
Menyadari sikapnya bisa membuat Elsinta tidak nyaman, Bu Anis pun kembali ke tempat duduknya. Ia berdaham pelan sbelum menatap dalam mata Elsinta.
"Valerie perempuan yang dibawa Rafka ke rumah sebelum kamu. Dan dia satu-satunya perempuan yang mau membantu Rafka. Dia berpura-pura menjadi Meta yang sudah meninggal. Berkat Valerie juga Rafka mulai membaik. Dia mulai terlepas dari halusinasinya dan bisa mencinta lagi. Sudah lama Valerie pergi, sejauh ini Ibu tidak melihat keanehan Rafka. Hingga kemarin dia pulang bersamamu. Bukankah ini aneh?"
Bulu mata lentik Elsinta bergerak seiringan dengan kerjapan kelopak mata. Kalimat panjang yang Bu Anis ucapkan membuatnya bingung. Dan Bu Anis pun menyadari kebingungan Elsinta.
"Ah, maaf ibu terlalu banyak bicara. Intinya, Valerie salah satu perempuan yang Rafka bawa pulang sepertimu, dan Valerie tidak keberatan untuk berpura-pura menjadi istri Rafka yang sudah meninggal."
Elsinta mengangguk mengerti. Beberapa detik hening karena keduanya bingung harus membicarakan apa lagi.
"Emm, sepertinya saya pamit dulu, Bu. Tujuan saya kemari untuk mengembalikan uang Rafka dan menanyakan tentang Valerie. Setelah tahu kalau Rafka ini dengan Rafka yang pernah ceritakan Valerie adalah orang sama, sepertinya tidak ada lagi yang ingin saya bicarakan."
Bu Anis mengangguk, kemudian mengantar Elsinta ke dapan sambil tersenyum.
-o0o-
Belanja mungkin lebih Elsinta sukai daripada bekerja. Sekarang masih pukul setengah sebelas, seharusnya ia sedang bekerja, tapi perempuan berambut pendek itu justru asyik memilah gaun-gaun cantik di pusat perbelanjaan. Kedua tangan yang sudah menjinjing banyak paper bag tidak menyurutkan semangat belanja putri sulung keluarga Derrel itu.
Waktu cepat berlalu. Elsinta sudah melupakan kejadian dua minggu lalu dan kembali menjalani rutinitas hariannya tanpa mengingat Rafka lagi. Beberapa hari setelah pertemuan mereka mungkin iya, tapi semakin lama Elsinta semakin tak acuh. Toh, hingga hari ini ia tidak lagi melihat batang hidung Rafka.
Selesai membayar satu gaun lagi, Elsinta ingin cepat-cepat berburu belanjaan cantik lainnya. Akan tetapi dalam hitungan detik semangatnya menyurut tatkala menyadari paper bag yang ia letakkan di lantai menghilang.
"Mencari apa?"
Hangatnya napas yang menyapu kulit tengkuk membuat bulu-bulu halus di sana berdiri. Elsinta menoleh dan sangat terkejut karena wajah sangat dekat dengan wajah lelaki yang dikenalnya.
"Kau," bisik Elsinta.
"Iya ini aku, suamimu."
Lepas dari jerat keterkejutan, Elsinta segera menjauh. Ia juga merebut paper bag miliknya yang baru ia sadari ada di tangan Rafka.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
senyum tipis Rafka perlihatkan saat mendengar pertanyaan Elsinta. "Menurutmu untuk apa? Tentu saja untuk menjemput istri nakalku yang ngambek terlalu lama."
Berbeda dengan dua minggu lalu, kali ini Elsinta sudah memahami situasinya. Tidak ada ketakutan lagi di mata beningnya. Ia menatap dalam mata Rafka seakan gadis itu menantang.
"Rafka, lihat baik-baik gadis cantik di hadapanmu ini. Perkenalkan namaku Elsinta Derrel. Putri sulung keluarga Derrel. Aku bukan istrimu karena aku belum pernah menikah."
Tiba-tiba senyum tipis Rafka menghilang. Tatapan matanya berubah sendu dan menarik orang lain untuk mengasihaninya.
Terlihat getaran halus di tangan Rafka ketika memberikan paper bag di tangannya pada Elsinta. Sebisa mungkin ia mengelak bertatapan dengan perempuan itu ketika akan pergi.
Elsinta yang terlalu mudah terpengaruh pun menyesali ucapannya. Ia merasa bersalah karena ucapannya telah menggali kembali lubang kesedihan Rafka. Tanpa berpikir panjang ia menyusul Rafka dan menahan tangan laki-laki itu.
"Maaf," bisiknya.
Rafka berbalik dan tersenyum kecut. Ia melepaskan genggaman Elsinta dan berkata pelan.
"Tidak perlu minta maaf. Kau benar. Kau bukan istriku. Maaf sudah membuatmu tidak nyaman."
Cukup sudah. Hati Elsinta rasanya lebih sakit ketika mendengar ucapan Rafka. Sisi melankolisnya yang berlebihan membunuh akal sehat gadis itu. Ia menarik Rafka ke dalam pelukannya sebelum berkata, "Tidak perlu minta maaf. Kau boleh menemuiku kapan saja jika itu bisa membantumu. Anggap aku istrimu. Kau bisa berbicara dan memperlakukan aku seperti dia."
Di balik punggung Elsinta, Senyuman kemenangan terlihat sebelum Rafka melepaskan pelukan Elsinta.
"Sekali lagi maaf. Dan terima kasih sudah mengasihaniku."
"Tidak-tidak. Bukan begitu maksudku. Jadi begini.... aku... anu... ahkk!" pekikan kesal terdengar sebelum ia bicara cepat nyaris tanpa jeda. "Aku bukan mengasihanimu. Tetapi aku tidak keberatan jika kau ingin menemuiku saat kau merindukan istrimu. Jadikan aku sandaran. Bahkan aku bersediah untuk berpura-pura menjadi dia kalau memang kau menginginkannya. Tidak, bukan seperti Valerie yang akan sepenuhnya bersandiwara. Aku hanya akan berpura-pura dalam hitungan jam. Kita mungkin bisa menghabiskan waktu untuk jalan-jalan. Makan bersama, seakan kau sedang pergi bersama istrimu."
Kening berkerut tipis. Mata jernihnya menatap lama untuk memastikan. Ketika Elsinta menggangguk pelan, perlahan senyum mencerahkan suasana.
"Terima Kasih untuk Kebaikanmu."
"Aku memang anak baik," balas Elsinta ceriah. Lalu tanpa aba-aba memeluk lengan Rafka.
Tingkah Elsinta mengejutkan Rafka. Laki-laki itu menatap bingung perempuan yang sedang memeluk lengannya.
"Ayo kita belanja."
Rengekan manja Elsinta menyadarkan Rafka akan situasi membingungkan ini. Sekarang mereka bersandiwara. Dengan mata memancarkan pujian, Rafka pun menjawab. "Ayo, Sayang. Istri cantikku mau beli apa lagi?"
Bibir Elsinta sedikit mengerucut. Ia seakan berpikir keras tentang benda apa yang ingin ia beli. Sementara Rafka dengan penuh perhatian menyibakkan helaian rambut yang menutupi pipi Elsinta ke belakang telinga.
"Dress?"
Wajah sumringah terlihat saat mendengar kata dress. Anggukkan semangat mengikuti setelahnya.
Kegiatan jalan-jalan Rafka dan Elsinta berlangsung cukup lama. Mereka benar-benar bertingkah layaknya pasangan yang dimabuk cinta.
-o0o-
Di sudut kamar, tepatnya di atas tempat tidur single, Zoya meringkuk sambil menutup telinga. Sudah lebih dua jam ia dalam posisi itu. Jeritan besahutan dengan suara pecahan kaca mengacaukan malam tenang Zoya. Ya, tentu saja itu jeritan ibunya.
Zoya muak dengan kegaduhan di rumahnya, tapi tidak ada yang bisa dilakukan oleh remaja sepertinya selain menutup telinga dan mengurung diri di kamar.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk keras. Sangat jelas jika orang yang mengetuk pintu itu marah.
"Buka pintu ini sialana!"
Darah seakan berhenti mengalir. Zoya pucat dan gemetar. Situasi inilah yang paling iatakutkan. Tidak ada pilihan baginya, jika ingin hidup maka harus membuka pintu. Tapi membuka pintu juga bukan hal yang baik.
Takut tak menghentikan langka Zoya. Meski gemetar ia tetap membuka pintu kamarnya. Baru saja pintu itu terbuka tamparan keras langsung menyambutnya.
"Kenapa kau tidak pergi atau mati saja?"
Pertanyaan sang ibu lebih menyakitkan daripada tamparan yang baru saja mendarat di pipinya. Ibunya dulu tidak seperti ini. Dia wanita lembut dan penuh kasih sayang. Namun waktu dan keadaan telah mengubahnya. Zoya merindukan masa kecilnya. Waktu ia bisa memeluk ibu sambil merengek manja. Ia merindukan ayah yang dulu mengangkat tubuh mungilnya ketika terjatuh.
"Apa aku boleh mati?"
Suaranya parau karena tangis akhirnya tak tertahan. Sejujurnya Zoya pun sempat berpiki untuk mati. Tapi apa ibunya akan baik-baik saja jika ia benar-benar mati? Sepertinya tidak. Ibunya terlalu apu untuk ditinggalkan sendiri.
Benar saja, ketika pertanyaan itu keluar dari mulut Zoya, tubuh ibunya langsung melorot ke lantai. Tangisan semakin kencang terdengar.
"Sepertinya itu yang terbaik."
Bersambung
Bengkulu, 22 Desember 2019
Vhiy Zaza