
Sambil menangis aku berjalan ke arah lukisan malaikat dan membuka brankas tersebut dan mengambil tas ransel hitam sesuai petunjuk surat papa, aku keluar dari rumah dan memesan ojek on line dan meminta nya untuk mengantar ku sesuai dengan apa yang aku tulis diaplikasi.
Disini aku sekarang di stasiun kereta api, dan membeli tiket untuk perjalanan ke kota P.
Perjalanan yang akan aku tempuh lumayan lama jadi aku berusaha untuk memejamkan mata sekalipun tidak bisa tidur.
Aku mencoba mengingat-ingat dan mengurutkan setiap kejadian selama di rumah seperti memasang puzzle.
Kenapa hanya karena harta orang bisa saling membunuh bahkan membunuh saudara dan keluarga sendiri, menghalalkan segala cara untuk menguasai nya.
Kenapa harus Paman yang sudah aku anggap papa kedua bagiku, dan kenapa harus om Diran yang juga seperti keluarga bagi kami.
Aku menutup kepalaku dengan tutup kepala dari jaket ku, berusaha menghindari tatapan orang disekitar ku jangan sampai mereka tahu kalau aku sedang menangis tanpa suara, hanya air mata yang bicara.
Sekarang aku tahu kenapa papa mendidik ku dengan kedisiplinan tinggi selama ini, dan juga mendatangkan pelatih karate di rumah untuk melatihku secara pribadi, bahkan bukan hanya karate tetapi juga angkat beban, dan latihan senjata ( belati dan pistol ).
Aku tahu jawabannya sekarang inilah waktunya semua itu bermanfaat untuk bekal hidupku.
Selama ini aku dilatih mandiri dan menjadi gadis yang tangguh, ternyata papa sudah tahu jauh - jauh hari bahwa akan datang saatnya aku harus berjuang sendirian.
Antara sedih, marah, emosi, kecewa, takut bercampur menjadi satu dalam darahku dan denyut nadiku,
Tabir Hitam Kehidupan keluarga besarku, sudah dibuka untuk aku jalani.
Tak ada lagi Cintya Hendrikson yang ada sekarang adalah Angel X.
Lambat laun rasa penat dan lelah membuatku terlelap dan menjauhi cahaya sampai aku masuk ke dalam kegelapan alam mimpi.
Mari silahkan sudah waktunya makan siang ada nasi campur, nasi goreng, nasi ayam....
ada kopi, teh dan air mineral....
Kata awak kereta menawarkan menu makan siang.
Aku mengambil uang didompetku dan menyerahkan nya kepada salah satu petugas tersebut dan menikmati dengan lahap.
Masih sekitar 1 jam lagi kereta yang aku naiki memasuki kota P, sesekali aku melihat situasi diluar jendela kaca.
Aku sudah mematikan HP ku saat aku keluar dari rumah dan membuang memory card ku dan mengganti dengan yang baru.
Menghapus semua kontak yang masih sisa dan menghapus semua media sosial ku dan mengganti semua dengan identitas ku yang baru.
Akhirnya sampai sudah aku di kota P, aku berdiri dan mengantri untuk turut dengan beberapa penumpang yang lain.
Selamat datang Angel di kota dan rumah yang baru...... batinku.
Kalau kita mau menghancurkan musuh kenali dulu musuh kita.
Di kota yang baru dan dilingkungan yang baru jangan terlalu dekat dengan orang yang tidak dikenal dan jangan asal menjalin komunikasi dengan sembarang orang.
Hindari hal - hal yang tidak penting.
Aku membuka aplikasi ojek on line, dan memesan nya......
Dari stasiun ke rumah yang sudah disiapkan papa membutuhkan waktu 30 menit.
Melewati area perkebunan dan pertanian yang memanjakan mata orang kota, seperti aku..... suasana yang tenang dan jauh dari keramaian tetapi tidak terlalu sepi juga, karena masih ada banyak rumah yang kebanyakan adalah rumah pegawai dan petugas dari perkebunan tersebut.
Perlahan Tabir Hitam itu harus di koyakkan untuk melihat cerahnya cahaya mentari.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE YA
DEMI KEBAIKAN BERSAMA 🙏🙏🙏