
"Sudah gue tebak tu cebong pada bakal kesini." gumam Aryas sang ketua geng Devil Boys dengan senyum licik yang di lontarkan kepada sebuah geng yang sudah menjadi musuh bebuyutan nya sejak SMA hingga sekarang mereka lulus kuliah. Ia tampak sangat licik saat melihat musuh nya sudah ada di depan basecamp milik nya dengan 5 orang inti gang gotreasure tanpa membawa prajurit lain serta tak ada senjata apa pun yang di bawa mereka.
Aryas pun keluar dari basecamp dan menemui musuh nya itu seorang diri.
" Tak Tak Tak." tepukan tangan Aryas sangat kencang menyambut kedatangan kelompok yang ditunggu nya.
"Hahahaha ada yang habis nebeng nih sama temen nya hahaha." ucap Aryas tertawa licik.
"Kurang ajar lu ." Rico melangkah kan kaki nya ingin menghabiskan manusia songong dihadapan sekarang seraya mengepal kan tangan nya dengan wajah memarah padam saking emosi diri nya.
"Eh santay dulu dong boy jangan main tonjok tonjok aja , kita masuk dulu lihat motor lu yang tinggal serpihan itu ." ucap Aryas masih tetap santai dan tak henti hentinya dia mengucilkan orang yang ada dihadapan nya yang sangat dekat dengan wajah ini .
"BUGH ..... BUGH .... BUGH ."
Beberapa tinjuan yang sudah di lemparkan pada Aryas hingga lelaki itu tergeletak di tanah serta meringis kesakitan.
"Sudah gue bilang dengan Lo jangan sekali kali buat gue makin benci dengan Lo , puas Lo hah sudah ngambil semua hal yang berharga dari gue setelah Audy yang lo racunin dia dan sekarang motor sport pemberian almarhum ayah gue lu hancurin juga ." ucap Rico dengan sangat muak dengan lelaki di hadapannya itu yang masih tergeletak.
"Heh ." Aryas masih dengan senyuman liciknya , ia tak merasa sama sekali bersalah dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Rico.
Aryas bangkit dan menatap tajam kearah Rico dengan wajah sama memerah padam menahan amarahnya.
"Ini doang gue belum puas Bangs*t . Ini semua belum cukup buat gue untuk membalas dendam kepada keluarga lu atas keluarga gue , ibu gue meninggal gara gara ayah Lo yang mecat ayah gue di perusahaan , padahal uang itu buat pengobatan ibu gue ."
"Lu ingat ya baik baik ucapan gue . Itu bukan semata-mata hanya ayah gue karena penyebab kematian ibu Lo. Ini semua sebab ayah Lo juga curang dalam bekerja serta mencuri uang di sana, coba ayah Lo bilang baik baik pasti tidak akan dipecat ." sahut Rico mencoba menjelaskan yang sebenarnya.
"Alah ." ucap Aryas tak meladeni apa yang di ucapkan oleh Rico , menurut nya keluarga Rico tetap bersalah di mata dia .
"Devil Boys serang mereka." teriak Aryas kepada pada prajurit nya yang sedari tadi di dalam basecamp sekarang mereka berhamburan keluar siap melawan musuh.
"BUGH ...... BUGH ..... BUGH .....BUGH ."
Gotreasure 5 orang melawan Devil Boys yang beranggotakan 12 orang . Sebenarnya bisa saja lagi Rico menyuruh anak buah nya pada menemui mereka tetapi tidak , tidak sempat.
"BUGH ." walaupun geng gotreasure hanya 5 yang menghadapi musuh yang melebihi jumlah mereka itu tak masalah bagi mereka.
...----------------...
Di sebuah cafe , disana ada Zea serta Citra mereka sedang mengerjakan tugas yang di berikan pagi tadi dan besok pagi harus di kumpul.
Sudah cukup lama mereka berada di cafe dan mengerjakan tugas sekitar 30 menitan.
"Huft..... akhirnya selesai juga nih tugas." ucap Zea menghembuskan nafas nya lega .
"Iya ze. " sahut Citra langsung menyenderkan tubuhnya di kursi yang ia duduk.
Setelah beberapa menit mereka melegakan pikiran serta beristirahat sambil menghabiskan makanan yang mereka pesan tadi . Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena sudah larut malam .
Di perjalanan menuju pulang . Zea menatap perjalanan dari arah jendela, saat dia sedang menatap perjalanan mata dia langsung tertuju pada sebuah pria berjaket kulit berwarna hitam, dengan tubuh nya yang tinggi duduk dipinggir jalan bersama ke empat teman nya yang terus meminum alkohol.
"Bukan nya itu cowok yang nginjak kaki aku tadi siang kan." gumam Zea menatap detail pria itu .
"Kenapa wajah nya kayak familiar ya ."
...----------------...
Di sebuah rumah yang sangat besar seperti layaknya istana , disana ada seorang wanita paruh baya yang sedang menunggu anak tunggal nya yang belum saja pulang.
" Ding dong." suara bel berbunyi.
Bunda Siska pun langsung membuka kan pintu tersebut. Dan ya benar saja dugaan nya pasti itu adalah Rico yang dia tunggu sedari tadi.
"Rico ." Bunda Siska sangat kaget melihat keadaan anak semata wayangnya saat ini yang dipenuhi dengan luka luka lebam serta kondisi Rico yang sedang mabuk.
"Kenapa Rico sampai kayak gini ." tanya bunda Siska panik.
"Tante tenang dulu ya . Sekarang kami mau nganter Rico nya kekamar nya dulu . Soalnya Rico berat tante." ucap Axel yang sedang memapah tubuh Rico.
"Ya udah silahkan."
Setelah Axel , Surya , Mario dan Adit menceritakan semua nya apa yang terjadi pada Rico . Bunda Siska menangis tak tega pada anak nya itu.
"Tante , kami pamit pulang dulu ya." ujar Mario pamit serta tak lupa juga mereka satu persatu mencium punggung tangan bunda Siska.
"Iya kalian hati hati ya di jalan." lirih Bunda Siska dengan suara yang serak .
"Wa'alakum salam."
Tanpa disadari bunda Siska terlelap dari tidurnya seraya memeluk anak nya yang sekarang sudah dewasa .
jam 04. 05 Rico terbangun dan merasakan perutnya sedikit mual mungkin efek karena malam tadi dia mabuk.
Saat Rico ingin bangun dia merasakan sesuatu yang memeluk nya setelah dia lihat sebelahnya ternyata ada bunda yang selalu senantiasa sabar menghadapi sikap nya.
"Maafin Abang ya bund suka nggak nurut apa kata bunda."
Rico pelan pelan turun dari tempat tidur nya agar sang bunda tak terbangun. Setelah itu dia langsung kekamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuh nya yang berbau alkohol.
Sehabis mandi , Rico tak lupa untuk melaksanakan kewajiban nya sebagai umat muslim. Senakal nakal nya Rico dia tidak pernah meninggalkan shalat. Selesai shalat dia juga tak lepas dari ngaji . Karena dia sejak TK sudah di ajarkan agama oleh almarhum ayahnya dan sejak dia lulus SD , ia pindah ke Jakarta semuanya berubah karena pergaulan bebas.
Selesai beribadah dia membangunkan bunda nya .
"Bunda bangun , bunda shalat subuh bunda. " panggil Rico secara lembut untuk membangunkan bunda nya itu.
Bunda Siska pun langsung bangun dan langsung keluar dari kamar Rico tanpa berkata apa-apa apa anak tunggal nya itu.
"Hem , kayak nya bunda marah dengan gue ." gumam Rico tak enak hati pada bunda nya .
Jam 07. 30 Rico turun kebawah untuk sarapan pagi .
Saat Rico sudah sampai di meja makan dia melihat makanan sudah siap akan tetapi bunda nya tidak ada di sana.
"Bi , bunda mana yah ." tanya Rico kepada bibi Jumin asisten rumah tangga di rumah Rico.
"Nyonya sedari tadi di kamar den , sudah saya samperin terus kata nyonya den makan sendiri aja . Nyonya tidak. nafsu makan . Gitu den kata nyonya."
"Fiks bunda marah dengan gue . Huft...... "
Rico pun langsung pergi berjalan ke kamar bunda nya .
Saat sampai di depan pintu kamar, ternyata pintu terkunci dari dalam.
"Bunda , kita sarapan yuk . Temenin Abang makan Bun ." ujar Rico seraya mengetuk pintu kamar.
Tak menunggu lama pintu itu pun terbuka.
"Kamu makan aja dulu bang , bunda nggak nanti aja makan nya." ucap Bunda Siska dengan wajah datar.
"Bunda maafin Abang ya Bun ." Rico langsung memeluk tubuh bunda nya.
"Abang tau kok abang salah , abang selalu nggak apa kata bunda ." Rico menangkupkan kedua tangan nya seraya dengan wajah memelas berharap bunda nya memaafkan diri nya.
"Bunda nggak suka yang bang, liat abang kelakuan Abang malam tadi , abang keroyokan terus minum minuman keras . Itu udah kelewatan banget bang ." bunda Siska meluapkan semua amarahnya di depan Rico yang menunduk .
"Maafin Abang bun." lirih Rico dengan pelan.
"Bunda mau maafin abang, asalkan abang jangan mengulangi kesalahan Abang lagi dan satu kamu berhenti ikut geng geng motor nggak jelas gitu kalau niat nya mau bikin onar aja . Seharusnya kamu fokus untuk meneruskan perusahaan ayah kamu bukan kayak gini . Kamu itu bukan anak kecil lagi yang harus bunda omelin tiap hari , seharusnya kamu bisa mikir sendiri bang yg mana jalan baik dan mana yang salah . " ucap bunda Siska dengan tegas dengan menatap tajam Rico agar dia patuh.
Rico terdiam sejenak mencerna apa yang dikatakan oleh bunda nya .
"Iya bunda ." ucap Rico pelan masih menunduk kepalanya.
"Kalau kamu benar benar nurut apa kata bunda , kenapa nggak berani natap bunda ."
Rico pun memberanikan untuk menatap bunda nya , jujur dia takut kalau melihat wajah bunda nya kalau sudah marah .
"Abang janji kali ini nggak bakal ngecewain bunda lagi ." ucap Rico seraya tersenyum.
"Nah gitu dong ." sahut bunda Siska yang ikut tersenyum juga , dan langsung reflek mencubit lengan Rico yang masih lebam akibat malam tadi .
"Awww bunda sakit ." Rico meringis kesakitan sungguh cubitan bunda nya sangat kencang.
"Hahahaha bunda lupa ."
"Oh iya abang jangan pergi kemana mana diam dirumah aja . Terus nanti siang temenin bunda kerumah sahabat bunda ."
"Ngapain bun ."
"Abang kepo ." ejek bunda Siska.