar dikamar Reo berada.
Sudah beberapa saat ia berbaring diranjangnya hanya menatap langit-langit putih dengan lampu persegi panjang diatasnya.
Tatapan matanya kosong, tapi perlahan ia berusaha menyingkirkan serpihan ingatan yang berontak dalam dirinya.
Dia pun bangkit duduk di tepi ranjang, menjuntaikan kakinya kebawah, sekali lagi melihat kedua tangannya. Sadar, kalau semua yang ia lalui bukanlah mimpi belaka.
Tangan kirinya meraba dada dan lengan kanannya, mendekati bahu yang masih sakit akibat dikoyak oleh makhluk bertanduk hitam yang menyapanya, serta seluruh tulang nya yang remuk saat ia menabrak air, namun baru kali itu ia tahu seseorang telah memakaikan perban dan mengobatinya.
Perhatiannya lalu teralihkan kesebuah meja dorong yang ada dipojok ruangan dan menghampirinya.
Ada sebuah nampan berisi makanan dan secarik surat dengan sederet tulisan, semua kalimat yang tidak ia mengerti, seperti manaruh setiap bahasa asing dalam satu lembaran yang sama. Namun juga ia tak perlu mengerti semua bahasa itu, karena pesan yang diletakan paling atas, ia paham dengan jelas.
"Nikmati makanan ini. Jika kau sudah siap menemui seseorang, katakan saja..."
Awalnya Reo terdiam ragu, matanya kembali berkeliling melihat seisi ruangan yang bersih dan rapi itu, itu adalah sebuah kamar yang luas dengan satu rak buku dan lemari coklat dua pintu juga jendela terbuka dimana gorden putih yang diikat menari bersama angin. Itu adalah tempat yang nyaman.
Ia kembali menatap surat itu untuk sesaat dan menghela nafas panjang sambil berbisik pelan pada dirinya sendiri "Aku akan baik-baik saja..."
"Bagaimana perasaanmu? Apa sudah merasa lebih tenang sekarang?"
"HAAHH!!" Reo terperanjat melompat kebelakang menabrak meja penuh makanan itu, hingga goncangan keras darinya membuat meja dorong tersebut terbalik dan semua makanan diatasnya tumpah ke lantai berantakan.
Melihat seseorang berdiri disana, sosok bayangan hitam dalam benaknya terpanggil.
Saat itu juga, emosinya berpacu dan bereaksi, Reo kembali tersenggal panik yang mana membuat seseorang yang berdiri dihadapannya ikut panik juga.
"Tenang... Tenang... Kau baik-baik saja... Hanya ada aku disini..." Ujar pria tua itu masih berusaha menenangkannya, melambai pelan mengiringin irama nafas Reo agar memelan.
"Kau aman" lanjutnya.
Dalam kepanikan matanya berkedip. Sosok hitam marah yang memegang benda panjang, berganti dengan sosok seorang pria tua kecil yang matanya sudah layu, dengan kumis dan janggut berbentuk runcing, ia mengenakan jubah dan cape panjang sampai kaki.
"Kau butuh waktu lebih banyak. Sekarang, aku akan meninggalkanmu sendiri. Temui aku kapanpun kau siap, aku akan membantumu" pelan-pelan, ia melangkah kembali keluar menuju pintu dengan knop besi berwarna jingga.
"Tunggu..." Reo kembali berdiri, mencoba menyingkirkan kegundahannya.
"Aku baik-baik saja..."
*****
Reo kembali duduk ditepi ranjang sembari menunggu pria tua tadi keluar ruangan setelah membereskan semua makanan yang berserakan jatuh kelantai dan kembali dengan meja dorong yang sama, lengkap dengan semua makanan yang baru.
"Silahkan. Hangatkan perutmu dulu" Ujar Aurick membuka penutup nampan dari hidangan yang berukuran lebih besar.
Mata Reo terkunci menatap potongan daging dengan permukaan yang masih beruap panas, hidangan lain pun ikut serta melengkapi hidangan utama tersebut, dari mulai sayuran sampai potongan buah dan kacang polong, sampai sebuah roti dengan sebuah mangkuk kecil yang berisi kuah sup.
Bau makanan diatas nampan rupanya itu menarik penciuman Reo dan memicu rasa lapar yang mendadak muncul.
"Aku adalah penjaga tempat ini. Kau bisa memanggilku Aurick. Apa kau mau teh?" Tanya Aurick melepas lamunan Reo terhadap makanan itu sambil menuangkan teh dari teko kaca yang dibawanya diatas meja dorong itu.
Reo tak meresponnya. Ia menundukan pandangannya kebawah dan merasakan permukaan kulit kakinya menyentuh ubin marmer berwarna nila.
"Semua ini... sama sekali bukan mimpi..."
"Benar. Semua ini nyata. Aku juga telah diberitahukan bahwa kau adalah pendatang baru. Kau baru saja terbangun"
Ia mengingat saat ia berteriak seperti kucing ketakutan dan melarikan diri dari mereka berdua, berlari untuk hidupnya bahkan ketika rasa sakit di bahu kanan dan seluruh tubuhnya itu masih menyerangnya.
Namun ketika mengingat bahwa dirinya telah ditolong adalah suatu kenyataan, itu artinya makhluk-makhluk memburunya dan mengiringnya kesana pun adalah hal yang nyata.
"Bagaimana mungkin..."
Aurick menatapnya tenang, mencoba mengambil langkah tanpa memicu reaksi traumatis pemuda rambut hitam berantakan itu. "Dengarkan aku nak..."
"Sesuai janjiku, aku akan menjelaskan semuanya padamu apa yang terjadi dan alasan kenapa kau disini. Kau tak perlu khawatir, karena kau tidak sendirian, aku juga sama sepertimu. Seperti yang kukatakan, kau aman disini. Namun sekarang aku pikir kau masih belum siap untuk membahasnya" Ia menutup kalimatnya seraya mengisi satu cangkir teh penuh.
"Tidak" Reo menggeleng. "Kenapa aku disini?"
Sesaat gerakan menuang teh Aurick terhenti, seraya kesulitan menemukan kata-kata yang tepat.
Ia mendorong kereta makanan yang dibawanya kesisi ranjang dekat jendela, tahu bahwa Reo tak akan menyentuhnya dalam waktu dekat.
Setelah mengaitkan kedua tangannya kebelakang barulah ia menjawab "Kenyataan bahwa kau ada disini hanya berarti satu hal, nak"
"Kau sudah mati" lugas Aurick
Aurick memberikan jawaban dari pertanyaannya, namun ekspresi Reo masih tidak berubah. Lama-kelamaan ia menunjukan bahwa ia sedikit linglung.
"Aku... mati?" Reo mengulangnya.
Matanya terbuka lebar dan ingatan yang seharusnya hanya ada dalam "mimpi buruk"-nya kembali tereka.
Emosi dan rasio saling berkecamuk dan tumpang tindih dalam waktu yang bersamaan didalam kepalanya.
Disaat jiwa dan pikirannya masih menolak mempercayai semua informasi yang diterimanya, disisi yang lain, kata "Kau sudah mati" yang didengarnya adalah suatu kenyataan.
Bahkan sejak pertama kali ia membuka matanya di tengah pepohonan tinggi beralaskan tanah lembab dan basah pada waktu itu, mungkin ia pun sudah menyadari jawaban dari "Kenapa aku disini" jauh dalam lubuk hatinya.
Namun sekarang ia tahu jawabannya dengan pasti...
Dia sudah mati.
Kakinya tergerak melangkah pergi tanpa mempedulikan kakek tua Aurick di belakangnya.
Sekali lagi ia berlari keluar dari ruangan itu melewati susunan kaca raksasa yang terbaris rapi disepanjang koridor terbuka, hanya saja kali ini bukan karena suara-suara halusinasi yang memburunnya, namun suara gelak tawa, tangisan, dan nyanyian tidur yang tersusun kembali oleh serpihan ingatan tentang masa lalunya.
"Reo, bagaimana kabarmu hari ini?"
"Reo, apa kau sudah makan?"
"Reo, jangan sampai kelelahan ya"
Reo mendengar satu suara yang sangat lembut dan hangat memanggil namanya.
Kakinya kembali terhenti di taman lingkaran dimana patung air mancur berwujud dewi yang menjadi titik pusat itu berada.
Matanya kembali berjelajah ke segala arah dan hatinya berusaha mencari celah untuk mencari hanya satu jalan.
Jalan yang akan mengarahkannya kembali pada semua serpihan ingatan yang ingin ia jaga baik-baik.
Kembali pada tiga orang yang sangat berarti bagi hidupnya. Tiga orang yang sangat bergantung padanya.