
"Duh … si kacamata itu sebenarnya kemana, sih?" Reiga berucap kesal sembari menopang dagunya pada tangan yang ia letakkan di atas meja.
"Sudah … sudah! Kita hanya perlu memberinya sedikit pelajaran saat dia kembali," balas Dairen dengan santainya meski wajahnya terlihat sudah babak belur.
"Jangan menjawab! Aku masih kesal padamu!" bentak Reiga sembari menggebrakkan meja membuat orang-orang yang ada di ruangan ini menoleh ke arahnya.
Bukan satu-dua orang. Dikarenakan saat ini sudah masuk jam istirahat, ruangan besar yang notabenenya adalah kantin sekolah ini dipadati oleh banyak siswa. Dan hampir seluruh siswa itu mengarahkan perhatiannya pada Reiga yang barusan menggebrakkan meja dengan sangat keras.
Baik Dairen maupun Reiga, keduanya terlihat sangat canggung ketika meja yang mereka berdua tempati menjadi pusat perhatian orang-orang. Untung saja itu tak lama, perhatian orang-orang kembali teralihkan pada kegiatannya masing-masing setelah mendapati hal yang ternyata tidak penting.
"Ya ampun … kau itu senang sekali menjadi pusat perhatian orang-orang," ujar Dairen seraya membuka surat kabar yang sebelumnya terletak di meja belakang mereka yang kosong.
"Berisik!" desis Reiga masih dengan wajah kesalnya.
"Gila! Tiket Ferrada sedang diskon besar-besaran."
"Serius?" Reiga langsung antusias setelah mendengar ucapan Dairen barusan. Ia segera merebut surat kabar dari tangan lelaki itu. "Mana?" ucapnya setelah membaca seluruh isi surat kabar, tetapi tak menemukan apa yang dikatakan Dairen mengenai tiket Ferrada itu.
"Gila. Kau benaran percaya padaku? Ya ampun … dasar pangeran miskin," ejek Dairen yang tentu saja membuat amarah orang yang ia sebut pangeran miskin itu tersulut.
Baru saja Reiga akan memukul Dairen, seseorang datang membuat keduanya menoleh ke arahnya.
"Wah … sepertinya ada yang sedang bertengkar di sini."
"Altara?" ucap Dairen dan Reiga bersamaan.
"Pangeran Reiga dan Tuan Muda Dairen, apa ada yang bisa seorang pelayan tampan ini bantu?" Altara sedikit membungkukkan tubuhnya seraya tersenyum manis ke hadapan dua orang itu.
"Berisik atau ku jahit mulutmu itu!" desis Reiga dengan sinis.
Sementara Dairen. "Bagus! Bagus! Teruslah sanjung aku!" ucapnya dengan angkuh.
Altara tetap tersenyum seperti senyuman itu sudah terpatri di wajahnya. Tanpa izin, ia mendudukan dirinya di kursi yang berseberangan dengan tempat Dairen terduduk saat itu.
"Bagaimana sekolah kalian tanpaku selama seminggu ini?" tanya Altara seperti seorang ayah yang sedang berdiskusi dengan anak-anaknya.
"Lupakan soal pertanyaanmu itu! Sebelumnya, jawab dulu pertanyaanku." Reiga mulai mengintroasi Altara disela Dairen yang tengah sibuk bersenandung tidak jelas. "Kemana kau selama seminggu ini?"
Altara sedikit terkejut setelah mendengar pertanyaan Reiga barusan. "Hee? Apa aku belum memberitahu kalian?"
"Ya ampun," dengus Reiga seraya memegang keningnya, memperlihatkan betapa pusingnya ia saat ini. "Kau tau? Karena dirimu aku dan si Bego ini di skors dari sekolah selama dua minggu!"
Altara kembali terkejut atas pernyataan Reiga barusan. "Hee? Kenapa bisa gara-gara aku?"
"Selama ini kau yang selalu membereskan buku-buku kami. Setidaknya, sebelum kau pergi, beritahu kami di mana kau menyimpan buku tugas kami. Kau tau, kan? Kepala Sekolah Botak itu dendam sekali pada kita? Kesalahan sekecil apapun, akan ia besar-besarkan untuk mengusir kita dari sekolah ini," jelas Reiga panjang lebar. Membuat Altara memasang wajah penuh sesal akibat keteledorannya sehingga membuat kedua temannya itu diskors dari sekolah.
"Hee? Aku benar-benar minta maaf," sesal Altara membuat Reiga memasang wajah puas. Beberapa detik setelah itu, Altara seperti teringat sesuatu. "Tapi … rasanya aku telah memberikan buku itu seminggu yang lalu."
Altara meletakkan jari telunjuknya di dagu layaknya orang yang sedang berpikir. Sementara Reiga mengangkat sebelah alisnya, bingung. Dalam waktu yang bersamaan, keduanya memasang wajah penuh emosi dan melontarkannya pada lelaki yang tengah asyik dengan dunianya sendiri.
Merasa ada yang sedang memperhatikannya, Dairen membuyarkan lamunannya dan kembali pada realita di mana benar saja, Reiga dan Altara tengah menatapnya dengan marah. "Eh? Ada apa?" ucapnya seperti ia tidak tau apa-apa.
"Tuan Dairen …?"
Dairen kebingungan melihat perilaku kedua temannya. Terlebih, saat Altara menyebut namanya dengan ekspresi wajah yang tak dapat diartikan.
"Bukankah seminggu yang lalu aku memberikan buku tugas sekolah padamu?" tanya Altara masih dengan ekspresi mengerikannya.
Dairen nampak mengingat-ingat sebentar, kemudian ia menganggukan kepalanya. "Oh, iya," balasnya dengan santai.
"Lalu … kau kemanakan buku itu?"
"Kalau itu, aku memberikannya pada Reiga. Tapi dia membuangnya."
"Haa?! Jangan menuduh sembarangan! Aku tidak pernah menerima apapun darimu!" sangkal Reiga setelah Dairen menukasnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Bukankah seminggu yang lalu aku memberikan bingkisan kepadamu? Ku bilang itu barang penting. Tapi kau malah membuangnya ke selokan."
Reiga tercekat mendengar penjelasan Dairen barusan. Ia ingat lelaki itu pernah memberikan bingkisan tidak jelas padanya. Tapi ia tidak tau kalau itu adalah buku tugasnya.
Sementara Altara, tatapan tajam yang sebelumnya ia lontarkan pada Dairen, ia alihkan pada Reiga membuat lelaki itu bergidik karena seramnya aura yang dikeluaran Altara.
"A-aku tidak tau kalau itu adalah buku tugasku," ucap Reiga mencoba membela dirinya.
"Ya ampun …." Kini giliran Altara yang berlagak pusing dengan menumpu keningnya pada telapak tangannya.
"Dan kau … kenapa kau bisa ikut dihukum? Padahal kau sudah menerima buku tugasmu," tanya Altara pada Dairen yang terlihat tidak peduli pada kedua temannya itu.
"Malas," balas Dairen dengan singkat. Namun sukses membuat amarah Altara yang sebelumnya sempat reda kembali memuncak.
"Al … te-tenanglah!" ucap Reiga tidak segalak sebelumnya.
Altara menarik napas panjang mencoba menetralisir emosinya. Memang, jika sudah berurusan dengan dua orang itu, masalah layaknya garam di lautan. Tidak ada habisnya! Tapi Altara selalu mencoba bersabar atas keduanya. Karena jika bukan dirinya, siapa lagi yang rela berada dalam posisinya sebagai penanggung masalah kedua orang itu.
"Wah ... wah .... Apa yang sedang dilakukan dua orang sahabat yang tengah diskors ini di sini?"
Suara itu, sontak membuat Reiga dan Dairen memutar bola mata padanya.
Reiga menatap pria sipit itu dengan tajam. Sementara Dairen, dia hanya melihat sekilas, kemudian tidak peduli lagi.
"Kaiya?" gumam Altara dengan tatapan yang tertuju pada pria sipit itu.
"Altara, aku benar-benar tidak mengerti apa yang membuatmu betah berlama-lama dengan dua orang bego ini." Kaiya. Pria sipit itu mendudukkan tubuhnya di kursi yang bersampingan dengan kursi Altara tanpa permisi terlebih dahulu.
"Kumohon, jangan buat masalah di sini." Altara terlihat memohon, namun suaranya tidak setegas saat ia berbicara dengan Reiga dan Dairen.
Mendengar hal itu, Kaiya menatap sinis pada Altara. "Apa? Kau pikir aku ini pembuat onar?" Ia terkekeh sesaat. "Bukannya pembuat onar itu ada di hadapanku." Tatapannya teralihkan pada pria yang ada di hadapannya. Reiga, lebih tepatnya.
Reiga tampak geram. Tangannya terlihat ingin memukul pria itu kapan saja. Namun, ia dikagetkan ketika tiba-tiba Dairen bangkit dari duduknya.
Pria dengan kulit seputih porselen itu mengangkat tangannya. Kemudian, ia meletakkan jari telunjuknya pada dahi Kaiya sembari berujar. "Kau ini berisik sekali." Usainya, ia melenggangkan kakinya untuk pergi dari tempat ini.
Kaiya mengusap dahinya menggunakan telapak tangannya, sekaligus menyibakkan rambut yang tergerai di jidatnya itu. "Wah ... maaf-maaf saja, aku tidak tertarik pada sesama jenis." Entah apa yang membuatnya berkata seperti itu sampai membuat Altara dan Reiga bergidik geli. Tetapi, itu berhasil membuat langkah Dairen terhenti.
Dairen berbalik. Ia mengangkat tangannya melakukan isyarat tidak peduli. "Soal itu, aku juga tidak tertarik padamu."
Kedua pria itu saling menatap tajam, membuat aura di sekitarnya berubah mencekam. Jika diibaratkan, rasanya seperti ada sambaran petir saling beradu yang keluar dari mata mereka.
"Wah ... wah ... wah ...! Ramai sekali untuk ukuran kantin sekecil ini."
Suara itu sukses membuat Dairen dan Kaiya menolehkan pandangannya pada orang yang baru saja datang itu. Tetapi, rupanya bukan hanya mereka berdua yang mengarahkan tatapannya pada orang itu. Semua orang yang ada di kantin ini pun menatap pria berambut merah panjang yang diikat di belakang, dengan jubah yang terlihat senada dengan warna rambutnya.
"Soyu!" ucap pria itu dengan lantang sembari mengangkat tangannya menunjukkan isyarat sapaan.
"Siapa dia?" ujar Reiga seraya mengerutkan keningnya.
Sementara Kaiya, ia terlihat tidak menyukai kedatangan pria itu. Wajahnya nampak lebih sinis dari sebelumnya.
"Tenanglah! Kalian tidak perlu takut padaku! Kedatanganku ke sini hanya untuk memeriksa sesuatu."
Mendengar seseorang baru saja menyahutinya, pria berambut panjang itu langsung memusatkan perhatiannya pada orang tersebut. "Ya! Sebelumnya perkenalkan! Namaku ada ...."
Belum selesai bicara, seseorang menginterupsi ucapannya. "Cukup! Namamu tidak sepenting itu untuk kami ketahui. Aku tidak tau apa yang membawamu kemari, tapi kau benar-benar telah menganggu ketanangan kami," ujar Reiga dengan tatapan membunuhnya.
"Heh! Itu bukan urusanku. Lagipula aku tidak berniat menganggu ketenangan kalian. Aku hanya …."
Duakk ...!
Sebuah tinjuan keras mendarat di wajah pria berjubah itu, membuatnya terpental ke meja kantin yang diisi oleh para murid perempuan.
Banyak orang terkejut dan panik, tetapi tidak sedikit pula yang terlihat antusias dan siap menyaksikan pertunjukkan selanjutnya.
Reiga. Orang yang baru saja memukul pria itu terlihat berdiri dengan tatapan yang amat meremehkan pria yang sudah tersungkur di bawah sana.
Altara nampak panik di sana. Kacamatanya melorot, mulutnya terbuka. Hanya sesaat, sebelum ia bersuara. "K-kenapa kau memukulnya?"
Sementara Dairen. Ia bersiul kagum. Kakinya melangkah mendekati Reiga kemudian meletakkan tangannya di pundak pria pirang itu ketika ia telah berada di sampingnya. "Tindakan bagus, Kawan!"
"Bagus apanya?! Dia merusak semuanya!" Altara benar-benar panik! Padahal sebenarnya ia hanya perlu tidak ikut campur. Maka ia pun akan bebas dari masalah.
"Aku tidak berharap menjadi kawanmu. Tapi, ayo kita lakukan serangan selanjutnya!"
Dairen langsung bersemangat ketika mendengar petkataaan Reiga barusan. Sembari mengepalkan lengannya, ia berujar, "Kenapa tidak?"
Mendengarnya, Altara nampak semakin frustasi. Ia tau apa yang akan terjadi setelah ini. Terlebih lagi, beberapa perabotan kantin rusak parah. Hukumannya pasti akan bertambah berkali-kali lipat.
Pria berjubah itu bangkit dari jatuhnya. Ia meregangkan tubuhnya usai terpental dengan keras barusan. Dengan senyuman penuh sinis, ia berkata, "Lumayan. Sekarang aku berpikir jangan-jangan kau adalah ...."
Duakkk!!!
Lagi-lagi. Pria itu kembali terpental ke meja yang lain ketika Dairen melakukan tendangan tepat ke arah wajahnya.
Di sana, Altara semakin gusar ketika bertambahnya perabotan yang rusak akibat ulah kedua temannya. "Sudah cukup!"
Sedikitpun, Dairen dan Reiga tak menggubris Altara. Reiga berjalan mendekati pria dengan penampilan yang sudah semerawut itu, kemudian menginjak perut pria itu membuatnya terbatuk beberapa kali.
"Benar-benar luar biasa! Uhuk!" ucap pria itu bertindak masokis.
Dairen berjongkok di samping pria itu, kemudian memasang wajah seperti orang yang baru saja menemukan santapan yang lezat. "Baiklah. Mata sebelah mana yang harus kita congkel terlebih dahulu."
"Hei! Kalian terlalu berlebihan." Kaiya yang sedari tadi hanya diam saja menyaksikan aksi yang tidak layak di tonton anak-anak itu mulai angkat suara.
"Bagaimana dengan mata sebelah kiri?" tawar pria berambut panjang itu tanpa rasa takut sedikitpun.
"Kenapa harus yang kiri?" Dairen menimpali.
"Karena pepatah mengatakan, ketika kita ingin memakai sesuatu, maka harus di mulai dari yang kanan terlebih dahulu. Sebaliknya, ketika kita ingin melepas sesuatu, harus di mulai dari yang kiri."
Mendengar penjelasan pria barusan, mata Dairen seolah berbinar, kagum. "Wow! Kau sangat pintar!"
"Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan," gumam Kaiya sembari menumpu dagunya menggunakan telapak tangannya.
"Tapi."
Ucapan Dairen barusan, membuat Kaiya sedikit tersentak.
"Aku tidak sudi bersentuhan dengan pria menjijikan sepertimu." Dairen beranjak.
"Itulah kata-kata yang paling ku sukai darimu." Reiga dan Dairen ber-tos usai melakukan pertunjukan ilegal barusan.
Pria berambut panjang itu mendirikan tubuhnya tanpa merasakan sakit sedikitpun usai dipukuli barusan. Kemudian, dengan lantang ia bicara. "Kalian berdua sangat hebat! Aku sampai tidak bisa menerka mana orang yang dimaksud oleh Yang Mulia."
"Kau ngomong apa, sih?" tanya Dairen.
"Karenanya! Aku akan menguji kalian satu-persatu."
"Menguji?" gumam Reiga.
"Kalau begitu. 'Kruya!" pungkas pria berjubah itu yang lalu pergi meninggalkan tempat yang telah dibuat hancur olehnya.
"Ehem ...."
Seluruh pasang mata yang tadi terfokus pada pria berjubah itu, kini berpaling pada kekar dengan kepala yang tidak memiliki sehelai rambut pun.
"Pak Kepala Sekolah?" ucap beberapa orang bergantian.
Semua orang nampak berbisik-bisik, pastinya mereka sedang saling mengira apa yang akan kepala sekolah itu lakukan saat ini.
Berbeda dengan Altara yang nampak panik, Dairen dan Reiga, sang pembuat onar yang telah menghancurkan hampir setengah dari kantin ini hendak melangkahkan kakinya untuk keluar dari sini.
"Hei, Anak Muda! Kemana kalian berdua akan pergi setelah kerusakan yang kalian perbuat ini?" Kepala Sekolah itu menatap Dairen dan Reiga bergantian dengan tajam.
Tanpa rasa takut sedikitpun, Dairen membalas perkataan kepala sekolah itu. "Maaf, Pak Botak. Eh maksudku Pak Kepala Sekolah. Ini bukan salah kami."
"Kalau bukan salah kalian, lantas ini salah siapa?" tanya Kepala Sekolah dengan nada mengintrogasi.
"Tentu saja salahmu."
Semua orang tersentak mendengarnya.
"Kau tidak becus menjaga sekolah ini sampai-sampai membuat orang gila masuk ke sini," sambung Dairen membuat seluruh insan yang ada di ruangan ini terkejut atas keberaniannya.
"Maksudmu?" Kepala Sekolah itu mulai melangkahkan kakinya untuk menghampiri Dairen. Namun seseorang menghadangnya membuat ia harus menghentikan langkahnya itu.
"Pak Kepala Sekolah, ku mohon maafkan dia! Kau tau, kan dia memang seperti itu?" Altara berlutut sambil memegangi kedua pergelangan kaki kepala sekolah membuat pria setengah baya itu kesulitan berjalan.
Meski begitu, pria tua itu sama sekali tidak mempedulikan permohonan Altara. "Dairen! Reiga! Skorsmu ku tambah dua minggu! Jadi, mulai hari ini, selama satu bulan kau dilarang memasuki area sekolah!"
"Kepala Sekolah, aku mohon!" Altara masih belum menyerah. Entah apa yang ia perjuangkan hingga harus seperti ini. Padahal, orang yang bersangkutan alias Dairen sama sekali tidak peduli.
"Kau juga Altara! Kau di skors selama satu minggu karena berani melawanku!" pungkas Kepala Sekolah yang lalu pergi berlalu meninggalkan ruangan ini.
"Kenapa aku juga?!" Altara terlihat semakin frustasi.
Kaiya tertawa mengejek. "Benar-benar geng pembuat onar."
"Berisik!" bentak tiga orang sekawan itu sembari menatap Kaiya dengan sinis.
…For Your Information…
Soyu (so.yu) : Halo
'Kruya (Ek.ru.ya) : Sampai jumpa
Keduanya merupakan bahasa asli Aksili yang digunakan pada Dinasti Grahaus.
Di era sekarang, bahasa itu sudah sangat langka dan tidak banyak orang mengetahuinya.