A Million Pieces

A Million Pieces
Prolog



Matahari mulai tinggi. Di toko miliknya, Rafka gelisah. Beberapa kali ia salah menjawab saat pelanggan bertanya. Hal ini mulai ia rasakan beberapa minggu terakhir.


Menghitung waktu di dalam hati, akhirnya Rafka tidak bisa menahan diri lagi. Sekarang juga ia harus pulang. Ia harus mengusir rasa tidak nyaman ini, dan hanya di rumah ia bisa mendapatkan kenyamanan. Tanpa berbicara, ia pergi, mengendarai mobil membawa perasaan gelisahnya.


Tanpa kemacetan perjalanan terasa lebih cepat. Ketika mobil terparkir sempurna di garasi, Rafka langsung melompat turun. Berjalan sedikit tergesa dan mencari si matahari pagi. Iya, dia mencari perempuan hangat itu.


Aku menemukanmu.


Di dalam hati Rafka bergumam. Dengan seulas senyum ia berjalan semakin dekat. Sosok berbahu rapuh yang berdiri di teras belakang rumah adalah tujuannya.


Seperti menyadari kehadiran Rafka, Valerie berbalik. Senyum hangat miliknya menyambut kedatangan laki-laki itu.


"Mas pulang pagi lagi?"


Jarak mereka semakin pendek. Alih-alih menjawab pertanyaan Valerie, Rafka justru mengangkat kedua tangannya dan menangkup pipi Valerie.


"Kau hangat," bisiknya.


"Tentu saja hangat, aku masih hidup."


"Iya. Kau hidup."


Suara itu terdengar ragu. Seperti tidak yakin dengan apa yang ia dengar serta ucapkan. Gelisah itu semakin menjadi.


-o0o-


Malam semakin larut. Mata Rafka seakan enggan terpejam. Di pinggir ranjang ia duduk dan berpikir. Beberapa minggu terakhir, sejak dokter memintanya memerhatikan setiap kebiasaan istrinya, sekecil apa pun itu, Rafka mulai gelisah. Istrinya berbeda, itulah yang ia simpulkan.


-o0o-


Pukul sembilan pagi, Rafka dan Valerie tiba di rumah orang tua Meta. Seperti biasa, Rafka selalu bersikap manis. Ia membukakan pintu mobil untuk Valerie kemudian memeluk pinggang Valerie ketika mereka berjalan mendekati pintu utama. Ketika pintu rumah terbuka, Valerie mendadak tegang dan Rafka tak menyadari itu.


“Rafka, kenapa tidak telepon dulu kalau akan datang pagi ini?”


Rafka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Kupikir memberi kejutan akan lebih baik, Bu.”


Bu Rahma tersenyum lalu mempersilahkan Rafka dan Valerie masuk. Wanita itu menepuk bahu Rafka sebelum berkata, “Panggil Ayah di belakang, Nak.”


Mengangguk adalah jawaban. Dengan santai Rafka berjalan, meninggalkan Valerie bersama ibu Meta.


Mencari keberadaan ayah mertuanya tidaklah sulit. Sepagi ini Rafka yakin Ayah mertuanya itu sedang memberi makan ikan di kolam. Dan benar saja, sosok yang dicari segera terlihat.


“Wah, ikannya semakin banyak saja, Yah.”


“Rafka?”


Rafka berdiri di samping ayah mertuanya, dan ikut memberi makan ikan.


Belum lama Rafka dan ayah mertuanya mengobrol tiba-tiba terdengar kegaduhan. Dari suara yang terdengar, Rafka yakin itu suara istrinya.


Tanpa dikomando Rafka dan Ayah Meta pergi ke sumber kegaduhan. Ketika mereka sampai di ruang  tengah, mereka menyaksikan ketegangan antara Valerie dan Bu Rahma.


“Sayang, ada apa?” tanya Rafka sambil menarik Valerie ke dalam pelukannya.


“Aku ingin pulang, sekarang!”


Rafka khawatir bercampur panik melihat kondisi Valerie dan ibu mertuanya. Namun, kali ini ia harus memprioritaskan Valerie lebih dahulu.


“Baiklah.” Rafka menoleh ke arah kedua mertuanya. “Ayah, Ibu, kami pulang dulu. Lain kali kami akan berkunjung lagi.”


Selesai berpamitan, Rafka bergegas membawa Valerie menuju mobilnya dan meluncur di jalanan Bekasi yang saat ini sedikit lengang. Pria itu terus menoleh, memperhatikan Valerie yang belum berhenti menangis.


“Sayang, kau kenapa?”


“Berhenti memanggilku sayang. Aku bukan istrimu!”


“Apa maksudmu?” tanya Rafka bingung.


“Wanita itu mengatakan anakku tidak memiliki ayah. Anakku mempunyai ayah!”


“Iya, dia anak kita. Tentu saja dia memiliki Ayah. Akulah ayahnya.” Rafka melepas sabuk pengamannya, lalu mengubah posisi duduknya menjadi miring agar bisa berhadapan dengan Valerie.


“Tidak. Anakku bukan anakmu.”


“Sayang---“


Sudah kukatakan berhenti memanggilku sayang!” potong Valerie seraya menutup kedua telinga dengan tangannya. “Aku bukan Meta. Meta sudah meninggal. Kau harus menerima kenyataan itu!”


Pekikan Valerie membuat Rafka menitikkan air mata. Wajah pria itu seketika memucat. Rafka mencengkram kuat-kuat kedua bahu Valerie.


“Kau adalah istri Rafka Guntra dan anak yang ada di dalam kandunganmu adalah anakku. Berhenti membicarakan hal aneh seperti itu lagi!


Rafka melepas cengkeramannya dan lekas melajukan mobil tanpa menggunakan sabuk pengaman. Pikirannya kacau, tak jauh berbeda dengan Valerie yang masih menangis di sampingnya.


-o0o-


Ketika sampai di rumah, Bu Anis nyaris memekik melihat betapa kacaunya keadaan Rafka dan Valerie. Ia menghampiri mereka, tangan tuanya menangkup wajah Rafka. “Apa yang terjadi, Nak?”


Rafka tak menjawab, ia hanya tersenyum dan menggenggam kedua tangan ibunya. Lantas berlalu menuju kamar. Tangan bergetarnya berusaha menutup pintu. Kemudian tubuhnya melorot ke lantai ketika pintu itu berhasil ditutup.


Dia laki-laki. Seharusnya hal seperti ini tidak terjadi, tapi lagi-lagi Rafka menangis sejadi-jadinya.


-o0o-


Tugas sang mentari telah usai. Sekarang rembulan perlahan menyembul untuk memberi sedikit cahaya dipekatnya malam. Kepala Rafka berdenyut karena terlalu banyak menangis. Kerongkongannya juga terasa kering.


Mencoba menahan denyutan di kepalanya, Rafka berjalan gontai untuk mengambil air. Selesai mengusir dahaga ia pun berniat kembali ke kamar, namun Rafka terkejut ketika berpapasan dengan Valerie. Beberapa detik mata mereka sempat saling menatap, namun Rafka segera memalingkan wajah, kemudian pergi.


Mungkin ia ingin bersikap tak acuh. Tapi degup jantung Rafka menjelaskan hal lain.


“Mengapa seperti ini?”


Tak peduli dengan sakit yang mendera, Rafka terus menepuk-nepuk dadanya.


“Dia bukan Mym. Istriku bukan dia. Tapi, kenapa jantung bodoh ini seperti ini.”


Kepalanya semakin berdenyut. Rafka mencoba tidur untuk mengusir segala perasaan tidak nyaman ini.


-o0o-


Dua hari Rafka menghindar. Dia pikir semuanya akan membaik, tetapi tidak. Rafka merindukannya. Saat di toko ia terus memikirkan perempuan yang saat ini tinggal di rumahnya.


“Ah, Sial. Apa semudah ini jatuh cinta?”


Tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang memperhatikan tingkah anehnya, Rafka hanya ingin lebih nyaman.


“Kau menikah, Bodoh. Bagaimana perasaan istrimu kalau kau jatuh cinta lagi dengan wanita lain.”


Gunda berganti marah. Rafka benci dirinya yang seperti ini. Ia lelaki setia. Bukan suami peselingkuh yang akan menyakiti istrinya.


“Tapi... Mym sudah meninggal. Bolehkah?”


Seperti orang lain, Rafka pun mencari alasan untuk membenarkan. Ia ingin memiliki cintanya lagi. Jadi, biarkan hatinya gembira untuk saat ini.


“Iya, boleh. Tidak ada yang melarangmu jatuh cinta lagi, Rafka.”


Senyum tiba-tiba mengembang. Dengan semangat ia pulang ke rumah.


-o0o-