
Noran memacu kudanya dengan cepat, jalanan tanah berdebu dengan padanv rumput luas ia lewati, hingga akhirnya Noran tiba di tepi hutan mati.
"hutan mati ya?" Noran memandang susana hutan yang cukup dibilang menyeramkan.
kwakkk... kwakk...
suara burung gagak menyambut Noran, Noran kemudian memacu kudanya lagi menyusuri hutan mati.
"aku harus terus melaju, apapun yang terjadi." Gumam Noran sembari mengawasi sekelilingnya.
biasanya, di dalam hutan hutan seperti ini akan ada perampok yang bersembunyi. Ini membuat Noran waspada dan berjaga-jaga.
"apakah ada perampok di hutan ini?" Pikir Noran sembari melihat sekitarnya.
kuda terus berjalan menyusuri jalan setapak hutan yang kecil, tidak ada yang aneh dalam perjalanan Noran.
hingga, dirinya akhirnya berada di tengah hutan. sebuah suara teriakan terdengar kuat.
"tolooong!!"
suara itu terdengar beberapa kali, dan suara itu semakin jelas saat Noran berjalan ke depan.
"sepertinya dari arah sana." Noran segera memacu kudanya lebih cepat, dirinya merasa ada yang aneh dengan suara teriakan itu.
benar saja, sesuatu yang mengerikan terjadi di hadapan Noran. terlihat dua orang sedang bertarung di tengah hutan.
salah satu adalah pria berjubah serba hitam, dengan pedang panjang di punggungnya.
sementara, yang satunya adalah seorang wanita berjubah hijau. di tubuhnya terdapat beberapa luka goresan dan sebuah sayatan panjang di punggungnya.
"tuan, tolong saya tuan! tolong saya!" si wanita merengek memohon di hadapan Noran.
sementara itu, si pria berjubah hanya terkekeh dan menatap dengan tajam.
"kekekeke... tidak ada yang bisa menolongmu, hari ini, sesuai dengan keinginan tuanku, kamu akan mati, kekekeke...." ucap sang pria.
sang pria kemudian mengayunkan pedangnya yang di penuhi oleh darah, dirinya berjalan mendekat ke arah si wanita dengan tawa jahatnya.
"berhenti!" teriak Noran kepada si pria.
Noran turun dari kudanya, mengambil sebuah pedang miliknya dan berdiri menghadap pria itu.
"oh? sepertinya ada yang sedang bermain menjadi pahlawan?" si pria terkekeh kembali.
"bocah, pergilah dengan tenang, dan akan aku anggap tidak terjadi apa apa. apa kamu setuju?" tanya si pria berjubah.
"tinggalkan wanita itu, dan aku juga akan pergi." ucap Noran.
"bocah, aku sudah berbaik hati memberimu kesempatan, namun kamu malah membuangnya. aku akan menghabisimu dengannya sekalian!" ucap si pria berjubah.
dirinya mengayunkan pedangnya dengan kuat, ayunan horizontal mengarah ke Noran dan mengincar lehernya.
"tidak semudah itu untuk membunuhku!" Noran menangkis serangan pria berjubah dengan pedang miliknya.
"mari kita lihat, apakah aku bisa membunuhmu atau tidak? kekekeke.." ucap si pria berjubah.
si pria jubah melemparkan sebuah pisau kecil dari balik jubahnya. Noran segera melompat mundur mencoba menghindarinya.
wush....
"kenapa kamu ingin membunuhnya?" tanya Noran.
dirinya merasa penasaran, kenapa pria berjubah ini begitu ingin membunuh sang wanita.
"terkadang, terlalu banyak tahu itu berbahaya bagimu bocah. dan juga, itu bukan urusanmu." ucap si pria berjubah.
dirinya melemparkan kembali pisau pisau yang tersimpan dari balik jubah miliknya.
shu.. shu.. shu...
Noran berlari menghindari setiap pisau yang di lemparkan oleh pria berjubah, sembari dirinya mengumpulkan tenaga dalam di tangannya.
Noran berlari menuju ke arah si pria berjubah, tinjunya yang di penuhi oleh tenaga dalam ia ayunkan.
pria berjubah menghindarinya dan mrngamati Noran, dirinya terkekeh kembali.
"tinju besi ya? jurus yang berbahaya. bocah, apa kamu dari militer?" tanya si pria berjubah.
"itu bukan urusanmu." ucap Noran.
di dalam hatinya, dirinya merasa terkejut, dari mana pria ini mengetahui jurus miliknya.
"seperrinya orang ini cukup berbahaya." pikir Noran.
"tentu saja itu bukan urusanku, karena kamu akan segera mati." ucap pria berjubah.
dirinya menyerang Noran dengan pedang miliknya. keduanya beradu dengan intens, beberapa kali, pria berjubah mencoba untuk memanfaatkan celah yang ada pada serangan Noran.
"ketemu!" pikir si pria berjubah dengan senang.
dirinya mengarahkan serangannya ke arah tulang rusuk Noran sebelah kanan bawah.
namun tak disangka, Noran kembali mengeluarkan jurus tinju besi miliknya.
buummm...
tinju besi tingkat ke 5 menghantam tubuh pria brrjubah dengan keras. membuat beberapa tulang rusuknya patah dan membunuhnya.
"apakah dia sudah mati?" Noran mendekat ke arah pria berjubah, menunduk dan melihat wajah si pria berjubah.
untuk memastikan kematian pria itu, Noran mengecek denyut jantungnya. dan di ketahui jika denyut jantungnya telah berhenti.
"sepertinya ia sudah mati." gumam Noran.
Noran kemudian berjalan mendekati wanita tersebut, dan menunduk.
"apakah kamu baik baik saja?" tanya Noran.
wanita itu mengangguk, mengatakan dirinya baik-baik saja. namun, raut wajahnya mengatakan hal yang lain. sepertinya dirinya merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Noran kemudian mendekati mayat pria berjubah, menggeledah mayat itu. dirinya menemukan beberapa barang dari mayat itu.
pisau lempar, berbagai pil obat, dan barang barang lainnya. Noran kemudian membuka sebuah botol, mengambil satu pil berwarna hijau pucat.
"sepertinya ini pil penyembuh." gumam Noran, ini menurut pengetahuannya di dalam novel dan komik.
Noran memberikan pil itu kepada si wanita, dan benar saja, seperti yang Noran kira, itu adalah pil penyembuh. semua luka luka yang ada di wanita itu menghilang.
Noran menurunkan seluruh barang barangnya, dan menyuruh wanita itu segera pergi dari hutan. dirinya mengucapkan terimakasih dan segera pergi dari hutan mati.
Noran kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian milik pria berjubah, dan menguburnya.
di pikiran Noran, Orang mati tidak memerlukan benda apapun, dengan itu, dirinya bisa leluasa menggeledahnya.
"sepertinya aku harus berjalan kaki, aku pasti akan terlambat ke sana" pikir Noran.
Noran berjalan dengan barang-barang di punggungnya, menyusuri rimbunnya hutan sendirian.
Noran terus berjalan menyusuri hutan, di tengah perjalanan, dirinya kembali menemui hal yang tak di duga.
dirinya melihat dua monster yang saling bertarung, satu adalah seekor serigala berwarna hitam pekat dan satu lagi seekor monyet putih kecil.
"ggrr.."
serigala itu menggeram dan menyerang monyet kecil dengan cakar dan taringnya. meski kecil, monyet itu memiliki gerakan yang gesit.
beberapa kali terlihat monyet itu membalas menyerang, yang membuat serigala itu semakin marah.
Noran menyaksikan keduanya bertarung, dalam pandangannya, berjalan melewati dua monster yang sedang bertarung sama saja dengan bunuh diri.
"growl!"
serigala itu menerkam monyet kecil, membuat monyet kecil tertahan di bawah cakarnya yang besar.
"awas, monyet kecil!" Noran segera melesat menuju ke monster serigala di hadapannya.