
setelah berbelanja kebutuhan miliknya, Noran berjalan menuju ke balai kota. letak balai kota tak terlalu jauh dari pusat kota, balai kota tepat berada di persimpangan jalan utara dan barat.
dengan gedung megah dan indah, serta dua prajurit berzirah yang menjaga gerbang bangunan, menambah kesan mewah bangunan ini.
"balai kota"
terpampang jelas dengan pelat besi berwarna perak yang indah.
"berhenti, tunjukkan diri anda dan apa keperluan anda." ucap seorang penjaga kepada Noran.
dengan wajah garangnya, dirinya mencoba mengintimidasi Noran, namun itu tidak berhasil.
"saya Noran, tuan Hugo menyuruh saya datang ke tempat ini." ucap Noran.
"ikuti saya." ucap penjaga itu.
dirinya memandu Noran ke dalam gedung. komplek di dalamnya cukup luas, ada beberapa bangunan lain di tempat ini.
si prnjaga dan Noran berjalan menuju ke gedung yang berukuran paling besar, itu adalah gedung aula.
"silahkan lanjutkan sendiri ke dalam." ucap si penjaga.
dirinya hanya mengantar Noran sampai ke depan pintu bangunan. dirinya segera kembali menuju gerbang dan berjaga kembali.
"apakah ini ruangannya?" pikir Noran.
Noran membuka pintu perlahan, dan melangkah masuk. terlihat, tiga orang duduk di meja yang sama.
itu adalah Lord kota semi, tuan Renner, dua utusan akademi bintang utara, Hugo, dan Lilia.
"silahkan nikmati jamuan sederhana kami tuan." ucap Renner.
beberapa makanan meeah dihidangkan diatas meja, tak lupa beberapa botol anggur juga terhidang.
"apakah mereka sudah datang?" tanya Lilia.
"Nona, mereka sudah datang, hanya tinggal peserta terakhir itu." ucap Hugo.
tanpa bercakap lagi, ketiganya saling diam di dalam ruangan.
creeakkk...
Noran melangkah masuk, berjalan lurus menuju ke tengah aula. mrnyadari kehadiran Noran, Hugo dan Lilia menoleh.
"sepeetinya dia sudah datang Nona." ucap Hugo.
"ya, aku tahu." jawab Lilia singkat.
keduanya memandang ke arah pintu masuk, dan tak lama terlihat pemuda sederhana brrjalan masuk ke aula.
"maaf tuan, saya terlambat." ucap Noran sembari membungkuk.
"dasar, baru pertemuan pertama sudah telat." ucap Ellen.
"apa yang kau harapkan dari pemuda miskin sepertinya? hahaha." ucap Reis.
keduanya memandang Noran degan jijik dan penghinaan.
"masa bodoh dengan kalian, yang terpenting, aku harus menjadi lebih kuat lagi." pikir Noran.
"untuk kali ini, kami akan melupakannya. namun, lain kali, hukuman akan menantimu." ucap Lilia.
"baik! terimakasih atas peringatannya." ucap Noran.
keduanya berdiri, dan memandang Noran dan yang lainnya.
"perjalanan menuju ke akademi bintang utara sangat jauh. perjalanan akan melalui barat daya kerajaan ini, melewati hutan mati dan pegunungan suram, setelah melewati pegunungan suram, kita akan tiba di akademi bintang utara.
perjalanan akan berlangsung selama 7 hari, dan kita akan berangkat hari ini. aku harap, persiapan kalian telah selesai ." ucap Lilia.
"baik, kita akan berangkat segera dengan menunggangi elang petir. segera bersiap dan berkumpul di lapangan kota." ucap Hugo.
"baik!" jawab ketiganya serempak.
Noran dan yang lainnya segera pergi, mempersiapkan dirinya untuk pergi. Noran membungkus pakaian dan keperluannya yang lain ke dalam sebuah kain.
berbeda dengan Noran, kedua yuan muda itu memiliki sesuatu yang lebih spesial.
keduanya memiliki cincin ruang untuk menyimpan barang mereka. harga dari satu cincin ruang sendiri fantastis, sekitar 1 koin platinum, atau setara dengan 100 koin emas.
ketiganya telah berkumpul di pusat kota, Hugo dan Lilia juga terlihat telah bersiap.
"kita akan berangkat ke akademi dengan dua elang petir. setiap rlang petir hanya mampu membawa dua orang saja. dengan ini, akan ada satu orang menunggang kuda menuju ke akademi." ucap Lilia.
"menunggang kuda? bukankah itu berbahaya? bisa saja kita mati saat melewatinya menggunakan kuda." ucap Noran.
"hanya itu caranya. jika tidak mau, kamu bisa mengundurkan diri." ucap Lilia.
"mengundurkan diri? tidak mungkin. aku sudah berusaha sejauh ini, mana mungkin aku menyerah begitu saja." gumam Noran.
"jadi, siapa yang akan menaiki kuda menuju akademi?" tanya Reis.
"kita akan menentukannya melalui pertarungan, kalian bertiga akan bertarung satu sama lain, dan yang kalah akan menunggang kuda menuju akademi." ucap Hugo.
"baiklah, sekarang, kalian bisa mulai prrtarungannya sekarang." ucap Lilia.
Reis, Noran, dan Ellen saling bertukar tatapan. mata mereka menatap dengan tajam.
"mulai!" teriak Hugo.
wush wush...
keduanya menghilang, Reis dan Ellen menghilang sesaat setelah Hugo berteriak mulai.
"gawat, mereka menghilang. ini bahaya!" pikir Noran.
betul saja, keduanya muncul di hadapan Noran. Reis mencoba menghantam punggung Noran dengan tinjunya.
"berbahaya!" pikir Noran.
Noran segera melompat ke atas, tinju melesat dan menghantam udara yang kosong.
tak di sangka, Ellen juga ikut melompat, tendangan menyamping melaju dengan cepat menuju ke arah Noran.
"tidak sempat!" pikir Noran.
buuk...
Noran berguling beberapa kali di tanah, membuat bajunya brtambah kotor karena tanah dan debu.
"sudah di tentukan, Noran yang akan mrnunggang kuda menuju akademi." ucap Hugo.
"kita berangkat sekarang." ucap Lilia.
Lilia meniup sebuah peluit, tak lama serkor elang petir lainnya muncul di langit.
Hugo dan Reis berada di atas elang petir, mereka melesat pergi menuju ke akademi. sementara itu, Ellen dan Lilia berada dalam elang petir lainnya.
seperti yang mereka ucapkan, mereka meninggalkan seekor kuda untuk tunggangan Noran. kuda berwarna cokelat yang besar.
"baiklah, sepertinya aku harus berjuang lagi. tunggu saja, aku akan membalas kalian!" gumam Noran.
Noran meletakkan barang bawaannya di atas kuda, dan menungganginya menuju ke akademi.
"tunggu aku, akademi bintang utara!" ucap Niran dengan bersemangat.
hyat...
dengan semangat, Noran memacu kudanya melewati jalanan utama dengan cepat.
Noran berhenti tepat di depan gerbang kota. setelah melewati benteng kota ini, para siluman dan monster bisa mengancam kehidupannya.
"sejak kapannaku lupa, kalau hidup ini penuh resiko." gumam Noran.
"tanpa resiko, aku tidak akan pernah mendapatkan apapun. aku harus maju." gumam Noran lagi.
"hyatt!!!"
nghhikkkk...
kuda di pacu dengan cepat menjauhi kota semi, berpacu menuju ke akademi bintang utara...