
"mulai pertarungannya!" teriak Hugo.
di arena satu...
Ellen dan Reis bertarung dengan intens, seni beladiri tingkat menengah mereka adu di arena. ledakan ledakan energi terlihat dari pertarungan keduanya.
"nona muda Ronery! menyerahlah! aku akan berbaik hati membiarkan kamu turun dengan anggun." ucap Reis.
"humph! seorang tuan muda yang sombong, mana mungkin aku mundur di hadapanmu. itu akan mencoreng wajahku." ucap Ellen.
"dasar gsdis keras kepala, jika itu maumu, jangan salahkan aku jika bertindak kasar." ucap Reis.
Reis kembali merapal jurusnya, tangannya diliputi oleh api merah yang membara. membentuk sebuah burung api.
"burung api tingkat dua! elang api!" teriak Reis.
mata merah prkst terbentuk, mrmbrntuk elang dari api seluruhnya.
kiiaakkkk...
elang melesat dengan cepat ke arah Ellen, menerjang dan mrngancam mengoyaknya dengan paruh api yang tajam dan panas.
"mawar air!" ucap Ellen.
sebuah bunga mawar yang anggun dan indah muncul di hadapannya, biru jernih dari air, dan hawa dinginnya terasa hingga menembus kulit.
"mawar air! itu seni beladiri tingkat menengah dari kediaman Ronery!" ucap seorang pemuda.
"mawar air! jurus sakti yang digunakan oleh tuan Gars Ronery dalam peperangan di utara. menurut rumor, tuan Gars mampu mrmbunuh puluhan monster dengan satu serangan jurus ini!"
"luarbiasa! jurus yang kuat!"
diskusi tentang jurus Ellen terdengar di sekitaran arena satu. elang api di jerat olrh mawar air, sulur sulur air yang dingin memaksa api untuk mengecil.
kiaakkk...
elang api memberontak, meledakkan diri dari jeratan mawar air.
buuoomm...
asap putih mengepul dengan tebal di arena satu. kedua pemuda itu mengalami luka ringan karena ledakan.
"uhuk.. uhuk... mawar air, tak kusangka kamu sudah menguasainya..." ucap Reis.
"elang api... jurus tingkat dua dari lord kota, memang hebat." pikir Ellen.
"tapi, itu belum cukup untuk mengalahkanku!" teriak Reis.
Reis menyelimuti kedua tangannya dengan api yang ganas. membentuk zirah api hingga ke lengan atasnya.
Ellen menggertakkan giginya, merapal jurus mawar airnya lagi. kini, mawar air kembali muncul, sulur sulur air melesat mengejar Reis.
Reis mampu menghindarinya dengan kecepatannya. namun, sulur sulur yang mengejarnya terus bertambah jumlahnya.
hingga akhirnya, dua sulur mampu menangkapnya. dengan seluruh kekuatan yang tersisa, keduanya mengerahkan seluruh kekuatan mereka.
buuoomm...
ledakan!
asap putih membumbung tinggi, lebih tebal dari asap sebelumnnya. keduanys terlihat begitu kelelahan, seakan bisa roboh kapan saja.
"Hentikan! pertarungan ini seri!" ucap Lilia.
dirinya berdiri, dan melesat menuju Ellen, dirinya menopang Ellen yang bisa terjatuh kapan saja. sementara itu, Hugo memapah Reis ke tepi arena.
di arena dua...
Noran dan Guan berdiri berhadapan. keduanya berdiri dalam diam sembari menatap satu sama lain.
"karrna tingkatmu lebih rendah, akan ku biarkan kamu melakukan gerakan pertama." ucap Guan.
"tidak tidak, kamu saja lebih dulu." ucap Noran.
krik... krik.. krik...
"siapa yang akan memulainya?! ayo, mulailah bertarung!" teriak seorang penonton.
"berisik!" teriak penonton lainnya.
Guan akhirnya melakukan pergerakan pertama, dengan krpalan tangan yang di selimuti tenaga dalam, dirinya mencoba untuk mengalahkan Noran.
Noran dengan sigap menghindari serangan Guan, sesekali juga Noran membalas serangan Guan.
"hah.. hah.. akan sulit untuk menang." pikir Noran.
nafas Noran tersenggal senggal, sementara itu, Guan nampak sangat baik. seperti ketika ia baru naik arena.
"lumayan juga, aku akan serius sekarang." ucap Guan.
tenaga dalam yang menyelimuti tangannya menjadi lebih kuat dan pekat dua kali lipat.
tenaga dalam berwarna putih, membentuk pusaran pusaran yang cepat dan tampak berbahaya.
"apa itu? sepertinya berbahaya." pikir Noran.
Noran memasang sikap waspada terhadap Guan di depannya. Noran juga segera mengumpulkan tenaga dalamnya ke kedua tangannya.
"kamu cukup pantas untuk menerima serangan penuhku. terimalah tebasan 3 angin milikku!" ucap Guan.
dengan jari yang membentuk seperti cakar. Guan berlari menuju ke arah Noran, cakar angin miliknya mengarah langsung ke wajah Noran.
"terimakasih pujiannya. tapi maaf, aku tidak membutuhkannya!" ucap Noran.
tangan kiri Noran meninju tangan Guan ke atas, membuat serangan Guan meleset dan hanya menggores pipi Noran.
sreesssh..
tes...
"heh! akan ku kembalikan dua kali lipat!" ucap Noran.
Noran meninjukan tangan kanannya tepat ke wajah Guan, membuatnya terdorong mundur dengan dua gigi terlepas.
bahkan, hidungnya meneteskan darah, bekas kepalan tangan juga terlihat di wajah Guan.
"sialan! akan ku bunuh kau!" teriak Guan.
energi yang ada di sekeliling Guan meningkat dengan pesat, dirinya dengan cepat melaju ke arah Noran, menendang perut Noran dan membuatnya terdorong dan terkapar di arena.
"uhggh.. ini sakit.." rintih Noran.
Guan meledat ke arah Noran, mencoba menginjak kepala Noran, namun dengan sigap Noran menghindar berguling ke samping.
kaki lainnya mengejar Noran, mencoba untuk menginjaknya berkali kali. Noran kemudian bangkit, mengumpulkan seluruh tenaganya yang tersisa di dalam satu kepalan tinjunya.
Noran membalas Guan, dirinya mencoba untuk mendaratkan tinjuan miliknya, memanfaatkan Guan yang sedang marah, serangannya berhasil mendsrat dengan mudah.
wuushh....
Guan terlempar di udara, dengan mata yang memutih karena pingsan. saat dirinya beberapa kaki diatas arena, Noran menendang tubuh Guan.
buukk...
tendangannya tepat terkena di pinggang, membuat Guan berguling di arena.
"pemenangnya Noran! dengan ini, 3 kuota telah terpenuhi. untuk yang lolos, temui kami di balai kota." teriak Hugo.
kerumunan kemudian menyebar pergi, tes seharian penuh untuk perebutan menjadi murid akademi bintang utara usai.
Noran bergegas menuju ke arah sebuah kerumunan para pemuda. krrumunan itu cukup besar, ada puluhan pemuda di sana.
"hahahah! sudah kukatakan, Noranlah yang akan menang! aku kaya! hahahaha!" ucap pemuda botak.
dirinya mengambil hasil taruhannya dari tangan si pemuda itu. Noran juga menghampirinya.
"hei, saudara. dimana bagianku?" tanya Noran.
"bagian? bagian apa?" tanyanya dengan polos.
"tentu saja bagianku, aku menang dalam taruhanku." ucap Noran.
"berapa yang kamu pasang?" tanya pemuda itu.
"1 koin emas." ucap Noran.
Noran mengambil hasil taruhannya, ada cukup banyak uang di tangannya saat ini. totalnya ada sekitar 300 koin perak, itu setara dengan 3 koin emas.
"ternyata mudah mengumpulkan uang." pikir Noran.
sementara itu, sang pemuda terlihat di kerumuni oleh pemuda lainnya yang merah, dirinya terlihat di pukul berulang kali oleh kerumunan itu.
"baiklah, waktunya membeli barang barang untuk bekalku." pikir Noran.
Noran kemudian berjalan menuju ke jalan utama kota, mencari toko untuk membrli apa yang ia butuhkan.