ARVEN

ARVEN
03 . Bertamu Ke Rumah Sahabat.



"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh." ujar Zea yang baru saja memasuki rumahnya sehabis datang dari sekolah seraya mengucapkan salam begitu semangat hingga suara cempreng gadis itu menggelegar ke seluruh ruangan.


"Krik ..krik ... krik ." seketika hening dan Zea pun bingung kenapa di ruang tamu ramai sekali orang.


"Ups ada tamu , malu nya diri ku ." gumam Zea dalam hati seraya menutup wajah nya memerah karena malu menggunakan kerudung yang dia pakai.


"Wa'alakum salam, Zea ayo kesini nak ." ucap mamah Dewi menyuruh Zea untuk menemui nya. Zea pun menurut seraya menundukkan kepalanya, jujur dia masih malu.


Sedangkan seluruh orang yang ada di ruang tamu menatap lucu tingkah Zea .


Setelah sampai, Zea berduduk di tengah mama serta papah nya yang masih asik berbincang kepada seorang wanita paruh baya yang seumuran dengan kedua orangtuanya.


" Zea kamu masih ingat nggak sama bunda Siska . " tanya bunda Siska dengan lembut kepada gadis kecil di hadapannya itu.


"Iya Zea ingat kok dengan tante , tante yang dulu sering kasih aku cupcake dan ice cream kan rasa strawberry." sahut Zea antusias sehingga menampilkan senyuman manis gadis itu.


"Ih pinter kamu . " ucap bunda Siska gemas.


"Oh iya jangan panggil saya Tante dong . Panggil aja Bunda ." sambung bunda Siska.


"Bunda ." ucap Zea patuh.


Setelah itu, pandangan Zea beralih pada lelaki muda yang tampan di sebelah bunda Siska.


"Bukan nya ini cowok yang minum minum malam tadi kan dan dia juga yang nginjak kaki aku." batin Zea , dia menatap lelaki yang ada di hadapannya itu akan tetapi lelaki yang di tatap malah bersikap cuek dan dingin.


"Oh iya nak Zea kamu masih ingat nggak dengan siapa dulu kamu ikut main drama waktu kecil kisah putri salju terus kamu jadi Queennya . Dan kamu masih ingat nggak siapa yang jadi pangeran nya. " tanya Bunda Siska memang sengaja mengetes seberapa kuat ingatan Zea .


"Iya aku ingat bunda yang jadi pangeran nya abang Rico , ehmmm ... abang Rico nggak ikut bunda ya ." tanya Zea sedikit ragu.


"Nih Abang Rico nya di sebelah bunda, ih Abang ngomong dong nggak diem aja dari tadi ." ujar bunda Siska menggoda Zea serta menyenggol lengan anak nya yang sedari tadi hanya diam.


"Hm ." sahut Rico dingin.


"Hahahaha." papah Irwan , mamah Dewi serta bunda Siska, mereka serempak menertawakan kedua anak remaja yang sedang malu malu an itu.


"Buset dah salah lagi gue . Napa sih nie mulut kagak bisa di rem . Kan jadi malu kamu ah ." gumam Zea menepuk nepuk mulut nya sebagai hukuman berbicara tanpa berpikir dulu.


"Ehmmm mamah , aku mau ke atas dulu ya . Mau mandi." bisik Zea di telinga mamah nya .


"Iya udah tapi nanti balik ke sini lagi ya ."


...----------------...


Di kamar Zea .


"Ish bisa bisanya kamu Ze ." omel Zea pada dirinya sendiri seraya memukul pelan mulutnya.


"Eh diliat liat Abang Rico beda banget ya . Kalo dulu kan dia happy terus orang nya dan banyak b*cot lagi kenapa sekarang nggak ya . Ah mungkin dia malu mungkin liat dirinya waktu kecil yang banyak tingkah itu . "


"Tapi Abang keren loh udah ganteng, cool waaah suka banget vibes nya tuh kayak visual di novel novel gitu aaaa." khodam Zea yang pecicilan kembali merasuki tubuhnya.


Sedangkan di luar kamar ada Rico yang tadi di suruh oleh mamah Dewi minta panggil kan Zea di kamar nya untuk makan siang bersama. Ia Rico mendengar semua apa yang Zea ucapkan tentang dirinya ada perasaan kesal serta salah tingkah saat Zea menyebut sikap dirinya.


"Tok tok tok ." Rico mengetuk pintu kamar itu dengan gelisah.


"Siapa ." ucap Zea dari dalam kamar.


"Lo disuruh turun buat makan siang bersama." sahut Rico dengan di usahakan nya masih tetap cool .


Degh


"Siapa ya ? oh apa jangan jangan." Zea pun langsung memasang kerudung bergo nya serta dengan cepat membuka pintu kamar.


Ia lihat diluar tidak ada siapa siapa. Alis Zea terangkat sebelah menatap bingung siapa yang menyuruh nya kebawah untuk makan .


Tanpa berpikir panjang dia turun kebawah untuk makan siang karena cacing yang berada di perutnya pada demo.


Setelah sampai di ruang makan . Semua menatap dirinya yang baru saja datang .


"Ayo sini nak ." ajak papah Irwan menyuruh anak nya ikut bergabung dengan mereka di meja makan .


"Kamu duduk di sebelah abang Rico ya ." ujar mamah Dewi tersenyum tulus ketika melihat anak nya bingung mau duduk dimana karena kursi sudah penuh hanya tersisa di sebelah Rico .


"Hmmm iya mah ." ucap Zea mengiyakan apa kata mamah nya dengan ragu.


Zea pun duduk di kursi sebelah Rico . Mereka berdua tampak canggung masih untuk saling berinteraksi.


"Kalian berdua mau nggak nurutin wasiat terakhir nya ayah nya Rico saat mau meninggal." ujar bunda Siska menundukkan kepalanya dia sangat merindukan suami nya itu seseorang yang selalu menemani serta menjaga nya dengan sabar menghadapi semua sikap nya .


"Emang nya apa bunda wasiat om ." tanya Zea seraya mengunyah makanan.


Sedangkan Rico hanya diam , dia sudah tau apa yang akan di bicarakan oleh bunda nya itu .


"Menikah kan kalian berdua saat haul ayah nya Rico yang ke 2 tahun ." ucap bunda Siska menatap wajah Zea dengan penuh pengharapan.


"Hah Menikah ."