Altschmerz

Altschmerz
Bitch FAMILY



SEBELUMNYA AUTHOR MAU MINTA MAAF BANGET KARNA CUMAN BISA UP DIKIT DAN PERLU WAKTU BANYAK UNTUK LIBUR UPDATENYA.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kampung halaman Ayah kini telah menjadi sebuah kompleks perumahan. Di mana tak ada lagi rumah jelek dan lusuh seperti rumah Ayahku pada saat ini. Padahal kami menyewakan rumah ini, dan si penyewa pun jarang memberikan uang bulanan. Sebab orang tuaku selalu mendapat keluhan bahwa rumah kami selalu bermasalah, untuk itulah Ibu dan Ayahku sering membiarkan si penyewa rumah kami untuk mengalihkan uang bulanan mereka ke biaya renovasi rumah kami.


Mengetahui tindakan mulia kedua orang tuaku, aku berpikir rumah kami akan sama bagus dan layak di tempati seperti rumah-rumah lainnya yang ada di sini, akan tetapi setelah melihatnya dengan secara langsung rasa-rasanya aku ingin memarahi mantan penyewa rumah kami ini.


" Apanya yang di renovasi?! bahkan aku jijik memasuki rumahku sendiri. " Aku menggerutu kecil.


Rumah kami kosong melompong, padahal dahulu rumah kami penuh dengan perabotan rumah yang bagus, seperti kursi sofa, meja, guci-guci, dan lain-lainnya. Lantas kemana semua itu? Di jualkah?? Tapi siapa? Keluarga Ayah? Atau si penyewa??


Aku memang tak perna melihat isi rumah dan bentuk rumahku secara langsung, namun melihat dari semua foto-foto Ayahku yang dimulai dari saat ia sedang membangun rumah impiannya sendiri yang kemudian melamar Ibuku, hingga melaksanakan ijab Qobul di ruang tamu nan mewah di era tahun 90an, membuatku kagum dan percaya bahwa aku memang perna sekaya dan sejaya itu di masa lampau.


Sungguh kejam bagi orang-orang yang tega mempermainkan kebaikan kedua orang tuaku. Tahu, bentuk rumah Ayah saat ini seperti apa? Dari depan, kayu yang menjadi pilar rumah ini kini sudah hampir reyok di makan oleh rayap, bahkan masih terlihat jelas ada banyak rayap yang menghinggapi kayu-kayu rumah kami, aku melihat wajah Ayahku. Ia tampak baik-baik saja dengan hal itu? Kini kami melangkah masuk ke dalam rumah, melihat kondisi isi rumahku, dimana ruang tamuku yang sangat luas itu hampir setiap dindingnya menglami kelembapan yang membuat ada banyak sekali sarang semut di setiap sudut ruangan, serta aroma lembab yang begitu tajam menusuk hidung kami semua yang ada di sini.


" Ya ampun. Ini sangat menjijikkan, aku tak tahan dengan aroma ini, terlalu menusuk dan tak sedap. " aku membatin.


Di sini Ayahku dan juga Kak Ziawan terlihat sedang tersenyum pahit, aku sangat paham tetang perasaan kecewa mereka. Kami lanjut melangkah memasuki ruang tidur kami, melihat setiap tempat diruangan pertama ini cukup layak untuk di tempati 1 hingga 2 malam, setelah itu kami pun tetap melakukan mengecekan pada ruang tidur kedua, kondisi di ruangan ini sama halnya dengan kondisi ruang tamu kami.


" Aku kasihan pada Ayah. Dia mesti sangat kecewa telah mempercayakan rumahnya pada saudara-saudaranya di sini. Lihat? Rumah impian Ayah telah menjadi rumah terburuk di kompleks ini. " Lagi-lagi aku membatin, mengasihani sosok Ayahku dan juga Kakakku.


kami terus malakukan pengecekan setiap ruangan, dan yang paling parah di antaranya ialah dapur kotor kami. Di sana tercium bau khas hewan Unggas, yakni Ayam. Sungguh kejam, mengapa merubah kondisi rumah seseorang menjadi seperti ini? Mengapa dapur kami di jadikan sebagai kandang ayam? Dimana hati nurani mereka? Mereka tidak sadarkah bahwa selama ini kedua orang tuaku hanya menerima uang sewa salama 1 tahun saja? Sisanya kami alihkan pada perbaikan rumah yang katanya banyak sekali kendalannya. Atau keluarga Ayah yang mendesak penyewa rumah kami untuk tetap bayar pada mereka?


Tetangga kami yang ikut melihat isi rumah kami, terlihat dari mimik wajah mereka bahwa mereka pun ikut sedih, mereka tak bisa berbuat apa-apa karna takut membuat salah paham, belum lagi tak ada satu pun di antara mereka yang memiliki nomor telepon Ayah Ibu selain Kakak pertama Ayahku.


Kecewa, sangat amat kecewa. 13 tahun kami meninggalkan rumah ini, 12 tahun kami tidak memakai uang sewa ini, dan yang kami dapatkan malah hal seburuk ini?? Kejam, sangat kejam. Setelah itu aku melihat kedua wajah lelakiku, Ayah dan Kak Ziawan. Kakak terlihat menahan air matanya, sedangkan Ayah sangat tegar menghadapi semua ini. Adikku saja sejak awal masuk sudah cemberut, ia juga mesti kaget dengan kondisi rumah kami yang seperti ini.


" Kak Ziawaan? Apa dia baik-baik saja?? " Aku terus mencemaskan kak Ziawan. Meski aku tak tahu persis kondisi rumah kami, tapi sepertinya Kak Ziawan sangat tau setiap detail rumah ini.


Singkat cerita, malam pertama kami di kota ini adalah suasana hati yang sangat amat kecewa. Kakak pertama Ayah mengajakku dan Adikku untuk tinggal sementara di rumahnya, sedangkan Ayah dan juga Kakakku, tetap tinggal di rumah ini sembari membersihkan setiap ruangan agar sedikit lebih layak di tempati.


Lihat? Bahkan penat mereka yang baru saja turun dari kapal tak di hiraukan oleh Keluarga Ayah. Alhasil para kakek dan Om yang selama ini membantu pembangunan rumah ini malah menjadi relawan bagi keluarga kecil kami untuk ikut membersihkan rumah di pagi buta.


Kakak kedua Ayahku juga turut ikut membantu, meski tak banyak tapi ia tetap mengusahakan. Sebab kondisi fisiknya yang juga tak sesehat jaman mudanya.


" Ayah? Kak? Aku dan juga Narah tidur di Tante yah. Ayah dan Kakak tetap di sini kan? " Ucapku dengan nada pelan dan kaku.


Ayah merangkulku. " Iyah. Nak. Tidur yang nyenyak yah? Ndk usah pikir Ayah dan Kakakmu, okeh?! " Ayah tersenyum, seakan ia tahu bahwa aku sedang mengkhawatirkan mereka berdua mengakhiri topik dengan menghunuskan jempolnya sebagai pencair suasana yang cukup membuatku galau.


Aku pergi bersama Narah dan juga Tanteku. Meninggalkan semua orang yang ada di sana dengan perasaan campur aduk. Andai kami lebih kaya, andai Ayahku mendapatkan posisi bagus di kantornya, andai Ibuku berhasil menjadi pengusaha sukses. Apakah semua ini akan terjadi pada kami??


Sejak saat itu, aku sedikit mengerti, bahwa kekuasaan sangat di perlukan di masa ini. Dan keluargaku belum cukup menempati posisi itu, mungkin Tuhan sedang menguji kelayakan kami? Aku tak tahu.