
Beberapa tahun kemudian. Aku hidup dengan penuh kisah kelam pembulian, membuatku tidak lagi percaya diri maupun bersyukur atas apa yang telah ku miliki. Selama bersekolah, semua siswi-siswi terus saja membuliku sembari melontarkan sebuah kalimat yang sama sekali tidak ku mengerti dan juga benci.
" Mentang-mentang wajahnyanya Cantik, jadi ngerasa di sukai anak laki-laki. Dasar *****!!! " Ucap teman kelasku Nanda.
*****? Aku sebetulnya tidak tahu apa itu *****, tapi aku yakin itu pasti sesuatu yang bermaknakan buruk kan?
" Udah kali... Ngak usah larian di kelas main sama anak cowok!! Caper!! " Lagi-lagi Nanda berulah padaku dengan menarik rambutku saat aku sedang asik berlarian di kelas dan melewatinya yang sedang duduk di atas meja sembari memangku satu kakinya, sehingga membuat kepalaku tertarik kebelakang secara mendadak dan akhirnya terjatuh di lantai. Semua orang melihat kejadian itu, tapi tak ada satupun yang tergerak untuk menolongku atau membelaku.
Membalasnya? Aku tentu saja tidak bisa membalas, karena aku tidak perna di ajarkan untuk membalas hal buruk selain kebaikan seseorang padaku oleh keluargaku, dan lagi orang tuaku tidak ada yang tahu jika hari-hariku selama bersekolah penuh dengan kasus pembulian. Bahkan ibuku tak tahu jika anak kepala sekolah pun perna beberapa kali bergabung dengan The Genk Ananda's untuk membuliku. Aku tak tahu apa masalah mereka? Kan aku tidak perna mengambil milik mereka, tapi mengapa aku selalu di bully?
Suatu hari kami sekeluarga lagi-lagi pindah rumah kos, rumah yang bersebelahan langsung dengan sekolahku, dan juga kedua saudaraku. Alhasil karena kami tinggal di dekat sekolah yang jaraknya sangat dekat, akhirnya Ibuku jadi tahu bahwa anaknya yang pendiam ini, dan tidak perna mengeluh padanya, rupanya sering di bully oleh teman-teman kelasnya.
Kejadian itu terungkap karena ibu melihat sikap anehku yang terlihat sangat amat terburuh-buruh untuk masuk ke dalam rumah. Dan karena biasanya ****The Genk Nanda's**** ini sering kali nongkrong disalah satu kafe di ujung jalan dari rumahku, akhirnya mereka punya kesempatan lebih untuk bisa merudungku dengan meneriakiku sejumlah kalimat-kalimat yang memalukan bagiku.
" Huu!! Dasar Sok cantik!! Muka menang operasi aja bangga!! " Ucap Dita anak tunggal dari pemilik toko emas di kota kami.
" Huuu!! Muka kayak ***** kok bangga!! " timbal Nanda anak sulung direktur Mall terbesar di kota kami juga.
Serta berbagai macam umpatan lainnya. Awalnya ibuku yang sedang menjaga jualannya di depan rumah tak mengira bahwa akulah yang sedang di bully saat itu. Hingga Tuhan pun maha adil, ia membuat salah satu dari mereka menyebutkan namaku dengan keras sampai membuat Ibuku tersadar akan hal ini.
" Altcherz??!! Itu kamu kan yang di bully dengan berbagai umpatan? " Cegat ibu saat aku baru saja melepas sepatuku.
Namun aku enggan menjawabnya karena takut akan di marahi, jadi aku hanya terdiam dan membiarkan ibuku memanggil mereka semua lalu memarahinya.
" Kalian?! Jangan mengira kalian anak-anak orang kaya jadi bisa seenaaknya mau mengusik anak saya. Anak saya memangnya perna buat apa ke kalian?? " Ibuku mengomeli mereka semua yang membuliku.
" Dia buat Nanda putus sama pacarnya karna pacarnya suka sama Altcherz. " Jawab Nita si paling jarang bicara di kelas.
" Loh? Kalian ini masih kelas 6 SD, sudah tau pacar-pacar?!! Dan lagi kalo anak itu suka sama anak saya, berarti karna dia memiliki sesuatu yang tidak kamu miliki dong?? "
" Itu karna Altcherz Cantik tante, siapa yang tidak iri dengan wajah dan kulitnya? Tante lihat kami? Kulit kami memang putih tapi tidak secerah punya dia!! " Kini Nanda yang menjawab lalu menunjukku di akhir kalimatnya.
Ibuku menepuk jidatnya, ia tak mungkin terus beradu mulut dengan anak kecil. Terlebih mereka anak orang kaya, sudah jadi hal lumrah adanya perbedaan antara yang di atas maupun di bawah.
" Aduh.. Sudah-sudah. Mending kalian pulang. Dan saya tidak mau lagi dengar kalian mengejek anak Saya. "
Aku bingung harus senang atau harus benci ketika ibu membelaku, sebab aku yakin. Anak-anak manja seperti mereka, mana mungkin akan kapok dalam sehari. Mestinya besok pagi sampai dengan hari kelulusan, aku pasti akan semakin di bully habis-habisan oleh mereka semua.
Dan benar saja, mereka dendam padaku, mengira bahwa akulah yang mengadu pada ibuku. Membuat satu angkatanku bergosip akan diriku yang ternyata suka mengadu dan merebut pacar mereka.
Dalam batin aku berteriak,
" Hei?!!! Kita anak SD kelas 6 Loh??? Apakah pacaran itu pantas??? Memangnya apa itu pacaran?? Memangnya apa itu operasi pelastik?? Apa yang salah dengan wajahku??? Aku cuma menang putih kok, kalo aku hitam juga pasti sama jeleknya dengan kalian. "
Tak tega melihatku terus di jauhi oleh teman-temanku, Ayah ku pun resign dari pekerjaannya dan membawa anak-anaknya untuk kembali ke kampung halamannya. Sedangkan Ibuku dan Omaku tetap di di sini karena peputaran ekonominya yang sangat lancar di bandingkan di kampung halaman Ayahku. Ia berharap dengan kepulangan kami di kampung halamannya, akan memberikan sebuah kehidupan yang menyenangkan.
Dan, Yah! Tibalah kami semua di Kota Neraka ke 2. Kota yang bahkan di penuhi oleh orang-orang bejat lainnya. Kota yang terus menghancurkan setiap keping mentalku.
Singkat cerita, kami semua sampai di kota Hell pada pukul 01.30 dini hari dengan selamat. Kami semua di jemput oleh Kakak sulung Ayahku atau Tante kami yang juga mengajak dua orang anak lelakinya, yakni Adam dan Adi untuk membantu kami mengangkut semua barang bawaan kami ke dalam 2 mobil milik mereka.
Malam itu aku pun tiba dan melihat semua orang sedang berpencar membuat 2 kelompok yakni, kelompok Ibu-ibu, dan juga kelompok Bapak-bapak yang sebenarnya mereka sudah menunggu kedatangan kami sejak beberapa jam yang lalu.
Selepas kami semua turun dari mobil, satu persatu dari semua orang, mulai mengerumuni kami yang baru saja tiba di depan rumah Ayahku.
" Ya ampun, nak? Sudah pulang kamu ke rumahmu. " Ucap seorang nenek yang memeluk Ayahku sembari menangis yang kemudian di susul oleh beberapa orang lainnya yang ikut memeluk Ayahku, aku dan kedua saudaraku.
Aku bingung, semua wajah di sini tampak sangat asing bagiku, tapi sewaktu aku melihat kak Ziawan yang begitu akrab dengan semua orang justru hal itulah yang lebih mengagetkan lagi bagiku.
" Loh? Kakak kok tampak akrab? Apa dia perna bertemu orang-orang di sini? " Batinku sembari melihat kakak ku dengan perasaan yang terheran-heran.
" Anakku sudah pulang.. Hahaha " Seru seorang pria paruh baya yang kemudian langsung memelukku dengan erat.
" Ayah?!! "
Aku terkejut, mengapa Ayahku mengatakan hal seperti itu? Bukannya selama ini aku selalu pulang ke rumah Ayah? Tapi...
" Dia sudah tak mengingatmu Kak. Hahahahaa lihat wajah kebingungan itu. Dia mesti tak sadar bahwa itu bukanlah aku Ayahnya. Hahaha... " Pungkas Ayahku yang kemudian di susul dengan tawa semua orang.
Aku menatap kedua orang yang ada di hadapanku saat ini, dengan wajah mereka yang sama persis membuatku merasa ini sangat aneh!! Aku tak mengira bahwa wajah keduanya akan seidientik ini.
Aku hanya bisa mengenali Ayahku dengan pakaian yang ia kenakan dan juga tinggi badannya yang sedikit lebih pendek dari saudaranya itu. Aku hanya bisa terdiam bersama Narah, kami berdua terus menatap para orang dewasa yang sedang bercengkrama, sampai akhirnya topik mereka berhenti pada saran Tante kami.
" Dek? Biar kan saja Anak-anakmu menginap di rumahku sementara sampai kamu dan Ziawan membersihkan rumahmu ini. " Usul Tante kami, Kakak sulung Ayahku.
" Iyah, Kak. Maaf merepotkan Kakak. Aku titip anak-anak perempuanku yah. "
Kami berdua pun di bawa pergi menuju lorong sebelah, memasuki sebuah rumah yang berlantai 2. Dengan pintu outdoor di lantai atas serta terdapat 2 kamar kosong untuk di tempati olehku dan juga adikku, Narah.
Aku memilih kamar yang kedua, sedangkan Narah kamar yang pertama dengan fisilitas TV kecil di dalamnya.
Akan tetapi, sejak awal kedatanganku, aku merasa bahwa kota ini lebih tidak cocok denganku di bandingkan dengan kota tempatku tinggal sebelumnya.
Dimana, perlakuan keluarga Ayahku antara aku dan juga Adikku, terlihat sangat berbeda. Aku tahu aku tak sempurna, akan tetapi tak ada satupun dari mereka yang mau menjelaskan apa salahku sehingga mereka menjadi sosok yang pilih kasih.