AWAKE

AWAKE
3. Leaving II



Gambaran, bayangan, dan suara bersatu padu membawanya kembali kepada memori yang masih hangat dan terekam jelas di dalam kepalanya.


Ditengah kesunyian yang ditemani oleh suara gemercik air, dirinya dibawa kembali ke masa-masa itu...


Disaat ia berjalan di tengah suasana kota metropolitan dengan pakaian lusuh, bermandikan keringat, dan perut keroncongan kelaparan. Sambil mengikuti arahan dari seorang berhelm kuning yang berjalan di depannya, ia meletakan dua kardus berat yang dipangkulnya ketengah tumpukan kardus lain bermuatan sama.


Meskipun bukan hanya dia, tapi mereka yang dipekerjakan ditengah proyek bangunan itu semuanya punya wajah letih yang sama, hanya untuk menerima upah harian semata yang tidak seberapa. Hal yang lazim di negaranya dimana kemiskinan merajalela.


Pekerjaan apapun ia lakoni setiap harinya, mulai dari mengais sampah sampai kerja serabutan.


Semuanya dimulai ketika ibunya yang sebelumnya bertugas menafkahi keluarganya tiba-tiba sakit parah dan hanya bisa berbaring ditempat tidur, memaksa Reo untuk berhenti sekolah dan menanggung beban membiayai kedua adiknya yang masih kecil serta melunasi hutang tak berujung yang ditinggalkan ayahnya.


Belum lagi, kadang kelompok rentenir yang kerap kali menghajarnya habis-habisan ketika uang yang ia dapat tak terkumpul sesuai dengan ekspektasi mereka. Meskipun mereka tahu melunasi semua hutang berbunga itu adalah mustahil baginya.


Seperti hari itu, lagi-lagi ia dan keluarganya harus berpuasa untuk tidak makan seharian di kemudian harinya.


Sambil berjalan pulang, ia hanya memakai penutup jaketnya, menyembunyikan memar wajahnya dari mereka yang hanya menonton selama para preman penagih hutang menghajarnya.


Kadang ia melihat segerombolan anak SMA pulang sekolah sambil bercanda dan bercengkrama.


Kenapa ia tak bisa ada disana Bersama mereka?


Kenapa satu orang ditakdirkan untuk bisa hidup bahagia sedangkan yang lainnya hanya bisa menderita?


Jauh dalam dirinya, ia lelah tak pernah bisa punya harapan dan lelah akan ketidakadilan dunia yang ia lihat dengan kedua bola matanya.


Namun saat ia melewati jalan setapak yang beralaskan tanah dan membuka pintu kayu lapuk ke dalam satu rumah gubuk tempatnya pulang, ia menemukan kebahagian saat ia melihat senyuman ibu dan dua adik kecilnya.


Mereka lah harapan dan alasannya berjuang. Mereka lah yang menuntunya kembali pada ketentraman hati saat keletihan menyerang.


Sampai suatu hari kebersamaan bersama keluarganya di gubuk kecil itu harus berakhir.


Penyakit yang menggerogoti tubuh ibunya memaksanya untuk dirawat di rumah sakit dalam keadaan koma. Sejak saat itu, kesanalah ia dan kedua adiknya pulang.


Tiada hari tanpa tangisan dari kedua adiknya, terutama Aina, adik bungsunya yang masih baru menginjak usia delapan tahun.


"Ibu... Ibu kenapa jadi begini? Aina mau pulang sama ibu..." Aina terisak.


Dari luar, Reo hanya bisa mendengarnya. Ia duduk bersila di lantai selasar rumah sakit dimana perawat dan pengunjung rumah sakit lewat berseliweran.


Di tangannya terdapat secarik kertas berisi daftar penanganan dan biaya administratif yang berisikan angka-angka yang mustahil ia lunasi.


Selama ini ia berusaha mengumpulkan uang menebus biaya rawat inap dan pengobatannya. Tapi semuanya tak akan pernah cukup sampai hari esok yang merupakan masa tenggang pembayaran.


"Kak Reo..." Sebuah suara tiba-tiba menyadarkan lamunannya.


"Radi mau berhenti sekolah saja kak" sambung adik laki-lakinya, Radi. Anak berambut ikal usia sebelas tahun.


"Berhenti? Kenapa?" Reo berbalik menatap adiknya heran.


"Radi bantu kakak saja cari uang untuk biaya berobat ibu dan Aina..." Radi mulai mengucak mata.


Reo mendekatinya dan memegang kedua bahunya "Radi, dengarkan kakak. Radi harus tetap sekolah dan buat Ibu bangga. Radi punya cita-cita ingin jadi dokter kan? Kalau berhenti sekolah, bagaimana cita-cita itu bisa tercapai?"


"Radi juga... tidak mau... ta-tapi... sebenarnya... Radi sudah diperingati oleh bu Guru tentang biaya iuran sekolah, kalau tidak dilunasi bulan ini... Radi dan Aina juga... juga akan... dikeluarkan dari sekolah..." Jawabnya gagap dan terisak.


Reo tertegun diam. Ia menatap kelembaran biaya rumah sakit ibunya, lalu menatap adiknya kembali.


Untuk beberapa saat ia hanya menatap langit malam berbintang, memikirkan keajaiban apa yang bisa memberikannya jalan keluar.


Pikirannya buntu, yang ada hanya pertanyaan "Bagaimana caranya" yang terus berputar-putar secara acak dalam kepalanya.


Menebus biaya rumah sakit adalah keharusan. Dia harus mendapatkan uang malam itu juga, bagaimanapun caranya.


Menunggu sampai kedua adiknya tertidur di kursi tunggu rumah sakit, dengan berat hati ia meninggalkan mereka tanpa perpisahan.


Namun pada malam itu, hatinya tergerak untuk menyempatkan diri berpamitan pada ibunya.


Ibunya yang dulu merawatnya penuh kasih sayang, bekerja siang malam demi dirinya, sekarang hanya bisa berbaring tak sadarkan diri di tempat tidur dengan tubuh yang kurus kering seperti tengkorak hidup dengan banyak selang yang dipasangkan ke tubuhnya.


Tanpa kepastian apakah ia bisa ia melihat senyumannya lagi di esok hari. Terlebih jika semua bantuan hidup itu dicabut darinya.


"Ibu, Reo pamit dulu ya. Besok Reo kesini lagi" Ujarnya berpamitan seraya memegang tangan kurus ibunya.


Reo tersaar saat melihat setetes air mata yang turun dari matanya yang terpejam dan tangannya menggenggam balik seolah memintanya untuk tetap disana.


Meskipun tangannya itu masih tak cukup kuat untuk menahannya.


***


Pada malam yang sama, Rumah demi rumah dari yang pernah dikenalnya, ia singgahi. Apakah mereka orang yang mengenal ibunya, maupun orang-orang yang pernah mempekerjakannya.


Dari rumah-rumah itu ia memohon, dan sesekali ia membungkuk rendah, mengharapkan sedikit kebaikan dari hati mereka. Tapi jawaban yang diberikan selalu sama.


Dari satu yang ia singgahi, adalah rumah pamannya sendiri yang telah lama memutus hubungan dengan keluarganya dan tak pernah sekalipun menjenguk ibunya. "Paman, kumohon... aku tak tahu harus pergi kemana lagi, ibu benar-benar membutuhkannya... dia masih koma di rumah sakit sekarang..."


"Sudah kubilang aku juga tak punya uang sebanyak itu. Pergilah" sang pemilik rumah menutup pintu pagar di depan wajahnya dan berjalan masuk meninggalkannya.


Terdengar suara wanita dari dalam bertanya padanya "Siapa barusan?"


"Hanya pengemis" jawabnya. Seolah keponakannya itu tak mendengarnya.


Tak satu kata pun bisa terucap olehnya seraya mendongak memandang ke hadapan rumah bertingkat dengan penerangan cukup yang terlihat melalui tirai jendela. Sebuah kendaraan diparkirkan rapi di halamannya yang luas.


Kenyataan yang begitu pahit melihat bahwa kekayaan itu adalah milik pamannya dan disisi lain kemiskinan mempertaruhkan nyawa ibunya.


Tak ada henti-hentinya ia mencari secercah harapan, tapi semuanya sia-sia.


Yang didatangi hanya bisa memberikan tatapan iba, maupun tidak percaya, dan yang lainnya tanpa ragu mengusirnya.


Dengan mata lelah, Ia duduk di sebuah kursi kayu dalam gang gelap sejenak setelah berjam-jam ia habiskan keliling dari rumah ke rumah sambil menghitung sisa uang yang ia miliki. Jumlah yang tak akan pernah cukup untuk menebus perawatan ibunya, jangan lagi membiayai sekolah adik-adiknya.


Keputuasaan pun menghinggapinya.


Dilihatnya sebuah toko serbaguna yang sudah sepi yang ada di sebrangnya. Berbagai macam benda sampai makanan dipajang di etalase dan dinding dalam toko.


Tiba saatnya, si penjaga toko, seorang pria tua menghitung uang penghasilannya dari dalam laci kecil, mata Reo tak bisa teralihkan dari uang-uang itu.


Pria penjaga toko mencari-cari sesuatu lalu meninggalkan tokonya tetap terbuka untuk masuk ke rumahnya.


Tanpa disadari tubuh Reo tergerak mengikuti naluri ke depan toko itu.


Ia menelan ludah dan matanya bergerak tak karuan memantau keadaan. Diliriknya kumpulan orang tua yang bergadang mengobrol dan bercengkrama di sisi lain dari jalanan, cukup jauh dari keberadaannya.


Keadaan memaksanya untuk memberanikan diri mengambil resiko dari jalan yang selama ini selalu dihindarinya.


Dengan tergesa-gesa ia membuka laci kecil itu dan matanya terkunci seperti melihat harta karun.


CKLEK.


Terdengar suara gesekan dari ayunan pintu yang menandakan si pemilik toko kembali keluar.


Ia sempat melongok, namun tak ada seorang pun di depan tokonya.


Dihadapannya adalah sebuah titik belokan ke jalan pintas dimana ia bisa menghilang dari jalan raya utama yang masih terdapat beberapa orang yang berkumpul bercengkrama.


Hanya beberapa langkah lagi...


"HEY!! PERCURI!!!"


Dirinya terperanjat saat satu teriakan memecah keheningan.


Tubuhnya tergerak cepat untuk lari pergi dari sana. Namun siapapun yang mendengarnya terpanggil untuk mengejarnya.


Seruan mereka menyuruhnya berhenti, namun seruan itu justru membuatnya tak bisa berhenti berlari.


Sekali pun ia ingin menyerah saja, ia terlalu ketakutan untuk menghentikan larinya. Apalagi dengan mengetahui apa yang dialami mereka dengan nasib serupa.


Kejaran mereka menuntun kakinya pergi tanpa arah, tanpa ia sadari ia masuk ke jalan raya tempat lebih banyak orang berada.


"HENTIKAN DIA!!"


Tak hanya dari belakang, namun sekarang lebih banyak orang berlari ke arahnya dari depan seraya memperserukan amarah.


Disaat yang sama, ia melihat gang kecil yang masih bisa ia capai dari sisi kanannya.


BLTAK.


Untuk beberapa detik tiba-tiba pandanganya menjadi putih dan ia kehilangan keseimbangan tersungkur ke tanah.


Cahaya seperti kunang-kunang terbang memenuhi pandangannya yang gelap dan buram serta dengungan panjang memenuhi pendengarannya.


Ia mengernyit sakit saat tangan kanannya memegang belakang kepala dan darah memenuhi telapak tangannya.


Dengan seruan yang masih menggema samar ia berusaha bangkit namun sesuatu mendorongnya dan membuatnya tersungkur kembali.


Tanpa sempat ia membalikan diri, hantaman demi hantaman ia rasakan di bagian tubuhnya yang lain.


"Dasar sampah!!"


Mereka menggunakan benda tumpul, besi, kayu, bahkan kaki dan tangan mereka kepadanya yang hanya bisa meringkuk melindungi kepalanya sendiri.


Dia berteriak sekuat tenaga dan tanpa hentinya minta ampun untuk mencari secercah nurani dari mereka, namun yang ia temukan hanyalah kenyataan bahwa di tengah mereka yang berteriak melontarkan semua kata-kata yang tak ingin didengarnya, suara permohonan ampunya tenggelam dan bahkan tak terdengar oleh telinganya sendiri.


"Jangan ampuni dia!!!"


"Dia tidak seharusnya disini!!"


Penerangan dari lampu jalanan membuat bayangan mereka jatuh ke arahnya seolah yang ia lihat hanyalah siluet hitam dengan mata dipenuhi amarah dan tanpa ampun.


"Orang-orang sepertinya patut dibakar di neraka!!!"


Di tengah penderitaan luar biasa yang ditahan fisiknya, ia merasa seolah hujan. Sesuatu yang pekat membasahi tubuhnya dengan bau yang menusuk hidungnya.


Semua bayangan yang mengerubunginya menjauh membuat lingkaran yang lebih besar dengan ia sebagai porosnya.


Merekalah manusia penghuni dunia.


Merekalah hakim dunia.


"Bakar saja dia!!!"


***


"TIDAK!!!"


Tak sanggup mengingat apa yang terjadi padanya setelah itu, bayangan dan ingatannya tetap menerobos masuk di luar kontrol kesadarannya.


"Hentikan..."


Rasa sakit ditubuhnya kembali saat ia membayangkan dirinya, di tengah orang-orang itu, layaknya secarik kertas lusuh yang terinjak-injak dan sudah tak karuan lagi rupanya.


Nafasnya tercekat seraya oksigen yang ia hirup tak bisa mencukupi kebutuhan paru-parunya. Keringat dingin mulai mengucur kembali dari dahi dan keseluruh tubuhnya, persendiannya bergetaran dan kehilangan semua tenaga sehingga ia terjatuh ke kedua lutunya.


Di tengah penderitaannya melawan memori kematiannya. Wajah ketiga orang muncul seraya tersenyum padanya.


Seluruh otot tubuhnya yang tegang kembali rileks, semua seruan dalam kepalanya memudar, perlahan memori pedih dan rasa disekujur tubuh yang mengikuti hilang.


Semua ingatan menerjang dirinya membawanya kembali kekeadaannya, dimana ia sudah tak lagi ada didunia yang sama dengan dunia mereka, orang-orang yang ditinggalkannya.


Pada akhirnya satu jalan yang ia cari itu tak akan pernah ia temukan dari celah hutan manapun yang ia jelajahi dari depan matanya.


Jalan pulang sudah kembali tertutup. Air mata membanjiri wajahnya. Aurick menyusulnya dari belakang.


"Aku harus kembali..." Reo berbisik pelan.


Mendengarnya, Reo berpaling merangkak dan memegang kuat kedua pundak Aurick. "Tolong katakan padaku bagaimana caraku kembali!!"


Aurick mencoba untuk tetap tenang kemudian menjawab "Kehidupan adalah hal yang fana... sedangkan kematian adalah hal yang pasti terjadi"


"Mereka yang ditinggalkan harus merelakan, begitu pula kita yang meninggalkan. Karena apapun yang kita lakukan, tak akan pernah ada jalan kembali pulang" lanjut Aurick.


Reo melepaskan genggaman tangannya dari pundak Aurick dan berjalan mundur menjauhinya.


Aurick mengaitkan kedua tangan kebelakang "Semuanya sangat sulit, tapi kau harus menghadapinya. Kita sudah mati, itu benar... Tapi disisi lain kita masih hidup. Itulah mengapa kau ada disini dan aku ada disini..."


"Di dunia yang bernama Genesia ini".


"Untuk alasan yang berbeda-beda, kita terbangun kembali. Dunia ini memberikan kita waktu tanpa batas untuk mengulang kehidupan tanpa takdir menentukkan"


"Ketika penyesalan ditinggalkan, harapan baru datang. Inilah kesempatan akan awal yang baru dimulai"


"Aku... aku harus pulang" Reo menggumam.


"Nak-" Aurick menatap pilu.


"Aku tak boleh ada disini..." reo tertunduk, air matanya kembali menhujan. "Mereka... mereka semua menungguku..."


"Kedua adikku... aku berjanji padanya kalau mereka akan tetap bisa sekolah. Tak sepertiku, mereka masih punya harapan... mereka punya masa depan. Denganku tidak ada, apakah mereka harus mengubur harapan mereka juga?"


"Dan ibuku... ibuku... jika aku tidak kembali sekarang, apa yang akan mereka lakukan terhadap ibuku... Bagaimana mereka berdua... bisa menghadapinya..."


Kedua tangannya terangkat menutup kedua wajahnya. Dengan isak sesenggukan ia meratap. "Kesempatan kedua... Memulai awalan baru dan merelakan kau bilang... bagaimana bisa...?"


"Bagaimana aku bisa menjalankan awal yang baru dan melepaskan... mengetahui beban apa yang kutinggalkan?"


Tak satu kata pun terucapkan. Pria tua dihadapannya hanya bisa tertegun diam.


Penyesalan yang tak bisa ditinggalkan.


Di dunia dengan kesempatan yang sama, dimana siapapun bisa memilih jalan antara pelampiasan kebencian atau perbaikan diri, dimana kekuatan dijunjung tinggi.


Hanya diri sendirilah yang bisa menentukan...


Jalan mana yang akan dipilih sebagai penebusan...