
"pelatihan fisik?!" ucap Noran dengan terkejut.
"ya, pelatihan fisik. sebelum tuan mulai berlatih seni beladiri, tuan harus memastikan tubuh tuan kuat terlebih dahulu. seminggu ini, kita akan melarih tubuh tuan dengan memindahkan kayu kayu itu." ucap Rudra.
Rudra menunjuk ke arah tumbukan balok balok kayu yang ada di samping pondok, ada puluhan balok kayu yang tertumpuk.
"tuan akan memindahkannya ke sana." ucap Rudra.
Rudra menunjuk ke arah sebuah gudang, jarak yang cukup jauh. dan ddngan ini, pelatihan Noran pun di mulai.
setiap pagi, Noran di haruskan memindahkan balok balok kayu ke dalam gudang, tubuh Noran terasa seperti remuk.
"ahh!! tubuhku terasa sakit sekali!" ucap Noran drngan lirih.
"mari tuan, jangan mengeluh. masih tersisa 6 hari lagi ssbelum pelatihan usai." ucap Rudra.
"bisakah kita membatalkan pelatihannya?" tanya Noran.
"tidak bisa tuan, kita harus melaksanakan latihan tuan." ucap Rudra.
pelatihan yang berat terus berlangsung. sementara itu, di tempat lain...
kastil kerajaan Kalaya...
seorang pria paruh baya duduk di atas singgasana, di temani ratu di sampingnya. dirinya memandang bawahannya yang sedang berlutut.
"bagaiamana? apakah kalian berhasil melacaknya?" tanyanya.
"belum tuan, kami kehilangan jejak mereka lagi." ucap sang bawahan.
"bagaimana bisa? bukankah kalian mengejar mereka tanpa henti?" tanya si pria.
"maaf tuan, mereka melarikan diri ke hutan mati, kami kehilangan mereka. saat ini, kami terus mencari keberadaan mereka." ucap sang bawahan.
sudah 6 bulan mereka mengejar pasukan kerajaan yang melarikan diri bersama Rudra, Rudra dan pasukannya melarikan diri ke hutan mati.
pasukan milik raja Ramsesh mengejar pasukan kerajaan hingga seperti saat ini.
dalam pikiran Ramsesh, dirinya merasa cemas dan khawatir. hanya Rudra, yang mengetahui keberadaan dari anak Hermes, dirinya merasa khawatir jika suatu saat bocah itu akan muncul.
"cari lagi, jangan biarkan satupun hidup." ucap Ramsesh.
"baik tuan." jawab sang bawahan.
dirinya menunduk dan keluar dari ruang tahta, di sampingnya, sang ratu mampu melihat kecemasan di raut wajah sang suami.
"tenanglah, kamu pasti akan segera menemukannya." ucap sang ratu.
"ya, tapi aku merasa cemas, jika anak itu muncul, ia akan berbahaya." ucap Ramsesh.
dari belakang kursi singgasana, sesosok hitam muncul, menampakkan dirinya.
sosok berjubah hitam dengan topeng putih tersenyum kosong, muncul di belakang Ramsesh.
"hish hish hish.. apa yang kamu takutkan?" ucapnya dengan suara yang pelan.
meski suaranya pelan, kesan dingin dan kejam tercermin dari ucapannya.
"anak itu, berbahaya, kita harus membunuhnya segera." ucap Ramsesh.
sosok hitam berpindah ke salah satu pilar, memandang ramsesh ddngan tatapan tajam.
"bukan hal yang mudah membunuhnya. ia berada di dunia tengah, banyak musuh kita di sana. terlebih, kita juga tidak tahu berapa pemburu yang berkeliaran." ucapnya.
"aku tahu itu, walau bagaimanapun juga, kita harus bisa melenyapkannya." ucap Ramsesh.
"hish hish hish... tenanglah, jika ia berada di dunia ini, aku akan melenyapkannya." ucapnya.
sosok misterius kembali menghilang di balik bayangan pilar, menghilang dengan misterius.
"dark soul, kelumpok yang licik, aku harus berhati-hati dengan mereka..." gumam Ramsesh dengan lirih.
sementara itu, di tempat lain...
Noran telah melewati hari pelatihannya, satu minggu berlalu, meski terasa begitu menyiksa, perkembangan pada tubuhnya bisa ia rasakan.
kini ia mampu mengangkat beberapa balok kayu bersamaan dengan mudah, tubuhnya nampak sama seperti sebelumnya, ini nampak sedikit aneh baginya.
"bagaimana mungkin tubuh kecil ini bisa mengangkat beban seberat ini?" pikir Noran.
meski hanya jurus bumi tingkat rendah, jurus ini cukup berguna untuk Noran.
"baiklah, aku akan mengajarkanmu jurus tinju besi padamu, perhatikan baik baik." ucap Rudra.
Rudra mempraktekkan gerakan demi gerakan di hadapan Noran. dengan antusias, Noran memperhatikan setiap gerakan Rudra dengan antusias.
dalam beberapa saat, Rudra akhirnya selesai mempraktekkan jurus tinju besi.
"giliran tuan mencobanya." ucap Rudra.
Noran mengangguk, dirinya mempraktekkan jurus tinju besi, gerakan yang di lakukannya sama seperti yang di contohkan Rudra, meski gerakannya masih kaku dan tegang.
melihat pemandangan ini, wajah Rudra menjadi terkejut. ia ingat betul saat pertama kali berlatih tinju besi.
di dalam tinju besi, ada 7 lapisan yang berbeda. saat pertama kali belajar, setidaknya dirinya membutuhkan waktu seminggu untuk mencapai lapisan pertama.
sementara itu, ayah Noran, raja Hermes membutuhkan 3 hari untuk mrnguasai tingkat pertama. dan dirinya terkejut melihat Noran.
hanya sekilas melihat, dirinya mampu menghafal setiap gerakan dengan baik.
"memorinya tajam, penglihatannya juga mengagumkan. fokus yang tinggi, aku yakin, dengan dirinya, kerajaan akan berkembang dengan baik." pikir Rudra.
buummm...
balok kayu tertekuk menjadi dua, meski belum patah sepenuhnya, ini hasil yang cukup bagus untuk latihan pertama.
"huft... huft.. huft..." nafas Noran menjadi tidak beraturan.
seluruh energi yang ada di dalam tubuhnya terkuras habis untuk mempraktekan juru tinju besi.
"istirahatlah beberapa saat, kita akan mulsi berlatih kembali nanti." ucap Rudra.
Noran mrngangguk, dirinya duduk di salah satu balok kayu dan melihat para prajurit di hadapannya.
meski tubuh mereka di penuhi keringat, mereka tetap berlatih dengan giat. sebuah pemikiran muncul di kepala Noran.
"jika mereka bisa terus berlatih tanpa mengeluh, mengapa aku tidak bisa? agar menjadi lebih kuat, aku harus bersemangat." gumam Noran.
Noran bangkit kembali, meski energinya belum.pulih sempurna, ia kembalj berlatih.
Rudra hanya memandangnya dari samping. mengamati Noran yang berlatih dengan giat.
pagi brrlalu menjadi siang, Noran masih berlatih, keringat di tubuhnya sudah terlihat mengguyur seperti air hujan.
"semangat yang luar biasa." gumam Rudra.
rudra terus memandang Noran, perlahan, satu persatu para prajurit yang berlatih tumbang dan kelelahan. hingga hari akhirnya menjadi sore, hanya Noran yang masih berlatih.
"aku... masih... bisa... berlatih.." gumam Noran.
tubuhnya terasa sangat lemas, namun ia masih ingin terus berlatih, dengan menggertakkan giginya, Noran kembali berlatih.
"tuan, mari istirahat dahulu." ucap Rudra.
Rudra merasa khawatir melihat Noran yang memaksakan dirinya. ia mencoba membujuknya untuk beristirahat sebentar.
"nanti saja, aku belum merasa lelah." ucap Noran.
"tapi tuan, tubuh anda terlihat sangat kelelahan." ucap Rudra.
"tidak apa, biarkan aku berlatih hingga aku tidak sanggup lagi." ucal Noran.
Noran kembali berlatih tinju besi dengan giat. dirinya hanya berhenti ketika matahri telah tenggelam.
setwlah makan malam bersama, dirinya kembali berlatih sepanjang malam, tidur hanya sekitar 5 jam dan berlatih lagi seharian.
semangat yang luar biasa, kegigihan yang tinggi, dan kemauan yang keras, membuat para prajurit dan Rudra termotivasi untuk berlatih lebih keras lagi.
"lihat, tuan berlatih begitu keras, aku juga ingin berlatih lebih keras."
"aku juga."
"mari, kita berjuang sekuat tenaga bersama tuan."
"mari!"