
Tik … tik … tik …
Suara detik jam dinding mendominan ruangan yang lenggang ini.
Ketika Altara membuka matanya, dalam penglihatan buramnya, ia mendapati cahaya temaram lampu yang menggantung di langit-langit. Ia mendesah saat tiba-tiba kepalanya terasa seperti berputar. Secara refleks, tangannya yang terlihat memerah memegang kepalanya tersebut, berniat menahan rasa pusing yang menyerangnya.
"Sudah bangun?"
Suara yang sangat familiar itu terdengar tak jauh dari tempatnya tertidur. Altara memutar matanya menuju orang yang baru saja menyapanya itu. Secara samar, ia mendapati Reiga, pria pirang dengan mata sebiru samudera tengah menyenderkan tubuhnya pada kusen jendela dengan kedua tangan yang terlipat di dada.
"Kenapa aku bisa tertidur di sini?" tanya Altara dengan suara yang parau, layaknya kebanyakan orang yang baru siuman.
Reiga berjalan ke arah ranjang yang ditiduri Altara saat itu. Ia menyodorkan sebuah kacamata baru pada temannya itu. "Kau pingsan karena kedinginan saat menyebrangi sungai." Seusainya, ia berjalan ke sisi ranjang yang kosong dan lantas meregangkan tubuhnya di sana. Kemudian, ia memejamkan matanya karena memang dirinya sudah sangat mengantuk. Entah apa yang membuatnya lebih memilih tidur ketika Altara sudah siuman. Mungkin karena khawatir bila-bila Altara tidak bangun lagi.
Altara memasang kacamata itu membuat penglihatannya kembali jelas. Merasa ada sesuatu yang hilang, Altara langsung menanyakan hal tersebut pada Reiga. "Dairen kemana?"
Dengan mata yang tetap terkatup, Reiga menjawab, "Dia pergi ke kedai. Katanya lapar."
"Lalu, bagaimana dengan yang tadi?"
Meski Altara bertanya dengan tidak jelas, Reiga mengerti apa yang pria itu maksud. "Aku sudah melapor pada Axel. Mungkin sekarang mereka sedang melakukan investigasi."
"Begitu." Altara terdiam sejenak. Kemudian ia kembali bersuara dengan nada sedikit khawatir. "Eh? Kau menemui Tuan Axel? Apa dia tidak menanyakan sesuatu padamu?"
Merasa kesal karena Altara terus mengajaknya berbicara padahal ia sudah sangat mengantuk, Reiga menutup telinganya dengan bantal sembari memungkasi percakapan antara mereka berdua. "Kau ini berisik sekali. Tidur sana!"
"Aku, kan cuma bertanya. Soalnya aku benar-benar penasaran. Habisnya Dairen tidak pernah mau bicara."
"Hayo … ketahuan!"
Suara itu sukses membuat Reiga dan Altara terkejut.
"Sepertinya kalian sangat senang membicarakanku saat aku tidak ada." Dairen berdiri di sana. Menyandar pada kusen pintu yang terbuka sepenuhnya.
"KAU INI PERMISI DULU, KEK! TIDAK SEMUA JANTUNG SEPERTI JANTUNGMU, SIALAN!" Reiga mengumpat karena terkejut saat Dairen tiba-tiba ada di sana. Sebenarnya, ia tidak akan semarah ini jika tidak dalam kondisi mengantuk.
Altara juga sepertinya sangat terkejut. Itu dapat dilihat dari bagaimana ekspresi wajahnya saat ini. "K-kapan kau masuk ke sini? Apa kau mendengar percakapan kami barusan?"
"Tentu saja. Kalian terlalu fokus mengobrol sampai tidak menyadari kedatanganku," balas Dairen dengan santai.
Dairen berjalan masuk ke dalam. Ia meletakkan jari jempol dan telunjuknya di dagu layaknya orang yang sedang berpikir. "Kalau kalian berdua tidur di kasurku, aku tidur di mana?"
"Tidur di lantai saja! Kau, kan sudah terbiasa," sahut Reiga dengan kesal.
"Al? Bagaimana keadaanmu?"
"Jangan mengabaikanku, Bego!" Reiga terlihat benar-benar kesal saat Dairen tidak menggubris ucapannya sama sekali. Tidak mau peduli lagi, ia pun membalikkan tubuhnya menuju sisi lain ranjang dan mulai memejamkan matanya.
"Aah … aku baik-baik saja. Sebenarnya aku harus berterimakasih pada kalian berdua. Lagi-lagi, kalian harus berada dalam masalah karena kecerobohanku," jawab Altara atas pertanyaan yang dilontarkan Dairen padanya.
"Kau tidak perlu berterimakasih. Kau yang lebih banyak membantu kami dari siapapun." Dairen menggelar tikar kecil di lantai, kemudian membaringkan tubuhnya di sana. Tanpa bantal ataupun selimut.
"Kau benar-benar tidur di lantai?"
"Tenang saja! Selama aku bersama kalian, kalian akan baik-baik saja. Katanya."
Mendengar Dairen mengatakan hal tersebut, membuat Altara menautkan alisnya bingung. "Dairen?"
Reiga yang masih tersadar, merasa kalau perkataan Dairen barusan terdengar aneh. Dengan suara yang pelan, ia berucap, "Katanya?"
"Seseorang mengatakan hal itu padaku."
Altara menyahuti, "Siapa?"
"Entahlah. Mungkin bapak-bapak penjual balon di pasar malam."
Hening. Tak ada lagi suara apapun di ruangan ini. Meski ucapan Dairen terdengar seperti lelucon, Altara ataupun Reiga tak ada yang kuasa untuk menjawabnya.
Altara lebih memilih membaringkan tubuhnya dan kembali tertidur. Sementara Reiga, matanya masih terjaga, dengan tatapan penuh kesedihan, ia menatap ke arah jendela yang terbuka. Angin malam yang berembus dengan sangat dingin, membuat daun-daun mengeluarkan suara menjadikannya seperti lagu pengantar tidur bagi Reiga. Dalam hitungan detik, matanya terpejam dengan sempurna. Dan dalam hitungan detik pula, Dairen membuka kembali matanya yang tadi sempat terkatup.
Angin berembus semakin kencang. Daun-daun pun menari semakin hebat. Seperti memberi isyarat bahwa ada hal buruk yang akan terjadi.
Dairen beranjak dari tidurnya, kemudian berdiri di samping Reiga yang sudah terlelap dalam mimpinya. Ia menyingkirkan surai pirang Reiga yang menghalangi wajah pria itu sebelum berucap. "Aku benci mereka." Dia menjeda ucapannya sejenak. "Tetapi, aku tidak bisa melakukan apapun karena mereka adalah orang yang sangat penting bagimu." Dairen mengelus kepala Reiga menggunakan jari telunjuknya, kemudian melanjutkan ucapannya. "Sekali saja, biarkan aku menyakitinya. Aku ingin tau bagaimana reaksimu saat melihat temanmu menderita."
Pria berkulit seputih salju itu berbalik ke arah jendela. Ia berjalan dengan sangat lambat dan berakhir di ambang jendela tersebut.
Angin malam yang kencang menerbangkan rambut dan juga pakaiannya. Dari luar sana, cahaya bulan yang terang menerangi wajahnya, memperlihatkan lensa mata merah yang nampak bersinar, mengeluarkan darah segar yang mengalir sebagimana air mata. "Kau tau? Ayah sangat mencintaimu, Lucian! Begitupula denganku. Aku mencintaimu dengan segenap hatiku. Tega sekali kau mengabaikan cinta ini. Apa yang kau cari selama ini? Orang yang benar-benar mencintaimu itu hanya ada di sini. Bersama jiwamu." Kata-kata penuh penghayatan itu diucapkan dengan lantang. Meski begitu, dua orang yang tengah tertidur di sana sama sekali tidak kebisingan sedikitpun.
Dairen memutar kepalanya untuk melihat dua orang yang terbaring di ranjang. "Pertama. Mari kita awali dengan orang itu." Tatapan tajam ia tujukan pada Altara. Dengan seringai di mukanya, Dairen kembali menengadahkan wajahnya ke langit. Ia menghapus air mata berupa darah yang terus mengalir di pipinya menggunakan telapak tangannya. Kaki kanannya ia letakkan pada kusen bawah jendela dan dalam hitungan detik, ia melompat keluar sembari merentangkan kedua tangannya.
Asap hitam mengepul di tangan kanannya. Ketika asap itu pudar, sebilah pedang berwarna merah tergenggam kuat di tangannya. Cahaya biru berpendar di tengah bilang pedang tersebut. Gagang pedang yang terbentuk dari lava yang mengkristal, nampak pas di kepalan tangan Dairen, seperti pedang itu memang sengaja diciptakan untuknya.
"Bersiaplah, Tuan Mudaku!"
Dairen melayang di angkasa malam. Melawan angin yang berembus kencang dan sangat dingin.
Siapapun, tidak ada yang tau apa yang ada di dalam benaknya saat ini. Benar. Tidak ada yang tau bahkan jiwanya itu sendiri.
***
Angin bertiup kencang dalam kegelapan. Di suatu tempat yang sepi, pada sebuah jalan di pinggir sungai, seorang gadis tengah berlari melawan arus angin. Kaki yang tanpa alas itu berdarah bagai terkena ribuan duri. Gaun kasual berwarna merah yang ia kenakan berkibar ditemani rambut panjangnya yang tergerai. Sesekali, ia mengusap pipinya yang berlinang air mata.
Di sepanjang jalan, gadis itu terus berlari tanpa mempedulikan rasa sakit yang menyerang kakinya. Ia seolah mengikuti arus sungai, mengalir tanpa henti, tak dapat diraih. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti. Tangisannya reda bersamaan dengan matanya yang tiba-tiba mendelik.
Di ujung sana, di dekat sebuah pohon beringin yang rindang. Seseorang. Tidak! Sesosok makhluk menyerupai manusia tengah lahap menyantap daging manusia.
Tanpa aba-aba, tanpa pikir panjang, sebuah pekikkan menggema mengalahkan suara derasnya air. Dengan segera, gadis yang baru saja berteriak itu berbalik untuk pergi meninggalkan tempat ini. Namun tanpa disangka-sangka, tiba-tiba dua buah tangan yang kekar diselimuti darah memeluknya dari belakang. Pelukan itu amat erat sehingga membuat gadis ini kesakitan. Tidak sebatas itu, tiba-tiba saja ada sesuatu yang tajam menancap di pundaknya. Ia menjerit. Makhluk itu hendak memakannya. Tentu saja ia meronta-ronta. Namun perbuatannya itu malah menyakiti dirinya karena taring dari makhluk itu semakin merobek pundaknya.
Di sisi lain, dua orang pria yang sepertinya orang yang tengah mengejar gadis itu menghentikan langkah kakinya. Mereka mendelik kaget ketika melihat apa yang terjadi saat ini. Satu dari mereka berhasil kabur, namun pria satunya lagi tiba-tiba tergeletak di tanah. Kepalanya terpisah dari tubuhnya membuat darah segar mengalir dari lehernya, membasahi jalanan kering yang sudah lama tak dihujani.
Sementara gadis itu masih menangis, merasakan betapa sakit saat makhluk itu mengoyak daging di pundaknya. Ia terus menangis hingga tanpa sadar pelukan dari makhluk itu terlepas dari tubuhnya.
Brukk …
Tubuh makhluk itu terjatuh.
Refleks, gadis itu berbalik. Ia terkejut ketika mendapati makhluk itu telah tergeletak di tanah dengan sebilah pedang yang menancap di tubuhnya. Pedang merah yang mengkilap milik seorang pria yang kini berdiri di depannya. Darah yang mengotori pedang itu menguap mengeluarkan asap merah pekat berbau amis dan sangat menyengat.
Dairen mendengus pelan. Ia menyibakkan rambut yang menghalangi pandangannya. Awan-awan yang menutupi rembulan perlahan menyingkir seolah ingin agar sinar bulan menerangi wajahnya. "Siapa namamu?" tanyanya dalam intonasi suara yang amat dingin.
Gadis yang sedari tadi hanya terdiam itu langsung terkejut tatkala mendengar suara Dairen yang benar-benar dingin "Alma," ucapnya parau.
"Maafkan aku. Tapi kau sudah melihatnya." Dairen menarik pedang yang tertancap tepat di jantung makhluk yang sudah tak bernyawa itu.
Alma kebingungan. Kedua alisnya tertaut. "Eh?"
Sprasshh …
Brukk …
Darah berhamburan tepat di depan wajah Dairen ketika ia mengayunkan pedangnya ke arah gadis itu, gadis yang kini sudah tergeletak tanpa kepala.
Dairen kembali mengayunkan pedangnya dengan keras untuk menjipratkan darah yang mengotori pedang tersebut. Usainya, asap hitam mengepul menyelimuti pedang itu dan membawanya menghilang bersamaan dengan dirinya yang memudar.
Dairen mendongak, menatap sinar rembulan yang redup. Di antara tiupan angin yang lembut, ia menghela napasnya. Rasanya, membunuh merupakan suatu hal yang biasa baginya. Ia memperkuat pijakannya, sebelum melompat dan berakhir melayang di angkasa.
Ketika Dairen terbang menjauh, seseorang dengan setelan yang menutupi hampir seluruh tubuhnya berjalan dari balik pohon beringin menuju jasad Alma yang ada di samping makhluk yang menyerupai manusia itu.
Pria itu bertekuk lutut di samping jasad Alma yang tanpa kepala. Kemudian, ia menyatukan kedua lengannya sembari memejamkan matanya, seperti berdoa.
Tak lama, pria itu kembali membuka matanya menampakkan lensa mata berwarna merah. Cahaya pudar berpendar dari matanya ketika rembulan yang masih terpaku di sana dengan baik hati memberikan seluruh sinarnya pada pria itu.
Ia menyibakkan jubahnya yang ternodai oleh darah yang menggenang di bawah sana sebelum mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Tatapan tanpa arti itu tertuju pada kepala gadis yang tergeletak di aspal. Kemudian, sebuah suara dengan intonasi yang teramat dingin sehingga bisa membuat siapa saja yang mendengarnya mati rasa, menggema dalam kesunyian malam yang mencekam. "Gadis yang malang," ujar pria itu yang kemudian dengan santainya menendang kepala gadis yang katanya malang hingga terpisah jauh dari tubuhnya.
Sesudah itu, kabut asap berwarna hitam mengepul mengelilingi pria itu hingga membuatnya tak lagi kentara. Bahkan cahaya bulan yang terang itu tak dapat menembus permukaan asap yang pekat. Tidak lama, asap itu memudar bersamaan dengan pria itu yang menghilang entah kemana.