A Million Pieces

A Million Pieces
Bab 5



Ketika di sekolah, Zoya menjadi anak yang ceria. Tidak ada yang tahu keadaan rumahnya.


Jam sekolah telah berakhir. Sepanjang jalan menuju gerbang sekolah, Zoya dan kawan-kawan tak henti tertawa karena lelucon yang mereka lontarkan.


"Aku sudah dijemput. Sampai jumpa besok, girl."


Satu per satu jemputan datang. Yang terakhir berdiri di depan gerbang tentu saja Zoya. Perlahan senyum menghilang. Dengan bahu melorot Zoya melangkahkan kaki. Tidak ada jemputan untuknya. Tidak juga naik kendaraan umum. Ibunya mengurung diri di kamar pagi tadi.


Matahari begitu terik. Kerongkongan mulai kering. Zoya hanya bisa meneguk ludah untuk mengurangi haus. Rumahnya masih jauh, dan ini kali pertama baginya berjalan kaki dari sekolah.


Sesekali Zoya menoleh ke belakang. Sekolahnya masih terlihat dan itu membuatnya semakin lelah.


-o0o-


"Saatnya makan siang."


Elsinta bediri. Menyambut Rafka dengan senyuman.


"Ayo berangkat."


Sebelum bejalan keluar, Rafka melihat setiap sudut butik. Sejujurnya ia heran karena setiap berkunjung kemari, butik tidak pernah ada pengunjung. Rafka menebak kalau butik ini dibuat agar tidak terlalu jelas jika Elsinta sebenarnya pengangguran.


"Kenapa? Ayo berangkat."


"Ah, iya."


Rafka bergegas keluar mengikuti Elsinta yang berada di depannya.


"Kau benar. Butik ini sebenarnya hanya tempatku bersantai. Aku pengangguran yang berkelas."


Bohong jika Rafka tidak ingin tertawa mendengar ucapan Elsinta, tapi ia menahannya.


"Kau menyadarinya?"


Elsinta mengangguk. "Terlihat jelas. Kalau ingin tertawa, tertawa saja. Jangan ditahan. Nanti keluar lewat bawah."


Cukup sudah. Tawa lepas berderai. Rafka merasa terhibur dengan kepribadian bebas bicara Elsinta.


"Kau ternyata menggemaskan."


Tawa seketika berhenti ketika Elsinta menyelipkan jari-jari panjangnya di sela-sela jari Rafka.


Rafka menunduk dan melihat tangan mereka yang saling bertautan. Dadanya tiba-tiba berdegup saat melihat bulu mata Lentik Elsinta yang bergerak seirama dengan kerjapan kelopak mata.


"Bodoh! Bukan seperti ini."


Diam-diam ia membuang nafas sebelum tersenyum. "Ayo kita pergi."


-o0o-


Hari ini adalah kali pertama Zoya menyesal memilih sekolah yang jauh dari rumahnya. Ia benar-benar lelah sekarang. Memikirkan seterusnya pasti akan seperti ini lagi semakin membuatnya frustrasi.


"Pa. Apa masa lalumu sangat berharga? Apa aku tidak lagi penting untukmu?"


Semua orang mungkin menatapnya heran, tapi Zoya tidak peduli. Dia terus bergumam sendiri sepanjang perjalanan pulang.


Kurang satu kilo lagi Zoya sampai di rumah. Diusapnya keringat, lalu dengan semangat Zoya mempercepat langka kakinya.


-o0o-


Semangat semakin menggebu saat melihat avanza putih milik ayahnya terparkir di depan rumah. Zoya merindukan laki-laki itu.


"Papa."


Senyum seketika luntur saat pintu terbuka. Zoya melihat ibunya menangis di ruang tamu.


"Papa mana?"


Tanpa menunggu jawaban ibunya, Zoya berlari masuk. Ia mencari ayahnya di kamar lalu berteriak keras saat melihat ayahnya memasukkan pakaian ke dalam koper.


"Apa pelacur itu ingin papa meninggalkan kami? Tidak cukup tiga bulan tanpa kabar?"


Pipi Zoya panas karena ayahnya menampar keras pipi itu.


"Jaga bicaramu, Zoya. Apa saja yang ibumu ajarkan selama ini sampai kau jadi anak kurang ajar seperti ini. Dia istriku sekarang, jangan menyebutnya sembarangan."


"Istrimu? Lalu mama? Dia juga istrimu. Kenapa harus seperti ini, Pa. Papa tidak sayang Zoya lagi. Apa papa tidak peduli lelahnya Zoya tanpa Papa. Zoya capek, Pa. Kadang kelaparan."


Langit rasanya runtuh dan menimpah tubuh mungil Zoya. Tidak ada harapan lagi untuknya.


"Tapi Zoya anak papa juga. Bukan hanya anak mama. Papa juga bertanggung jawab atas hidup Zoya."


"Selama ini sudah dikasih makan. Jadi sekarang minta sama ibumu yang malas itu. Sekarang biarkan papa bersama kebahagiaan papa.


Tangisan pilu dan jeritan memohon Zoya tidak dipedulikan. Ayahnya berlalu tanpa meninggalkan cinta untuk Zoya dan ibunya.


-o0o-


Cuaca semakin dingin. Matahari telah bergeser dan membiarkan bulan bertugas. Di dalam kamar orang tuanya Zoya meringkuk. Kegelapan semakin pekat karena tidak satu lampu pun di rumahnya yang menyala.


Lapar, haus, tidak lagi terasa. Ia bagai mayat hidup sekarang. Perasaan ingin menyerah semakin kuat. Perlahan Zoya berdiri. Kemudian melangkah tanpa tujuan. Apa ini akhir hidup untuknya?


"Pa, Ma. Ini yang kalian inginkan."


Zoya memejamkan mata saat melihat mobil melaju ke arahnya, kemudian menyeret langka ke tengah jalan. Ini pilihan terakhirnya. Ibunya benar, jika ayah tidak lagi menyayanginya seharusnya ia mati saja.


Dentuman keras terdengar, namun Zoya tidak merasakan sakit. Dalam hati ia bersyukur ternyata mati tidaklah sesakit yang ia bayangkan. Sekarang semuanya usai. Biarkan ayah dan ibunya bertahan dengan cinta bodoh mereka. Dan ia tidak ingin menjadi korban mereka lagi.


Satu detik, dua detik, tiga detik, Zoya membuka matanya. Ia ingin melihat alam lain setelah kematian. Tetapi kaki-kakinya melemas saat melihat sekitar. Dia belum mati. Dentuman itu karena mobil menabrak pembatas jalan.


Takut semakin kuat. Meski gemetar, Zoya memberanikan diri. Ia mencoba membuka pintu mobil untuk memeriksa keadaan pengemudi mobil itu. Tetapi pintu terkunci. Zoya semakin panik karenanya. Ia melihat sekitar dan mencoba meminta pertolongan.


Belum sempat Zoya berteriak minta tolong, pintu mobil pun terbuka. Laki-laki putih keluar dengan dahi mengernyit.


"Hey, Dik. Kalau pulang sekolah seharusnya pulang ke rumah, jangan main-main di tengah jalan seperti ini. Bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain."


Tubuh Zoya semakin bergetar. Ini puncak rasa takutnya. Dalam hitungan detik ia hilang kesadaran.


-o0o-


Zoya sadar. Ia sempat mengucap syukur dalam hati karena telah dibangunkan dari mimpi yang menyesakkan. Tetapi perasaan lega itu tidak bertahan lama. Ketika mata terbuka Zoya melihat tempat yang sama dan lelaki yang sama.


"Ini bukan mimpi."


"Tentu saja ini bukan mimpi. Mobilku rusak karena ada pelajar yang tiba-tiba berdiri di tengah jalan. Kau ingin bunuh diri ya?"


Zoya menangis kencang. Penyesalan dan ketakutan berpadu utuh mengoyak pertahan gadis berambut panjang itu.


Beberapa saat lalu ia mungkin ingin mati. Tapi sekarang Zoya menyesal ingin mengakhiri hidupnya. Wanita serupa dengannya yang saat ini mungkin masih  menangis di rumah seketika melintas di benak Zoya.


"Mama maafkan Zoya."


"Jadi namamu Zoya? Kenapa pelajar sepertimu ingin bunuh diri? Jalan masih panjang, Dik. Aku tidak tahu masalah apa yang sedang kau hadapi, tapi kau bisa membicarakannya dengan orang tuamu. Mereka mungkin marah awalnya, tapi mereka pasti akan membantu."


"Tidak. Mereka tidak akan membantu karena mereka lah yang menjadi masalahku."


Mata sembab Zoya menatap lelaki di hadapannya. Lalu pertanyaan keluar dari mulut mungilnya. "Paman apa yang akan paman lakukan saat ayahmu pergi bersama selingkuhannya dan ibumu menjadi gila?"


"Aku akan tetap menjadi lelaki kuat. Aku akan menjaga ibuku dan berteriak pada ayah jika kami mampu bahagia tanpanya."


Tawa frustrasi terdengar.


"Tetap kuat? Ayolah, Paman. Kau bisa mengatakan itu karena kau tidak di posisiku."


"Aku pernah ditinggalkan. Rasanya teramat sakit. Tapi aku tidak ingin berakhir sia-sia. Kau tahu, Dik? Mereka yang meninggalkan harus merasakan sakit yang sama."


Perlahan kepala Zoya terangkat. Ia menatap lama mata lelaki di hadapannya.


"Rafka. Namaku Rafka. Kau bisa mencariku jika merasa masalahmu semakin berat. Kita akan ngobrol, dan  aku akan membantumu."


Rafka berdiri dan menarik pelan tangan Zoya.


"Berhentilah menangis, kau tidak sendiri di dunia ini. Ada banyak orang baik yang akan merangkulmu."


-o0o-


Bersambung


Bengkulu, 05 Januari 2020


Vhiy Zaza