Aira'S Wedding

Aira'S Wedding
awal mula



pagi yang cerah, angin semilir telah menembus tirai seorang lelaki yang begitu tampan itu, dia lah Aidan si lelaki tampan namun sangat dingin di pagi ini dia tidak memiliki jadwal apapun di karena ini adalah hati libur di kala libur biasanya ia akan hanya berstirat saja di ranjangnya yang empuk itu, padahal bagi sebagian orang di kala libur pasti akan liburan bareng keluarga ataupun jalan-jalan untuk merefresh kan fikiran setelah seminggu bekerja.


sampai ketukan pintu kamarnya dan teriakan dari luar yang membuatnya terbangun, siapa lagi kalau bukan adik tersayangnya Nadira.


" Abang bangun ! di ajakin bunda breakfast bersama loh, jangan tidur aja cari istri gih biar ada yang ngurus" ucap Nadira ketika pintu kamar di buka.


bukannya marah Aidan hanya tersenyum seraya berkata :


" bentar ya dek, Abang mandi dulu, bilangin bunda kalo udah lapar di Luan aja nanti Abang nyusul".


setelah itu Aidan pun bergegas untuk membersihkan diri dan setelah selesai dia buru-buru untuk turun karena ia tau kebiasaan bundanya akan menunggu anaknya makan bersama di meja makan.


setelah sampai di meja makan benar saja orang tua beserta adik tercinta nya itu Masi menunggu untuk makan bersama.


dengan muka di tekut Nadira berkata


" Abang lama sekali, adek udah lapar loh, cacing di perut adek udah meronta ingin di isi masakan bunda yang menggugah selera ini". ucap Nadira


" maaf ya dek Abang lama ya, maaf juga ya yah bund Abang lama turunnya " jawab Aidan dan hanya di balas senyum oleh sang bunda seraya berkata :


" tidak apa-apa Abang, yuk kita mulai saja makanya ya" ucap bisa dari tak bersayap itu.


setelah setengah jam mereka menghabiskan makanan mereka mereka seperti biasa menghabiskan waktunya masing-masing, yang kebetulan orang tua Aidan beserta adik tercinta itu akan mengunjungi sahabat mereka yang kebetulan sudah lama tidak berjumpa.


"Abang gak mau ikut juga,jumpai sahabat ayah dan bunda ?" ucap sang bunda.


Aidan tersenyum seraya berkata


" enggak bund Abang di rumah aja sekalian istirahat, lain kalo aja ya bund Abang ikut nya ". ucap Aidan.


"Abang mah gak asik bund selalu begitu mengurung diri terus kapan coba aku punya kakak ipar kalo begitu terus " Nadira menimpali dengan wajah cemberut.


tinggal lah Aidan sendiri di rumah, tak ada yang di kerjakan nya hanya beristirahat untuk menghadapi pekerjaan di hari selanjutnya


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


lain lahnya di sebuah rumah yang sederhana tersebut, seorang perempuan sedang repot-repot nya di dapur untuk menyambut sahabat bundanya tersebut. siapa lagi kalo bukan Aira si gadis baik hati dan juga ceria itu.


"kak udah siap semua kan masakan nya gih mandi sana biar bunda yang beresin" ucap bunda Nadira.


" dikit lagi bund, tanggung KKK lagi buat cake ini untuk tamu bunda" jawab Aira.


" udah gak papa biar bunda aja yang lanjutin, kakak mandi aja gih, masa anak gadis jam segini belum mandi ". ucap bunda seraya tersenyum.


"baik Bun, kalau begitu kakak mandi dulu ya bund biar Aira tambah cantik , nanti kakak turun lagi kok bantuin bunda ". jawab Aira seraya tersenyum.


sebelum pergi ke kamarnya Aira mendengar ketukan pintu, sudah bisa di tebak oleh Aira pasti itu sang Abang dan kakak ipar beserta keponakan tercintanya yang sedang berkunjung. tidak menunggu lama Aira segera membuka pintu.


" Assalamualaikum onty ku yang cantik" pekikan anak perempuan yang berusia 4 tahun tersebut.


" Waalaikumsalam ponakan onty yang cantik". seraya mencium keponakannya yang begitu gomoy tersebut.


" Wak wah ada tamu kok di suruh masuk dulu sih, temu kangennya kan bisa di dalam sih " Abang Aira perkara seraya nyelonong masuk ke rumah.


" ish Abang kebiasaan ya masuk gak ngucap salam, yuk Kak masuk" ucap Nadira sekalian menggendong keponakannya tersebut.


" loh kok belom mandi kak kan udah bunda suruh mandi loh " ucap sang bunda.


" ish anak gadis jam segini belom mandi pantesan belom ada yang ngelamar" ucap sang Abang tercinta dengan julidnya.


" ish aku gak mandi pun Masi tetap cantik ye," ucap Aira dengan cemberut. seraya pergi ke kamarnya untuk mandi karena malas menjadi bahan Bulian sang Abang tercinta.