Ampithera: One Side

Ampithera: One Side
Prolog



Aku tidak tau entah sejak kapan perasaan ini terus-menerus mengganggu pikiranku. Rasanya, seperti ada hal buruk yang selalu mengintaiku.


Kemana pun aku pergi, setiap kali aku melihat cahaya jingga yang dikeluarkan matahari saat senja, tubuhku seakan ditarik menuju angkasa.


Setiap hari, selalu saja, aku memimpikan suatu hal yang sangat mengerikan. Begitu mengerikan sampai aku takut untuk tertidur.


Hingga suatu waktu, ada hari di mana aku mulai menerima segalanya. Di mana aku mulai tersenyum ketika cahaya itu menarikku menuju ruang mimpi yang sebelumnya menjadi ketakutan terbesarku.


Hari itu, adalah hari di mana dia dibunuh di hadapan mataku. Begitu kejam, persis, seperti apa yang ku lakukan dalam setiap mimpi burukku.


Wanita itu menjerit kesakitan ketika peluru itu menghujaninya. Ia menggeliat, matanya mendelik mengeluarkan darah yang teramat banyak sehingga mengotori seluruh tubuhnya. Taring yang tajam, kuku yang panjang dan urat-urat yang kentara dengan jelas di sekujur tubuhnya memperlihatkan dengan jelas bahwa ia bukanlah manusia.


Anak itu berdiri di sana. Beberapa meter di hadapan makhluk itu berada. Matanya membulat sempurna, bibirnya tak mampu terkatup, napasnya tercekat, jantungnya berdetak begitu kencang. Pemandangan yang ia lihat saat ini, akan jadi mimpi terburuk sepanjang hidupnya.


"Hei, apa kau tau? ada cara untuk menghidupkan orang yang telah mati. Pertama, kau harus mendapatkan kristal Ampithera. Benar! Bunuhlah Agryppa Ampithera! Di dalam jantungnya, terdapat kristal yang dapat menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, termasuk ibumu."


*Di situ, rasanya seperti ada secercah cahaya yang menghampiriku. Siapapun. Siapapun yang telah menciptakan cahaya itu untukku, aku akan mengikutinya kemanapun dia pergi. Meski terdengar gila, aku akan mempercayainya tanpa ragu sedikitpun.


Bahkan sampai saat ini*.


Langit benar-benar gelap. Udara pun terasa begitu dingin sampai setiap helaan napas Dairen mengeluarkan asap. Lelaki berusia limabelas tahun itu berjalan sendirian di jalanan bersalju. Setiap langkahnya terdengar sangat tenang. Seperti ia sudah menyatu dengan salju itu sendiri.


Perlahan, salju mulai berjatuhan dari langit. Bersamaan dengan langkahnya yang terhenti, Dairen menengadah ke angkasa. Salju yang jatuh ke wajahnya seperti menyatu dengan kulit putihnya yang pucat. Bahkan di musim dingin, kulitnya tetap hangat. Membuat salju-salju yang menerpa wajahnya mencair seketika.


Saat Dairen kembali meluruskan pandangannya. Ada sesuatu di ujung sana yang membuat matanya seolah terkunci menatapnya. Seseorang yang terduduk di bawah pohon akasia yang menjulang tinggi. Setidaknya, itulah yang ada dalam sudut pandangnya.


Lelaki bersurai pirang itu terduduk sembari memeluk kedua lututnya. Salju yang menimpanya dari ranting-ranting pohon seolah tak membuatnya kedinginan meski ia hanya menggunakan kemeja dan celana panjang. Sorot matanya lurus menatap kekosongan di depannya. Hal itu cukup mengartikan, ada masalah berat yang menimpanya dan membuatnya frustasi.


Entah sudah berapa lama, setiap butir salju itu meninggalkan rasa yang cukup berat untuk diterima tubuhnya. Setidaknya, sampai saat ini.


Apa salju sudah berhenti? Rasa dingin nan perih itu tak terasa lagi. Meski hanya alasan kecil, tapi hal itu berhasil membuyarkan lamunannya yang sudah membawa lelaki itu begitu dalam. Ketika ia mendongak, sebuah payung merah seperti tergantung di atasnya. Melindunginya dari dingin dan perihnya ketika salju itu menyiksa tubuhnya.


"Lama tidak bertemu, Pangeran."


"Dai … ren?" Suara itu akhirnya terdengar. Meski begitu parau, namun itu cukup membuat Dairen sedikit tenang karena sepertinya lelaki itu masih baik-baik saja.


"Apa yang sudah terjadi?"


Lelaki itu terdiam untuk beberapa saat. Ia menunduk lesu sebelum menjawab pertanyaan yang tadi dilontarkan padanya. "Ku pikir aku terlalu kekanak-kanakan. Tapi, bagaimana aku bisa terus bertahan di rumah itu sementara rasanya aku seperti tidak ada harganya? Tidak ada yang mendengar pendapatku. Tidak ada yang mengerti perasaanku. Menyedihkan sekali. Kau pikir bagaimana perasaanmu jika ibumu diusir dari rumahmu sendiri? Di hadapan matamu. Dengan hina."


Dairen sedikit terkejut usai mendengar ungkapan lelaki itu mengenai hal yang membuatnya menjadi seperti itu. Tidak lama. Ia kembali memasang wajah seperti sebelumnya. "Menyakitkan."


"Tidak ada."


"Kan?"


Suasana hening untuk beberapa waktu, hanya sebentar sampai lelaki itu kembali bicara. "Dairen …, apa tindakanku ini salah?"


Dairen tak langsung menjawab pertanyaan lelaki itu. Namun ia tetap menjawabnya dengan sedikit jeda. "Aku tidak tau."


Dairen menatap ke langit. Seolah, ada sesuatu di atas sana yang sedang menunggunya. "Tapi, kita tidak akan pernah tau jika kita tidak mencobanya. Tidak peduli benar atau salah. Lakukan saja apa kata hatimu! Setelah itu kau akan tau nilai dari segala tindakan yang telah kau ambil."


Lelaki pirang itu menatap Dairen untuk beberapa detik, kemudian ia kembali memalingkan wajahnya. "Kau sendiri bagaimana?"


"Aku?" Dairen tersenyum simpul sesaat. "Aku masih mencari tau. Apa keputusanku ini benar atau justru sebaliknya."


"Begitu."


Suasana kembali hening. Begitu canggung, teramat dingin mengalahkan dinginnya salju yang semakin memenuhi permukaan tanah. Entah apa yang membuat mereka saling mengenal. Dan entah apa pula yang membuat mereka secanggung ini.


Meski tak ada lagi kata yang bisa ia ucapkan. Meski tak ada lagi tindakan yang bisa ia lakukan. Dairen tetap di sana. Berdiri dengan payung yang melindungi lelaki yang ia panggil pangeran itu dari dinginnya salju yang jatuh tak kunjung reda.


Benar. Aku tidak tau. Entah benar atau salah aku tidak peduli. Sedari dulu, hingga detik ini semuanya tidak berubah. Tujuanku tidak akan pernah berubah. Aku ingin mengubah takdir ini. Mengubahnya menjadi dunia di mana akulah yang mengaturnya. Tidak peduli meski pada akhirnya aku akan berakhir di neraka karena bermain-main dengan takdir, semuanya demi ibuku. Aku akan menariknya dari ketidakadilan hidup ini. Aku pasti … akan menyelamatkannya. Pasti … akan mendapatkan kristal Ampithera apapun yang terjadi. Meski aku tidak tau bagaimana rupanya, di mana dia berada, seberapa kuat dia, aku pasti akan menemukannya. Demi ibuku. Demi ibuku. Aku akan ….


"Pangeran!"


Membunuhnya.


Suara teriakan barusan sontak membuat Dairen dan lelaki pirang itu menoleh ke arahnya. Dilihatnya, seorang lelaki seusia mereka tengah memegang kedua lututnya sembari terengah-engah seperti sudah berlari dalam waktu yang lama. Ketika ia mendongak, ia memicingkan matanya. Pandangannya kabur akibat embun yang mengotori kacamatanya. Tapi yang pasti, ada dua orang di sana. Penasaran, lelaki ini langsung melepas kacamatanya dan segera mengelapnya dengan kemejanya yang sudah berantakan. Ketika ia kembali memasang kacamatanya, bagai melihat seseorang yang sudah tak ia temui dalam waktu yang sangat lama, ia tercekat.


Dairen terkekeh kecil. "Apa benar-benar tidak ada yang peduli, Pangeran?"


Mendenganya, Pria pirang itu membenamkan setengah wajahnya pada kedua lengannya yang masih memeluk lututnya itu.


"Dairen?"


Dairen kembali menatap pria kacamata itu. Dengan senyuman yang begitu hangat dalam sorot matanya yang dingin, ia berujar, "Senang bertemu denganmu lagi, Altara."


Sekarang apa lagi? Takdir mau mempermainkanku, sampai sejauh mana lagi?