
Gambaran, bayangan, dan suara bersatu padu membawanya kembali kepada memori yang masih hangat dan terekam jelas di dalam kepalanya.
Ditengah kesunyian yang ditemani oleh suara gemercik air, dirinya dibawa kembali ke masa-masa itu...
Disaat ia berjalan di tengah suasana kota metropolitan dengan pakaian lusuh, bermandikan keringat, dan perut keroncongan kelaparan. Sambil mengikuti arahan dari seorang berhelm kuning yang berjalan di depannya, ia meletakan dua kardus berat yang dipangkulnya ketengah tumpukan kardus lain bermuatan sama.
Meskipun bukan hanya dia, tapi mereka yang dipekerjakan ditengah proyek bangunan itu semuanya punya wajah letih yang sama, hanya untuk menerima upah harian semata yang tidak seberapa. Hal yang lazim di negaranya dimana kemiskinan merajalela.
Pekerjaan apapun ia lakoni setiap harinya, mulai dari mengais sampah sampai kerja serabutan.
Semuanya dimulai ketika ibunya yang sebelumnya bertugas menafkahi keluarganya tiba-tiba sakit parah dan hanya bisa berbaring ditempat tidur, memaksa Reo untuk berhenti sekolah dan menanggung beban membiayai kedua adiknya yang masih kecil serta melunasi hutang tak berujung yang ditinggalkan ayahnya.
Belum lagi, kadang kelompok rentenir yang kerap kali menghajarnya habis-habisan ketika uang yang ia dapat tak terkumpul sesuai dengan ekspektasi mereka. Meskipun mereka tahu melunasi semua hutang berbunga itu adalah mustahil baginya.
Seperti hari itu, lagi-lagi ia dan keluarganya harus berpuasa untuk tidak makan seharian di kemudian harinya.
Sambil berjalan pulang, ia hanya memakai penutup jaketnya, menyembunyikan memar wajahnya dari mereka yang hanya menonton selama para preman penagih hutang menghajarnya.
Kadang ia melihat segerombolan anak SMA pulang sekolah sambil bercanda dan bercengkrama.
Kenapa ia tak bisa ada disana Bersama mereka?
Kenapa satu orang ditakdirkan untuk bisa hidup bahagia sedangkan yang lainnya hanya bisa menderita?
Jauh dalam dirinya, ia lelah tak pernah bisa punya harapan dan lelah akan ketidakadilan dunia yang ia lihat dengan kedua bola matanya.
Namun saat ia melewati jalan setapak yang beralaskan tanah dan membuka pintu kayu lapuk ke dalam satu rumah gubuk tempatnya pulang, ia menemukan kebahagian saat ia melihat senyuman ibu dan dua adik kecilnya.
Mereka lah harapan dan alasannya berjuang. Mereka lah yang menuntunya kembali pada ketentraman hati saat keletihan menyerang.
Sampai suatu hari kebersamaan bersama keluarganya di gubuk kecil itu harus berakhir.
Penyakit yang menggerogoti tubuh ibunya memaksanya untuk dirawat di rumah sakit dalam keadaan koma. Sejak saat itu, kesanalah ia dan kedua adiknya pulang.
Tiada hari tanpa tangisan dari kedua adiknya, terutama Aina, adik bungsunya yang masih baru menginjak usia delapan tahun.
"Ibu... Ibu kenapa jadi begini? Aina mau pulang sama ibu..." Aina terisak.
Dari luar, Reo hanya bisa mendengarnya. Ia duduk bersila di lantai selasar rumah sakit dimana perawat dan pengunjung rumah sakit lewat berseliweran.
Di tangannya terdapat secarik kertas berisi daftar penanganan dan biaya administratif yang berisikan angka-angka yang mustahil ia lunasi.
Selama ini ia berusaha mengumpulkan uang menebus biaya rawat inap dan pengobatannya. Tapi semuanya tak akan pernah cukup sampai hari esok yang merupakan masa tenggang pembayaran.
"Kak Reo..." Sebuah suara tiba-tiba menyadarkan lamunannya.
"Radi mau berhenti sekolah saja kak" sambung adik laki-lakinya, Radi. Anak berambut ikal usia sebelas tahun.
"Berhenti? Kenapa?" Reo berbalik menatap adiknya heran.
"Radi bantu kakak saja cari uang untuk biaya berobat ibu dan Aina..." Radi mulai mengucak mata.
"Radi juga... tidak mau... ta-tapi... sebenarnya... Radi sudah diperingati oleh bu Guru tentang biaya iuran sekolah, kalau tidak dilunasi bulan ini... Radi dan Aina juga... juga akan... dikeluarkan dari sekolah..." Jawabnya gagap dan terisak.
Reo tertegun diam. Ia menatap kelembaran biaya rumah sakit ibunya, lalu menatap adiknya kembali.
Untuk beberapa saat ia hanya menatap langit malam berbintang, memikirkan keajaiban apa yang bisa memberikannya jalan keluar.
Pikirannya buntu, yang ada hanya pertanyaan "Bagaimana caranya" yang terus berputar-putar secara acak dalam kepalanya.
Menebus biaya rumah sakit adalah keharusan. Dia harus mendapatkan uang malam itu juga, bagaimanapun caranya.
Menunggu sampai kedua adiknya tertidur di kursi tunggu rumah sakit, dengan berat hati ia meninggalkan mereka tanpa perpisahan.
Namun pada malam itu, hatinya tergerak untuk menyempatkan diri berpamitan pada ibunya.
Ibunya yang dulu merawatnya penuh kasih sayang, bekerja siang malam demi dirinya, sekarang hanya bisa berbaring tak sadarkan diri di tempat tidur dengan tubuh yang kurus kering seperti tengkorak hidup dengan banyak selang yang dipasangkan ke tubuhnya.
Tanpa kepastian apakah ia bisa ia melihat senyumannya lagi di esok hari. Terlebih jika semua bantuan hidup itu dicabut darinya.
"Ibu, Reo pamit dulu ya. Besok Reo kesini lagi" Ujarnya berpamitan seraya memegang tangan kurus ibunya.
Reo tersaar saat melihat setetes air mata yang turun dari matanya yang terpejam dan tangannya menggenggam balik seolah memintanya untuk tetap disana.
Meskipun tangannya itu masih tak cukup kuat untuk menahannya.
***
Pada malam yang sama, Rumah demi rumah dari yang pernah dikenalnya, ia singgahi. Apakah mereka orang yang mengenal ibunya, maupun orang-orang yang pernah mempekerjakannya.
Dari rumah-rumah itu ia memohon, dan sesekali ia membungkuk rendah, mengharapkan sedikit kebaikan dari hati mereka. Tapi jawaban yang diberikan selalu sama.
Dari satu yang ia singgahi, adalah rumah pamannya sendiri yang telah lama memutus hubungan dengan keluarganya dan tak pernah sekalipun menjenguk ibunya. "Paman, kumohon... aku tak tahu harus pergi kemana lagi, ibu benar-benar membutuhkannya... dia masih koma di rumah sakit sekarang..."
"Sudah kubilang aku juga tak punya uang sebanyak itu. Pergilah" sang pemilik rumah menutup pintu pagar di depan wajahnya dan berjalan masuk meninggalkannya.
Terdengar suara wanita dari dalam bertanya padanya "Siapa barusan?"
"Hanya pengemis" jawabnya. Seolah keponakannya itu tak mendengarnya.
Tak satu kata pun bisa terucap olehnya seraya mendongak memandang ke hadapan rumah bertingkat dengan penerangan cukup yang terlihat melalui tirai jendela. Sebuah kendaraan diparkirkan rapi di halamannya yang luas.
Kenyataan yang begitu pahit melihat bahwa kekayaan itu adalah milik pamannya dan disisi lain kemiskinan mempertaruhkan nyawa ibunya.
Tak ada henti-hentinya ia mencari secercah harapan, tapi semuanya sia-sia.
Yang didatangi hanya bisa memberikan tatapan iba, maupun tidak percaya, dan yang lainnya tanpa ragu mengusirnya.
Dengan mata lelah, Ia duduk di sebuah kursi kayu dalam gang gelap sejenak setelah berjam-jam ia habiskan keliling dari rumah ke rumah sambil menghitung sisa uang yang ia miliki. Jumlah yang tak akan pernah cukup untuk menebus perawatan ibunya, jangan lagi membiayai sekolah adik-adiknya.
Keputuasaan pun menghinggapinya. Sampai apa yang dilihatnya, kemudian berubah menjadi sebuah ide yang menggiringnya untuk menemukan solusi.