
Bekasi, 13 Mei 2018
Aarghh!
Teriakan terdengar, kemudian disusul dengan pukulan keras di dinding. Buku-buku jari Rafka terluka karena pukulan keras itu. Air mata tentu saja ada, walau tidak menetes deras.
Bu Anis berusaha menyentuh Rafka untuk menenangkan putranya tersebut, namun selalu gagal. Sekarang ia berdiri sekitar enam langkah di belakang Rafka sambil membekap mulut untuk menahan jeritan.
Sejak awal Bu Anis menyaksikan pertengkaran Rafka dan Zian. Ia tahu Rafka sangat terpukul ketika Valerie terlepas dari genggamannya. Bu Anis sadar Rafka telah membuka hatinya. Mengizinkan sang hati memilih kembali. Tetapi dunia masih terlalu kejam untuk putranya tersebut. Lagi-lagi cintanya harus pergi.
"Dia terlihat senang. Selama bersamaku dia seakan memberiku kesempatan untuk memenangkan hatinya. Sekarang dia pergi. Aku melihat jelas binar di matanya ketika melihat lelaki itu. Aku sempat membayangkan akan melihat cinta di matanya. Tapi tidak seperti ini. Seharusnya itu untukku, bukan untuk laki-laki lain."
Suaranya parau. Rafka akhirnya tidak menahan diri lagi. Air mata mulai bercucuran membasahi pipi pucatnya.
"Rafka."
Bu Anis tidak tahu harus bagaimana. Sekedar mengucap kata-kata bijak sepertinya tidak akan memperbaiki keadaan.
Tiba-tiba Rafka berbalik. Sekilas ia menatap mata ibunya. Lalu tanpa bicara ia pergi.
"Ke mana?"
Tangan kanan Rafka digenggam Bu Anis. Genggaman eratnya menyiratkan rasa khawatir.
"Jangan halangi aku, Ma. Aku pergi sebentar untuk menenangkan diri. Semua akan baik-baik saja kalau kali ini Mama tidak turut campur."
Mulut Bu Anis tetutup rapat. Ucapan Rafka menggamparnya. Putra semata wayangnya itu seakan mengumumkan dirinyalah sumber sakit hatinya kali ini.
"Maafkan mama, Nak."
Perlahan genggaman Bu Anis mengendor. Ia membiarkan Rafka pergi meski rasa khawatir tidak jua hilang.
-o0o-
Jalanan Bekasi siang ini cukup lengang. Rafka terus melajukan mobilnya meski tanpa tujuan. Sesekali kerutan di pangkal hidungnya terlihat. Menandakan pikiran mengganggu terus mengikutinya. Kedua tangannya juga mencengkram kuat kemudi mobil untuk menyalurkan amarah.
Banyak mini market yang sudah Rafka lewati. Entah mengapa kali ini ia menghentikan mobilnya di depan salah satu mini market. Dengan langkah santai ia masuk ke dalam mini market itu. Kendati demikian, ekspresi wajah tidak bisa bohong, siapa pun yang melihat akan tahu pikiran Rafka tidak sesantai langkah kakinya.
Setelah berkeliling cukup lama, sebungkus rokok dan korek api Rafka bawa ke kasir. Tidak. Rafka bukan laki-laki perokok. Hanya saja kacaunya perasaan membuat Rafka ingin menjadi sosok berbeda.
Selesai membeli rokok, Rafka kembali berkendara tanpa tujuan. Walau sedikit kaku, sepanjang perjalanan ia mulai menghisap rokoknya. Awalnya terbatuk, namun itu tidak menghentikannya. Rafka yakin ada yang berbeda sehingga banyak laki-laki menyukai rokok meskipun itu membahayakan kesehatan.
Mobil yang melaju mulai memasuki kawasan padat kendaraan. Rafka menurunkan sidikit kecepatan agar tidak celaka. Tapi sial baginya. Ada pengendara sepeda motor dengan ugal-ugalan menyenggol mobilnya.
"Sialan!" teriak Rafka. Baru ada niat untuk menaikkan kecepatan dan mengejar pengendara itu, tiba-tiba dari belakang terdengar dentuman keras. Telinga Rafka berdenging dan matanya berkabut.
-o0o-
Kepalanya yang berat menyulitkan Rafka membuka mata. Ia tidak tahu apa sebenarnya terjadi. Tidak begitu lama, dengingan di telinga berhenti. Sedikit demi sedikit ia mulai memahami situasi.
"Kecelakaan beruntun, ya?"
"Mobil hitam itu yang nabrak duluan kayaknya."
"Bantu orangnya keluar dulu."
"Polisi datang."
Suara-suara itu terdengar jelas. Indra-indra yang lain pun mulai berfungsi dengan benar. Rafka mulai merasakan sakit di bahu kanan dan kaki kirinya. Ia ingin keluar, tapi ia meringis ketika bergerak. Kakinya semakin sakit.
Pintu mobilnya terbuka, sedikit samar, Rafka melihat sosok berseragam putih abu-abu. Ia gadis berambut panjang.
"Kau baik-baik saja, Om?"
Suaranya akan mudah diingat. Suara lembut, namun menyiratkan ketegasan. Seolah suara itu menegaskan aku memang wanita tetapi tidak ada yang boleh merendahkanku.
"Ah, sepertinya kau shock berat. Wajar saja. Ayo, aku bantu."
Tangan dengan jari-jari panjangnya menyentuh lengan Rafka. Tubuh kecil itu ternyata tidak selemah yang Rafka bayangkan. Sangat cocok dengan suaranya. Dia wanita kuat.
"Kakiku."
Suara Rafka parau. Dia membenci suara yang membuatnya terlihat lebih lemah dari remaja.
Sosok berambut panjang itu sedikit menunduk, ia menarik kaki Rafka dan memperlihatkan wajah datar saat Rafka mendesis kesakitan.
"Bantuan sudah datang."
"Hati-hati."
Entah mengapa, peringatan itu terdengar seperti ejekan di telinga Rafka. Mungkin karena Rafka terlalu malu saat ini ia lebih lemah daripada remaja perempuan.
Rafka harus diangkat oleh beberapa anggota medis menggunakan tandu karena kondisi kakinya tidak memungkinkan untuk bejalan sendiri.
Sebelum ia masuk ke dalam ambulance, Rafka masih melihat perempuan yang membantunya tadi. Perempuan itu cukup manis, tapi ekspresi wajahnya datar.
-o0o-
Pintu terbuka. Dengan tangan terlipat di atas dada, Rafka melempar tatapan datarnya.
"Aku masih hidup. Jangan berlebihan."
"Berlebihan bagaimana? Wajar kalau Mama khawatir."
Mengabaikan ekspresi tidak suka Rafka, Bu Anis menyentuh kaki kiri Rafka yang dibalut perban.
"Itu hanya luka dan memar. Bukan patah. Jangan khawatir, aku baik-baik saja, Ma. Besok sepertinya sudah bisa keluar rumah sakit."
"Keluar rumah sakit kepalamu! Tetap di sini sampai benar-benar sembuh. Tidak ada penolakan, Rafka."
Bu Anis berbeda dari biasanya. Sikap Rafka membuatnya harus bersikap tegas. Bagi Bu Anis, Rafka sudah berlebihan saat ini.
Entah takut atau sadar harus menghormati orang tua, Rafka tidak banyak bicara lagi. Ia membiarkan Bu Anis mengambil keputusan.
-o0o-
SMA HUSADA, 11 Juli 2018
Dengan langkah gontai gadis mungil berambut panjang itu memasuki kelas barunya. Karbon dioksida terbuang kasar karena Zoya tidak menyukai situasi ini. Tahun ajaran baru, dan tidak ada satu dari beberapa teman karibnya berada dalam kelas yang sama dengannya. Ini artinya ia harus mencari teman baru lagi, dan Zoya tidak menyukai proses perkenalan sebelum akhirnya mereka akrab satu sama lain. Baginya, itu rumit.
Di dalam kelas sudah cukup ramai. Zoya bingung harus duduk di mana. Dia tidak memiliki teman dekat di kelas ini. Sejenak ia mematung di depan pintu kelas, hingga akhirnya seseorang menepuk lembut bahunya.
"Zoya. Kamu di kelas ini juga?"
Ada rasa lega saat melihat sahabatnya semasa SMP dulu. Cepat-cepat Zoya menggangguk sambil berdo'a di dalam hati, semoga Nora belum ada teman sebangku.
"Kita duduk sebangku kalau begitu."
Senyum puas terlihat. Sekali lagi Zoya menggangguk. Ia menarik pelan tangan Nora ke meja kosong di sudut kiri kelas.
"Kau tahu? Aku sangat lega ternyata di kelas ini ada kamu. Akhirnya aku tidak seperti anak hilang di kelas ini."
Nora tertawa sambil bertepuk tangan pelan. "Ternyata kita sama. Aku juga takut tidak ada teman di kelas ini. Syukurnya ada kamu. Jadi aku tidak perlu melalui proses panjang berkenalan dan mendekatkan diri dengan anak-anak lain untuk mendapatkan teman akrab di kelas baru ini."
Banyaknya suara di dalam kelas tidak lagi Zoya dan Nora pedulikan, mereka sibuk dengan obrolan mereka. Sesekali mereka mengenang masa-masa SMP mereka.
"Zoya."
Suara yang dikenalnya memanggil Zoya. Seketika obrolan Zoya dan Nora terhenti. Bak dipandu, keduanya menoleh serempak ke sumber suara.
"Arsyi, Ninda. Di kelas ini juga?"
Arsyi dan Ninda teman sekelas Zoya saat kelas X. Walaupun saat kelas X mereka tidak terlalu dekat, tapi Zoya cukup senang ternyata di kelas barunya banyak teman yang sebelumnya sudah ia kenal.
"Iya. Eh, meja di depan kalian masih kosong?"
"Sepertinya masih kosong." Nora mencoba masuk ke dalam obrolan. Ia kemudian berkenalan dengan Arsyi dan Ninda, lalu kembali larut dalam obrolan.
-o0o-
Pulang ke rumah adalah hal yang dibenci Zoya. Saat pintu rumah terbuka ia disambut oleh hamburan pecahan keramik. Taplak yang seharusnya ada di atas meja, sekarang tergeletak di dekat pintu.
Zoya sangat lelah setelah hampir seharian belajar di sekolah. Ia ingin makan dan istirahat sesampainya di rumah. Tapi istirahat hanya ada dalam angan. Rumah sangat berantakan. Ia harus membereskan kekacauan ini terlebih dahulu jika ingin bernapas leluasa.
Masih mengenakan sepatunya, Zoya masuk ke dalam kamar. Ia berganti pakaian kemudian siap menggunakan tenaganya. Sebelum membereskan rumah, Zoya membuka pintu kamar orang tuanya.
"Ma, Zoya capek."
Suara serak karena tangis tertahan tidak mengusik wanita yang sedang berbaring di atas tempat tidur.
Masih menahan tangis dan lelah, Zoya akhirnya membereskan rumah.
Bersambung