
Anugrah adalah hadiah kecil yang sengaja tuhan berikan pada setiap umatnya dengan komposisi yang sudah di takar dengan sedemikian rupa. Cantik, seyuman manis, gigi rapi, tampan, tinggi, pendek, jerawatan, burutusan, sampai ada juga yang cacat dari lahir. Semua itu adalah anugrah dengan nilai yang tersembunyi di dalam cangkangnya.
Hanya tuhan dan orang-orang yang bena-benar menyayangi kitalah yang dapat melihat anugrah pemberian tuhan itu. Lantas mengapa kalian harus merasa insecure dengan hal yang tidak sesuai harapan? Tapi, aku pun tidak munafik, sebab aku pun mengalami insecure yang sebenarnya ingin di miliki oleh banyak orang-orang di sekitarku. Yaitu wajah dan kulit putihku.
Aku memandang pantulan wajahku pada sebuah cermin. " Tuhan? Apakah boleh aku memiliki wajah yang penuh dengan jerawat? Aku sudah lelah dengan semua orang yang terus mempermasalahkan kecantikan wajahku. Apa yang salah jika aku memiliki wajah seperti ini? "
Yah, mungkin kalian akan merasa bahwa aku tidak bersyukur atau sebagainya. Tapi biar ku perjelas dengan apa saja pengalaman burukku bersama anugrah ini.
Pengalaman terburuk saat menjadi anak gadis kecil yang cantik ialah tanpa sengaja anugrah itu menjadi tiket golden bagi para pedofil untuk berniat buruk, dan hal ini tidak hanya terjadi padaku, melainkan pada adikku juga.
beberapa hari setelah masalah todong-menodong, aku kembali di buat ketakutan dengan suatu moment yang paling mengerikan dan hampir merusak seluruh jiwa warasku.
Kala itu saudara jauh ibuku datang untuk bekerja di kios ibuku, aku biasa memanggilnya dengan sebutan Uncle erik. Pria tampan yang terlihat penuh kasih sayang kepada semua anak kecil termasuk aku dan juga adikku, Narah.
seminggu kedatangannya di keluarga kami, sikap dan tingkah lakunya sudah membuat kami merasa bahwa dia adalah sosok replika dari malaikat yang sengaja di kirim oleh tuhan.
Dia bekerja dengan sangat gesit, memasakan makan siang kami sekeluarga, menemaniku dan juga Narah bermain, sampai memgajarkan kami beberapa pelajaran sulit. Sungguh sesosok Uncle idaman.
Akan tetapi meskipun demikian, rupanya kakakku, Kak Ziawan ia sangat tidak menyukai keberadaan uncle Erik di keluarga kami, entah mengapa tapi setiap dia melihat adik-adiknya tengah bermain dengan uncle Erik, mesti ia akan ikut mengawasi dari kejauhan dan bukan ikut bermain bersama-sama.
Singkat cerita, sore itu aku sedang menonton TV, dan adikku sedang bermain PS II di komputer dengan posisi dipangku oleh Om Erik. Mereka sangat akur dan juga bersahabat.
" Om.. Om.. Gesel ke kili gesel ke kili... Wah wah.. Assss Jatuh.. " Seru adikku Narah.
Seketika mereka tertawa bersama-sama, aku tak menghiraukan keberadaan ataupun keseruan mereka. Bagiku menonton kartun di TV, jauh lebih menyenangkan dari pada bermain PS.
" george!! Apa kabar? " Seru bocah lelaki pada kartun monyet George.
Aku menikmati kelucuan kartun orang utan bernama george itu, sampai akhirnya aku di buat kaget dengan satu jeritan keras dari mulut Narah.
" Aaaah " Suara teriakan keras yang melengking itu mampu membuat mataku menyoroti tubuh Narah yang ternyata sudah membeku di atas pangkuan Om Erik.
Aku pun bertanya, ada apa? Akan tetapi, Narah hanya bungkam sembari mengeluarkan game Play Station-Nya yang ada di PC dan malah menyusulku duduk di depan lemari TV.
Lalu bagaimana dengan Om Erik? Yah dia terdiam sesaat di sana, lalu berbalik sambil tersenyum pada kami.
" Hehehe.. Narah ngambek, yah? Karna di kalahkan oleh Om Erik terus??? Hahaha.. Yah, sudah. Om Erik mau ke kios dulu. " Ucapnya yang terlihat biasa-biasa saja namun dengan gerak-gerik yang aneh.
Akan tetapi aku tidak sebodoh itu, anak usia 8 tahun ini sudah banyak mempelajari diam-diam pergerakan aneh seseorang dari Anime Dektektif Conan.
Aku pun berperan layaknya Detektif Conan dengan mengintrogasi adikku, Narah.
" Narah? Kamu tau kenapa Om Erik terlihat kaku seperti tadi? " Namun Narah hanya diam dengan wajah yang pucat.
" Baiklah, jika kau tak mau memberitahu... " Aku mencoba berpikir, menirukan gaya Conan.
" Apa karena kalah bertanding? "
Narah menggeleng kepalanya.
" Om Erik bermain Curang? "
Sekali lagi ia menggelengkan kepalanya.
" Lalu mengapa kau berteriak? "
Selama beberapa detik Narah hanya menundukkan wajahnya, ini bukan sosok Narah yang ku kenal jika bersikap seperti ini. Tapi aku tetap menunggu jawaban dari adikku ini, sampai akhirnya ia pun berbisik padaku.
Sebuah kalimat pendek yang membuatku ketakutan sekali gus membuat kepalaku terus menciptakan banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak seharusnya di pikirkan oleh anak-anak usia 8 tahun.
Aku tidak lagi sedang menirukan gaya keren Conan, sebab usai berbisik Narah kemudian malah menangis dengan sangat kencang. Ia melepaskan semuanya yang sejak tadi sudah ia tahan. Aku tak tega melihat semua itu, hingga sosok Kak Ziawan yang baru saja pulang sekolah ke rumah begitu terkejut karena ia melihat aku yang hanya membatu sembari menatap Narah yang tengah menangis sesegukan di depanku.
" Kenapa?? " Suara Kak Ziawan membuatku menoleh ke arah pintu.
Melihat sosok Kak Ziawan yang tampak keren dengan seragam sekolahnya yang setengah di luar sembari memakai tas yang juga hanya sebelahnya saja, memberikan ku sebuah perasaan kelegaan saat itu juga. Aku segera menoleh dan mengisyaratkan sebuah perasaan ketakutan.
" Kak Ziawan.... " Belum menceritakan semuanya pada Kak Ziawan, entah mengapa aku pun juga ikut menangis. Wajah Kak Ziawan sangat panik dan berlari memeluk kami berdua.
Kami berdua masih saja terus menangis sembari di peluk dan di bujuk oleh Kak Ziawan. Aku terus memikirkan bagaimana jika akulah yang berada di posisi Narah? Itu pasti sangat mengagetkan dan juga menakutkan.
" Kenapa?! Kalian kenapa menangis?! mana Om Erik? " Lepas menyebutkan nama Om Erik, Narah dan Aku malah semakin membesarkan suara tangisan kami. Hingga teman Kak Ziawan yang sebenarnya datang untuk menjemputnya bermain bersama malah ikut membantu Kak Ziawan yang sedang berusaha menenangkan kami berdua.
Kak Iqbal berlari ke arah kami lalu bertanya.
" Ziawan? Adik-adikmu kenapa menangis?? Kamu pasti habis menjailinya kan?? " Tuduh Kak Iqbal yang langsung di bantah oleh kak Ziawan.
Bau keringat Kak Ziawan tidak seperti anak lelaki pada umumnya yang terkesan kecut dan masam. Aku tak bisa menjelaskannya karna ini memang dominan bau tubuh Kak Ziawan.
" Altcherz? Kalo kamu mau jelasin kenapa? Kak Iqbal akan menemanimu bermain masak-masak sebentar, gimana? "
Tawaran itu memang sungguh menarik bagiku, tapi tetap saja aku tak bisa berhenti menangis. Tak lama Kak Ziawan berjalan menghampiri kami dengan segelas air, kami di tuntun untuk minum dan kemudian perasaan kami pun sudah lebih membaik dari pada sebelumnya. Saat itu Kak Ziawa memasang wajah marah, sehingga membuat makin takut lagi.
'' Kak Ziawan, pasti marah karna aku tidak bisa menjaga Narah dan malah membiarkan Narah menangis. "
Itulah isi pemikiranku saat menatap wajah merah Kak Ziawan.
" Sudah tenangkan? Skarang coba cerita ada apa? " Kalimat tegas keluar dari mulut Kakak kami.
Narah memegang bajuku, memberi tanda bahwa aku harus membantu menjawabnya sebab ia malu.
" Kak Iqbal? Tolong jagain Narah yah. " Ucapku pada Kak Iqbal yang langsung di balas jempol dan senyum manisnya.
" Kak Ziawan.. " Aku berdiri dan menarik tangan Kak Ziawan ke dapur.
Di dapur aku menjelaskan segalanya pada Kak Ziawan. Jadi saat Narah sedang bermain dengan Om Erik, Narah merasa bahwa Om Erik sedang mengelus-elus paha Narah. Narah sangat polos jadi dia tak begitu tahu jika hal itu tidak boleh, di tambah lagi saat ini Narah tengah mengenakan dress bunga-bunga, tentu saja kontak fisik akan terjadi secara langsung.
Sampai akhirnya...
" Hah? Kamu yang betul Alrcherz?!! " Suara Kak Ziawan meninggi.
" Hiks... Hiks.. Iyah, tadi Narah cerita sama aku, kalo itunya sempet di mainin jadi Narah langsung teriak dan berhenti main PS. Hiks... Hiks.. Maafin Altcherz, Kak... Altcherz tidak bisa jaga Narah... Hiks.. "
Wajah Kak Ziawan semakin memerah, aku tahu dia sangat marah saat ini, dan mungkin inilah mengapa ia tidak suka pada Om Erik. Kak Ziawan mesti sudah mengetahui tingkah buruk dari Om Erik, jadi dia terus mengawasi kami sampai tak rela pergi bermain dengan teman-temannya.
Lalu, apakah kaka Ziawan akan melaporkannya pada orang Tua kami? Aku tidak tahu. Aku hanya takut hal serupa akan terjadi pada ku juga, mengingat sampai di hari ke 3 selepas kejadian itu, Om Erik masih tetap berkeliaran di sekitar kami. Dan kami juga sudah tak seakrab dulu lagi, semuanya menjadi kaku dan penuh trauma.
Meski Usia kami masih anak-anak, akan tetapi Ibu kami sudah mengajarkan kami terkait hal-hal sensitif yang tidak boleh di sentuh oleh orang lain selain ibu kami dan Ayah. Bahkan karena kami semua sudah sekolah, Ayah tidak boleh lagi melihat kami dalam keadaan tidak berbusana, ini adalah bentuk pelajaran penjagaan diri dari Ibu kami agar kami bisa mencengah sebelum mengobati.
Namun rupanya semua kewaspadaan itu sia-sia, karna Om Erik lagi-lagi berulah pada hal yang sama. Siang itu aku sudah tertidur disisi kanan ibuku, dan Narah di sisi kiri Ibuku. Aku tertidur dengan nyenyak tanpa memimpikan apapun yang buruk maupun yang indah.
Posisinya kami tidur di ruang tamu, karena memang kami jarang tidur di kamar, sebab rumah kos ini di kamarnya tidak memiliki jendela sehingga udara di dalam kamarnya terasa pengap dan panas. Itulah mengapa kami semua lebih memilih mengalas kasur dan tidur di ruang tamu.
Singkat cerita aku merasa tubuhku seperti ada yang menepuk-nepuk di bagian pahaku serta bokongku. Aku berpikir mungkin itu ibuku, karna hanya ibu yang tahu jika aku suka di perlakukan seperti itu saat tidur. Akan tetapi, pergerakan tangan ini, sudah sampai ke bagian sensitifku, ini bukanlah tindakan yang sering ibuku lakukan, jadi aku langsung menyadarinya sehingga membuatku membuka mata dengan perasaan yang tak bisa ku ekspresikan dengan kata-kata.
Hah?!!
Aku melihat wajah Om Erik yang tersenyum tepat di depan wajahku, sontak aku melihat ke arah belakangku, Ibuku masih ada di tempat tidurnya dengan posisi membelakangiku. Jelas saja Om Erik bisa melakukan hal tak senonoh itu padaku. Dia adalah keluarga jauh ibuku, tidur siang bersama kami adalah hal yang biasa karena dia hanyalah anak lelaki yang baru lulus sekolah di tahun 2011 silam.
" Om?! " Seruku.
Segera ku beranjak pergi dari sana dan menuju kamar untuk mengambil baju ganti, mempercepat gerak kaki ku hingga masuk ke dalam kamar mandi, aku membersihkan tubuhku yang di sentuh oleh Om Erik. Menyeramkan. Sangat menyeramkan. Aku tak tahan lagi, dan aku sudah tak mau lagi. Aku harus menceritakan semuanya pada Ibuku, ini tidak baik dan aku tidak nyaman.
Malam itu juga aku menceritakan semuanya pada Ibuku serta Omaku, sebelum Ayahku pulang dari kantornya. Mereka semua kaget, lalu Kakak menambah-nambah bahwa sejak awal memang dia sudah tak suka dengan kedatangan Om Erik, tapi Ibuku selalu menganggap bahwa itu hanyalah omongan anak kecil yang terlalu sensitif.
" Aku kan sudah bilang?? Jangan biarkan dia leluasa bergerak sesuka hatinya di rumah kita!! Lihat?! Kedua adikku yang bahkan selalu ku jaga kini dia ingin merusaknya!! Aku memang anak kecil kelas 4 SD. Tapk aku juga sudah memperlajari hal semacam ini di sekolahku!! Pokoknya aku tidak mau lagi ada Om Erik di sini, segara pulangkan dia.. Kedua Adikku masih polos dan tidak seberani aku. Aku bertanggung jawab di rumah ini jika tidak ada Ayahku. " Panjang lebar Kak Ziawa yang terus mengomel pada Ibu serta Oma.
Ibuku lagi-lagi hanya bisa menangis, ia mesti tak menyangka jika keluarganya yang lain juga akan berbuat hal buruk pada keluarga kami. Setelah kejadian ini, Ibu pun meminta baik-baik pada Om Erik untuk berhenti membantunya di kios. Sebetulnya Ibu dan Oma tahu bahwa sifat bejatnya itu tumbuh bukan karena kesalahannya, melainkan kesalahan orang tuanya serta kakaknya yang sombong.
Orang tuanya telah bercerai sehingga menelantarkan Om Erik dan juga Kakaknya. Kakaknya menjadi pria sukses dengan jabatan yang tinggi di kantornya, tapi sayangnya. Kakak Om Erik selalu membawa pulang wanita kupu-kupu malam untuk di pakai dan juga sering mengajari Om Erik untuk bersetubuh.
Perna juga beberapa kali, Om Erik membawa pulang beberapa Kue dan makanan sederhana pemberian Ibu dan Omaku untuk ia dan kakaknya makan di rumahnya, sesuai amanat ia pun menawarkan makanan itu pada kakaknya, namun kakaknya malah menghina keluarga kami, ia berkata.
" Apa ini? Kue murahan? pasti mengandung racun. " Pungkasnya setelah Om Erik mencoba menawarkan beberapa makanan padanya.
" Heh?! Bilang ke Tante Liona. Yang di bawa pulang itu kayak Pizza, Humburger, Kue lapis legit.. Bukan kue jadul kek gini.. Sini, di buang aja!! " Pungkasnya lalu membuang semua makanan.
Hal itu berdasarkan cerita Om Erik pada Omaku, karena ia mengaku belum makan dari kemaren, sebab sikap kakaknya yang malah membuang habis makanan dan tidak menggantikannya dengan yang baru.
Sungguh kakak biadap, tidak tahu mengurus adiknya tapi malah merusaknya. Dan akibatnya malah keluarga kami yang jadi sasaran kegilaan Adiknya.
Sebenarnya, traumaku ini masih ku ingat sampai sekarang, aku takut jika suatu saat anak-anakku juga merasakan hal menakutkan itu.
.
.
Untuk itu perlu kita beri pengetahuan sensitif yang sesuai dengan porsi pemahaman anak-anak usia dini guna mencegah hal serupa.