Altschmerz

Altschmerz
CEMARAH



Dunia ini adalah tempat ternyaman bagi orang-orang yang serakah, orang-orang yang merasa lebih baik dari orang lain, orang-orang yang tidak memikirkan perasaan orang lain, orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri, dan orang-orang yang bisa menggerakkan hukum keadilan atas dasar kekuasan yang ia miliki.


Tuhan memang Adil, tetapi Dunia dan seisinya Tidak seadil-Nya.


Dan aku? Aku adalah salah satu korban yang perna bahkan sering merasakan semua itu, salah satu alasan yang sangat masuk akal sehingga aku di anggap pantas menerima semua perlakuan yang tidak senonoh, tidak adil, tidak berperikemanusiaan, dan semua yang di luar nalarku adalah hanya karena aku yang secara kebetulan dilahirkan oleh 2 sepasang manusia yang memiliki standar kehidupan yang serba berkecukupan.


Ayahku seorang pekerja serabutan dan ibuku seorang penjual kue keliling, aku juga memiliki seorang kakak laki-laki berusia 9 tahun dan seorang adik perempuanku yang baru berusia 4 tahun. Sungguh keluarga yang cukup normal dan biasa-biasa saja di telinga maupun pandangan semua orang.


Lantas, mengapa kami harus menerima semua penderitaan ini? Apakah kami berdosa karena perekonomian kami tidak selevel dengan orang-orang bermateri di dunia?


Meskipun demikian, apakah aku perna merasakan semua penderitaan itu sejak kecil?


Jawabannya tidak. Aku bahkan tidak tahu, apa itu penderitaan? Apa itu ketidak adilan? Seperti apa rasanya di caci maki? dan sebagainya.


Kedua orang tuaku sangat pandai dalam memenuhi kebutuhan keluarganya, aku sampai tidak perna berpikir bahwa aku adalah anak dari kedua orang tua yang memiliki perekonomian pas-pasan.


Memori indah yang ku ingat adalah saat aku memiliki banyak sekali orang tua angkat yang sangat sayang padaku, meski tak sehebat kedua orang tua kandungku. Dan itu tidak membuatku harus bingung siapa orang tua kandungku.


Aku ingat. Dulu, aku sering sekali menunggu ibu pulang dari jualan, tak perna memikirkan apakah dagangan ibu telah habis atau tidak, bagiku selama aku bisa melihat ibu, rasanya sudah sangat membahagiakan.


Kala itu aku sedang menikmati senyum ibu sembari melambaikan tanganya kepadaku dan juga adikku, kami berdua berteriak bersamaan dengan kedatangan ibu.


" Ibu!!! Ibu!! Yey!! Ibu pulang!! "


Suara teriakan kami berpacu tak berirama dengan gerak kaki kami yang terus melompat-lompat kegirangan.


" Ibuuu.." Kami berdua memeluk ibu saat ibu baru saja melepas sendalnya di luar pagar teras rumah.


" Altschmerz, Narah. Kalian sudah makan siang, nak? " Kalimat pertama yang ibu lontarkan saat pertama kali melihat kami berdua.


Kami berdua segera menjawab pertanyaan ibu dengan menggelengkan kepala kami.


" Aku sama Adek tungguin ibu. Aku sama Adek mau makan bareng Ibu. " Ucap polosku sambil tersenyum lebar.


Aku mengingat jelas, meski mimik wajah ibu terlihat sangat letih dan berkeringat, namun ia tetap berusaha agar terlihat teduh di pandang kami.


" Yah, sudah. Ayok kita makan sama-sama. " Ibu menuntun kami masuk dimeja makan.


Kami bertiga duduk melingkar dilantai, berbagi makanan dalam 1 piring. Aku dan Adikku sangat suka ketika ibu membuat nasi kepal untuk di masukkan ke mulut kami. Berlomba-lomba, mulut siapakah yang bisa menampung nasi kepal terbesar buatan ibu.



" Hump!! " Mulutku penuh, dan perutku sudah sangat kenyang.


Tapi adikku masih bisaa melahap beberapa nasi kepal buatan ibu, meski ingin aku takan mungkin bisa makan lagi jika sudah sekenyang ini.


Aku juga masih mengingat satu moment dengan sangat jelas, beberapa hari setelah perlombaan makan nasi kepal terbanyak.


Hari yang ingin ku ceritakan adalah hari ke 3 musim layang-layang dan juga katapel. Kakakku Ziawan sangat excited membuat layangan dan juga katapel bersama Ayahku. Ayahku mengajarkan semua yang ia ketahui kepada Kak Ziawan, sedangkan aku dan Narah hanya memlihat dari sisi lain sembari memakan sepotong es lilin kacang hijau.


" Ayah?! Apakah ini sudah selesai? " Ucap kaka Ziawan yang sudah sabar menunggu.


" Tunggu, ini tinggal pasang karet lagi, dan katapel Ziawan pun jadi. " Ucapan itu senada dengan pergerakan jari-jemari Ayah yang tengah memasangkan karet ban dalam bekas pada katapel.



" Nah, sudah selesai. Bagemana menurut Ziawan? Katapel buatan Ayah bagus tidak? " Ayah memberikannya pada Kak Ziawan dengan mengalunginya.


Kak Ziawan terlihat sangat puas. Matanya seperti ada bintang-bintang yang sedang menari.


" Wah, Keren sekali Ayah!! Ziawan suka. Ayah hebat!!" Kaka terus memandangai Katapel yang di kalunginya.


" Hahahhaa, benarkah, baguslah kalo Ziawan suka. Ayah jadi senang. "


" Ayah?! Skarang buat layang-Layang dong Ayah, Ziawan mau main juga sama teman-teman Ziawan. "


Tanpa babibu Ayah langsung mengajari kak Ziawan cara membuat layang-layang, mereka berdua adalah partner segala cuaca. Aku dan Narah hanya bisa duduk manis sambil melihat mereka berdua berkreasi dengan imajinasi mereka, sampai akhirnya Ibu pun datang dari dalam rumah sambil membawa 1 piring yang berisikan setumpuk pisang goreng yang masih beruap.


" Ayok itu nanti dulu. Ibu sudah buatkan Pisang Goreng, nih. Semuanya cuci tangan dulu di belakang sana. " Ucap Ibu yang mampu membuat kedua lelaki di sudut teras itu mengangkat wajah mereka ke arah Ibu.


Tak lama, mereka pun saling memandang 1 sama lain, aku curiga mereka memikirkan suatu hal seperti perlombaan lari ke dapur mungkin? Ayah dan Kak Ziawan saling memandang, lalu mulai berdiri secara perlahan-lahan, mengebas-ngebaskan baju mereka yang penuh dengan serbuk kayu yang di kikis tadi.


" Ayah, Ziawan. Ibu tau pemikiran kalian. Tidak boleh lari yah, nanti jatuh. " Ibu memperingatkan keduanya.


Mereka berjalan santai di depan ibu hingga masuk ke dalam rumah, aku lega akhirnya mereka berdua bisa juga tampak layaknya seperti soerang Ayah dan Anak. Akan tetapi semua dugaan dan kelegaan itu salah total, selang beberapa detik kemudian Kak Ziawa pun membuka suara.


" 1, 2, 3 Yang terakhir dapat telur busuk!! " Teriak Kak Ziawan lalu berlari ke dapur yang kemudian di susul oleh Ayah.


" Curang!! " Seru Ayah lalu mencoba mengejar Kak Ziawan yang berada di depannya.


Ibu tampak menoleransi akan hal ini, ia hanya tertawa karena suaminya yang mau terprovokasikan oleh tantangan anaknya sendiri. Yah, ini hal yang sangat biasa di keluarga kami.


Singkatnya, ada begitu banyak sekali kenangan-kenangan indah yang sampai saat ini tak bisa ku lupakan. Kenangan yang mestinya ingin di ulang kambali setiap kali kita merindukan masa itu, dimana aku merasa bahwa kenangan itu takan perna bisa di bayarkan oleh apapun di dunia ini, meski bayaran itu berupa segunung berlian pun.


Sungguh keluarga yang sangat cemarah bukan? Keluarga yang di inginkan semua manusia di dunia ini, terutama semua anak-anak di belahan dunia manapun.


Tapi, Aku adalah Altschmerz, dimana arti namaku rupanya sejalan dengan kisah hidupku. Barusan adalah sepotong kenangan indah dari beberapa, dan kenangan indah yang belum tentu kami temukan di masa depan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


...----------------...


......................


Tiktok :@Altschmerz_by_Altscmerz