
"sungguh paviliun yang megah! waktunya menjalankan rencanaku!" gumam Noran.
Noran dan Rudra mencoba masuk ke dalam paviliun, namun keduanya di hentikan oleh dua penjaga paviliun.
"berhenti! pengemis di larang masuk!" ucap salah satu penjaga.
teriakannya membuat Noran dan Rudra berhenti seketika, tak hanya itu, dirinya mendorong Noran hingga sedikit terdorong.
"tuan, kami memiliki beberapa bisnis dengan paviliun bangau emas." ucap Noran.
"cih... mana mungkin pengemis seperti kalian memiliki bisnis dengan paviliun kami yang agung ini, dasar pengemis. pergi jauh jauh!" teriaknya.
di saat keduanya sedang berdebat, sebuah kereta kuda mewah berhenti tepat di hadapan mereka. kereta kuda yang mewah, terlihat tanda di samping kereta.
Renner..
seorang pemuda yang hampir sama dengan Noran turun, dirinya memakai pakaian mahal, tampilan seorang pemuda kaya.
"Tuan muda Rais, selamat datang." ucap kedua penjaga paviliun.
keduanya membungkuk dan memberi salam hangat kepada pria muda itu, sangat berbeda dari yang ia lakukan kepada Noran.
"hmph.." si pria muda mendengus dingin.
dirinya masuk ke dalam paviliun dengan mudah, di ikuti oleh pelayannya. Noran merasa perlakuan mereka begitu berbeda.
"tuan, mengapa dia boleh masuk?" tanya Noran.
"lancang! panggil dia tuan muda! dasar pengemis tidak berguna, dia adalah tuan muda kaya, putra dari tuan besar Renner, tentu ia bebas memasuki paviliun ini.
sementara kalian para pengemis, lebih cocok membusuk di sudut gang yang kotor dan gelap. hahahaha..." ucap sang penjaga.
keduanya tertawa dengan keras, Noran tidak tahan dengan sikap keduanya, ia memilih pergi dari tempat itu.
"paman, ayo pergi, tinggalkan tempat ini. sungguh, tempat yang buruk." ucap Noran.
"dasar bocah tengik! berani menjelekkan paviliun kami!" teriak si penjaga.
dirinya mengayunkan tinjunya kepada Noran. tingkat pembentukan tubuh bintang 5, sangat jauh perbedaannya dengan Noran.
dengan sigap, Rudra menangkisnya, kekuatan dirinya sudah berada di tingkat nadi spiritual bintang satu, membuatnya dapat dengan mudah menangkis serangan mereka.
bukk...
"mari kita pergi." ucap Rudra.
dirinya pergi bersama Noran, meninggalkan paviliun bangau emas.
"sayang sekali kita gagal mendapatkan beberapa pinjaman uang." desah Noran.
"tuan, tenanglah, kita mssih bisa mencarinya lagi." ucap Rudra mencoba menghibur.
keduanya berjalan menyusuri sepanjang jalan utama, banyak toko toko yang di buka di sepanjang jalan, beberapa terlihat lebih mewah dari yang lainnya.
"tuan, mungkin kita bisa datang ke paviliun itu." ucap Rudra.
Rudra teringat, selain paviliun bangau emas, masih ada paviliun lain yang bisa meminjamkan uang mereka.
namun, paviliun ini masih dalam tahap kecil, hanya beberapa kota saja yang memiliki paviliun ini.
"paviliun apa itu paman?" tanya Noran.
"itu adalah paviliun bulan perak." ucap Rudra.
Rudra memandu Noran ke paviliun itu, seperti yang di katakan, paviliun ini memiliki ukuran yang lebih kecil dari paviliun bangau emas. interiornya pun tidak semewah paviliun bangau emas.
paviliun ini terlihat seperti kedai biasa, seperti kedai lainnya. meski ragu, Noran akhirnya mengikuti Rudra masuk ke paviliun.
"selamat datang di paviliun bulan perak, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pria tua.
sepertinya dirinya adalah penjaga paviliun bangau emas ini. Noran berjalan mendekati sang pria tua dan berbicsra.
"tuan, bisakah kami meminjam beberapa uang?" tanya Noran.
"meminjam uang? maaf, tapi sepertinya bunganya terlalu tinggi." ucap sang pria.
"ya tuan, kami tidak masalah tentang itu." tambah Rudra.
"untuk setiap 1 koin perak, pengembaliannya harus 1 koin perak 35 koin tembaga." ucap si pria tua.
"tuan, kami menjanjikan pengembalian dua kali lipat, jaminannya adalah nyawa kami." ucap Noran.
"tunggu, bukankah itu gegabah tuan?" tanya Rudra dengan berbisik.
si pria tua merasa ragu, di satu sisi ia meragukan jika pria ini mampu mengembalikan uang pinjamannya. namun, disisi lain, ia bisa menjualnya sebagai budak jika tidak mampu membayar.
bgaimanapun, tawaran ini menguntungkannya. setelah beberapa saat berpikir, dirinya mengangguk dan menerima tawaran Noran.
"baik, berapa uang yang ingin tuan pinjam?" tanya si pria tua.
"kami ingin meminjam 20 koin emas." ucap Noran.
"20 koin emas?!" Rudra terkejut.
ia berpikir jika tuannya ini haya akan meminjam maksimal 3 atau 4 koin emas, tak ia sangka jumlahnya berkali kali lebih besar.
"tuan, jumlahnya terlalu besar." ucap Rudra dengan berbisik.
"tenanglah, aku sudah memiliki rencanaku sendiri." ucap Noran mencoba menenangkan Rudra.
"tuan, bukankah jumlahnya terlalu besar?" tanya si pria tua.
"tidak masalah. bukankah itu lebih bagus? kendalimu lebih besar kepada kami bukan?" tanya Noran.
"baik, akan segera aku siapkan." ucap si pria tua.
si pria tua mengambil uang itu, memasukkannya ke dalam kantong dan membuat transaksi.
dengan perjanjian darah, dirinya tiak perlu merasa khawatir. jika sang peminjam akan kabur atau memiliki niat buruk, maka di peminjam akan merasa sakit yang luar biasa.
setelah mendapatkan uang itu, Noran dan Rudra pergi dari paviliun. dirinya berjalan menuju ke pasar kota semi.
pasar yang ramai dan riuh. dalam keramaian, rentan terjadi kehilangan benda berharga, meski di zaman apapun.
Noran memegang kantong uang itu erat-erat dan menyembunyikan di dalam bajunya.
"apa yang akan kita lakukan selanjutnya tuan?" tanya Rudra.
"kita akan membeli beberapa barang di sini." ucap Noran.
keduanya menjelajahi pasar dengan antusias. setelah beberapa waktu berlalu, keduanya selesai berbelanja.
tangan keduanya di penuhi barang-barang belanjaan mereka. kebanyakan adalah barang konsumsi seperti sayur dan daging. beberapa senjata juga di beli oleh keduanya.
uang yang ada tersisa 12 koin emas, Noran memperkirakan jika ini masih cukup untuk melanjurkan rencananya ke tahap kedua.
"tuan, apa yang sebenarnya tuan ingin lakukan?" tanya Rudra.
dirinya semakin penasaran dengan yang di lakukan oleh tuannya ini. pemikirannya sangat sulit untuk di tebak.
"senjata dan bahan makanan? apa tuan ingin melakukan beberapa perburuan?" pikir Rudra.
"berhentilah berpikir, hari sudah mulai gelap. ayo kita mencari penginapan dahulu." ucap Noran.
Rudra tersadar, segera keduanya pergi dari pasar, mencari penginapan untuk sementara tinggal.
keduanya akhirnya menyewa sebuah penginapan sederhana di pinggiran kota. dengan satu koin emas, keduanya mampu tinggal setidaknya hingga 6 bulan kedepan.
"tuan, bukankah 1 koin emas untuk tinggal di penginapan sederhana ini terlalu mahal?" tanya Rudra.
"jangan pikirkan itu, besok kita harus pergi ke pusat kota." ucap Noran.
"pergi ke pusat kota? apa yang ingin tuan lakukan?" tanya Rudra.
"kita akan menyewa sebuah toko, dan juga, jika bisa, kita bisa memanggil beberapa penjaga untuk melindungi kita dari bayang bayang." ucap Noran.
"baik tuan." ucap Rudra.