
Jakarta, 22 April 2019
Ada banyak cara untuk mencintai. Tidak bisa memiliki bukan berarti harus berhenti. Dari kejauhan aku menatapmu. Kau masih sama, bagai magnet yang menarikku untuk selalu melihat ke arahmu.
-Rafka Guntra-
Pakaian santai khas anak muda dan kaca mata hitam menjadi atribut wajib setiap kali Rafka pergi ke Jakarta untuk mengikuti Valerie. Sudah lama ia melakukan kegiatan ini. Sejak ia keluar dari rumah sakit dan kakinya benar-benar sembuh. Sekadar menatap dari jarak yang tak akan Valerie sadari ternyata tidak membantu. Rindu semakin menumpuk. Sesak semakin mencengkram dada.
"Elsinta Derrel."
Nama itu terucap tanpa Rafka sadari. Ya, ia tahu nama kakak perempuan Zian karena ia sudah mencari banyak informasi tentang keluarga mereka.
Sekelebat pikiran menganggu Rafka. Ada ide yang membuat sisi berbeda di hatinya berteriak.
Terlalu serius dengan pikirannya membuat Rafka kehilangan jejak. Dua wanita yang sejak tadi ia ikuti kini menghilang dari pandangan mata.
"Ah, Sial."
Dengan kasar Rafka melepas kaca mata hitamnya. Ia turun dari mobil, kemudian mengedarkan pandangan untuk menemukan Valerie. Keberuntungan bukan untuknya, perempuan dengan rambut bergelombang itu tak lagi terlihat.
-o0o-
07.18 AM, Blue SKY Apartement, Jakarta Pusat, 25 Maret 2020
Seorang perempuan menutup kepalanya dengan bantal ketika ketukan di pintu apartemennya semakin brutal. Geraman tertahan samar terdengar karena si tamu tak jua berhenti mengetuk pintu.
"Ah, aku akan sial hari ini. Sepagi ini sudah didatangi si perusak suasana."
Mau tidak mau, Elsinta turun dari tempat tidur. Ia harus membuka pintu sebelum penghuni apartement lain mengamuk.
"Mama kurang kerjaan ya?"
Tidak pernah kata manis menyambut Nyonya Derrel ketika berkunjung ke apartement Elsinta. Ya, anak sulungnya itu sudah pindah ke apartement ini sejak dua bulan yang lalu. Alasannya pindah cukup sederhana bosan mendengar Mama mengomel.
"Ini pekerjaan Mama."
Mengabaikan kekesalan Elsinta, Nyonya Derrel masuk apartement dengan langkah santai.
"Kalau pagi-pagi begini Mama sudah datang ke apartemenku, untuk apa aku jauh-jauh pindah ke sini. Toh, pagi indahku tetap berubah suram karena omelan Mama."
Elsinta pergi ke dapur. Mengambil apel di dalam kulkas lalu memakannya langsung, tak peduli dengan fakta dirinya baru bangun tidur dan belum mencuci muka apalagi gosok gigi.
"Bagaimana mau dapat jodoh kalau kau jorok seperti ini."
Jiwa ibu-ibu kebelet mendapat menantu Nyonya Derrel aktif. Elsinta hanya bisa memutar bola mata jika sudah begini.
"Jodoh tidak datang karena bersih dan joroknya seseorang."
Jawaban asal Elsinta membuat Nyonya Derrel geram. Ia merebut apel di tangan Elsinta kemudian menarik anak gadisnya itu ke kamar mandi.
"Cepat mandi sebelum Mama turun tangan."
Ancaman Nyonya Derrel cukup ampuh. Membayangkan dirinya ditelanjangi sang Mama lalu dimandikan sambil diomeli sudah cukup membuat Elsinta bergidik.
"Ah, lepas, Ma. Aku bisa mandi sendiri. Sesuai perintah Mama, aku akan mandi cepat."
Sebelum pukulan melukai kulit lembutnya, Elsinta langsung berlari ke dalam kamar mandi.
"Cepat mandi, Elsinta! bukan mandi cepat. Anak gadis mana yang mandi cepat. Jorok sekali."
Guyuran air dari shower menyamarkan teriakan Nyonya Derrel. Elsinta tersenyum membayangkan ibunya bersungut kesal di luar kamar mandi karena ulahnya.
-o0o-
"Namanya Arlan."
Elsinta terbatuk melihat foto yang Nyonya Derrel sodorkan ke hadapannya.
"Lagi?" tanyanya sebelum menelan roti yang sejak tadi ia kunyah.
"Iya, lagi. Dan akan ada lagi-lagi berikutnya kalau kau kembali mengacaukan kencan buta kali ini."
Setengah roti di tangannya Elsinta masukkan ke dalam mulut.
"Ternyata wajah lembut berkelas Mama selama ini hanya pencintraan. Aslinya Mama itu wanita gila."
Nyonya Derrel beranjak dari duduknya. Ia meninggalkan Elsinta yang masih sibuk dengan sarapannya.
"Lihat hp! Mama kirim tempat dan waktu ketemuan kalian. Ingat, kali ini harus berhasil. Dia calon menantu ideal. Rugi jika terlepas."
"Pada akhirnya wanita tua itu selalu berhasil merusak suasana hatiku. Ahhhkkk!"
Nyonya Derrel masih bisa mendengar umpatan dan teriakan kesal Elsinta. Ia tertawa pelan karena sudah mengacaukan pagi indah putri Sulungnya itu. "Siapa suruh keluar rumah. Bikin wanita tua ini rindu saja."
-o0o-
Patio Resto, 01.45 PM, 25 Maret 2020
Tangan kanan menopang dagu. Mata menatap lama ke luar resto. Sudah lebih setengah jam Elsinta datang ke restoran ini. Ia datang sesuai perintah Nyonya Derrel. Tapi ia kesal laki-laki yang katanya calon menantu idaman itu belum juga menunjukkan batang hidungnya.
"Aku paling benci laki-laki tak tepat waktu seperti ini."
"Elsinta Derrel?"
Suara berat terkesan arogan mengalihkan pandangan Elsinta. Sama persis dengan wajah yang ia lihat di foto tadi pagi.
"Aku tidak lama. Hanya saja aku kasihan karena kau sudah menunggu lama. Aku akan mengatakannya sekali saja, aku tidak tertarik padamu, jadi jangan banyak berharap untuk hubungan ini kedepannya."
Elsinta mendengus. Emosinya naik hingga ke ubun-ubun. Tanpa menahan diri ia berdiri kasar, mengabaikan banyak perhatian tertuju ke arah mereka ketika kursinya menimbulkan deritan keras.
"Maaf, Pak. Anda terlalu percaya diri. Saya lebih tidak menyukai anda. Laki-laki tidak bertanggung jawab, berani membuat janji tapi lebih semangat untuk ingkar adalah satu dari sekian hal yang paling saya benci di dunia ini." Dengan wajah memerah marah, Elsinta menatap Arlan. "Kau juga tidak tampan,. Menjatuhkan harga diriku saja harus berkencan denganmu."
Ucapan panjang Elsinta jelas memancing amarah. Kedua tangan Arlan terkepal emosi. Ia yang selama ini dihormati jelas tidak suka dipandang rendah. Terlebih oleh seorang wanita yang baru ia temui beberapa menit lalu.
"Dan juga, kekayaan yang kau agungkan itu jumlahnya tak sebanding dengan aset yang keluarga Derrel miliki. Semoga setelah ini kau tidak harus mengemis kerja sama dengan keluargaku."
Tidak bisa ditahan lagi, nyaris saja tangan Arlan melayang ke pipi lembut Elsinta, tetapi seseorang menahannya.
"Ow, sabar, Tuan, Anda akan melukai pipinya. Kau tahu pipi lembut itu milikku. Tidak ada laki-laki lain yang boleh menyentuhnya."
Arlan menarik kasar tangannya sebelum laki-laki asing itu berputar menghadap Elsinta.
"Kau lupa, Sayang? Jangan pernah menunjukkan wajah marah ini pada laki-laki lain. Kau terlihat lebih cantik dengan pipi merahmu itu."
Elsinta bingung. Ia tidak mengenal laki-laki di hadapannya, tapi ia juga tidak ingin harga dirinya diinjak seperti tadi oleh Arlan. Tidak terpikirkan cara lain olehnya selain mengikuti permainan laki-laki asing yang telah menolongnya ini.
"Dia yang memulai,"
Rengekan manja Elsinta berbalas dengusan jijik Arlan.
"Ayo kita pulang."
Elsinta tidak mengenal laki-laki ini, tapi tidak terpikirkan cara lain olehnya agar harga dirinya tidak lebih jatuh di hadapan Arlan. Tanpa banyak pikir, ia merangkul lengan laki-laki asing di hadapannya.
"Ayo," ajaknya semangat.
Elsinta tahu ia akan naik mobil laki-laki asing, ada rasa takut di hatinya kalau-kalau lelaki yang ia rangkul ternyata psikopat. Tapi rasa takut dipermalukan lagi oleh Arlan lebih besar karena itulah ia tanpa paksaan ikut ke dalam mobil lelaki asing.
-o0o-
"Terima kasih sudah menolongku. Aku turun di sini saja."
Tidak adanya respon membangunkan rasa takut yang sejak tadi berusaha Elsinta tidurkan.
"Permisi. Bolehkah aku turun di sini?"
Suara Elsinta sedikit bergetar. Orang manapun yang mendengar suaranya akan menyadari kalau saat ini ia ketakutan. Menyesal mungkin sudah terlambat baginya.
"Kau bicara apa sih, Sayang? Kenapa juga harus turun dini. Rumah kita masih jauh."
Suara lembutnya tidak mengurangi kegugupan Elsinta. Justru yang diucapkan lelaki itu semakin menguatkan pikiran Elsinta jika lelaki ini psikopat.
"Ma---maaf. Aku tidak mengenalmu. Jadi kumohon turunkan aku di sini."
Mobil melambat, tetapi tidak berhenti seperting yang Elsinta harapkan. Sang pengemudi menatap teduh mata Elsinta yang ketakutan.
"Sayang, ini Rafka Guntra, suamimu. Apa yang membuatmu takut?
Bersambung