AWAKE

AWAKE
1. Awake



Kehidupan... adalah tentang keseimbangan.


Ada kebaikan dan kejahatan,


ada kebahagian dan kesedihan,


keberanian dan ketakutan,


Kesejahteraan... kesengsaraan.


Karena keseimbangan itu ada, ada yang ditakdirkan hidup dalam kebaikan, kebahagian, kesejahteraan... dan keberuntungan. Namun ada yang hidup dalam kejahatan, kesedihan, kesengsaraan... dan kesialan.


Kita tak memilih takdir. Tapi takdir memilih kita.


Separuh dari manusia beruntung dan lahir dipenuhi warna.


Separuhnya lagi hanya lahir sebagai alasan sebagai kata kontras dari warna. Hitam putih, kehidupan yang monochrome, dan... Kosong.


Apakah lahir adalah sebuah pilihan?


Lalu dimakah keseimbangan untuk sisi yang hidup dalam kesialan tersebut?


Mungkin... Pertanyaan itulah yang menjawab kenapa dunia "itu" ada...


Dunia perantara untuk mereka yang hidupnya ada disisi lain dari kebajikan. Dunia untuk menyeimbangkan semuanya, sebelum mereka pergi ke tempat yang berada diluar jangkauan logika mereka.


Semuanya diberikan kesempatan yang sama, semuanya diberikan potensi yang sama. Semuanya terlahir dalam keadaan sempurna, dan yang menentukan kenapa hasilnya tetap bebeda pada akhirnya...


...Hanyalah keteguhan.


Satu satunya kekuatan yang kita miliki sendiri...


Satu satunya hal yang kita pilih sendiri.


Satu satunya yang bukan takdir.


*************



Dilihatnya garis putih yang memancar memberikan batas membagi tengah birunya langit menjulang menjadi cakrawala.


Aroma dari pepohonan dan tanah basah akibat hujan begitu terasa dihidungnya. Air hujan menetes begitu lembut dipelipisnya.


Matanya batu saja terbuka, dengan tatapan mata yang kosong seperti pikirannya yang masih kosong. Butuh beberapa menit untukya mencerna semua kenyataan disekitarnya.


Dia menoreh memperhatikan sekelilingnya yang begitu sunyi dimana sesekali suara serangga hutan berbunyi dan gesekan dauh mengiringi.


Pertanyaan demi pertanyaan pun mencuat satu per satu.


"Apakah yang kulihat sekarang ini semuanya hanya mimpi?"


"Ataukah sebenarnya aku saja yang baru terbangun dari mimpi?"


"Kenapa aku bisa disini?"


"Kenapa?"


Satu pertanyaan dengan jawaban mengawang, namun jawaban lainnya tetkuak. Tiba-tiba pacu jantungnya semakin kencang, nafasnya berubah tersenggal-senggal.


Segeralah dia bangun dan bertumpu pada kedua lututnya, tak bisa mengatur tubuhnya sendiri yang gemetaran tanpa henti.


Hanya melihat kedua tangannya yang basah berkeringat tegang, pikirannya menjadi tak karuan, kosong, namun juga bergejolak. Sesak dan mual menyusulnya, Ia memuntahkan isi perutnya yang kosong, kecuali cairan asam lambung.



Semakin ia memulihkan kesadarannya, semakin tubuhnya gemetaran, dan semakin nafasnya sendiri bisa ia dengar.


Ia bisa mendengar suara-suara seruan yang ditujukan untuknya. Saat belasan, mungkin lebih, sosok bayangan mengitarinya dari segala arah. Memandangnya rendah dengan mata dipenuhi amarah.


Dan yang ia lihat setelahnya hanyalah kobaran cahaya.


Serpihan ingatan membuatnya hampir berteriak. Namun suara teriakan melengking lah yang tiba-tiba memecah keheningan.


Suara yang begitu nyaring, suara asing yang tak pernah ia dengar disepanjang hidupnya.


Matanya kembali berkeliling mengobservasi kembali apa yang telah ia lihat. Hutan.


Tubuhnya yang awalnya terasa tanpa tenaga tiba-tiba terdorong untuk pulih dalam posisi siaga.


"Suara apa itu?"


Kali ini suara geram mendekam datang dari arah lain. Bergegas menoleh ke arah lain, tidak salah ia melihat sekebat bayangan yang datang dari sisi kanannya.


Tanpa sempat menghindar, sesuatu itu melompat kearahnya dan menggigit bahu kanannya.



CRES. Pancaran darah dan warna merah saling menhilang memenuhi pandangannya, Diwaktu yang sama pemuda itu menyadari, betapa sakitnya...


Rasa sakit yang begitu nyata...


"UWAAAA!!!" Ia memekik panik berusaha melepaskan diri dari bayangan hitam yang lewat mendapatkan tangannya, sekarang ia melihat sosoknya.


Itu adalah seekor anjing. Seekor anjing bertanduk hitam, dengan tulang iga tubuhnya yang keluar. Ia memiliki enam mata berwarna merah pekat. Taring serta giginya dipenuhi warna merah setelah ia berhasil mengoyak lengannya.


Dengan cepat, sebuah batu yang ada disebelahnya ia gunakan untuk memukul makhluk aneh itu, mereka bergulat ditanah dan terjatuh ke daratan yang lebih curam.


Sekarang kuku-kuku tajam dari makhluk itu mencakar kuat kearah dadanya dan merobek pakaiannya. Sekuat tenaga, ia terus menghantam kepalanya keras untuk melepaskan diri. Dalam setiap pukulan, terdengar suara "crack", dan rahang serta tengkorak kepala anjing itu berubah.


Dalam pukulan yang ke sepuluh, makhluk yang kepalanya sudah setengah hancur itu akhirnya melepaskan gigitannya. Darahnya mengalir menyatu dengan tanah yang basah, dimana hewan predator itu masih mengerang, dengan tonic otot berkedut sekarat.


Ia melihat kedalam mata makhluk itu yang memantulkan bayangan akan wajahnya yang pucat, ketakutan, dan... Bengis. Bahkan ia bisa merasakan ketakutan yang dirasakan makhluk aneh itu diwaktu yang sama. Ia mengepal erat batu yang digunakan untuk membunuhnya dan berharap bisa mengakhirinya cepat.


Tapi saat lengannya terangkat ke atas dan hendak diayunkan, Makhluk itu memekik dan menangis dengan suara melingking yang menggetarkannya, sebelum akhirnya ia pun mati oleh hantaman terakhir dari si pemuda yang ketakutan itu.


Tiba-tiba suara auman anjing terdengar lagi. Kali ini, lebih dari satu. Mereka merespon suara panggilan teman mereka.


Suaranya ... tiga ... lima ... sepuluh ... ada sangat banyak dari mereka...


"Tidak..." Ia mengumpulkan dirinya kembali, tangannya menggenggam erat, menahan otot lengan kanannya yang sobek kehilangan banyak darah.


Tak punya waktu untuk memikirkan apapun, nalurinya bertindak cepat.


Ia lari secepat tenaga tanpa arah dan tujuan mendengar suara lolongan mereka semakin kencang dan mendekat.


Mereka pastinya adalah pelari yang handal. Dan sekalinya mereka menangkapnya, itu akan menjadi akhirnya.


Tidak... Pemuda itu bahkan tidak mengetahuinya, namun satu hal yang pasti, ia tak ingin merasakan sakit yang begitu nyata itu.


Jalan terjal yang dipenuhi dahan dan ranting yang menghalanginya, ia terobos terus dalam larinya. Dibelakangnya, bayangan makhluk dengan wujuf serupa membututinya dengan gesit.


Dari hutan yang gelap itu, ia melihat secercah cahaya. Segera ia pun berlari kearahnya mengharapkan jalan keluar.


Namun kehabisan darah dalam jumlah banyak, keseimbangannya mulai goyah. Dijalan terjal yang dipenuhi hijau lelumutan oleh udara yang lembab itu, ia terpeleset dan terguling kembali ke arah jalan yang membawanya keluar hutan itu.


Dalam keadaan tersungkur, ia mengangkat kepalanya dan berusaha melihat apa yang ada didepannya. Cahaya dan jalan terjal tersebut justru membawanya ke sebuah jurang yang curam.


Sebuah Dead End.


Dilongoknya dasar jurang yang berujung pada sebuah sungai deras. Bulu kuduknya berdiri, ketinggian jurang tersebut bahkan tak bisa dibandingkan dengan tinggi pepohanan tropis yang sedari tadi dilaluinya.


Tapi pilihan apa yang ia punya? Makhluk yang menyerupai anjing itu sudah menjemputnya, mereka mengelilinginya dari segala arah.


Ia menelah ludah. Sambil menatap mereka dipenuhi rasa takut, pelan-pelan ia mengambil langkah mundur mendekati jurang yang semakin lama mempersempit jarak mereka, saat setiap langkah kakinya ke belakang berarti langkah satu langkah kaki mereka ke depan.


Didalam keputus-asaan dan kebimbangan itu, tanpa ia sadari, tumitnya sudah menyentuh udara, ujung dari tebing curam.


Ia menggenggam tangannya erat saat seekor dari mereka memutuskan untuk mengambil langkah melompat ke arahnya.


...


Tubuhnya melayang, dan pandangannya mengayun dari tingginya pepohonan hutan ke arah angkasa biru yang seolah tersenyum dengan garis putih yang membatasinya.


Terasa sakit yang menjalar seperti arus listrik yang dimulai dari tubrukan punggungnya saat memukul air.


Air masuk ke saluran pernafasannya, warna air berubah hitam oleh darah yang menyebar sepserti asap menyatu padu gelombang riakan.


Tubuhnya terbawa air, menjauhi titik cahaya dari atas permukaan. Semakin jauh, pemuda itu berhenti merasakan anggota tubuhnya sendiri.


Sampai saat itu, ia masih tak mengerti, apakah semuanya hanya mimpi...


Ataukah sebaliknya, Ia baru saja terbangun... dari mimpi buruk yang sangat panjang?