Altschmerz

Altschmerz
MENTAL HEALTHY



Di negaraku, Asia. Hanya terdapat 2 musim, yakni musim hujan dan musin panas. Musim yang tidak dapat di sebut musim karena kedatangannya yang jarang bisa di prediksi seperti di negara-negara barat.


Saat ini, isi kepalaku sudah penuh dengan segala macam benang-benang kusut, sebab untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat keluargaku sendiri malah mencaci maki ibuku. Aku tak paham apa salah ibuku? Tapi apakah harus? Apakah pantas? Seorang ibuku, di caci maki oleh mereka? Keluarganya sendiri?


Kala itu aku baru saja pulang sekolah, dengan senang hati aku pun bergegas mandi karena ingin menemui ibuku yang berada di lapak jualannya bersama Omahku. Singkat cerita, tibalah aku tepat di depan kios yang ibu sewa, yang tanpa sengaja malah melihat sejumlah adegan mengerikan yang tak layak di pertontonkan oleh seorang anak kecil berusia 8 tahun.


Kakiku bergetar, jantungku meledak-ledak, keringatku bercucuran. Padahal aku baru saja selesai mandi, akan tetapi hawa di sekitarku justrus sangat panas.


kedua mataku menangkap sebuah moment yang mengguancangkan mentalku, terus memandang sembari berpikir. Benarkah ini? Benarkah bahwa ada seorang pria paruh baya yang saat ini sedang menodongkan sebuah parang besar pada ibuku sembari mencaci makinya? Apakah ini sebuah lolucon seperti di adegan acara TV?


" Parsetan, Kalo kamu masih cari gara, saya bunuh kamu saat ini juga!! " Teriak pria paruh baya itu pada Ibuku yang tengah di tahan oleh Omaku.


" Om?! Om yang salah, kenapa malah limpahkan kepada saya? Om sendiri yang ambil tapi kenapa harus saya yang di bebani? Saya tidak perna sekalipun mau ambil. " Ucap Ibuku tanpa takut.


Kini Omaku ikut bersuara.


" Husein?! Turunkan benda itu!! Kamu mau ada yang melapor polisi? Kamu sudah membuat kegaduhan!! " Tegur Omaku dengan suara yang serak dan tak mampu berteriak keras.


Dari posisiku berdiri, aku tak melihat bahwa istri dari orang bernama Husein ini mencoba untuk memisahkan mereka, ia tak perduli dan hanya terus melayani orang-orang yang mengantri membeli nasi kuningnya.


Sungguh keluarga yang gila, sengaja membuat keributan agar semakin banyak pelanggan yang berkumpul untuk duduk makan sembari menonton pertunjukan spikopat ini.


Tak ada satupun yang berani menegur aksi orang bernama Husein itu, betapa hitamnya hati orang-orang yang hanya menonton. Meskipun aku tahu, mereka pun takut ikut campur karena adanya benda tajam di sana.


Perdebatan mulut yang sengit terus berlanjut tanpa henti, sampai Opah Husein pun tak bisa menahan amarahnya lagi sehingga ia pun malah melangkah dengan cepat menghampiri ibuku lalu ingin menebasnya saat itu juga, di depan kedua mataku. Aku tak bisa bergerak, aku juga ingin berteriak, berteriak agar semua orang melihatku sedang ketakutan. Berteriak agar semua orang berpikir bahwa ada anak kecil yang sejak tadi sudah menonton aksi mereka. Tapi aku bungkam, rasanya seperti aku tak lagi bernyawa.


Sampai akhirnya...


Bukk!!!


Aku pun jatuh pingsan karena terpukul oleh perasaan Syok.


Aku merasa, bahwa aku masih sadar dan tidak tertidur, dan aku juga tidak lagi mati rasa, aku hanya tak bertenaga. Dan terpaksa hanya bisa mendengar suara-suara di sekitarku, ada banyak sekali suara-suara yang ditangkap daun telingaku. Tapi aku tak tahu, milik siapa saja suara-suara itu? Hingga suara getaran radiasi milik Ibuku dan juga Omaku berhasil tertangkap oleh daun telingaku yang mungil.


" Altschmerz!! Sayang?! Sayang?!! Bangun, nak!! " Aneh, bahkan suara panik Ibuku masih bisa membuatku merasakan keteduhan.


" Alcherz!! Sayang?!! " Seorang pria bersuara berat tengah ikut memanggilku.


" Yah?? Gimana ini? Ibu ngak tau kalau Altschmerz melihat kejadian tadi. Hiks.. Hiks.. Hiks.. " Keluh ibu sembari menangis.


Aku mendengar banyak sekali kalimat penyesalan dari mulut Ibuku, aku pun ingin sekali berkata bahwa aku tak apa-apa. Aku hanya syok melihat kejadian itu, tapi aku tak kuasa. Meski ingin, namun otakku tak merespond saraf ototku untuk bergerak.


" Alcherz!! Ini Ayah, nak. Kamu tahan yah.. " Rupanya suara berat itu milik Ayahku?


" Oh, rupanya ada Ayah. Tapi, Yah. Aku tidak kuat. " Batinku.


Usai mengatakan hal itu, aku pun benar-benar tak sadarkan diri, seperti mainan robot yang kehabisan massa batreinya.


Tak lama kemudian, Aku pun bermimpi. Mimpiku indah sekali. Terlalu indah sampai membuatku sadar bahwa aku masih belum sadarkan diri.


" Wah.... Kupu-kupunya banyak sekali Ayah! " Ucapku setelah melihat arah yang di tunjuk Ayahku.


Aku berlari menghampiri Ibuku, " Ibu?! Ibu?! Kue buatan ibu keliatan enak!! Aku mau 1! "


Aku pun memakan kue buatan ibuku, rasanya sangat membahagiakan, ini adalah kue terenak yang perna ku makan. Mataku sama sekali tak merasa bosan melihatnya karena saat ini di depanku terdapat berbagai macam kue-kue yang dibuat oleh tangan ibuku sendiri, di tambah lagi hamparan danau indah yang menjadi penyejuk mataku. Huufss.... seakan membuatku lupa akan kejadian mengerikan barusan.


" Nyam.. nyam.. Enak... " Aku terus saja menikmati kue ibu.


Kue yang terasa empuk dan manis, dengan toping coklat leleh dan kacang kenari adalah Favoritku sejak dulu.


Aku yang terlalu menikmati kenyamanan ini, akhirnya dibuat penasaran dengan suara-suara kegaduhan yang tak asing telah menyebar luas di segala arah. Aku berhenti mengunyah, menanamkan pendengaranku agar bisa lebih fokus pada suara-suara teriakan itu. Hingga tak lama kemudian, semua pamandangan indah di depanku tadi, mendadak berubah menjadi pemandangan pertengkaran ibuku bersama seorang Pria paruh baya.


" Parsetan, Kalo kamu masih cari gara, saya bunuh kamu saat ini juga!! " Teriak pria paruh baya itu pada Ibuku yang tengah di tahan oleh Omaku.


" Tidak.. Tidak... Aku harus menghentikan semuanya... Tidak.. Tidak.. " Badanku terasa ringan saat beranjak berdiri.


Aku ingat, aku ingat semua kejadiannya.


" Tidak.. Ibu... Ibu... " Aku pun mulai berlari untuk memeluk ibu. Dan ketika aku berhasil memeluk tubuh ibuku, seketika semua suara pertengkaran tadi mendadak berhenti. Aku rasa, aku telah berhasil, akhirnya aku berhasil menghentikan pertengkaran ini.


" Ibu....." Seru batinku senada dengan wajahku yang mendongak ke atas.


Ciprat!!


Satu hantaman benda tajam itu menghantam habis kepala ibuku. Saat itu juga tubuhku tertimpah oleh tubuh ibu yang sangat berat.


" Ibu?? Ibu??? Ibu berat sekali.. Ibu?? " Seruku pada ibu yang sudah menimpahku sembari bersimbah banyak sekali darah hingga membentuk kolam.


" Haha... Hahahaa... Ibuku mati... Sudah mati yah?... " Aku frustasi dengan memaksakan diri untuk tertawa.


Apa benar ini hanya sebuah mimpi? Atau ini kenyataan? Tapi mengapa terasa begitu nyata? Apa aku salah? Apa karena aku nakal? Apa karena kita tidak kaya?


Ada banyak sekali pertanyaan yang menyerang sukmaku. Mentalku seperti di pukul habis-habisan, aku tak kuasa menahan semua pukulan ini.


" Seseorang? Tolong.. Tolong selamatkan aku dari mimpi buruk ini. "


Entah mengapa, tubuh ibu semakin terasa berat. Sampai-sampai aku tak bisa bernafas dengan baik, tulang rusukku satu per satu mulai patah karena tak kuat menahan beban berat ibu. Ini terlalu berat, ibuku, terlalu berat. Aku? Aku sulit untuk bernafas. Aku...


" Mungkin gambaran tadi hanyalah imajinasiku. Mungkin saat ini aku tidak akan lagi sadar. Mungkin aku tidak sedang melihat pertengkaran tadi. Mungkin imajinasiku saja yang terlalu liar. Mungkin sejak awal aku memang hanya bermimpi. Dan bukan kenyataan. Dan mungkin sebenarnya aku akan.. ".


" Mati???? "


Tiktok :@Altschmerz_by_Altschmerz