
"apa? menjadi raja? apa yang kamu bicarakan?!" ucap Noran.
Noran merasa sedikit frustasi, baru saja ia mengetahui sejarah dirinya dari pria tua di hadapannya, namun sekarang ia harus menjadi raja.
'apa yang kalian pikirkan?! aku baru tahu sejarah diriku beberapa menit yang lalu. dan sekarang, kalian ingin aku menjadi raja?' gerutu Noran.
meski dirinya menyukai hal-hal yang berkaitan mistis dan misteri, namun kejadian di hadapannya begitu aneh.
"ya tuan, kami mohon tuan untuk membimbing kami di kerajaan Kalaya ini." ucap Rudra.
"kenapa aku harus menjadi raja?" tqnya Noran.
"itu karena tuan adalah pewaris darah dari raja sebelumnya, yang mulia Hermes." ucap Rudra.
Rudra berjalan mendekat ke arah Noran, dirinya memegang lengan kanan Noran dan menekannya dengan ibu jari dan telunjuk.
swing...
tenaga dalam ia alirkan ke lengan Noran, sebuah kerutan krbiruan perlahan muncul di atas telapak tangan Noran.
itu membentuk srmacam diagram, serupa dengan yang ada di buku. tanda dari pewaris tahta kerajaan Kalaya.
"ini adalah tanda dari pewaris tahta kerajaan yang resmi. tanpa tanda ini, siapapun rajanya, tidak akan pernah memiliki disposisi dan keagungan raja.
dan tuan, sebagai pemilik tanda ini, harus menjadi raja dan membimbing kerajaan ini agar berkembang dengan baik." ucap Rudra.
Noran terkejut melihat tanda di tangannya, setelah mendengar penjelasan dari Rudra, sebuah perasaan aneh kini muncul.
dirinya merasakan jika apa yang di katakan Rudra sepenuhnya benar. perlahan, Noran menganggukkan kepalanya.
"baiklah, aku akan melakukannya, namun, aku tidak berjanji aku bisa menepatinya." ucap Noran.
"itu sudah cukup tuan, sampai kapanpun, kami akan selalu berada di sisi tuan." ucap Rudra.
Noran berjalan keluar dari pondok kayu, terlihat para prajurit, yang berjumlah sekitar 50 orang berbaris rapi.
ketika melihat Noran, mereka berlutut dan berpegangan pada tombak yang tegak dan perisai bulat di tangan mereka.
"hormat kami tuan! kesetiaan penuh kami hanya untukmu!" ucap para prajurit serempak.
Noran mengangguk, dirinya kembali berjalan dan memandang langit biru yang indah.
udara yang begitu menyegarkan dan bersih, di bumi, hanya sedikit tempat yang sama seperti tempat ini.
"menjadi seorang raja? aku tidak yakin jika aku akan mampu..." ucap Noran dengan lirih.
dirinya duduk di atas sebuah batu dan memandang langit dengan tangan menutupi teriknya matahari.
swush...
sebuah suara kelebatan terdengar, itu adalah Rudra, dirinya berdiri di belakang Noran dengan tegap.
"saya yakin tuan akan mampu." ucap Rudra.
"apa yang kamu yakini? aku hanya manusia biasa sebelumnya, tidak ada satupun sifat raja yang agung berada padaku." ucap Noran.
selama ini, dirinya hanya hidup seperti remaja pria kebanyakan, hanya sedikit perbedaan kecil yang dimilikinya.
"selalu ada sisi spesial dalam setiap orang, tuan." ucap Noran.
"kamu mempercayainya?" tanya Noran.
"ya, saya mempercayainya tuan." jawab Rudra.
"pemikiranmu naif, kebanyakan manusia memiliki sifat dan temperamen yang sama. hanya sedikit yang memiliki sifat spesial." ucap Noran.
Noran berjalan masuk ke dalam pondok dan memiloh duduk di satu sofa. perlahan, dirinya tertidur dalam posisi duduk.
Rudra memandang pemuda di hadapannya itu, pandangan yang berbeda, pandangannya berisi kekaguman dan kepercayaan penuh.
"pemikirannya berbeda dari remaja biasa, aku percaya jika dirinya bisa menjadi raja yang hebat.
tuan, aku berjanji akan membimbingnya dengan baik, percayakan putra anda kepadaku." gumam Rudra.
Rudra mengambil sebuah selimut dan memakaikannya kepada Noran. dirinya kemudian meninggalkan Noran yang tertidur.
...
Noran terbangun dengan perasaan segar. Noran bangkit dan berjalan keluar dari pondok, terlihat seluruh prajurit dan Rudra berbarid rapi di depan pondok.
"apa tuan merasa lapar?" tanya Rudra.
"ya, begitulah." ucap Noran.
"mari kita makan dahulu tuan." ucap Rudra.
Rudra memandu Noran menuju ke sebuah pondok, ini adalah pondok yang di gunakan untuk memasak makanan para prajurit.
ketika Noran datang, para juru masak menyiapkan hidangsn terbaik yang bisa mereka sajikan.
daging panggang, ikan bakar, dan beberapa makanan lainnya memenuhi meja.
"ini seperti dalam film, lupakan. ini adalah waktunya makan." gumam Noran.
Noran memakan makanan yang di hidangkan, setelah beberapa suapan, ia menyadari jika para bawahannya berdiri dengan tenang di belakangnya.
"kenapa kalian hanya berdiri?" tanya Noran.
"tuan, bawahan tidak boleh makan saat tuan mereka makan, kami akan menunggu tuan selesai makan.", ucap Rudra.
"apa-apaan itu? siapa yang membuat peraturan itu?" tanya Noran.
"itu sudsh menjadi aturan leluhur tuan.", jawab Rudra.
"masa bodoh dengan para leluhur. mereka sudah mati, dan aku ingin bertanya. siapa tuan kalian?", tanya Noran.
"andalah tuan kami." ucap Rudra.
"kalau begitu, ikuti peraturanku. saat aku makan, kalian harus makan juga." ucap Noran.
Rudra merasa tidak setuju dengan ucapan Noran. di dunia ini, setiap bangsawan dan pemimpin menekankan perbedaan dengan jelas.
bawahan tidak boleh makan bersama dengan tuannya. itu telah melekat dengan kuat di setiap individu.
"tidak ada tapi tapian, itu adalah perintah." ucap Noran.
Noran mrmanggil para juru masak, dan menyuruh mereka untuk menyiapkan makanan kepada para prajurit.
dengan Rudra yang menemani, Noran memakan makanan yang ada dengan lahap.
setelah makan pagi, setiap prajurit pergi berlatih, mereka berlatih seni bela diri tonbak dan tinju besi.
"apa yang mereka lakukan?" tanya Noran.
Noran melihat para prajurit yang berlatih dengan menghantamkan tangan mereka ke sebuah balok kayu besar.
tidak ada yang aneh, hingga seorang prajurit menghantamkan tangannya.
krakkk...
balok kayu patah, hal yang sama terjadi pada balok lainnya. ini membuat Noran merasa penasaran dan bertanya.
"tuan, itu adalah jurus bela diri pasukan kita tuan, jurus tinju besi." ucap Rudra.
"jurus tinju besi? apa itu?" tanya Noran.
"jurus tinju besi adalah seni beladiri utama pasukan kerajaan, dengan jurus ini, lengan pasukan menjadi sekeras besi dan dapat dengan mudah mematagkan balok-balok kayu besar itu." ucap Rudra.
"mematahkan balok balok besar itu dengan tangan kosong? sungguh kuat." ucap Noran.
"tuan, jurus tinju besi hanya seni beladiri bumi tingkat rendah. di dunia ini, ada yang mampu membalik gunung, mengubah arus sungai dan menerbangkan pulau dengan jari mereka." ucap Rudra.
"membalik gunung bahkan menerbangkan pulau dengan jari? sungguh luar biasa." ucap Noran.
membayangkan seorang manusia bisa mengangkat gunung dengan jari mereka, ini mirip seperti cerita dongeng untuk anak-anak. namun, itulah yang terjadi di dunia ini.
"lalu tuan, anda harus mulai berlatih juga." ucap Rudra.
"baiklah, mari kita berlatih tinju besi itu sebagai permulaan." ucap Noran.
Noran merasa cukup bersemangat, membayangkan dirinya bisa mrngangkat gunung dengan jarinya, sungguh menyenangkan.
"tuan, tidak semudah itu untuk belajar seni beladiri. mari kita muali dengan melatih fisik tuan dahulu." ucap Rudra.