Ampithera: One Side

Ampithera: One Side
Chapter 01



Hari ini teramat cerah. Matahari seperti sedang dilanda kebahagian sehingga dengan senang hati menyorotkan seluruh sinarnya ke bumi. Namun, sepertinya kebahagian Mentari itu sama sekali tak membuat orang-orang di ruangan ini merasa senang. Lihat saja, mereka begitu malas dan nampak sangat lelah.


Meja dan kursi yang berderet menghadap papan tulis terlihat lenggang dan hanya diisi oleh beberapa orang saja.


Bukannya di sini tidak ada orang. Hanya saja, mereka semua terbaring di lantai seperti korban bombardir.


"Sial! Hari ini panas sekali!"


"Benar, tuh! Bikin malas saja."


"Pangeran es, datanglah!"


Mereka bergantian mengeluh. Bahkan, tak sedikit diantaranya begitu mendramatisir keadaan. Contohnya pria dengan tubuh tinggi berbadan kurus itu, ia merangkak sembari berpegangan pada kaki meja. Tubuhnya dipenuhi oleh keringat seperti orang yang baru saja maraton mengelilingi kota.


"A-aku … s-sudah tid-ak … tahan … lagi …." Begitu katanya. Sebelum terkulai lemas di bawah sana.


"Seon! Bertahanlah!" ucap temannya seraya berusaha meraih pria jerapah bernama Seon itu.


"Jangan tinggalkan kami!"


"Kau masih punya hutang padaku!"


Mereka tidak terlihat mengkhawatirkannya. Lagipula, memang apa yang perlu dikhawatirkan?


Tidak lama, seseorang datang memasuki ruangan yang terlihat seperti ruang kelas tersebut. Ia sempat terkejut saat melihat keadaan di sini. Hanya sekejap, sampai ia menghela napasnya seperti hal ini sudah biasa baginya.


"Ketua kelas! Tolong jangan katakan kalau kita harus mengerjakan tugas!" pinta seorang pria dengan kancing seragam yang sudah terbuka membuat perut buncitnya terekspos sempurna.


Pria dengan setelan yang sangat-sangat rapi itu menatap orang yang baru saja bersuara dengan tatapan jijik. Agaknya, pria ini adalah orang yang sedikit congkak. "Aku memang mau mengatakan itu."


"SERIUS …?!" teriak semua orang dengan ekspresi wajah yang sama.


"Berisik! Kalau tidak mau diam saja! Aku tidak tanggung jawab jika kalian tinggal kelas berjamaah."


"Serius …?" ucap mereka bersamaan lagi. Tetapi dengan intonasi yang tidak setegas sebelumnya.


"Oh, ya sebelum itu, Dairen! Kau dipanggil kepala sekolah ke ruangannya. Sepertinya gawat." Ketua kelas menatap seorang pria bersurai hitam legam dengan kulit seputih salju yang tertidur di meja pojok kelas seorang diri.


"Malas."


"MALAS APANYA?! Cepat pergi sana!"


"Jangan marah-marah dong, Ketua Kelas! Kenapa, sih, Pak kepala sekolah itu? Senang sekali mengangguku." Lelaki bernama Dairen itu mulai mengangkat kepalanya dari atas meja dengan malas.


"Sepertinya dia ada dendam tersendiri kepadamu," timpal pria yang terduduk di pojokan lainnya dengan kedua kaki yang ia letakkan di atas meja.


Di bangku tengah, seorang gadis berkuncir dua itu tiba-tiba berdiri sembari menggebrak meja membuat semua orang terkejut sesaat. "Bukan hanya pada Dairen! Pada kita juga! Padahal hari ini sangat panas, si Botak Plontos itu malah memberi kita tugas."


Ketua kelas tersenyum kecut sembari memegangi keningnya. "Wajar saja bukan? Ini, kan sekolah?"


"Benar itu! Ayahku yang kerja sebagai kuli bangunan saja selalu diistirahatkan saat panas," ucap lelaki berambut rapi menyahuti si gadis kuncir dua.


"Kalau gitu kau jadi kuli bangunan saja sana!" Si ketua kelas mulai geram.


"Dan satu lagi!" Laki-laki yang sebelumnya sudah tumbang itu kembali bangkit sembari berpose layaknya seorang jenderal yang tengah menyemangati serdadunya sebelum perang di mulai. "Apa kalian sadar? Dia selalu membedakan kita dengan kelas lainnya. Lihat saja! Hanya kelas kita yang tidak memiliki pendingin ruangan!"


"Bukannya kau yang merusaknya kemarin?" desis si ketua kelas sambil mengingat kejadian kemarin di mana si pria tinggi kurus layaknya jerapah yang tersesat di padang gersang itu bermain bola kasti di dalam kelas sehingga merusak beberapa perabotan yang ada di dalam sana dan pada akhirnya si ketua kelas yang tidak dianggap inilah yang harus bertanggung jawab.


"Benar itu!" Perempuan berparas cantik bak bangsawan itu menimpali si kurus. "Kita harus buat perhitungan pada si Brengs*k itu! T*hi kuda! Dia pikir kita itu anj*ng, apa? Padahal dia sendiri yang mirip anj*ng. Cecung*k itu tidak becus mengurus sekolah kita! Bang*at itu hanya memakan gaji buta!"


"JAHIT MULUT IBLIS ITU SEKARANG JUGA!" Habis sudah. Kesabaran sang ketua kelas sudah melebihi batasnya. Semua orang meringis mendengarnya, termasuk si gadis secantik bidadari tetapi memiliki lidah setajam iblis yang langsung terduduk di kursi mencoba untuk berpura-pura lupa tentang apa yang telah ia katakan sebelumnya.


Ketua menarik napas panjang, mencoba menetralisir emosinya yang sempat memanas. Setelah cukup tenang, ia kembali bicara. "Dairen! Cepat temui Pak Kepala sekolah atau kau akan tau sendiri akibatnya," ancamnya yang langsung digubris bukan oleh Dairen, melainkan oleh semua orang di dalam ruangan ini kecuali orang yang dimaksud.


Semua orang nampak tergesa-gesa hendak keluar kelas seperti sedang berusaha menyelamatkan diri dari kandang singa.


Si ketua kelas benar-benar tidak tau harus melakukan apa lagi selain berdoa. "Oh, Tuhan. Ambil saja nyawaku!" begitu batinnya. Namun sepertinya Tuhan berkehendak lain. Ia tidak bisa begitu saja pergi ke akhirat sementara anak-anak itu masih belum bisa di lepaskan ke alam bebas. Tanggung jawab tentu tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Pada akhirnya, Tuhan kembali memberinya semangat sehingga ia tidak jadi menyerah dalam rangka meluruskan anak-anaknya yang sesat itu. "AKU BILANG DAIREN, BEGO! DUDUK DI KURSI KALIAN MASING-MASING!"


Kalau sudah seperti ini, bahkan, singa yang dibangunkan saat lapar pun tak berani membantah sang ketua kelas. Mereka semua menurut dan mulai berhamburan ke tempat duduknya masing-masing. Padahal, jika dipikir secara logika, mereka yang sebagian besar memiliki tampang preman itu bisa saja mengeroyok si ketua kelas dengan penampilan seperti anak pintar yang di sayang guru tapi dibenci teman. Namun mereka tidak melakukannya. Mungkin karna otak mereka terlalu dangkal untuk memikirkan hal sedalam itu.


"Dan Dairen! Cepat pergi ke ruang kepala sekolah sekarang juga!" lanjut si ketua kelas yang akhirnya dituruti oleh orang bernama Dairen itu.


"Iya … iya …. Aku lupa kalau punya ketua kelas yang cerewet seperti burung kasmaran."


Semua orang terlihat ingin tertawa mendengar apa yang dikatakan Dairen barusan. Namun tidak ada satupun dari mereka yang berani memperlihatkan tawanya sementara ketua kelas mereka itu sedang berada dalam mode sensitif.


Dairen sebenarnya malas pergi ke ruang kepala sekolah yang lebih seperti neraka baginya itu. Tetapi, ia lebih malas diomeli oleh pria kacamata yang cerewetnya melebihi istri-istri petinggi negara saat sedang berkumpul di pesta. Pada akhirnya, ia pun memutuskan untuk pergi ke neraka saja daripada harus berhadapan dengan pria cerewet itu.


Jarak dari kelasnya ke ruang kepala sekolah tidak terlalu jauh. Meski tau hal itu, entah mengapa orang-orang di kelasnya begitu terang-terangan menghina kepala sekolah mereka. Tapi itu tidak penting.


Dairen terhenti saat ia mendapati seorang pria berambut pirang dengan mata sebitu kristal safir yang juga tengah menatapnya.


Suasananya terlihat agak canggung untuk beberapa saat. Hingga pria pirang itu mulai buka suara. "Kebetulan, ya," ucapnya seraya mengalihkan pandangannya secara asal.


Dairen tersenyum mengejek sebelum ia mulai bicara. "Walah … walah …, Ternyata pangeran ini juga dipanggil ke ruang kepala sekolah, ya?" godanya membuat orang yang ia panggil pangeran itu menatap tajam ke arahnya.


"Mau ku bunuh?!"


Dairen kembali tersenyum. Tetapi bukan senyuman yang seperti sebelumnya. "Nah, yang itu baru Reiga. Pria sensitif yang galaknya melehihi ketua kelasku."


Lelaki bernama Reiga itu berdecak kesal mendengar perkataan Dairen barusan. "Berisik!" desisnya. Tanpa mau bicara lagi, Reiga segera membuka pintu kayu berwarna coklat tua itu. Di dapatinya, pria berbadan kekar dengan kulit yang cukup gelap dan kepala yang tak memiliki sehelai rambut pun tengah terduduk di kursi kayu yang mestinya di duduki oleh murid atau guru yang di panggil ke ruangan ini.


Beberapa meter di hadapan pria itu, seorang wanita dengan rambut yang tersanggul rapi tengah bicara dengan pria itu.


Tapi sepertinya, pembicaraan itu bukanlah pembicaraan biasa. Pria botak yang sudah dapat dipastikan adalah kepala sekolah itu terlihat tertunduk dan sangat ketakutan. Peluh di wajahnya begitu deras. Namun siapapun tau bahwa itu bukanlah keringat karena cuaca yang panas. Meliatkan keringat dingin yang keluar ketika seseorang sedang ditimpa perasaan takut, khawatir dan perasaan-perasaan lainnya yang sangat mengganggu.


Dan wanita itu, ia terus bicara seperti tidak ada habisnya. Lebih lagi, nada bicaranya itu tidak biasa. Dia terlihat sangat kesal sehingga membuatnya ingin melemparkan barang-barang sekarang juga.


Kedatangan Dairen dan Reiga barusan, membuat keduanya menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka itu.


Wanita paruh baya itu seketika merubah ekspresi wajahnya ketika mendapati Dairen dan Reiga yang juga tengah menatapnya bingung. Ia tersenyum. Begitu hangat layaknya seorang ibu.


Dairen membalas senyuman wanita itu. Sementara Reiga, ia tetap memasang wajah heran seperti tidak mengenali orang yang tengah tersenyum padanya itu. Tetapi tiba-tiba saja, seseorang menekan kepalanya ke bawah membuat ia tertunduk.


"Senang bertemu dengan Anda, Ibu Kepala," sapa Dairen sembari menunduk hormat pada wanita paruh baya itu.


Wanita itu terkekeh kecil. "Dairen dan …." Ia terdiam sejenak sembari mengamati Reiga.


"Reiga," ucap Dairen mengingatkan.


"Ya ampun …, sudah dua tahun sejak kita terakhir bertemu. Kalian sekarang begitu tinggi," ujar wanita itu seolah mereka sudah saling mengenal.


Reiga terlihat tidak tertarik pada percakapan itu dan lebih memilih mengalihkan perhatiannya ke tempat lain.


Sementara Dairen, ia terlihat begitu sopan berbicara dengan wanita itu. Dia tersenyum usai mendengar wanita itu bicara. "Kami sangat berterimakasih pada Anda karena Anda sudah mengizinkan kami bersekolah di sini."


"Itu bukan masalah besar. Oh … ya, apa kalian masih tinggal di rumah itu?"


Dairen mengangguk. "Hm …, tapi akhir-akhir ini kami jarang sekali membersihkan rumah karena tugas sekolah yang begitu banyak."


Mendengar hal itu, pria botak yang sedari tadi hanya terdiam mulai bicara untuk menyangkal perkaaan Dairen barusan. "Bohong! Mereka berdua tidak pernah menyelesaikan tugas yang di berikan sekolah," ujarnya, seolah mengadu.


Dengan senyuman yang tak memudar sedikitpun, Dairen mengalihkan pandangannya pada pria botak itu. "Kami sudah berusaha sebisa kami."


"Benar itu! Kau jangan terlalu memaksa mereka! Mereka mengurus semuanya sendirian." Wanita itu kembali mengomeli pria botak itu membuatnya kembali tertunduk tanpa berani menjawab.


"Dengar itu! Sudah memberi kami banyak tugas, kau juga memberi kami begitu banyak hukuman." Reiga mulai bicara setelah sebelumnya hanya terdiam dan tak mau ikut campur.


"Itu pantas, bukan? Kalian selalu membuat kesalahan!" balas kepala sekolah membela dirinya.


"Sekarang coba pikirkan! Bagaimana kami bisa mengerjakan tugas sementara kau terus-menerus mempekerjakan kami atas alasan hukuman. Padahal kesalahan kami hanyalah hal-hal kecil."


Sial. Reiga terlihat memanfaatkan situasi. Padahal sebenarnya tidak seperti itu. Namun, pria yang notabenenya adalah kepala sekolah itu sama sekali tak bisa berbuat apapun dikarenakan wanita itu terlihat sudah-sangat-marah padanya. "B-bukan begitu! Aku tidak pernah melakukan hal itu!"


"Sudah-sudah, Rei! Pak Kepala Sekolah melakukan itu juga untuk kebaikan kita. Mungkin cara dia mendidik kita adalah dengan membuat tangan kita berdarah akibat mencabuti rumput di lapangan, atau jatuh dari atap saat kita disuruh membenarkan genteng yang bocor, atau-atau yang itu! Saat kita mengepel seluruh koridor sekolah, kau terpeleset dan jatuh dari tangga sehingga badanmu remuk semua. Kemudian Pak Kepala Sekolah bilang, 'Jangan cengeng! Aku tidak peduli meski tubuhmu terluka seluruhnya, teruslah kerja sampai kau mati! Hahaha' begitu katanya."


Reiga menatap Dairen dengan heran, ia berbisik, "Aku tidak pernah begitu."


Sementara kepala sekolah, ia telah benar-benar ketakutakan. "T-tidak! Dia berbohong!"


Percuma.


Wanita itu hanya percaya ada ucapan Dairen. Jika diibaratkan, tubuhnya kini telah terbakar oleh api amarah yang sebelumnya disulut oleh pria berambut hitam itu.


Meski tadi kelihatannya tidak peduli, Reiga justru panik saat ini. "W-woi! Gawat, nih!" bisiknya pada Dairen yang terlihat sangat menikmati kesengsaraan kepala sekolahnya itu.


Tapi, Dairen tidak sejahat itu. Pertunjukkannya cukup sampai di sini, begitu pikirnya. "Aku hanya bercanda. Pak Kepala Sekolah adalah orang yang sangat baik. Dia memang tegas, tapi itu adalah bukti kasih sayangnya pada kami."


Mendengarnya, wanita itu menarik lega. Begitupula dengan kepala sekolah.


Setelah cukup tenang, wanita itu kembali menatap Dairen dan kembali memasang wajah ramah nya. "Oh … ya, aku tidak melihat Nak Altara. Di mana dia?"


"Dia akhir-akhir ini sangat sibuk. Kami pun jadi jarang bertemu."


"Begitu."


"Krisa! Bukankah kau harus segera menjemput putri kita di sekolahnya?"


Wanita itu menoleh ke arah kepala sekolah yang tadi bicara. Tanpa jeda, ia langsung memasang wajah layaknya orang yang baru mengingat hal yang penting. "Oh, benar juga! Kalau begitu, aku harus segera pamit. Kiley pasti sedang menungguku," ucapnya sembari bergegas merapikan tasnya.


Sebelum keluar, wanita itu bicara terlebih dahulu pada ketiga orang yang ada di dalam ruangan ini.


"Ingat! Pokoknya malam ini kau harus pulang sebelum jam tujuh! Jika tidak …." ucapan wanita itu tergantung sembari memasang wajah galak pada suaminya itu.


"Iya … iya …," balas kepala sekolah itu dengan sedikit kesal.


"Dan kalian …." Wanita itu kembali menatap Dairen dan Reiga yang masih berdiri di ambang pintu. "Jaga diri kalian baik-baik! Dan sampaikan salamku pada Nak Altara," pesannya dengan sangat ramah.


"Baiklah. Oh ya, sampaikan juga salamku pada Kiley," balas Dairen yang lalu menyingkir dari ambang pintu mempersilahkan wanita itu untuk melewatinya.


Setelah wanita itu benar-benar keluar, kepala sekolah yang sedari tadi terduduk layaknya orang yang tak berdaya itu mulai bangkit dan memasang wajah yang benar-benar marah.


Dairen yang sedari tadi terus memandang kepergian wanita itu, sedikit terkejut ketika ia mengalihkan pandangannya pada kepala sekolah.


Ketika pria botak itu melangkahkan kakinya ke arah Dairen dan Reiga, kedua lelaki itu sudah seperti diberi aba-aba untuk mundur beberapa langkah akibat aura mencekam yang dikeluarkan kepala sekolah.


Semakin dekat, kepala sekolah terlihat semakin menyeramkan. Bahkan meski Dairen mencoba menenangkannya, pria itu sama sekali tak mendengarkan Dairen dan terus melangkah mendekati mereka.


"Tenanglah, Kepala Sekolah! Kita bisa bicarakan ini dengan kepala dingin."


Plak … plak …


Dua gamparan keras mendarat tepat di masing-masing pipi Dairen dan Reiga.


Dairen hanya sedikit meringis kesakitan, sementara Reiga, ia terlihat cukup marah ketika tubuhnya tiba-tiba saja berbalik menghadap Dairen dengan kepala yang tertunduk.


"Hei, Dairen?"


"I-iya?"


"Kau tau tadi adalah gamparan pertama yang aku terima sepanjang hidupku."


"I-iya."


"Dan itu semua …." Reiga mendongak. "Ulah dirimu."


Plak …


"Kejamnya," gumam Dairen usai menerima gamparan kedua pada pipinya yang lain.


"Kalian berdua, duduklah!"


"Ya."


Ucap kepala sekolah dan Reiga bergantian dengan nada yang sama-sama menyeramkan.


Sementara Dairen, ia hanya bisa mengeluh karena mulai sekarang dan beberapa waktu ke depan, ia akan disatukan bersama dua orang yang sedang berada dalam mode 'Berani sentuh? Mati!'


"Siapapun … tolong aku!"