A Million Pieces

A Million Pieces
Bab 3



Air mata saling mendorong hingga akhirnya turun secara perlahan. Isak tangis tidak ditahan, Elsinta tanpa sadar menunjukkan sisi lain dirinya karena ketakutan.


"Mama. Sinta janji akan ikut kencan buta seperti yang Mama mau. Aku tidak akan berulah lagi. Tapi tolong aku. Aku takut, Ma.


Bunyi peringatan terdengar saat Elsinta melepas seat belt. Dengan gerakan cepat Rafka menahan tangannya.


"Sayang. Luka itu sakit loh."


"Mama!"


Bukan takut akan mendapatkan luka jika melompat dari mobil. Elsinta berteriak takut karena kulitnya bersentuhan dengan lelaki yang ia sebut psikopat.


Tidak ingin celaka lagi, Rafka menghentikan mobil. Tangan kanan yang sejak tadi memegang kendali kini beralih menggenggam erat satu tangan Elsinta yang berusaha membuka pintu mobil.


"Sayang. Hei, Sayang lihat aku."


Suara tegas dan meyakinkan Rafka sedikit menenangkan Elsinta. Walau belum sepenuhnya percaya, Elsinta mencoba menatap mata Rafka. Tiga detik pertama menatap retina legam itu membuat Elsinta terkejut. Mata itu menjanjikan kenyamanan. Tapi ini lebih menakutkan daripada psikopat. Elsinta takut dirinya akhirnya jatuh dalam pesona lelaki tidak dikenalnya ini.


"Mama."


Suara pelan Elsinta menarik sudut bibir Rafka. Terlihat senyuman tipis menenangkan.


"Ayo, Kita pulang. Kau tidak perlu takut. Ini suamimu, Rafka. Bukan lelaki gila."


Ada makna tersirat dalam ucapannya, Elsinta kesulitan mencari makna itu. Yang ia pikirkan sekarang benarkah ia aman bersama lelaki ini?


-o0o-


Dua wanita saling menatap. Pucat samar sama terlihat di wajah keduanya. Sementara sang lelaki dengan santai membawa tas Elsinta ke dalam rumah.


"Biarkan Meta istirahat dulu, Ma."


Suara Rafka memecah keheningan. Sejenak Bu Anis memalingkan pandangan dari Elsinta yang masih kebingungan.


"Ini tidak boleh terjadi lagi," bisiknya yang semakin membuat sendi Elsinta gemetar.


"Maaf, Bu. Saya bingung dengan keadaan ini. Dia tiba-tiba membantu saya yang tengah kesulitan, awalnya saya sangat berterima kasih. Tapi saya tidak tahu ternyata dia seperti ini. Sejujurnya saya takut."


Embusan napas berat terdengar sebelum Bu Anis berbicara.


"Anak saya tidak berbahaya, Nak. Dulu dia memang sering seperti ini. Membawa seorang perempuan dan mengatakan perempuan itu istrinya. Tapi seharusnya ini tidak lagi terjadi. Hampir dua tahun ini ia rutin berobat. Keadaannya mulai membaik."


Bu Anis ikut gelisah melihat kebingungan dan ketakutan wanita muda di hadapannya.


"Rafka sekarang di dalam, sebaiknya kamu pergi, Nak."


Mendengar ucapan Bu Anis, Elsinta langsung lari tanpa memikirkan masalah yang akan ia temui setelahnya. Keringat dingin mulai menetes, pucat menghapus rona merah yang mempercantik wajahnya.


Merasa sudah berlari cukup jauh, Elsinta pun berhenti. Dengan rakus ia menghirup oksigen untuk mengusir sesak di dadanya. Kerongkongannya terasa kering. Yang ia butuhkan sekarang air.


"Aku harus membeli minum."


Beberapa langkah kaki berjalan dan akhirnya Elsinta berhenti, kemudian terududuk di pinggir jalan.


"Aku tidak punya uang. Tasku diambil lelaki gila itu."


Lagi-lagi air mata jatuh. Tidak pernah terbayang oleh Elsinta akan menemui kesialan bertubi-tubi seperti ini.


Cukup lama Elsinta dalam posisi itu, hingga akhirnya suara berat laki-laki mengangkat kepalanya yang tertunduk.


"Kalau ingin lari, seharusnya kau mencari taksi bukan duduk sambil menangis di pinggir jalan seperti ini."


Elsinta merasa bodoh karena tidak terpikirkan olehnya untuk mencari taksi. Ia bisa membayar taksinya saat tiba di kediamannya nanti. Dalam hitungan detik kaki jenjangnya telah berdiri mantap dengan kepala melihat ke kiri dan ke kanan untuk mencari taksi. Beruntung baginya karena tidak perlu menunggu lama taksi yang ia cari pun muncul. Elsinta melambaikan tangannya, memanggil taksi tersebut.


Hingga dirinya duduk nyaman di kursi penumpang, Elsinta belum menyadari lelaki yang berbicara tadi adalah Rafka. Sampai akhirnya Rafka kembali membuka suara.


"Marah jangan terlalu lama. Ini tasmu. Aku sudah menambahkan uang di dalam dompet. Usahakan kembali ke rumah saat uangmu habis. Ingat sayang, sekarang kau tanggung jawabku. Jangan meminta uang pada ayah dan ibu."


Oh Tuhan. Kenapa aku sebodoh ini!


Batin menjerit ketika sadar, Elsinta menarik kasar tas yang diberikan Rafka, kemudian meminta supir taksi meninggalkan Rafka yang menunjukkan wajah sendunya.


-o0o-


Entah sudah berapa kali Elsinta melihat jam di ponselnya. Sudah lewat tengah malam tapi ia kesulitan memejamkan mata. Kalimat terakhir Rafka masih mengganggu Elsinta. Mata sendu lelaki itu mengungkapkan rasa sakit. Benarkah dia bukan psikopat?


"Rafka?" matanya menerawang jauh, seakan jiwa tengah berpikir keras. "Nama itu sepertinya tidak asing."


Tiba-tiba Elsinta beranjak dari tidurnya. Ia duduk di tepi ranjang, dan lagi-lagi mengambil ponselnya.


"Valerie. Aku harus menghubungi Valerie."


Ya, nama adik iparnya itu langsung masuk ke dalam pikiran Elsinta. Ia ingat pernah mendengar nama Rafka dari mulut Valerie. Sekadar ingin memastikan, Rafkanya sama dengan Rafka yang dulu pernah Valerie bantu.


Apa? Rafkanya?


Elsinta memukul-mukul pelan pipinya karena pikiran bodohnya. Sejak kapan Rafka menjadi miliknya?


"Kak Sinta? Ada apa telepon malam-malam?"


"Kak?"


Panggilan berulang-ulang di ujung telepon menarik kembali kesadaran Elsinta. Ia menjawab Valerie dengan suara yang tidak terlalu jelas. Elsinta masih terlalu terkejut dengan pikirannya ngelanturnya.


"Rie... laki-laki itu namanya Rafka."


"Maksudnya, Kak? Bisa jelaskan pelan-pelan?"


"Laki-laki yang kau tolong dulu namanya Rafka?"


"Iya, Kak itu namanya."


Suara diujung telepon mengecil. Sepertinya Zian sedang di dekat Valerie, dan adik iparnya itu tidak ingin Zian mendengar pembicaraan mereka.


"Apa dia lelaki baik?" dua kali Elsinta berdaham, kemudian menyambung ucapannya. "Maksudku Rafka tidak berbahaya, kan? Bukan psikopat atau lelaki mesum?"


"Selama aku tinggal di rumahnya, dia tidak menunjukkan gelagat aneh. Dia hanya lelaki yang sangat mencintai istrinya. Itu saja. Ngomong-ngomong, kenapa kakak tiba-tiba menanyakan dia?"


Entah mengapa Elsinta merasa malu. Sedikit terburu-buru ia menjawab Valerie kemudian sambungan telepon terputus.


"Tidak. Hanya ingin tahu saja."


Ponsel dilempar begitu saja ke kasur. Sementara Elsinta menunjukkan gerakan-gerakan aneh. Ia berjongkok, kemudian berdiri kembali dalam hitungan detik. Sepuluh jari tangan ia gerakkan, terkepal, kemudian kembali terbuka. Wajahnya merah malu-malu saat kembali teringat pertemuan pertamanya dengan Rafka.


"Dompet," teriaknya kemudian.


Ia teringat Rafka memasukkan uang ke dalam dompetnya. Sekarang Elsinta ingin memeriksa sebanyak apa uang yang laki-laki itu berikan.


Mata tidak bisa tidak melotot ketika melihat hanya ada selembar uang seratus ribu di dalam dompetnya.


"Wah, ternyata dia lelaki pelit. Aku tidak suka lelaki pelit."


Dengan bahu melorot lesu, Elsinta kembali ke atas tempat tidur. Ia memaksakan tubuh dan matanya untuk beristirahat. Dan untungnya tidur tidak lagi sesulit tadi, Elsinta tertidur dalam hitungan menit.


-o0o-


Matahari mulai tinggi dengan gaun putih yang membantu cahaya matahari menunjukkan pesonanya, Elsinta kembali ke restoran Italia yang kemarin sempat ia datangi. Mobilnya masih terparkir di tempat parkir restoran itu. Ya, mobil itulah yang menjadi alasannya kembali ke sini. Ia mengendarai mobilnya kemudian melajukan mobil ke Bekasi.


Saat bangun yang terpikirkan oleh Elsinta adalah mengembalikan uang seratus ribu yang Rafka berikan. Kemarin mungkin ia ketakutan, tapi ia masih memperhatikan jalan yang mereka lewati untuk berjaga-jaga.


Mobilnya yang melaju cukup kencang membuat mata lebih cepat melihat kembali rumah yang kemarin pernah ia datangi. Dengan gerakan ragu ia memencet bel, dan menunggu gelisah di depan pintu.


Suara lembut wanita setengah baya membuat lutut Elsinta bergetar halus. Sejujurnya ia gugup.


Ketika pintu terbuka, dan dua pasang mata itu saling menatap, keheningan tiba-tiba mendekat. Dan suara motor yang lewat di depan rumah menyadarkan keduanya dari lamunan singkat mereka.


"Begini, Bu. Saya ingin mengembalikan ini."


Sedikit terburu-buru Elsinta membuka dompetnya. Getaran halus di tangannya dapat dilihat Bu Anis saat Elsinta memberikan selembar uang seratus ribu.


"Kemarin dia memasukkan uang itu ke dalam dompet saya."


Bu Anis mengambil uang itu tanpa membuka suara. Ia ingin tahu apalagi yang akan Elsinta lakukan selain mengembalikan uang itu.


"Saya permisi."


Gugup semakin jelas ketika Elsinta pamit. Langka terburu-burunya membuat sudut bibir Bu Anis tertarik berlawanan. Senyum keibuan terlihat sebelum ia memanggil Elsinta.


"Tunggu, Nak. Silakan masuk. Rafka sedang tidak di rumah. Tidak perlu takut."


Tidak perlu dua kali dipanggil, Elsinta langsung kembali dan ikut Bu Anis ke ruang tamu. Ada pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Bu Anis.


Baru saja duduk, ia pun segera bertanya.


"Valerie. Apa ibu mengenal Valerie?"


Bu Anis terkejut. Lama ia tidak mendengar nama itu, tapi sedikit pun ia tidak lupa wanita putih berambut ikal itu.


"Kalau boleh tahu, apa hubunganmu dengan Valerie?"


Elsinta tidak bisa menebak ekspresi Bu Anis. Ia bingung harus memberi jawaban seperti apa. Tetapi membiarkan lawan bicara menunggu lama terlihat tidak sopan. Pada akhirnya Elsinta menjawab jujur pertanyaan Bu Anis.


"Dia adik iparku."


Tanpa diduga, Bu Anis berdiri cepat di hadapan Elsinta. Wajahnya memucat. Matanya tidak fokus.


"Kenapa? Ada yang salah dengan jawabanku?"


Bersambung


Vhiy