Ampithera: One Side

Ampithera: One Side
Chapter 3



Mentari sudah hampir tenggelam di langit barat. Dairen dan Reiga terduduk di bangku taman sembari menyaksikan Altara yang tengah meratapi nasibnya saat ini. Di hadapan mereka, sungai mengalir dengan tenang. Sementara di seberang sungai, hutan yang dipenuhi oleh pohon beringin terlihat sudah gelap meski matahari masih bergantung di langit.


Altara terus berjalan ke sana kemari membuat kedua temannya pusing menyaksikannya.


"Kau ini kenapa, sih, mondar-mandir sampai duapuluh tiga balikan?" Dairen akhirnya angkat suara usai keheningan yang melanda mereka beberapa waktu tadi.


"Niat sekali berhitung," gumam Reiga mengomentari perkataan Dairen.


"Aku sedang mencari cara agar kita tidak jadi dihukum," balas Altara tanpa menghentikan aktivitas mondar-mandirnya.


Reiga menghela napas berat. "Sudahlah. Anggap saja kita sedang liburan," ucapnya membuat Altara menatapnya tajam.


"Kau tau? Seumur hidupku, aku belum pernah dihukum sampai seperti ini. Tentu saja ini sangat berat bagiku. Jika begini, bagaimana aku bisa mempertahankan peringkatku."


"Juara satu memang beda," balas Reiga sembari berdecak sebal. Ia meletakkan sikunya di tangan kursi dan menumpu dagunya pada tangannya yang terkepal. Tampaknya, ia sudah bosan berlama-lama di sini. Tetapi jika ia pergi, si kacamata itu pasti akan mengomelinya saat mereka bertemu lagi.


Sementara Dairen.


"Dia tidur?" Altara menghentikan langkahnya ketika mendapati pria berambut hitam itu terlelap di atas kursi.


Reiga melihat Dairen sekilas. Kemudian ia kembali memalingkan pandangannya dengan asal. "Terkadang kau harus belajar darinya."


"Belajar?"


"Ya! Belajar tidak mempedulikan masalah seberat apapun itu."


"Itu musthil." Altara nampak sudah lebih tenang dari sebelumnya. "Tapi sepertinya aku memang harus mencobanya."


Reiga menatap Altara sekejap, lalu ia mengangkat satu sudut bibirnya, bangga atas keberhasilannya membuat Altara berhenti meracau.


"Amphitera ... sebuah nama yang sangat agung ... dialah sang penakluk ... pahlawan bagi dunia ... Ampithera ... mereka tak per...."


"Tidakkah kau mendengar seseorang bernyanyi?" Altara menghadap ke sungai. Lebih tepatnya ke hutan yang ada di seberang sungai.


Reiga mengerutkan keningnya sesaat sebelum ia menyahuti ucapan Altara. "Iya. Terdengar seperti lagu anak-anak yang sedang populer akhir-akhir ini."


"Apa orang itu?" Altara mengarahkan pandangannya pada seorang gadis yang tengeh bersender pada pohon di seberang sungai yang ada di hadapan mereka.


"Ampithera ... mereka tak kenal menyerah ... tidurlah dengan nyenyak maka kaulah sang Ampithera ...."


Gadis itu bernyanyi sembari mengelus puncak kepala anak lelaki yang terbaring di pangkuannya. Pakaian mereka terlihat lusuh. Tubuh mereka pun nampak begitu kurus.


"Apa yang mereka lakukan di sana?" Reiga memicingkan matanya dengan tangan yang ia letakkan di dahinya untuk menangkis sinar matahari agar pandangannya lebih jelas.


"Haruskah kita menghampiri mereka?" tanya Altara yang tampak sudah tumbuh rasa iba di dalam benaknya terhadap dua anak itu.


"Tidak!"


Altara dan Reiga bersamaan menatap Dairen yang baru saja berujar itu.


"Kau masih sadar rupanya."


"Tidak ada yang boleh ke sana!" Dairen kembali mengulang ucapannya.


Altara dan Reiga tentulah kebingungan atas ucapan Dairen barusan. Biasanya dia selalu tidak peduli pada apa yang orang lain lakukan, termasuk mereka berdua.


"Kenapa?" Altara mewakili pertanyaan yang juga ingin dilontarkan Reiga.


"Lihat saja! mereka ada di seberang sana. Tidak ada perahu atau pun jembatan di sini. Aku tidak suka basah-basahan."


Ekspresi wajah Reiga tampak berkata, 'Iya juga, ya'. Sementara Altara, ia menghela napas berat.


"Baiklah. Biar aku yang ke sana. Kalian diam saja di sini." Seperti biasanya, Altara mengalah.


"T-tapi ...."


Belum lagi selesai bicara, Altara memotong ucapan Reiga barusan.


"Kenapa? Bukannya kau juga tidak suka basah-basahan, Pangeran?"


Mendengar hal yang memang benar, Reiga memutar bola matanya asal. "Aku hanya malas."


Altara menghela napasnya sesaat sebelum akhirnya ia menceburkan tubuhnya ke sungai. Untungnya, permukaan sungai tidak dalam, airnya pun mengalir dengan tenang. Itu memudahkan Altara ketika ia berenang menuju sisi lain sungai tempat dua anak kecil itu berada.


Ketika ia sampai pada tujuannya, Altara mengeringkan bajunya sesaat, kemudian melangkahkan kakinya menuju gadis dan bocah lelaki yang terlihat lemas di bawah pohon rindang.


Sementara itu, Dairen masih terduduk di kursi sambil memperhatikan Altara. Dan Reiga, ia berdiri di dekat sungai, terlihat khawatir dengan temannya yang ada di seberang sungai sana.


Beberapa waktu memang terlihat baik-baik saja. Namun, tiba-tiba sesuatu terjadi membuat Reiga dan Dairen terkejut melihatnya.


Altara terpental ke batang pohon beringin di tengah hutan. Kacamatanya terjatuh dan pecah membuat pandangannya memburam.


"AL!!" Tanpa pikir paniang, Reiga menceburkan tubuhnya ke sungai untuk menyelamatkan Altara yang sudah berada di dalam hutan.


Dairen sedikit terperanjat. Ia memicingkan matanya bermaksud melihat lebih jelas apa yang terjadi di sana. Ia menghela napasnya sesaat. "Kan sudah ku bilang." Kemudian, dirinya menyenderkan kembali tubuhnya pada kursi tanpa peduli pada keadaan temannya sedikitpun.


Altara tersungkur di bawah pohon sembari memegangi perutnya. Tidak ada yang bisa ia lihat saat ini selain seseorang yang tengah berjalan mendekatinya dengan gontai. Ia meraba-raba permukaan tanah mencari keberadaan kacamatanya.


Orang itu semakin dekat dengannya. Altara tidak bisa melakukan apapun karena selain pandanganya yang kabur, perutnya juga terasa amat sakit sehingga membuat kakinya juga sulit untuk digerakkan.


Ditengah ketakuan Altara, orang yang bergerak sangat lambat itu seperti melayangkan sesuatu ke arahnya. Benar saja, sesuatu seperti sebuah pukulan yang amat keras mendarat di wajah Altara sehingga membuat ia terguling lebih jauh ke dalam hutan.


Altara meringis kesakitan. Seperti tak ada habisnya, orang itu kembali menghampiri Altara meski dengan pergerakan yang sangat lambat.


Namun, belum sempat orang itu mendekati Altara lagi, seseorang menyodorkan sesuatu ke hadapan lelaki yang tengah kesakitan itu. Altara tak dapat melihat orang itu dengan jelas. Namun, ia tau apa yang orang itu berikan padanya adalah kacamatanya yang sudah rusak.


Orang itu berdiri usai Altara menerima kacamatanya. Kemudian, ia berlari ke arah orang yang berjalan gontai itu. Altara tidak tau apa yang sedang terjadi. Namun dalam penglihatan samarnya, dua orang di hadapannya terlihat sedang bertarung.


Tak berlangsung lama, orang yang bergerak lambat itu sudah tersungkur di tanah. Sementara orang yang tadi memberikan kacamatanya pada Altara, kembali menghampiri pria yang masih terduduk di bawah pohon itu.


Altara sedikit takut saat orang itu menghampirinya, dengan suara yang gemetar, ia berucap, "S-siapa kau?"


Tanpa menjawab pertanyaan Altara, orang itu langsung membopong Altara dengan mudahnya seperti orang yang memanggul karung beras. Tampaknya Altara sangat ringan dilihat dari ketika orang itu tidak kesulitan sedikitpun bahkan saat Altara terus meronta-ronta.


Seiring perjalanan, Altara terus mengomel karena orang yang membopongnya itu tidak bersuara sedikitpun.


Sementara itu, Reiga melakukan serangan dengan mengarahkan tendangannya tepat pada pinggang musuhnya yang tidak lain adalah seorang bocah lelaki kira-kira berusia delapan tahun.


Bocah itu terpental ke tanah. Setiap luka yang ada di tubuhnya, beregenerasi secara cepat. Dengan itu, Reiga tau bahwa anak itu bukanlah manusia biasa.


Bocah itu kembali bangkit usai tersungkur barusan. Berbeda dengan yang mendatangi Altara tadi, bocah ini nampak gesit. Ia berlari dengan cepat menggunakan tangan dan kakinya.


"Makhluk apa dia sebenarnya?" Reiga mengerutkan keningnya. Dengan sigap, ia menghindari bocah yang hampir saja merobek kulitnya dengan kuku-kuku panjang yang lebih terlihat seperti cakar hewan buas.


"Sial! Sepertinya aku memang harus menggunakannya." Reiga mengumpat dalam gumamannya. Ia seperti tidak ingin melakukan serangan yang akan diluncurkannya itu, tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak tau bagaimana keadaan temannya di dalam hutan. Tetapi, ia tidak bisa masuk ke dalam karena bocah itu terus mengikutinya.


Reiga menghunuskan dua belati yang tersoren di pinggang kanannya. Tanpa jeda, ia berlari dengan kencang menyisakan tapak pada tanah di bawahnya. Ia terus berputar-putar mengelilingi anak itu membuat bocah tersebut kebingungan dan tidak bergerak sedikitpun.


Reiga mengakhiri langkahnya dengan menancapkan dua belati pada dua pohon yang bersebrangan.


Usainya, ia berlari menjauh ke dalam hutan untuk menghampiri Altara.


Reiga berlari dengan sangat cepat. Ia membayangkan bagaimana Altara di dalam bersama makhluk aneh itu. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ia mendapati seorang pria tengah membopong seseorang sedang berjalan ke arahnya.


"Kau itu siapa sebenarnya?! Jangan berani-berani menculikku! Kau pasti akan habis dihajar oleh teman-temanku!" Altara terus-menerus mengomel sepanjang perjalanan.


Pria yang membopong Altara menurunkan pria itu ketika dirinya telah berada di dekat Reiga.


Dengan segera, Reiga membantu Altara berdiri. "Penglihatanmu sudah sangat parah," ucap Reiga membuat Altara terkejut mendapati siapa yang ada bersamanya saat ini.


"Pangeran?" Altara menilik-nilik orang yang berada di samping kirinya itu. "Siapa orang ini?"


"Kau benar-benar tidak mengenalinya? Dairen tau! Dairen! Makhluk paling menjengkelkan sedunia."


Mendengar jawaban Reiga barusan. Altara menghela napas lega.


Sementara Dairen, dia terlihat meregangkan tubuhnya usai membopong Altara barusan. "Duh … sakit sekali punggungku! Padahal aku sudah menolongmu, tapi kau malah memukuliku."


"Itu salahmu karena tidak berbicara sedikitpun," ujar Altara dengan kesal.


Tanpa mempedulikan dua orang itu lagi, Dairen melangkahkan kakinya untuk pergi mendahului mereka berdua.


Reiga berbalik membelakangi Altara, kemudian berkata, "Naiklah!"


Mendengar hal tersebut, Altara nampak merasa tidak enak. Dengan segera ia membalas ucapan Reiga yang tentu saja untuk menyangkalnya. "Tidak! Tidak! Aku masih bisa jalan sendiri."


Reiga menghela napas berat sebelum berbicara. "Ya, kau bisa jalan sendiri. Tapi mungkin memerlukan waktu semalaman hanya untuk sampai ke dekat sungai."


Altara nampak sedikit bersedih. Ia tidak dapat menyangkal lagi perkataan teman pirangnya itu.


"Sudahlah jangan banyak omong. Cepat!"


Pada akhirnya, Altara menuruti perintah Reiga dengan menaiki punggung pria itu. "Aku ini lemah sekali."


"Akhirnya kau mengakuinya."


Mereka pun menempuh perjalanan tanpa saling bicara sedikitpun.


Sementara Dairen. Tatapannya tertuju pada bocah yang sudah tergeletak di tanah dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan darah yang membanjiri tubuhnya. Tanpa rasa tertarik sedikitpun, Dairen kembali melanjutkan langkahnya. Tetapi, baru satu langkah ia tempuh, seseorang mengagetkannya dengan bersuara dari atas pohon.


"Soyu, ja!"


Dairen berbalik. Tatapan tanpa gairahnya itu ia tujukan pada seorang pria berambut merah yang sebelumnya sempat ia temui di kantin sekolah. "Siapa kau?" tanyanya dengan dingin.


Lelaki berambut merah itu melompat dari atas pohon dan mendarat ke tanah dengan sangat baik. Kakinya tidak terasa sakit sedikitpun meski batang pohon yang sebelumnya ia pijaki itu berada setinggi enam meter dari permukaan tanah.


Dairen mengangkat sedikit dagunya layaknya orang yang tengah menantang seseorang. "Apa yang kau inginkan dariku?"


Lelaki berambut merah itu terkekeh sesaat seraya menyibakkan poni yang memiliki panjang yang sama dengan wajahnya. Dengan tatapan meremehkan, ia berujar, "Bukankah sudah ku bilang kalau aku masih ingin mengujimu?"


Dairen mengembuskan napasnya dengan kasar. "Benar-benar tidak penting." Setelahnya, ia berbalik untuk melanjutkan jalannya. Tetapi, baru beberapa langkah, sesuatu kembali membuat ia harus berhenti. Dairen mengelak ketika ia merasa ada seseorang yang mencoba menyerangnya.


Benar saja. Pria itu melayangkan tinjuan padanya. Untung saja tadi Dairen menuruti instingnya. Jika tidak, ia pasti sudah terluka sekarang.


"Uuu ... Hoki!" ujar Dairen saat ia berhasil menghindari tinjuan pria itu.


Tak puas dengan pukulan melesetnya, pria berambut merah itu kembali menyerang Dairen dengan tendangannya.


Lagi-lagi, Dairen mengelak serangan yang diberikan pria itu. Ia menghindar ke sisi kiri sembari bersiul kagum. "Kau cukup jago beladiri. Tapi aku tidak tau apa yang kau inginkan dariku."


Pria berambut panjang itu membetulkan posisi jubahnya sembari tersenyum angkuh. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kau adalah orang yang tepat untuk Yang Mulia."


"Yang mulia?" Dairen mengangkat satu alisnya pertanda bingung. Sepertinya ia salah mengartikan maksud dari pria itu.


"Ya!" Pria ini juga sepertinya salah mengartikan maksud dari pertanyaan Dairen. "Kau Reiga, kan?"


"Oh ... jadi kau mencari pangeran bodoh itu?"


"Pangeran bodoh?"


"Maaf-maaf saja, Tuan Rambut Panjang. Kalau kau mencari Reiga, kau salah orang. Aku ini Dairen tau. Dairen!" jelas Dairen dengan sedikit penekanan di akhir.


"Eh? Benarkah? Berarti yang satunya lagi, ya?"


"Tapi!" Ekspresi Dairen tiba-tiba berubah. Ia berjongkok sesaat untuk menempelkan tangannya di permukaan tanah. Tiba-tiba saja, cahaya biru keluar dari tangannya seolah masuk ke dalam tanah kemudian menjalar menuju hutan. Saat ia kembali berdiri, sorot matanya menjadi tajam membuat pria itu bergidik ngeri. "Dengan kekuatanmu saat ini, jangan coba-coba mencarinya atau melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan padaku tadi. Karena jika diibaratkan, kau hanya seekor kelinci sementara dia adalah serigala buas yang lapar."


Mendengar hal tersebut, tentu saja pria itu merasa terhina. Dengan geram, ia menatap Dairen penuh kebencian. "Kau menghinaku?"


Melihatnya, Dairen tertawa. Membuat pria itu semakin marah. Namun, ucapannya berhasil memadamkan amarah pria itu dan malah menggantikannya dengan perasaan bingung. "Kau ini benar-benar mudah tersinggung, ya. Aku hanya bercanda. Aku bisa merasakan aura yang berbeda di dalam tubuhmu. Sepertinya kau bukan manusia biasa. Mana mungkin orang bodoh seperti Reiga bisa lebih kuat darimu. Bahkan untuk disamakan pun dia tidak pantas."


Mendengar ucapan Dairen barusan, pria itu mengerutkan dahinya, bingung. "Siapa kau sebenarnya?" tanyanya dengan serius.


"Siapa aku? Aku ini ...." Dairen menjeda ucapannya sebentar. "Aku hanya seorang gadis yang sangat anggun." Senyuman yang sedari tadi belum ia tunjukkan sama sekali, kini merekah dengan indah. Lensa mata yang sebelumnya berwarna hitam pekat, sekarang berubah menjadi seperti darah yang sangat segar.


Pria berambut merah itu terperanjat.


"Kau adalah musuh."


Pria itu menggeliat. Seperti tubuhnya diremas-remas oleh sesuatu. Matanya mendelik karena rasa sakit yang tak mampu ia keluarkan lewat suara.


"Benar-benar kasihan. Kulihat kau masih muda. Tapi, ayah akan marah jika melihatku membiarkan musuh berkeliaran di depan mata."


Kelihatannya, Dairen lah yang mengendalikan tubuh pria itu. Tanpa bergerak sedikitpun, ia membuat pria berambut merah itu dipenuhi oleh darah yang keluar dari setiap lubang di tubuhnya. Namun, saat tengah bersenang-senang dengan aktivitasnya. Sesuatu yang amat cepat layaknya kilat yang menyambar, melayang dari langit dan membawa pria yang sudah tidak berdaya itu pergi entah kemana.


"Cih!" Dairen berdecak sebal. Ia menjentikkan jarinya membuat cahaya biru yang merambat di dalam tanah itu memudar dengan cepat. Setelah itu, irisnya kembali seperti semula.


Mentari yang sudah tenggelam seluruhnya, digantikan oleh cahaya bulan yang terang. Angin malam berembus menerbangkan surai Dairen yang agak panjang.


Tidak lama, Reiga dan Altara keluar dari dalam hutan. Sepertinya mereka tersesat karena seharusnya mereka sudah sampai sejak tadi.


Reiga nampak kelelahan, sementara Altara hanya merutuki dirinya di dalam hati karena merasa telah benar-benar merepotkan orang yang kerap ia panggil pangeran itu.


Reiga menurunkan Altara dari punggungnya kemudian meletakkan tangannya di atas lutut membuat kepalanya tertunduk. "Gila! Padahal-sedekat-ini. Tapi kenapa-bisa tersesat?"


Altara nampak bersalah. Ia terus-menerus meminta maaf pada Reiga karena merasa telah merepotkannya meski Reiga juga terus-menerus berkata bahwa itu tidak masalah.


Sementara Dairen, ia masih berdiri di sana. Memperhatikan kedua orang yang nampak sangat kelelahan itu dengan tatapan tanpa rasa tertarik sedikitpun. Angin malam terus berhembus membuat rambut hitam Dairen tak henti menari.


Senja yang hangat pun telah tergantikan oleh malam yang dingin. Sejauh apapun kau mencoba mengira-ngira, pada akhirnya tebakanmu selalu saja tidak tepat. Ada banyak hal di dunia ini yang tidak dapat di mengerti. Dan salah satunya adalah jiwa manusia.


"Ah ... benar-benar hari yang buruk."


…**For Your Information…


New Word -Aksili-


Ja** (ja) .Informal. : kau


H**Yeja* (hi.ye.ja) .formal. : kau*