ARVEN

ARVEN
06. Big boy



Di pagi hari yang cerah Rico terbangun dari tidurnya saat dia membuka mata nya ternyata dia tidak ada melihat istrinya disebelah nya . Saat Rico bangkit dari tempat tidur terdengar pintu kamar mandi terbuka.


"Clek "


Terlihat ada seorang gadis kecil yang baru saja mandi , gadis itu terlihat segar dan happy untuk memulai hari nya . Dia menggunakan baju seragam sekolah seraya mengibaskan rambutnya menggunakan handuk kecil supaya cepat kering.


Rico yang melihat istrinya seperti itu tercengang seakan akan melihat bidadari yang turun dari kayangan, sungguh sangat cantik.


"Ehm .... udah seger aja nih pagi pagi ." goda Rico yang baru saja melihat kecantikan istrinya itu.


"Eh abang udah bangun." ucap Zea, sontak gadis itu menutupi rambut nya menggunakan handuk kecil yang tadi dia pegang .


" Kenapa ditutup rambut nya , kan kita kan sudah halal . Lagian aku ini suami kamu ." sahut Rico tersenyum usil kepada Zea .


"Maaf , tapi aku malu ." ucap Zea menunjukkan wajah nya.


"Ya udah nggak papa kok , ingat ya kalau didepan aku lepas aja jilbab nya kalau lagi diluar rumah atau yang bukan mahram kamu baru dipakai." jawab Rico berjalan ke arah kamar mandi , sebelum itu dia sempat sempatnya menjahili Zea dengan menarik handuk di kepala gadis itu dan langsung berlari masuk ke kamar mandi.


"Abang." gadis itu sedikit berteriak, baru saja dirinya sehari menjadi istri pria itu sudah bikin darah tinggi.


"Jangan salat subuh duluan , tunggu aku . Kita shalat subuh berjamaah." teriak Rico dari kamar mandi.


"Iya , jangan lama mandi nya keburu siang nanti." ucap Zea sambil mengeringkan rambut nya menggunakan hair dryer .


"Kenapa perasaan ada yang berubah ya dari cara Abang Rico ngomong." gumam Zea dia merasa ada yang berbeda dari suami nya.


"Oh iya dia nggak lagi pake kata Lo gue . Huft.... syukur lah ." Zea merasa senang bahwa pernikahan ini tidak seperti apa yang ia pikirkan, ia kira pernikahan ini akan mengakibatkan kecanggungan bagi keduanya wajar saja dia berpikir seperti itu , karena sudah 10 tahun takdir memisahkan mereka dan itu pun perpisahan yang mengakhiri duka bagi keluarga Zea karena meninggal nya kakak perempuan nya .


"Baru subuh udah ngelamun aja nih semut ." ujar Rico yang sudah selesai mandi.


"Eh udah selesai mandi nya , tumben cepat kemarin lama . Kamu udah wudhu." sahut Zea bertanya dengan lemah lembut pada suaminya.


"Udah ." Pria itu memakai Koko berwarna putih serta memasang sarung dengan corak abu abu dan peci berwarna hitam . Sehingga menunjukkan sifat lain dari seorang Rico Arven Arion Darmansyah. Zea yang melihat baper sendiri dibuat nya , gadis itu juga memakai mukena penggalan berwarna abu-abu sehingga terlihat sangat serasi.


Ini kali pertama bagi mereka berdua shalat subuh berjamaah dengan pasangan. Zea tertegun mendengar kan di setiap kalimat yang di lontarkan Rico dengan sangat merdu.


Selesai shalat Rico ber wirid terlebih dahulu dan berdoa memohon pada sang rabb akan keselamatan dunia akhirat serta keharmonisan rumah tangga mereka.


Setelah itu Zea ingin mencium punggung tangan Rico akan tetapi lelaki itu menolak.


"Eh tunggu dulu kita tadarusan dulu yuk , nanti kalau salim dulu batal dong wudhu nya ." ucap Rico seraya mengelus lembut kepala Zea yang tertutup oleh mukena.


Mereka berdua pun tadarusan bersama, mereka berdua mengoreksi bacaan satu sama lain jika ada bacaan yang salah maka cepat di tegur.


Selesai tadarusan, Rico mengulur kan tangan nya menyuruh Zea untuk mencium punggung tangan nya dan mencium kening gadis itu dengan lembut. Setelah itu Rico langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Zea sehingga membuat gadis itu sontak terkejut.


"Eh ."


Rico pun meletakkan tangan telunjuk nya di bibir tipis gadis itu. " Hush .... diam aku mau tiduran sebentar." lelaki itu pun tersenyum dan memejamkan matanya.


Zea tertegun melihat pemandangan di depan wajah ini , wajah tampan yang dulu nya sebagai teman kecil nya sekarang sudah berganti status menjadi suami nya. Seorang lelaki yang memiliki kulit bersih , alis tebal, mata sedikit sipit, bulu mata lentik. Zea memegang hidung mancung lelaki itu serta bibir tipis yang merah merona.


Ada sebuah tangan yang menggenggam tangan Zea .


"Gimana bu cakep nggak suami nya ." Rico yang terbangun dari tidurnya sebenarnya dia tidak benar benar tidur, dia masih bisa mendengar apa yang di katakan oleh Zea serta yang dilakukan oleh gadis itu.


" A.... aku nggak sengaja. " sahut Zea mengalihkan pandangan ke arah lain selain menatap Rico .


"Beneran ." goda Rico menoel hidung Zea.


"Kalo sengaja juga nggak papa kok ." sambung nya sambil tersenyum , pria itu pun bangkit dan duduk berhadapan dengan Zea .


Pria itu menangkupkan wajah gadis itu dengan gemas sehingga mereka saling menatap.


"Ini udah jam enam lewat sepuluh menit aku mau siap siap sekolah." Gadis itu berlari kecil kearah lemari nya seraya memegang wajah nya yang memerah , Rico sangat pintar membuat gadis itu baper .


Zea memakai kerudung sekolah nya dengan rapi dan tidak lupa juga dia menyiapkan buku untuk dibawa . Zea menatap Rico yang juga sudah siap dengan baju kerja nya dengan kemeja putih lengan panjang serta celana kain berwarna hitam sehingga membuat jiwa seorang direktur melekat pada lelaki itu, akan tetapi nampak nya lelaki itu kesulitan memasang dasi . Lelaki itu pun menghampiri Zea dan menyerahkan dasi itu pada nya .


"Boleh kok ." ucap Zea dengan senang hati , gadis itu pun mengambil dasi tersebut . Akan tetapi karena tubuh Zea hanya sebatas dada pria itu sehingga membuat dirinya sangat kesulitan untuk memasangkan nya .


Rico yang paham akan istri nya , ia pun membungkuk kan tubuh sedikit supaya sejajar dengan gadis itu .


"Makanya tinggi itu ke atas bukan kesamping." ejek Rico pada gadis yang sedang fokus memasang kan dasi untuk nya .


"Ish .... biarin wlee ." sahut Zea mengeluarkan sedikit lidah nya , dia tidak ingin banyak bicara pada pria di hadapannya itu , yang ada nanti malah dia yang malu .


Dengan cepat Zea sudah selesai memasang kan dasi untuk Rico dan sangat rapi .


"Makasih ." ucap Rico dengan tersenyum manis dan langsung mencium kening gadis tersebut.


Gadis itu hanya diam , entahlah terasa dirinya langsung membeku di situ juga.


" Aaaa baru pagi Zea ..... jangan baper ingat ." batin Zea berusaha menenangkannya dirinya.


"Ehm ... kalau gitu aku kebawah duluan ." ujar Zea langsung berlari kecil menuju ruang makan untuk sarapan.


Di sepanjang jalan menuju ruang makan Zea terus memegang kening nya seraya senyum senyum.


"Zea ayo sini nak sarapan ." ajak bunda Siska yang sudah berada di meja makan seraya mengolesi selai pada roti.


Zea pun patuh akan ajakan mertua nya , ia pun duduk di kursi sebelah bunda Siska.


"Ini buat kamu ." bunda Siska menyerah kan sebuah roti dengan selai strawberry yang baru saja dibuat olehnya.


"Makasih bunda." ucap Zea tidak enak hati .


"Suami kamu mana , kenapa belum turun." tanya bunda sambil mengolesi selai pada roti berikut nya .


"Oh Abang Rico nya bentar lagi kayak mau turun soalnya tadi dia lagi nyiapin buat kekantor." jawab Zea dengan sopan .


"Alhamdulillah dia , udah mau balik lagi ke kantor." ucap bunda dengan senang mendengar anak nya sudah mau kembali lagi memimpin kantor.


"Emang nya sebelum nya abang nggak mau pergi ke kantor Bun." tanya Zea penasaran.


"Biasa lah nak namanya anak muda , pikiran nya masih main main." sahut bunda dengan tulus , dia sangat memaklumi sikap anak nya itu . Dia bukan memanjakan pria itu akan tetapi dia hanya tidak ingin saja terlalu mengekang anaknya tanpa kemajuan sendiri pada anak itu.


Rico pun datang dan langsung duduk di kursi yang berhadapan pada bunda nya.


"Widih udah cakep aja nih anak bunda." goda bunda pada anak semata wayangnya itu.


"Iya dong cakep . Anak siapa dulu ." sahut Rico dengan berlagak sombong.


Zea yang melihat kelakuan suaminya itu, bergidik geli .


"Oh iya , Abang kamu anter istri kamu ke sekolah ya ." perintah bunda Siska.


"Ng... nggak usah bunda , Zea bisa nanti bus sekolah kok Bun ." ucap Zea menolak dengan sopan.


"Iya Bun , nanti abang yang bakalan anter jemput Zea ." ucap Rico langsung menyetujui permintaan bunda nya.


......................


Sesampainya di depan gerbang sekolah Zea ingin langsung keluar dari mobil akan tetapi Rico langsung berdehem .


"Ehm .... nggak mau salim gitu sama suami ."


"Oh iya lupa ." Zea pun mencium punggung tangan pria itu dan Rico mencium kening istrinya.


"Udah , aku mau sekolah dulu ." Zea pun keluar dari mobil dan masuk ke gerbang sekolah seraya tersenyum.


"ZEAAAA ." teriak Citra yang baru saja datang juga.


"Bapak Herman ganti mobil ya Ze , perasaan mobil biasa nya nggak kayak gitu." tanya Citra karena tadi dia melihat Zea keluar dari mobil yang tidak biasa nya . Ini mobil nya sangat lah mewah.