Altschmerz

Altschmerz
MENTAL HEALTH (SPIKIS)



Beberapa bulan yang lalu. Oma, Mama dari ibuku mendatangkan 1 keluarga adik bungsunya bernama Husein. Kita panggil saja dia Opah Husein, dan istrinya Oma Gode dengan 2 orang anaknya Agus dan Mbak Yu.


Aku tidak mengerti mengapa Omaku sampai rela membiayai semua biaya keberangkatan mereka hingga tak ragu untuk membayar tunai uang rumah sewa dibayar di muka selama 5 bulan kedepan. Bukankah semua uang tabungan Oma sengaja ia kumpulkan untuk menambah biaya pernikahan Uncle Wawan jika ia sudah siap menikah?


Singkat cerita, Akhirnya aku tahu apa penyebab pemicu dari kejadian tadi sampai Om Husein tak segan-segan menodongkan benda tajam kepada Ibuku.


Semua itu karena Om Husein dan Istrinya melakukan kesepakatan Hutang-berutang atas nama Ibuku. Yah, Utang, kebahagiaan sesaat yang dapat menghancurkan segala ketenangan. Dimana yang meminjam lebih murka dari pada sang penagih.


.


.


Omaku bernama Liona, asli dari daerah utara FK, wanita tua dengan kulit sawo matang nan keriput, wajah yang sangat awet mudah, sehingga banyak yang mengira ia masih berusia 45 tahunan, padahal usia sebenarnya adalah 67 tahun. Sosoknya masih saja begitu terbuka kepada keluarga yang perna menghinanya. Yah, Opah Husein itu dan keluarganya. Orang yang begitu banyak omong kosong dan bermulut besar.


Awal mula aku tahu faktor pemicu konflik tadi ialah disaat kesadaranku yang perlahan-lahan mulai kembali, dan tanpa sengaja aku malah mendengar beberapa percakapan berat dari Ibu, Ayah, dan Omaku yang sedang berbisik-bisik di dekatku.


" Mah? Mama kenapa sih teledor? Skarang kita mau bayar pake apa? Gaji suamiku tidak cukup untuk menutupi semua hutang ini, jualan kita pun tidak setiap saat laris manis, Mah... " Ucap Ibuku yang merengek pada Oma.


" Mah? Apa kita tidak bisa lapor ke polisi? Biar polisi saja yang urus semuanya... " Kini Ayahku memberi saran.


Belum selesai dengan kejutan pertama, malah kembali di beri kejutan kedua yang tidak kalah membuat mentalku down.


" Hah? Hutang? Polisi? Ibu berhutang? Tapi buat apa? " Batinku.


Aku mendengar Oma mulai menangis.


" Hiks... Mamah minta maaf sama kalian berdua, tapi tolong jangan laporkan ini kepada polisi, dia adik Mama paling bungsu. Biar Mamah yang menasehatinya. Hiks.. Hiks.. " Omah menangis terseduh-seduh.


" Mah?!! Mama tidak lihat? Om tadi hampir membunuh saya di depan mama, Suamiku, dan Alcherz!! Mamah bilang jangan laporkan? Lalu hutang ini Mama lagi yang mau bantu bayar?? " Suara bisik Ibuku terdengar sangat emosional.


Beberapa saat, semua orang tak lagi memperdebatkan apapun selain mendengarkan suara tangis Oma. Tak tahan dengan saling membungkam, Ayah ku pun membuka suara.


" Mah? Aku akan bantu Mamah bayar hutang-hutang sodara Mamah sampai Lunas, Tapi tolong bilang ke Wawan dan juga Lina dan suaminya untuk ikut membantu. Sekarang juga kumpulkan semua orang di rumah ini, dan kita bahas sama-sama. Ini bukan hutang yang kecil. Ini puluhan juta, Mah.. Kita bisa kena tangkap jikaa menunggak lama. Terlebih ini adalah Koprasi, bunganya cukup besar jika terlambat bayar. " Tutur lembut suara Ayahku kepada sang Mertuanya.


Ayahku sangat hebat, ia bisa menjadi penengah di antara perdebatan Oma dan Ibuku. Usai Ayah berpendapat, rupa-rupanya tak ada lagi suara yang mencoba membantah selain suara tombol Hp yang tengah di gunakan dengan sangat terburu-buru.


" Hallo? Lina? Kamu bisa ke rumah kakak skarang dek? Ada konflik yang perlu di bahas... Iyah, dek... Iyah.. Ajak suamimu juga yah dek.. Iyah... Hati-hati... " Suara itu milik Ibuku.


" Hallo, dek? Wan? Kamu bisa ke rumah kakak sekarang? Iyah.. Oh kamu sudah tahu... Siapa yang kasih tau? Oh om Jecki. Iyah tadi Om Jecki yang bantu Suami Kakak buat pisahin Om Husein sama kakak. Kakak baik-baik aja.. Tap-Tapi.. Hikss.. ponakan kamu dari siang belum sadar juga. Kakak Frustasi, takut anak kakak kenapa-napa.. Hikss.. Hiks... Iyah dek.. Kamu ke sini yah... Maaf kaka ganggu waktu istirahat kamu.. " Suara Ibu bergetar hebat saat mulai membicarakan ku.


Aku bingung. Sebenarnya apa maksud pembicaraan para orang dewasa saat ini? Hutang? Seberapa banyak? Dan lagi kenapa aku belum bisa bergerak? Apa aku Lumpuh?


Percuma melontarkan banyak pertanyaan pada diri yang belum tahu jawabannya. Ini terasa sangat aneh, baru kali ini aku melihat keluargaku sampai seperti ini. Terdesak hingga Fruatasi, dan hanya bisa menangisi tentang semua yang telah terjadi.


Sekuat tenaga aku memaksakan diri untuk terua bergerak atau setidaknya biarkan suaraku saja yang lepas hingga ke telinga semua orang.


" I.... Ibu.... " akhirnya kalimat itu lepas meski penuh perjuangan.


Semua orang mendekatiku, dan tangan ibu yang hangat itu menepuk-nepuk pipiku. Sebab aku tak bisa lagi membalas panggilannya


Hingga beberapa jam kemudian. Saat semua orang telah selesai berdiskusi dan membuat kesepakatan bersama. Saat itulah aku dapat membuka mataku karena tersedak air liurku sendiri.


" Uhuk! Uhuk! Uhuk! "


Dan, Yah. Secara normal merasa tubuhku tak lagi mati rasa, aku pun menangis sembari memanggil nama ibuku. Semua orang lega dan ikut menangis, seakan ketakutan mereka sudah sirna dengan melihat kesadaranku.


Aku memeluk erat tubuh ibuku, memikirkan segala ketakutanku yang sempat terlintas di benakku. Rasanya seperti senang, takut, dan juga lega.


" Ibu tidak luka?? " Kalimat pertama yang ku ucapkan.


Ibu menggeleng kepalanya lalu mencium seluruh wajahku. Tangan dan tubuhnya masih terasa gemetar, rupanya ibu pun merasakan mental down.


" Ibu? Aku tidak apa-apa. Ibu jangan menangis. Aku hanya tidak bertenaga tadi. " kalimat itu keluar tanpa harus ku susun rapi.


Tapi ada yang menjanggal, tangan kiriku terasa sedikit nyeri dan pedis. Dan karena itu aku pun mengangkat tanganku untuk mengecek. Aneh, ada satu buah selang panjang tengah tertancap di dalam kulitku.


" Ibu ini apa? " Ucapku saat mengangkat tanganku yang terinfus.


" Ini, obat, nak. " Jawab singkat Ibuku.


Aku memerhatikan dengan seksama. Cairan sebanyak ini benar obat yah? Apa aku tidak akan Overdosis? Kan Bu guru bilang, mengomsumsi obat berlebihan akan berdampak Overdosis kan?


Kejadian ini hanya dapat ku ingat di hari itu saja. Pada keesokan harinya, ibu berkata padaku bahwa aku sudah tidak mengingat kejadian itu lagi, dan kata Ayah Kak Akbar, yaitu Dokter Ichall bilang. Hal ini sering terjadi pada sebagian orang jika ia mengalami trauma dalam, secara otomatis baik sengaja maupun tidak sengaja, otak akan merespond dan mengubur memori-memori yang menyerang mental seseorang tersebut.


Akan tetapi ingatan itu akan kembali mucul jika seseorang tersebut mendapat bayangan atau pemicu yang bisa menarik kembali ingatan yang sudah terkubur.


Kejadian ini, di ceritakan oleh Ibuku, saat aku sudah duduk di bangku SMA. Mengapa selama itu? Aku pun tak tahu. Yang ku tahu. Aku sering memimpikan mimpi aneh yang sama persis dengan kejadian itu pada ibu, dan saat itulaah ibu menceritakan semuanya padaku, serta kelakuan Om Husein yang tega mencuri KTP ibuku di dompet Oma untuk melakukan traksaksi Pinjam-meminjam uang pada beberapa koprasi yang totalnya mencapai 98juta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wah, Senang sekali mendapat support System dari para pembacaku yang terus ngirim komen komen membahaagiakan, Aku jadi terharu.


Makasih semuanya. Aku bakalan tamatin Novel ini kok, ngak lama smpe bulan Agustus aja udah selesai kok. Soalnya aku mau buat cerita baru di pertengahan bulan Agustus. Wkwkwkwk.


So. Dukung Author terua yah teman-teman :)