
Seorang pria setengah baya dengan setelan militer biru itu tengah terduduk di kursi kerjanya dengan meletakkan kedua kakinya di atas meja. Dirinya terlihat sedang bersantai sambil mengelap senapan yang tampak sudah sangat mengkilat itu menggunakan serbet.
Ketenangan ini sudah berlangsung lama. Tetapi, suara pintu yang diketuk beberapa kali di luar sana menghancurkan segala ketenangan yang sudah berangsur lama tersebut.
"Masuklah!"
Suara yang terdengar berat itu menggema di ruangan ini ketika pria paruh baya itu berbicara.
Tak selang waktu lama, pintu terbuka. Menampakkan seorang pria yang kira-kira berusia duapuluh tujuh tahun dengan setelan militer berwarna coklat tua. Dia menutup kembali pintu saat dirinya sudah benar-benar berada di dalam. Usainya, pria itu memberi hormat dengan melepas topi militernya dan membungkuk sembari berujar, "Hormat kami untuk Jenderal Besar Morpheus Swocratis."
"Katakan masalah sebesar apa yang membuatmu datang ke kantor pusat yang sangat jauh dari wilayahmu, Kapten Regas?"
"Apa Anda ingat tentang kejadian sepuluh tahun lalu yang menewaskan ribuan korban? "
Pertanyaan Regas barusan, membuat pria bernama Morpheus itu tiba-tiba menghentikan aktivitas mengelap senapannya. Seraya menatap Regas dengan tatapan menyelidik, ia membalas perkataan pria muda itu. "Ya?"
"Maafkan aku, Jenderal. Aku benar-benar tidak begitu paham tentang masalah ini. Jadi, aku ingin Anda memeriksanya sendiri, apa masalah di distrik Soutaven kali ini, ada sangkut pautnya dengan Iblis yang kata Anda sangat merepotkan."
"Apa kau sengaja ingin membuatku ketakutan karena perkataanmu itu? Jelaskan semuanya!"
"Baiklah …,"
Sesuai perintah sang jenderal, Regas pun langsung menjelaskan semuanya.
Setengah jam sebelumnya ...
Regas tengah beristirahat di dalam pos kantor pengawas bersama dengan rekan-rekannya. Mereka tengah berbincang-bincang membicarakan apa saja yang terlintas di pikiran mereka. Jika dilihat dari cara mereka berbicara dengan santai sambil sesekali diiringi tawa, mereka terlihat akrab satu sama lain. Seperti sebuah keluarga.
Namun, dalam riuh rendah percakapan, mereka dikagetkan oleh suara gedoran di ruang muka yang berlangsung terus menerus.
Salah satu dari mereka beranjak untuk memeriksa apa yang terjadi di depan. Ketika pria muda yang memeriksa itu membuka pintu, betapa kagetnya ia ketika seorang pria paruh baya tiba-tiba memegangi kedua tangannya dengan keras.
"Tolong! Selamatkan putriku!" ucap pria paruh baya itu dalam deru napasnya yang tak beraturan.
"Tenanglah! Kau atur napasmu dulu!" balas pria muda itu sembari memegangi kedua lengan pria paruh baya itu.
"Tidak bisa! Kita harus segera menyelamatkan putriku. Putriku sedang dimakan!"
Mendengarnya, pria muda itu langsung tersentak. "Dimakan? Apa maksudmu?"
"Ada apa, Hannan?"
Suara itu sontak membuat pria muda bernama Hannan itu menoleh ke arahnya. Ia melepas genggaman tangannya dari lengan pria paruh baya itu. "Kapten Regas, dia bilang putrinya sedang di makan."
Regas terkejut. "Jangan bercanda!" gertaknya seraya menatap pria paruh baya itu dengan tatapan tajam.
Lantas, pria paruh baya itu turut menatap Regas dengan tatapan yang sama tajamnya. "Kau pikir aku terlihat sedang bercanda?" desisnya.
"Masuklah! aku ingin meminta kejelasan, " pinta Regas yang langsung ditolak mentah-mentah oleh pria itu.
"Tidak bisa! Kita harus segera menyelamatkan putriku!" bentak lelaki itu dengan tatapan membunuh.
"Lalu bagaimana kita bisa menyelamatkan putrimu tanpa tau apa yang ada di sana?!" tanya Regas sama kerasnya dengan pria tadi.
"Tenanglah, Kapten!" Hannan mencoba menenangkan suasana. "Tuan, beritahukan padaku apa yang kau lihat!" pinta Hannan pada pria paruh baya itu dengan lembut.
"Aku melihat orang yang dipenuhi oleh darah sedang menggigit pundak putriku. Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi saat aku menatap matanya yang berwarna merah tubuhku terasa merinding dan aku langsung lari ke sini untuk meminta bantuan," jelas pria tua itu yang membuat Regas mendelik kaget.
"Jangan-jangan," gumam Regas yang langsung kembali ke dalam ruangan tempat ia dan rekan-rekannya beristirahat. Dengan langkah yang tergesa-gesa, Regas berjalan menuju ruang kecil tempat penyimpanan senjata, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan ini keheranan.
"Apa yang terjadi, Kapten?" tanya salah satu di antara orang-orang itu.
Setelah Regas mengambil sebuah senapan, dengan ekspresi wajah yang terlihat khawatir, ia menatap ke arah rekan-rekannya. "Koizor, Floyth, Lasley, bawa senjata kalian dan ikutlah denganku! Yang lainnya, tetaplah di sini untuk berjaga-jaga. Ingat! Jangan sampai lengah! Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu!" perintahnya yang sukses membuat semua orang penasaran dengan apa yang terjadi.
"Sebenarnya ada apa, Kapten?" tanya pria berambut ikal mewakili yang lainnya.
"Ini bukan waktunya bercerita. Ayo!" Regas langsung berjalan keluar diikuti ketiga rekannya yang sudah siap dengan senjatanya masing-masing.
Regas berjalan ke arah Hannan dan pria paruh baya yang kini tengah menangis. Dengan tatapan dinginnya, ia berkata, "Hannan, kau tetaplah di sini bersama yang lain. Usahakan agar semuanya tidak panik."
"Dimengerti, Kapten," balas Hannan sambil mengangkat tangan dan meletakkannya di kening pertanda hormat.
Regas memegang pundak pria paruh baya itu sembari berkata, "Kau ikut ke mobil bersama kami!" Ia berlalu keluar ruangan diikuti pria paruh baya itu dan para rekannya.
Setelah Regas dan rekan-rekannya memasuki mobil, Regas langsung meminta Floyth, pria berkaca mata yang menyupiri mobilnya untuk melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Tak lama, mereka sampai di tempat kejadian perkara. Ia terkejut ketika mendapati mayat-mayat yang terkapar di tanah. Tak hanya dirinya, semua orang termasuk pria paruh baya itu juga terkejut melihatnya.
Regas dan yang lainnya pun turun dari mobilnya. Ia lantas berjalan ke arah salah satu mayat yang terkapar di sana. Rekan-rekannya pun turut memeriksa mayat-mayat lainnya.
Regas berjalan ke arah mayat dari seorang pria dengan kepala yang terpisah dari badannya. "Dia tidak terlihat seperti korban Ezbar," batinnya.
"Dia adikku!" ujar pria paruh baya yang tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya sembari menangis.
"Kenapa kalian bisa ada di tempat seperti ini?" tanya Lasley, satu-satunya wanita di sini pada pria paruh baya itu.
"Kami sedang mengejar putriku. Dia kabur dari rumah karena dia tau aku akan menjodohkannya," balas pria setengah baya itu dalam tangisnya.
"Apa ini … putrimu?" tanya Koizor yang tengah bertekuk lutut di samping sebuah kepala dari seorang wanita muda.
Melihatnya, pria paruh baya itu langsung beranjak menuju kediaman orang yang baru saja bertanya padanya itu. Tubuhnya melemas, hingga akhirnya rubuh. Tangisnya pun pecah. Ia meraih kepala Alma yang tergeletak di tanah dengan tangan bergetar. Darah segar yang berasal dari kepala Alma mulai mengalir di tangan pria paruh baya itu. Koizor mengusap punggungnya mencoba menenangkan.
"Kapten, lihatlah!" ujar Floyth yang sedang bertekuk lutut di samping mayat makhluk kanibal yang sempat memakan Alma.
Regas melangkahkan kakinya menuju wanita itu.
"Hanya dia yang jasadnya masih utuh," ucap Floyth dengan sedikit khawatir.
"Kapten, apa sebaiknya kita menghubungi atasan? Supaya mereka meminta tim penyidik khusus untuk menyelidiki kasus ini," usul Lasley yang kini berada di samping Regas.
"Tidak perlu, " sangkal Regas.
"Lantas, apa yang akan kita lakukan?"
"Dimengerti," balas para rekan Regas bersamaan.
Setelahnya, Regas pun melajukan mobil itu dengan kecepatan tertinggi.
Kembali lagi pada waktu saat ini. Di mana Morpheus tengah khusyuk mendengarkan pemaparan dari Regas.
"Spekulasiku mengatakan bahwa segel Ezbar telah hancur. Kita tidak tau apa yang musuh telah lakukan selama sepuluh tahun terakhir. Tapi waktu selama itu, cukup untuk menerobos segel yang telah dipasang para Zaswen yang sudah tidak diperkuat lagi atau bahkan dilupakan karena kita menganggap bahwa kita telah aman dari serangan," papar Regas panjang lebar.
Morpheus hanya terdiam. Ia seperti memikirkan sesuatu yang sangat tidak bisa ia terima. Meski deru napasnya terdengar tidak bermasalah sedikitpun, namun pria yang bersamanya itu tau betapa terkejutnya ia. Beberapa detik dilalui dengan kesunyian hingga tiba-tiba suara dari pria setengah baya itu terdengar di ruangan ini. "Apa kau sudah memberitahu atasanmu?"
"Tidak, Jenderal. Seperti yang Anda inginkan."
Mendengar jawaban Regas yang begitu meyakinkan, Morpheus menghela napas sesaat sebelum akhirnya beranjak dari duduknya. "Bisakah kau membawa aku ke sana?"
"Tentu," balas Regas.
Morpheus memakai mantel militer birunya kemudian berjalan ke arah pintu.
Seperti bawahan pada umumnya, Regas membukakan pintu besar itu untuk Morpheus yang lalu diikuti olehnya keluar dari ruangan ini.
***
Sesudah mereka sampai di luar gedung, Regas berjalan menuju sebuah mobil mewah berwarna hitam untuk membukakan pintu mobil tersebut yang notabenenya adalah mobil pribadi milik Morpheus.
Seusai Morpheus menaiki mobilnya, Regas berbicara sebentar. "Jendral, kita akan memilih jalan memutar."
"Kenapa?" tanya Morpheus dengan tangan yang sudah menggenggam setir.
"Para penduduk di distrik Louth sedang mengadakan festival. Itu akan menghambat perjalanan kita."
"Begitu. Baiklah." Morpheus menutup pintu mobilnya.
Segera, Regas berjalan cepat menuju mobil yang sebelumnya ia kenakan untuk sampai ke tempat ini.
Regas memimpin jalan untuk menuntun Morpheus yang melajukan mobil setelahnya.
Dua penjaga kantor pemerintahan yang tengah berdiri di masing-masing sisi gerbang segera membuka gerbang tersebut dan memberi hormat pada jenderal mereka.
Setelah cukup lama dalam perjalanan, akhirnya Morpheus dan Regas sampai pada tempat tujuan mereka.
Morpheus turun dari mobilnya, begitupula Regas.
Para rekan Regas terkejut melihat kedatangan sang jenderal besar. Dengan sigap, mereka lantas membungkuk hormat pada Morpheus. Sama halnya seperti yang dilakukan Regas saat di kantor pusat.
Tanpa mempedulikan rekan-rekan Regas yang begitu tersentak menatapnya, Morpheus melangkahkan kakinya menuju jasad yang ditutupi oleh kain di dekat pagar pembatas sungai. Di samping salah satu jasad, ayah dari Alma tengah menyender di pagar. Tatapan matanya terlihat kosong, wajahnya mendung bagai kehilangan harapan.
"Tuan, apa ada salah satu keluargamu yang menjadi korban?" tanya Morpheus pada pria itu.
Masih dengan tatapan kosongnya, ayah Alma menjawab pertanyaan Morpheus. "Ya. Mereka putri dan adikku." Suaranya terdengar lemah dan putus asa.
Morpheus menurunkan badannya, berlutut di dekat mayat putri dari pria itu. Ia membuka sedikit kain yang menutupi jasad Alma. Dirinya agak tersentak ketika mendapati kepala yang terpisah dari tubuhnya. "Sepertinya, dia tidak mati karena makhluk itu," ujarnya.
Mendengarnya, mata milik ayah Alma mendadak kembali hidup. Sembari menatap Morpheus, ia bertanya, "Maksud Anda?"
"Aku juga berpikir begitu. Sepertinya, ia dibunuh oleh seseorang. Orang itu pasti orang yang sama dengan orang yang membunuh pria ini," timpal Regas yang tengah berjongkok di samping jasad makhluk kanibal yang tak jauh dari jasad Alma.
Ayahnya Alma kaget mendengar hal itu, tatapannya kembali kosong. "Putriku ... dibunuh oleh seseorang?" gumamnya.
Sementara Morpheus, ia bangkit dari duduknya dan beranjak ke dekat jasad yang lainnya. Morpheus kembali bertekuk lutut ketika ia telah berada di samping mayat itu. Kemudian, ia menyibakkan sedikit kain yang menutupi wajah mayat tersebut. "Dia ...." Morpheus terkejut ketika melihat wajah dari mayat makhluk kanibal itu. Lantas, Ia segera menutup kembali kainnya.
"Apa Anda mengenalnya?" tanya Regas pada Morpheus yang masih memasang wajah tidak percaya.
"Ya. Dia putra dari salah satu kenalanku," jawab Morpheus yang sontak membuat Regas dan teman-temannya terkejut.
Morpheus kembali berdiri. "Regas, apa kau dan tim-mu bisa menangani ini sendiri? Ada sesuatu yang harus aku urus terlebih dahulu."
"Tentu saja. Jangan khawatir, Jenderal," balas Regas.
Ketika hendak melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat ini, seseorang memanggil nama Morpheus membuatnya menghentikan langkahnya.
"Jenderal Swocratis."
Morpheus berbalik. Sorot matanya yang dingin tertuju pada ayah dari Alma yang tadi memanggil namanya.
"Ku mohon, cari tau siapa yang telah membunuh putriku dan balaskan dendamku padanya!" pintanya sembari membungkuk hormat.
"Aku tidak bisa berjanji," jawabnya dalam suaranya yang terdengar dingin.
Ayahnya Alma nampak sedikit kecewa atas jawaban Morpheus barusan. Namun, ketika Morpheus melanjutkan ucapannya ….
"Tapi, aku berharap aku bisa melakukannya."
Bagai baru saja terlepas dari beban yang sangat berat, ayah Alma menghela napas lega. Wajahnya memaksa tersenyum meski air mata itu masih mengalir di wajahnya. Kemudian ia mengangkat tangan dan meletakkannya di kening memberi hormat pada jenderalnya.
Ketika Morpheus hendak melangkahkan kakinya lagi, tiba-tiba ia teringat akan sesuatu yang membuatnya kembali berbalik. "Dan satu lagi, demi keamanan negara, berjanjilah untuk tidak menceritakan hal ini pada siapa pun! Jika kalian melanggarnya, aku tidak akan segan-segan. Paham?"
Semua orang mengangguk. Mereka tak bisa menyangkal ketika Morpheus telah berkata demikian. Ayah Alma, Regas dan teman-temannya mengarahkan pandangannya pada Morpheus yang kini telah melenggangkan kakinya. Sesaat setelah Morpheus masuk ke dalam mobilnya, Regas dan rekan-rekannya memberi hormat ala militer dengan mengangkat satu tangan dan meletakkannya di kening sampai Morpheus melajukan mobil pribadinya tersebut.
***
Ruangan megah ini begitu lenggang tanpa suara. Lampu yang berderet di langit-langitpun tak ada satupun yang menyala. Hanya sebuah lentera di atas meja yang menjadi penerang ruangan pada saat ini.
Seorang pria paruh baya berambut pirang dengan mata biru safir tengah sibuk dengan dokumen-dokumen yang masih menumpuk bagai tak pernah habis.
Awalnya, hanya suara goresan pena yang mengisi ruangan ini, hingga tiba-tiba pintu terbuka menampakkan sesosok pria gagah dengan baju militer lengkap yang tidak lain adalah Sang Jenderal Besar Morpheus Swocratis.
"Kejayaan terlimpah bagi kerajaan Anthasia. Hormat kami untuk Yang Mulia Raja Cleinestes Raesiphier." Morpheus membungkuk hormat.
Sementara itu, Sang Raja hanya menatap pria itu dengan malas sembari menumpu wajah menggunakan kepalan tangannya.