AWAKE

AWAKE
2. Kesadaran I



Terdengar suara lirih oleh pemuda yang terbaring tak bisa merasakan tubuhnya sendiri yang kebas dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Kesadarannya semakin lama berkumpul, namun yang ia lihat hanyalah warna putih. Terlalu banyak suara, namun tak satupun dari suara yang ia dengar itu membentu susunan kata yang jelas.


Siluet iluet yang berdiri tegap, bergoyang tak menetap hingga siluet itu lama kelamaan menyatu, semakin membesar seraya mendekatinya. Warna putih mulai menyebar, dan warna lainnya masuk — siluet yang sama — lama-kelamaan membentuk sosok.


Semakin jelas ia melihat, sosok-sosok itu berubah menjadi kumpulan orang, seperti mengkali jumlah mereka, terus bertambah dari jumlah yang sebenarnya.


Orang-orang yang mengerubunginya dengan nada marah dan seruan.


Mata mereka menyala merah, dan masing-masing dari mereka membawa benda tumpul, apapun yang ditujukan untuknya.


"Dasar sampah!!"


"Dia tidak seharusnya disini!!"


"Jangan ampuni dia!!!"


"Bakar saja dia!!!"


Reo tersadar dan matanya terbuka lebar, tapi apa yang sebenarnya ia lihat, bukanlah apa yang diinterpretasikan kepada otaknya.


"Lihat, dia akhirnya bangun juga. Sulit dipercaya, racikan buatanmu langsung bekerja. Tidak heran julukanmu, Aella si healer terbaik Leviathan!".


"Jadi, Bagaimana perasaanmu?" Seseorang yang menjadi salah satu dari sumber suara-suara itu mendekatinya, mencoba mengarahkan tangannya.


PLAK.


Sekejap tangannya ditepis seraya histeris melihat mereka, panik, dan merasa tidak karuan. "MENJAUH!!"


Mengabaikan luka yang masih memerah di tubuhnya, Reo berusaha bangkit lalu terjatuh, dan rasanya seperti ia tertikam dua kali.


Ia berlari menuju pintu besar ruangan putih itu dan menemukan dirinya ada ditengah koridor terbuka yang tersusun rapi menggambarkan pemandangan langit biru dan hijau daun pepohonan yang saat itu sama sekali tak disadari olehnya.


Nafasnya sesak, orang-orang itu memanggilnya, mereka semua berbicara, namun Reo tak bisa mendengar suara mereka atau apa yang mereka katakan padanya. Semuanya dihalangi oleh suatu tembok besar dalam dirinya, ketakutan.


Saat hendak turun ia berpapasan dengan seorang gadis ditangga, kehadirannya yang masih ia lihat seperti sosok-sosok dalam bayangannya.


Ia bahkan tak tau ia lari kemana, yang ia ketahui hanyalah ia melarikan diri dari bayangan yang sebenarnya tidak ada.


Ia melarikan diri dari apa yang ditunjukan otaknya padanya.


Langkahnya pun terhenti di sebuah alun-alun besar dengan ubin marmer coklat dengan patung air mancur bundar berupa dewi yang dikelilingi tumbuhan berjkalar sampai ke pilar-pilar yang berdiri mengelilingi tempat itu.


Reo bertopang pada kedua lututnya, dengan nafas yang berat ia mendongak, matanya terbelalak melihat sekelilingnya.


Entah apakah ia sadar atau tidak, namun mempekerjakan tubuhnya yang masih sangat lemah dan tak berdaya secara tiba-tiba dunia seolah berputar didepan matanya. Ia terhyung-huyung lalu jatuh pingsan di tempat.


*****


Dari lorong teras dengan pilar putih berjejer disepanjang jalannya, seorang lelaki gondrong dengan rambut ginger dan poni menutupi sebelah matanya sambil mengemut permen melihat kearah dimana lelaki rambut hitam itu terkapar tak sadarkan diri.


Ia tak begitu peduli sampai dua wanita yang menjaga di kamarnya berlari pada lelaki yang terkapar itu dan melewatinya. Salah satu dari mereka adalah seorang anak perempuan yang masih sangat belia dan satu wanita lagi, terlihat di usia 30-an bersamanya.


"Apa itu pemuda yang Aaron minta kalian untuk rawat?" lelaki yang menghisap permen lolipop itu menghampiri mereka bertiga.


Keributan tiba-tiba yang disebabkan pemuda rambut hitam itu telah mengundang perhatian semua orang yang ada disana.


Ada seorang kakek yang sedang menyapu halaman di sebrang patung air mancur, ia berhenti sejenak untuk melihatnya, begitu pula dengan gadis berambut coklat abu-abu yang sempat berpapasan dengannya di tangga, menontonya dari balkoni lantai dua.



"Dia masih hidup, tapi nafasnya lemah" Kata Aella, gadis belia berambut merah dan tubuh kecil dengan suara tinggi. Ia terlihat begitu muda, bahkan jika dibandingkan dengan orang-orang disekitarnya.


"Ada apa dengannya sungguh?" Serah, wanita berkacamata dengan rambut pendek sebagu menaikan sebelah alisnya menatap pemuda yang baru mereka tolong itu.


Heran, tentu saja. Bagaimana tidak, sudah tiga hari sejak Aaron, pemimpin mereka membawa mayat hidup itu untuk meminta Aella menyembuhkannya, menggunakan seluruh energi elysian dan batu elysian yang ia punya. Namun ia melarikan diri sesaat ia melihat mereka? Bahkan tak peduli dengan kondisinya.


Tapi reaksinya, adalah reaksi yang sudah beberapa kali ia lihat, reaksi yang setiap orang pernah rasakan. Reaksi yang sama yang pernah ia lakukan.


"Serah, bantu aku mengangkatnya" ujarnya pada Serah.


Mereka berdua lalu mengangkatnya, sebelum lelaki yang memperhatikan mereka datang berhadap-hadapan dengan Aella.


"Aaron membawa mayat tiga hari yang lalu. Kau berhasil menghidupkannya kembali" lothario, lelaki yang menghisap lolipop memberikan pandangan miring pada Aella.


"Aku tidak menghidupkan siapapun. Jadi menyingkirlah dari jalan" Balasnya geram.


"Sangat kasar. Kau tampaknmya selalu merendahkanku begitu... Hanya karena kau hidup lebih lama, bukan berarti kau lebih kuat. Kau sadar hal itu kan bocah?" Lothario tersenyum menyeringai meledeknya.


Mengetahui kata "bocah" adalah yang paling dibencinya.


Aella mendecak, namun ia masih bisa meredam amarahnya. Kali ini Aella mengabaikannya, dan bersama Serah menggotong pasien mereka pergi dari sana.


****


Aella melepaskan kedua tangannya dari dada pemuda yang dibalut dengan perban. Ia menghela nafas dan berdiri menatap keluar jendela. Pekerjaannya terhadap satu orang sudah selesai.


Ia menghela nafas, dilihatnya seisi ruangan yang berantakan dengan berbagai herb yang ia racik sendiri. Mulai dari jenis tumbuhan penyembuh Altheas dan extract batu Admantine, batu elysian yang bisa mengekstraksi energi elysian saat digabungkan dengan Altheas yang kategorinya sendiri ada berbagai macam.


Mulai dari Altheas hijau yang mempercepat penyembuhan luka luar, Altheas kuning meningkatkan regenerasi sel ke jaringan dalam, sampai Altheas merah yang bisa secara menyeluruh memperbaiki sel mati, menyambung jaringan yang rusak kembali.


Meskipun tumbuhan altheas sudah menjadi tanaman yang banyak dibudidayakan dan menjadi salah satu yang menjadi sumber perekonomian di negeri mereka. Tumbuhan altheas sendiri tak akan cukup untuk mengembalikan posisi seseorang yang lengan kanannya hampir putus dan sekujur tubuhnya membeku seperti mayat karena kehabisan darah dalam waktu empat hari saja.


Sudah terlalu banyak waktu yang ia habiskan untuk mempelajari elysian medis, fundamental penting yang menyusun setiap partikel yang ada disekitarnya, maupun dirinya sendiri.


Elysian lah alasan keajaiban bisa datang.


Dengan semua hal itu, tidak heran kenapa pemuda itu bisa hidup.


Keajaiban Earthesia.


"Menghidupkan orang mati" mereka bilang.


Ujaran itu hanyalah omong kosong.


Nyatanya, semua yang ada disana telah mati.


Dia telah mati, begitu pula Serah, ataupun Lothario, ataupun setiap orang yang berdiri menonton si pemuda histeris yang ditanganinya itu.


Mereka adalah orang-orang yang "terbangun" di dunia perantara, antara dunia kehidupan dan kematian. Karena Earthesia bukanlah dunia akhirat.


Manusia yang telah melalui gerbang kematian dan terbangun, untuk yang terakhir kalinya, bisa menemui kematian terakhir yang mereka namai "terminal death" dimana tak seorang pun tahu dunia seperti apakah yang akan mereka tinggali selanjutnya. Apakah mereka akan dibangunkan untuk ketiga kalinya? Ataukah mereka yang lenyap begitu saja.


Orang-orang datang dari masa waktu yang berbeda dan dari belahan dunia yang berbeda, meski entah kenapa mereka bisa mengerti satu bahasa yang sama. Hingga berkomunikasi bukanlah suatu masalah untuk mereka, bahkan untuk mereka yang hanya cakap dalam satu bahasa.


Manusia mulai mengembangkan peradaban mereka sendiri. Menjadi hunian manusia, Earthesia menggunakan perputaran bulan sebagai sistem kalender mereka. Tak jarang tata kota di genesis pun berbeda-beda, dimana kelompok yang tinggal didalamnya dibagi berdasarkan pada era apa mereka hidup. Karena kadang mereka yang sudah hidup lama sulit menerima perubahan yang dibawakan pendatang baru, sedangkan pendatang baru kadang kesulitan untuk mengikuti cara hidup primitif mereka. Namun tidak jarang juga di kota-kota besar akan ditemukan carriage bermesin otomotif dan disisi jalan yang lain orang berpacu menggunakan kuda mereka.


Earthesia adalah dunia, dimana segala kemungkinan terjadi. Hanya saja, didunia itu tak ada peri, kerajaan, ataupun naga. Earthesia hanya punya satu penghuni asli, **hellios; **atau begitulah makhluk-makhluk itu dinamai. Mereka menyebar seperti virus, berkembang pesat dengan jumlah yang sulit sekali ditekan, dan mereka... Membenci manusia.


Seolah mereka tau bahwa dunia itu bukan milik manusia, dan manusia tidak seharusnya terbangun disana.


Tak ada yang benar-benar paham, untuk apa dunia itu diciptakan dan mengapa mereka disana. Apakah semuanya ulah Dewa? Ataukah, semuanya hanya tercipta dari refleksi parallel semesta?


Namun satu hal yang pasti. Meski setelah melewati kematian, tidak semua penduduk bumi menjadi penghuni Earthesia. Karena... Semua orang di Earthesia mempunyai satu kesamaan yang pasti, alasan yang membuat mereka terbangun kembali.


Hidup mereka terbuang dalam penyesalan.


Dipenuhi kebencian dan amarah.


Kehausan akan perasaan puas...


Kekosongan...


Dan saat nyawa mereka meninggalkan raga mereka...


Mereka hanya berharap satu hal...


Untuk membuang takdir yang datang bersama mereka saat mereka lahir.


***


Aella memejamkan matanya, untuk terakhir kalinya melihat lelaki yang berbaring itu tanpa sempat mendengarkan ucapan terima kasih darinya. Namun ia tersenyum lembut sembari berkata padanya.


"Akan ada banyak hal yang bisa kau lihat, pilih takdirmu sendiri... Dan jangan sampai menyesal lagi, green"


Ia pun berbalik melihat pada temannya yang sedari tadi hanya menunggunya depan pintu disana. Rapi dan siap berkemas.


"Ayo bersiap Serah, anak ini... Kita serahkan pada Aurick".